KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS

KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS
Bab 108 KENA KIBUL


__ADS_3

"Assalamualaikum," salam Rasyid di rumah temannya saat baru saja sampai.


Laras menunduk di belakang Rasyid. Maskernya sudah dilepas. Wajah Laras tadi sempat diolesi debu oleh Rasyid biar terkesan kucel.


"Waalaikumsalam," sahut teman Rasyid, Dino.


Dino memandang Rasyid yang tak kalah lusuhnya dengan Laras. Rasyid mengenakan pakaian yang sengaja tak pernah dicuci dan berbau apek.


"Rasyid?"


"Dino." Rasyid mendahului menjabat tangan Dino.


"Ini siapa?" tanya Dino menunjuk Laras.


"Laras, anakku," jawab Rasyid.


Dino memandang iba pada Laras. Sudah dewasa tapi penampilannya sangat lusuh.


"Siang, Om," sapa Laras. Lalu dengan sopan Laras menyalami tangan Dino.


"Ayo sini duduk," ajak Dino.


Dino mempersilakan mereka duduk di kursi teras. Meski iba, Dino enggan membawa masuk mereka. Takut juga kalau sofa mewahnya jadi kotor dan bau.


"Aku pikir kamu sudah sukses lho, Syid?" Dino memulai percakapan.


"Iya, aku pernah sukses. Tapi terus kena tipu. Jadi begini deh. Habis semua hartaku. Bahkan untuk menghidupi ketiga anakku saja, aku tak mampu lagi, Din." Rasyid memulai aktingnya.


Laras hanya diam menundukan wajahnya. Dia benci dengan sifat Rasyid yang suka berbohong dan menghinakan diri sendiri.


"Terus, kalian makan dari mana?" tanya Dino mulai terpancing cerita Rasyid.


"Dari mana aja. Kan ada Allah, Din. Allah yang memberi kita makan. Meski aku tak pernah tahu, mau makan apa lagi besok pagi," jawab Rasyid.


"Lho, hidup kok enggak punya kepastian. Memangnya kamu enggak bisa cari pekerjaan? Kan bisa kerja apa aja, yang penting punya penghasilan tetap," sahut Dino.


"Mana ada orang yang mau mempekerjakan aku yang sudah bangkrut?" jawab Rasyid. Dia sudah mempersiapkan banyak jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan yang pasti akan diberikan padanya.


"Ya adalah. Asal enggak minta jadi direktur aja. Hahaha." Dino tertawa.


"Eh, kalian mau minum apa?" Dino berdiri.


"Apa ajalah. Yang penting bisa ngilangin haus," jawab Rasyid pasrah. Padahal dia berharap diberi minuman segar juga makanan yang enak-enak.


"Ma...! Mama...!" Dino berteriak memanggil istrinya dari pintu.


"Iya, Pa!" sahut istri Dino.

__ADS_1


Keluarlah seorang wanita cantik dan seksi dengan pakaian mewah tapi kurang bahan.


Mata Rasyid seperti hampir meloncat melihatnya. Apalagi dua gunung kembarnya seperti berlomba untuk keluar dari dalam blouse ketat yang tak berkerah.


Blouse transparan yang dikenakan istrinya Dino, membuat bagian dadanya terlihat sangat menggoda.


Juga rok mini yang sangat pendek, menampilkan kaki dan paha mulus yang tak ternoda.


Rasyid menelan ludahnya berkali-kali. Laras yang melihatnya, menyenggol lengan Rasyid. Malu sekali melihat kelakuan ayahnya ini.


"Kenalkan, Ma. Ini teman sekolah Papa dulu. Namanya Rasyid. Dan itu anaknya. Siapa namanya tadi?"


"Laras...." jawab Rasyid dengan mata masih tak berkedip menatap tubuh molek di depannya.


"Ah, iya. Laras. Syid, ini Tasya. Istriku." Dino memperkenalkannya pada Rasyid.


Tasya hanya mengangguk tanpa berminat menyalami mereka. Jelas saja, Tasya tak mau tangan mulusnya kotor karena bersentuhan dengan mereka.


Dino pun paham itu dan tak memaksa.


"Ma, tolong bilang ke bik Onah, buatkan minum untuk mereka. Dan kalau Mama punya baju bekas yang sudah enggak kepake, tolong berikan pada Laras. Nanti Papa ganti yang baru. Juga bik Onah suruh siapkan sembako buat mereka. Kasihan mereka sedang kesulitan," ucap Dino.


Tasya hanya menghela nafasnya saja, lalu masuk lagi ke dalam tanpa berkata apapun.


"Itu istri keduaku. Cantik kan?" Lalu Dino tertawa.


