KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS

KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS
Bab 145 KEBERANIAN NIKEN


__ADS_3

Rasyid berteriak memanggil Niken.


"Tolong jangan berteriak di sini. Ada anakku yang masih balita. Aku tak mau anakku tumbuh dan terbiasa dengan teriakan dan bentakan," ucap Alya.


Alya masih ingat bagaimana Rasyid bersikap pada anak-anak mereka. Rasyid hobi berteriak, marah-marah, memaki bahkan menghajar dengan tangan ataupun kakinya.


Dan Alya tak mau anaknya yang sekarang menerima itu semua. Alya selalu memperlakukan anaknya dengan lembut. Hingga anaknya tumbuh menjadi balita yang lebih penurut.


Rasyid terdiam mendengar omongan Alya. Lalu Alya masuk ke dalam. Dia mau memanggil Niken yang tadi ada di kamarnya sedang main dengan Aldo.


Niken yang melihat mamanya mau masuk, langsung kembali ke kamar Alya. Dia pura-pura tidur di sebelah Aldo yang juga tertidur.


Alya menatap wajah Niken. Alya tahu kalau Niken hanya pura-pura saja.


"Niken, bangun. Temui ayahmu," ucap Alya pelan. Dia tak mau mengganggu tidur Aldo.


Alya mengguncang bahu Niken. Tapi Niken pura-pura tak mendengar.


Alya duduk di tepi ranjang.


"Niken, Mama tau kamu enggak tidur. Bangunlah, Nak. Temui ayah kamu," ucap Alya.


Niken membuka matanya. Lalu menggeleng.


"Kenapa?" tanya Alya.


"Niken enggak mau pulang ke rumah ayah. Niken mau di sini aja sama Mama dan Aldo," jawab Niken.


Alya mengangguk-anggukan kepala. Dia tahu kalau anaknya ini sedang bermasalah. Tapi Alya belum tahu pasti apa masalahnya.


"Iya. Tapi kamu temui dulu ayahmu. Mama tak mau ayah kamu mengira, Mama yang melarangmu pulang," sahut Alya dengan lembut.


Niken beranjak duduk. Lalu memeluk Alya dengan erat.


"Niken takut sama ayah dan kak Laras, Ma. Mereka pasti masih marah sama Niken. Niken juga takut sama kak Tomi. Niken tak mau dia menghajar Niken lagi." Niken mulai terisak.


"Takut sama ayah dan kak Laras? Kenapa? Dan siapa itu Tomi? Kenapa dia menghajarmu?" tanya Alya.


Dari awal Alya sudah curiga. Apalagi melihat wajah Niken yang babak belur.


Niken mengatakan pada Alya, kalau dia habis jatuh. Dan mukanya terluka.


Tapi Alya tak mempercayainya begitu saja. Meski Alya belum berani bertanya lebih jauh.


Alya merasa Niken sedang tertekan. Dan dia akan menunggu sampai Niken lebih tenang.

__ADS_1


Rupanya, belum sempat Alya menanyakan, Niken sudah keceplosan duluan.


"Jawab Niken?" tanya Alya pelan.


Niken menundukan wajahnya. Lalu menghapus ingus yang keluar dari hidungnya.


"Jawab yang jujur. Biar Mama tau permasalahannya," pinta Alya.


Alya merasa kalau dia tak tahu persis masalahnya, bagaimana dia bisa membela Niken?


"Niken! Ayo pulang." Ternyata Rasyid menyusul sampai ke dalam. Dia merasa aman karena suami Alya lagi pergi.


"Mas. Jangan keras-keras. Anakku lagi tidur," ucap Alya.


Rasyid kembali ke ruang tamu.


"Niken. Pulanglah dulu. Kalau ada apa-apa, kamu bisa ke sini lagi dan bilang sama Mama," pinta Alya.


Alya tak mau kalau Rasyid emosi dan berteriak-teriak di rumahnya. Dia tak mau kenyamanannya terganggu. Apalagi kalau sampai tetangganya tahu dan sampai ke telinga suami barunya.


Dengan terpaksa Niken turun dari tempat tidur dan mengemasi barang-barangnya.


Alya mengikuti Niken sampai ke ruang tamu.


"Kalian benar-benar tak mau menceritakan masalahnya padaku?" tanya Alya sekali lagi.


"Ya, pasti," jawab Alya.


Alya sudah berjanji pada dirinya sendiri, akan mempertahankan rumah tangganya ini, apapun yang terjadi.


"Ma. Niken pulang dulu." Niken memeluk erat Alya.


