
Sampai di warung Yanti, Niken mengetuk etalase karena tak ada orang yang jaga.
"Beli...!" teriak Niken.
Beni yang keluar, karena Yanti lagi mandi.
"Eh, Niken. Beli apa?" tanya Beni dengan ramah.
Niken langsung memasang wajah jutek.
"Beli kopi, rokok sama mie instan!" jawab Niken dengan ketus.
Busyet, ini anak jutek banget. Batin Beni.
Beni langsung mengambilkan semuanya.
"Nih!" Beni yang kesal, meletakannya dengan kasar di atas etalase.
"Kopinya lima, rokoknya dua dan mie instannya empat!" seru Niken.
"Bilang dong dari tadi!" bentak Beni. Kali ini dia marah karena sikap ketusnya Niken.
"Nih!" Beni kembali meletakannya dengan kasar.
"Berapa semua?" tanya Niken dengan suara angkuh.
Beni menghitungnya. Dan buru-buru mengambilkan kembalian saat Niken membayar.
Niken pun pergi dengan langkah angkuh.
"Dasar songong!" gumam Beni setelah Niken jauh.
"Siapa yang songong, Ben?" tanya Yanti yang sudah selesai mandi.
"Tuh. Adiknya Laras," jawab Beni menunjuk ke jalanan dengan dagunya. Dia juga malas menyebut nama Niken. Sudah beberapa kali dia dicuekin bahkan dijutekin.
"Oh. Udah biasa kan? Anaknya Rasyid memang songong semua!" sahut Yanti.
Beni menatap wajah Yanti sekilas. Laras enggak, bu. Dia enggak jutek lagi, batin Beni.
Tring.
Sebuah pesan inbok masuk ke ponsel Yanti. Yanti segera membukanya. Sekarang Yanti jadi punya kebiasaan baru. Kemana-mana ponselnya selalu dibawa. Bahkan ke kamar mandi pun enggak ditinggal.
Panjang umur itu orang. Baru aja diomongin, udah nongol aja. Meski lewat inbok.
Rupanya Rasyid minta ketemuan lagi. Yanti menoleh ke belakangnya saat akan membalas pesan inbok dari Rasyid.
Takut ketahuan Beni. Bisa habis dia diomelin anaknya ini. Tadi aja jelek-jelekin anaknya, sekarang malah inbokan sama ayahnya.
Dimana? Tanya Yanti.
Di rumah kamu aja. Kayak kemarin malam. Jawab Rasyid.
Enggak bisa. Beni ada di rumah. Jawab Yanti.
__ADS_1
Oke. Itu bisa diatur. Nanti aku hubungi lagi. Kirimkan nomor hapemu. Ketik Rasyid.
Rasyid segera memutar otaknya. Dia mau Beni pergi. Dan satu-satunya cara dengan memanfaatkan Laras. Bagaimana caranya agar Laras pergi dan minta diantar oleh Beni.
Tapi nyuruh apa yang kira-kira pulangnya lama. Dan juga biar enggak ketahuan Tomi.
Hhh! Kenapa otakku jadi bebal begini sih? Rasyid memukul kepalanya sendiri.
"Ini kopinya, Yah." Niken meletakan kopi di meja.
"Ya." Rasyid menuangkan di piring lepek. Dan menyeruputnya. Dia berharap otaknya jadi encer kalau sudah minum kopi.
Rasyid membuka kembali ponselnya. Wah, ada film baru. Kayaknya Laras bakal tertarik. Laras mengajak Beni nonton. Pasti waktunya bakalan lama.
Rasyid pura-pura jalan ke kamarnya. Di depan kamar Laras, dilihatnya Laras sedang asik mengetik novel online-nya sambil tiduran.
"Ada film baru, Ras. Kayaknya bagus," ucap Rasyid. Lalu perlahan dia masuk ke kamar Laras. Dan duduk di sebelah Laras yang lagi fokus.
"Film apaan, Yah?" tanya Laras sambil terus mengetik.
"Film drama komedi. Kayaknya bisa dijadiin referensi cerita di novel kamu," jawab Rasyid.
"Tomi lagi sibuk, Yah. Dia kan beberapa hari tugas luar kota terus. Jadi kerjaan di kantornya numpuk. Enggak bakalan mau diajakin nonton," sahut Laras.
"Sama Beni juga enggak apa-apa, kan?"
Laras menatap wajah Rasyid. Dalam hati bertanya-tanya, kenapa ayahnya malah merekomendasikan Beni? Kalau ketahuan Tomi kan bisa berabe.
