
Tomi mengajak Adam dan Rojak menjauh dari mulut usil teman-temannya.
"Mau ngapain?" tanya Rojak.
"Satu jam lagi aku harus sampai di rumah Laras. Kasih saran dong, gimana rencana yang enak," jawab Tomi.
Adam diam sejenak. Dia sedang mencari ide terbaik.
"Oke, kalau saranku gini aja...." Adam menyampaikan rundown acaranya. Tomi manggut-manggut.
"Nah itu juga bagus, Tom. Tapi lebih sip lagi kalau kamu rekam prosesinya. Buat kenang-kenangan. Hehehe," sahut Rojak.
"Terus biar kamu bisa lihat?" tanya Adam.
"Alah! Kayak kamu enggak mau lihat aja!" Rojak menoyor kepala Adam.
Meski Adam jauh lebih tua, tapi persahabatan mereka seperti tak berjarak. Adam pun tertawa terbahak-bahak.
"Ya udah, aku pergi dulu," pamit Tomi pada mereka.
"Oke, Bro. Goodluck," sahut Adam menyemangati Tomi.
Tomi segera melajukan motor ke rumahnya. Dia harus gerak cepat. Waktunya tak banyak. Dia tak mau terlambat sampai di rumah Laras.
Bakal kena semprot Rasyid lagi nanti. Dan batallah rencana yang telah disusun dengan rapi.
Di rumahnya, Laras langsung berlari ke kamar mandi. Dia menghapus bedaknya yang berantakan kena air matanya. Dan nanti akan memoles lagi wajah cantiknya.
"Mau kemana kamu?" tanya Rsayid melihat Laras kembali bersolek.
"Tomi mau ngajak Laras, Yah. Katanya biar Laras yakin, kalau dia enggak bohong," jawab Laras dengan senyum mengembang.
"Ke mana?" tanya Rasyid curiga.
"Ke tempat dia meeting sama bosnya," sahut Laras sambil memoles bibir mungilnya.
"Boleh kan, Yah?" tanya Laras setelah lipstiknya melekat sempurna.
"Ya sudah. Tapi jangan malam-malam pulangnya!" jawab Rasyid.
"Iya, Yah. Tadi Tomi bilang kalau udah selesai, dia akan langsung mengantar Laras pulang," sahut Laras.
"Kak! Berarti makanannya boleh kita makan semua, ya?" tanya Niken yang sudah berharap bisa makan makanan itu sepuasnya.
"Enak aja! Sisain buat aku!" jawab Laras lantang.
"Iya, tau!" Niken menarik tangan Ayu yang berdiri tak jauh darinya.
"Ayo, kamu mau enggak?" ajak Niken. Ayu mengangguk dengan cepat.
__ADS_1
"Yah, bagi duit dong buat pegangan," pinta Laras.
"Ayah enggak ada yang lagi. Rokok Ayah aja udah mau abis!" sahut Rasyid, lalu berjalan ke ruang tamu. Dia juga akan mengisi perutnya dengan makanan yang tak jadi disuguhkan.
Tak lama, Tomi datang. Dia naik taksi online. Dandanannya rapi seperti orang kantoran.
"Assalamualaikum," salam Tomi dengan sopan.
Rasyid dan kedua anaknya sedang pesta makanan di ruang tamu.
"Waalaikumsalam," sahut mereka bertiga berbarengan.
"Larasnya sudah siap, Om?" tanya Tomi setelah menyalami tangan Rasyid.
Tanpa dipanggil, Laras keluar dari kamarnya. Seperti pertemuan pertamanya dengan Tomi, Laras tetap terlihat cantik meski dengan dandanan seadanya.
"Kamu sudah siap, Ras? Mobil bosku enggak bisa nunggu lama-lama," tanya Tomi berbohong.
Laras mengangguk lalu berpamitan pada Rasyid.
"Kami pergi dulu, Om," pamit Tomi.
"Jangan kemalaman pulangnya!" sahut Rasyid.
"Saya usahakan, Om. Moga-moga di puncak tidak hujan. Jadi kami bisa langsung pulang," ucap Tomi.
Mata Laras berbinar. Dia akan diajak ke puncak. Tempat yang dari dulu diidamkannya.
"Langsung ke lokasi ya, Pak," ucap Tomi pada sopir taksi online yang sudah tahu lokasi tujuan Tomi. Bahkan Tomi sudah membayar penuh ongkosnya. Biar Laras tidak tahu kalau itu hanya sebuah taksi online.