"Banget. Dapet dari mana kamu, Din?" tanya Rasyid.


"Kalau kita punya duit, apapun bisa kita dapetin. Bener enggak?" lanjut Dino.


Rasyid manggut-manggut. Dia juga berharap suatu saat punya banyak duit biar bisa dapet wanita secantik Tasya.


"Anakmu juga itu. Kalau didandani, enggak kalah cantiknya. Apa anakmu biar ikut aku aja. Kerja di sini bantuin bik Onah. Nanti aku gaji. Mau gaji berapapun aku kasih." Otak kotor Dino mulai bekerja.


Sedari tadi diam-diam Dino memperhatikan Laras. Di balik pakaian lusuhnya, Dino bisa membayangkan tubuh mulus yang pastinya masih ranum.


"Kamu mau, Ras?" Rasyid menoleh ke Laras.


Laras langsung menggeleng. Tadi beberapa kali Laras melihat teman ayahnya ini memperhatikannya dengan tatapan aneh. Membuat Laras ketakutan. Untungnya dia duduk dekat Rasyid.


"Kenapa enggak mau? Kamu kan anak pertama, harus bisa membantu ayahmu. Kasihan kan adik-adikmu," sahut Dino.


Dia berharap Laras menerima tawarannya. Selain bisa membantu kehidupan Rasyid, Dino juga....Dino hanya tersenyum lebar membayangkannya.


"Nanti kita pikirin lagi deh. Tapi pekerjaannya enggak berat, kan?" tanya Rasyid.


Jujur, Rasyid tak mau kalau anaknya diperlakukan seperti pembantu. Meski statusnya nanti sebagai pembantu.

__ADS_1


"Enggaklah. Kan cuma bantu-bantu bik Onah. Tapi menginap di sini. Kalau bik Onah memang setiap hari pulang," ucap Dino.


Tak lama, bik Onah keluar membawa baki berisi dua gelas minuman dingin sesuai harapan Rasyid. Juga sepiring brownies yang terlihat sangat menggoda.


Mata Rasyid kembali terbelalak. Itu bukannya Wulan? Wanita yang pernah ditidurinya?


Bik Onah alias Wulan pun ikut terkejut melihat sosok Rasyid alias Kahlil yang dikenalnya di medsos.


Saking terkejutnya, membuat nampan yang dibawa bik Onah hampir jatuh.


Dengan wajah menunduk, bik Onah meletakan isi nampan di meja.


"Silakan, Syid. Biar enggak haus lagi."


Rasyid mengangguk pelan. Dalam hatinya merutuk. Ternyata wanita yang ditidurinya hanya seorang pembantu.


Sial! Batin Rasyid.


"Bik, siapin satu paket sembako. Bawakan kesini," ucap Dino pada ART-nya.


"Iya, Pak," sahut bik Onah. Lalu segera masuk. Jantungnya serasa mau copot. Tak disangkanya dia akan ketemu dengan Rasyid di tempatnya bekerja.


Dino sempat melihat reaksi Rasyid saat melihat pembantunya tadi.


"Kamu kenal bik Onah?" tanya Dino.


"Ah, eng...enggak," jawab Rasyid tergagap.


"Oh, kirain kenal. Dia baru saja kerja di sini. Menggantikan pembantu yang lama. Silakan diminum."


Rasyid dan Laras yang sudah kehausan, segera meminumnya. Juga menghabiskan brownies yang sangat enak.


Laras hanya mengambil sepotong. Dia tak begitu berselera. Karena sudah jengah dengan drama yang sedang dijalaninya.


Sisanya, Rasyid yang menghabiskan. Rasyid ingin segera pergi karena kesal melihat wanita yang ngaku-ngaku bernama Wulan, ternyata bernama asli Onah dan hanya bekerja sebagai pembantu.


Bik Onah kembali keluar. Matanya menatap kembali Rasyid yang sedang lahap menghabiskan brownies sampai mulutnya belepotan.


"Ini, Pak." Bik Onah menyerahkan kantung plastik berisi paket sembako juga pakaian bekas untuk Laras. Lalu kembali masuk ke dalam.


"Syid, ini buat kalian."


Dino mengeluarkan dompetnya. Lalu mengambil beberapa lembaran merah.


"Nih. Buat tambahan. Jangan lupa, nanti bicarakan sama Laras. Biar dia kerja disini saja. Aku mau keluar. Ada urusan penting."


Rasyid mengangguk.

__ADS_1


"Terima kasih banyak, Din. Nanti aku bicarakan," sahut Rasyid. Laras cemberut mendengarnya.


Dino berdiri. Rasyid dan Laras pun ikut berdiri, lalu pamit setelah menerima pemberian dari Dino.


__ADS_2