Alya membalas pelukan Niken. Dia berusaha menahan air matanya yang hampir jatuh.


Rasyid keluar dari rumah Alya tanpa berkata sedikitpun. Pamitpun tidak.


Rasyid masih sangat sakit hati pada Alya. Dia lebih memilih pergi darinya. Dan sekarang memilih membela rumah tangganya yang baru.


Dalam hati kecilnya, Rasyid menginginkan Alya kembali padanya dan anak-anak. Tapi harapan tinggalah harapan. Alya tak pernah mau kembali pada Rasyid.


Sepanjang perjalanan pulang, baik Rasyid maupun Niken, hanya diam. Mereka tenggelam dengan pikiran masing-masing.


Begitu juga Alya. Dia masih memikirkan omongan Niken tadi. Tentang ketakutannya pada Rasyid, Laras juga Tomi.


Siapa Tomi? Apa dia anak Rasyid? Setahunya Rasyid belum berkeluarga lagi. Lalu siapa? Kenapa Niken begitu takut.

__ADS_1


Dalam hati, ingin sekali Alya mencari tahu. Tapi apa daya, dia punya anak yang masih balita. Tak bisa pergi kemana-mana sendirian.


Sampai di rumah, Niken turun dan langsung masuk ke kamarnya.


"Ngapain kamu mesti ke sana?" tanya Rasyid yang berdiri di pintu kamar Niken.


"Itu rumahnya mama, Yah. Apa salah kalau Niken ke sana?" Niken balik bertanya.


"Salah! Karena dia sudah meninggalkan kalian. Meninggalkan kita!" jawab Rasyid.


"Mama pergi juga karena salah Ayah! Ayah yang berselingkuh dengan tante Cyntia!" sahut Niken.


"Heh! Jaga omongan kamu! Kamu tau? Kita hidup waktu itu juga banyak dibantu oleh Cyntia. Mama kamu bisa apa? Dia cuma bisa minta, minta dan minta!" seru Rasyid membela Cyntia.


Cyntia, wanita yang pernah ada di masa lalu Rasyid, teman sekolah Rasyid dan mereka bertemu lagi. Pertemuan yang tak pernah direncanakan sebelumnya.


Dan tumbuh benih-benih cinta yang dulu sempat hilang.


Rasyid dengan segala kebohongannya, mengatakan kalau dia adalah single parent alias duda.


Padahal saat itu masih ada Alya. Tapi Rasyid selalu menyembunyikan keberadaan Alya.


Bahkan Rasyid mempengaruhi anak-anaknya untuk ikut berbohong pada Cyntia.


Itulah kenapa pada akhirnya Alya pergi tanpa membawa anaknya satupun. Bukan karena dia membenci anak-anaknya. Tapi karena dia merasa anak-anaknya tak membelanya sebagai ibu.


Ibu kandung yang telah melahirkan mereka. Rasyid dengan tega mencuci otak anak-anaknya. Sehingga mau berbohong demi uang.


Cyntia tak salah. Dia juga korban dari kelakuan Rasyid. Dia dibohongi agar mau membantu ekonomi Rasyid. Bahkan bukan cuma membantu, tapi menopang seutuhnya.


Karena semua pengeluaran Rasyid diberikan oleh Cyntia. Sampai kebutuhan pribadi Alya pun uangnya dari Cyntia. Alya tak pernah tahu itu sebelumnya. Karena Rasyid juga membohongi Alya kalau dia punya bisnis kecil-kecilan dengan temannya.


Dan teman itu adalah Cyntia. Alya tak pernah tahu, karena selama berumah tangga, Rasyid mendoktrin Alya untuk menjadi ibu rumah tangga yang baik.


Dan tugas seorang ibu rumah tangga itu di rumah. Memasak, mencuci, membersihkan rumah dan segala ***** bengeknya.


Hingga Alya terasing dari dunia luar. Bahkan ponsel pun, Alya tak punya. Alya hanya punya suami dan anak-anak yang pada akhirnya mengecewakannya.


"Karena mama seorang istri. Dan kewajiban Ayah sebagai suami yang harus memberikan uang pada mama!" jawab Niken.


Rasyid sangat geram mendengar jawaban Niken. Dia mendekati Niken.


Kali ini Niken tak takut lagi dipukul oleh Rasyid. Bagi Niken itu hanya hal biasa. Dia sudah merasa kebal.


Rasyid mengangkat tangannya dan siap menampar Niken.

__ADS_1


Niken tak gentar sedikitpun. Meski bakal makin sakit lukanya yang dipukul oleh Tomi.


__ADS_2