"Enggak apa-apa kalau sekedar nonton. Lagian Tomi kan lagi sibuk. Enggak bakalan tau," ucap Rasyid memaksa.
"Ya nanti, Yah. Laras lagi nanggung nyelesein episode ini," jawab Laras. Lalu kembali mengetik lagi.
Hhh! Dasar anak ini, kalau udah ngetik, tidak mau diganggu.
Rasyid keluar kembali. Niken buru-buru kabur. Bisa kena omel Laras lagi kalau ketahuan nguping.
Hhh, selesai. Laras segera mencari film baru yang dikatakan Rasyid tadi.
Laras melihat gambarnya. Ada aktris idolanya di sana. Hhm. Menarik juga.
Lalu Laras nge-chat Beni. Mengajaknya nonton malam ini.
Gayung bersambut. Beni juga lagi bete di rumah. Termasuk, gara-gara sikap jutek Niken tadi.
Mereka janjian nonton jam delapan. Jam pemutaran terakhir.
"Yah. Laras nanti mau nonton sama Beni. Jam delapan," ucap Laras.
Yes! Rasyid berseru dalam hati. Rencananya bercinta dengan Yanti bakalan sukses.
"Iya, enggak apa-apa. Pulangnya jangan kemalaman," sahut Rasyid. Padahal dia berharap, sepulang nonton mereka mampir lagi kemana gitu.
Laras kembali ke kamarnya. Dia mengirim pesan pada Tomi. Sekedar mengecek saja, Tomi benar-benar sibuk apa enggak.
Dan ternyata pesan Laras cuma centang satu. Laras tersenyum. Itu artinya Tomi enggak bohong kalau memang sedang sibuk.
__ADS_1
Jam setengah delapan, Beni menjemput Laras. Tapi dia tak mau masuk ke rumah Laras. Beni lagi malas ketemu Niken.
Coba aku punya hape lagi, bakalan aku foto tuh mereka yang lagi boncengan. Lalu aku kirim ke nomornya kak Tomi. Biar tahu rasa. Batin Niken.
Rasyid tersenyum senang. Lalu segera menghubungi Yanti. Sekarang dia sudah punya nomor telpon Yanti, jadi lebih memudahkannya.
"Mau kemana, Yah?" tanya Niken.
Rasyid lagi bercermin. Kalau cuma ke rumah Yanti, dia tak perlu repot-repot ganti baju. Tapi tetap naik motor, biar tak mencurigakan.
"Ke rumah teman, sebentar," jawab Rasyid yang sudah menggenggam kunci motor.
"Ikut ya, Yah," pinta Niken. Dia bete di rumah sendirian. Meski ada Ayu, tapi anak itu belum bisa diajak ngobrol. Kadang malah Ayu ngobrol sendiri dengan boneka-bonekanya.
"Enggak usah. Ayah cuma sebentar," tolak Rasyid.
"Tadi kan kak Laras sama Ayu sudah diajak, sekarang giliran Niken dong." Niken tetap memaksa.
Rasyid menatap wajah Niken yang pura-pura sedih.
"Ayah bilang enggak, ya enggak!" bentak Rasyid.
Niken terdiam menundukan kepalanya. Kalau Rasyid sudah begini, bakalan kena tampar kalau dia ngeyel.
"Iya, Yah."
Tiba-tiba Rasyid mengeluarkan uang dari kantong celananya..
"Nih, buat jajan kamu sama Ayu. Ayu! Nih, Ayah kasih uang jajan!" seru Rasyid.
Ayu buru-buru keluar dari kamarnya.
"Asik...! Mana, Yah?"
"Itu uangnya sama Niken. Bagi dua!" Rasyid bergegas pergi.
"Enggak ada uang jajan!" bentak Niken pada Ayu. Lalu masuk ke kamarnya.
Ayu mendengus kesal. Pasti begini jadinya kalau berurusan uang dengan Niken.
Lalu Ayu kembali masuk ke kamarnya. Melanjutkan obrolan dengan boneka-boneka kesayangannya.
Niken berganti pakaian. Mending uangnya buat jalan-jalan saja. Meski benar-benar cuma jalan kaki.
"Kakak mau kemana?" tanya Ayu yang melihat Niken sudah rapi.
"Pergi!" jawab Niken dengan ketus.
"Pergi kemana, Kak? Ayu ikut. Ayu takut sendirian."
"Bodo amat!" Niken berjalan keluar rumah.
Ayu hanya memandangnya dengan sedih. Semua orang pergi. Tinggal dirinya sendirian.
Ayu berlari masuk ke kamarnya lagi sambil menangis.
__ADS_1