Taksi online itu menuju ke daerah puncak. Tomi meminjam vila Yoga semalam. Kebetulan, karena bukan weekend, keluarga Yoga tak memanfaatkannya.
Tomi membawa kunci sendiri karena, penjaga vila sedang pulang kampung.
Tomi sudah pernah beberapa kali diajak Yoga meninap di vila itu bersama teman-temannya. Jadi sedikit banyak, Tomi sudah paham tempatnya.
Perjalanan yang cukup jauh, dan cukup menguras kantong Tomi untuk membayar ongkos taksinya. Satu jam setengah, karena jalanan cukup macet.
Di perjalanan, Tomi pura-pura sibuk menelpon bosnya. Padahal yang ditelpon Adam. Nama di kontak hapenya telah dia rubah. Biar meyakinkan kalau Laras melihatnya.
Sampailah mereka di sebuah vila yang sunyi. Tomi mengajak Laras turun.
"Terima kasih, Pak. Nanti kalau saya mau pulang, saya hubungi kembali," ucap Tomi. Sopir taksi yang sudah dikode, mengangguk sambil tersenyum.
Baginya yang penting dapat penumpang, meski Tomi tak memberikan tip sedikit pun.
"Ini tempatnya, Tom?" tanya Laras. Dia pikir, mereka akan mendatangi tempat meeting seperti di restauran di puncak seperti yang sering Laras lihat di medsos.
"Iya, Sayang. Kita di sini dulu. Ini vila bosku. Nanti mereka menyusul ke sini kalau meetingnya sudah selesai," jawab Tomi. Lalu dia membuka pintu vila.
__ADS_1
"Memangnya kamu enggak ikut meeting?" tanya Laras lagi.
"Memangnya kamu mau aku tinggal sendirian di sini?" Tomi malah balik bertanya.
Laras menggeleng. Vila yang sepi dan terkesan angker. Kalau enggak sama Tomi, Laras pasti enggak akan mau masuk.
Tomi yang sudah beberapa kali ke sini, hafal dimana saklar lampu. Dia nyalakan beberapa lampu. Termasuk juga lampu taman.
"Tuh, lihat taman itu. Bagus kan?" Tomi menunjukan sebuah taman di samping vila pada Laras.
Tadi saat mereka baru sampai, taman itu terlihat menyeramkan. Ternyata sangat indah begitu lampunya dinyalakan.
"Iya. Bagus banget," sahut Laras.
Tomi memeluk tubuh Laras dari belakang. Di vila yang sepi ini, Tomi bebas melakukan apapun pada Laras. Tak akan ada yang mengganggunya.
Jantung Laras berdetak cepat. Tubuhnya bergetar saat Tomi mencium ujung telinganya.
"Tom..." Belum apa-apa Laras sudah mendesah.
Tomi mulai terpancing. Dia malah menggigit-gigit telinga Laras.
"Geli, Tomi." Laras menggelinjang.
"Tom, kita foto di taman itu dulu yuk," ajak Laras.
Entah kenapa Laras takut mereka kebablasan. Dan ketahuan teman-teman Tomi yang katanya nanti akan datang.
"Nanti saja fotonya, Sayang. Kita nikmati suasana saja dulu." Tomi menolak permintaan Laras. Meskipun waktu mereka masih sangat panjang.
"Nanti kalau teman-teman kamu datang bagaimana? Aku kan malu," sahut Laras.
"Enggak, Sayang. Mereka akan menelponku dulu kalau datang. Kan aku yang pegang kuncinya. Tenang aja." Tomi beralih mencium leher Laras. Membuat Laras semakin menggelinjang.
"Pintunya terbuka, Tom," ucap Laras. Dia trauma dengan kejadian kemarin di rumahnya. Sedang asik-asiknya Rasyid dan Niken masuk nyelonong.
Tomi melepaskan pelukannya dan mengunci pintu. Jantung Laras makin berdetak cepat. Di vila ini hanya mereka berdua. Apa yang akan dilakukan Tomi padanya?
Saking nervousnya, Laras kebelet pipis.
"Tom, aku pingin pipis."
Tomi berdecak kesal. Dia sudah on fire, Laras malah kebelet pipis.
"Ayo. Aku antar."
Tomi membawa Laras ke kamar mandi yang berada di antara dua kamar tidur.
"Aku tunggu di situ, ya?" Tomi menuju sofa yang tak jauh dari kamar mandi.
__ADS_1
Dengan jantung yang berpacu kencang, Laras masuk ke kamar mandi.