KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS

KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS
Bab 184 MENAHAN LARAS


__ADS_3

Mata Sulis terbelalak melihat wanita yang sedang duduk dengan santai di kursi.


Laras menoleh karena merasa namanya dipanggil.


Laras memperhatikan wajah lelaki yang berdiri di sebelah Yati. Wajah yang pernah sangat dikenalnya.


"Tio....!" ucap Laras pelan.


Sulis mengangguk.


Nama panjang dari Sulis adalah Sulistiono. Dan Laras lebih suka memanggilnya Tio. Bukan Sulis seperti yang lainnya.


Makanya Laras tak menyangka kalau Sulis yang bekerja di rumah Dino ini adalah Sulistiono yang pernah dikenalnya.


Bukan cuma dikenal, tapi....


"Kamu benar Larasati Raya?" tanya Sulis masih kurang percaya.


Laras mengangguk. Lalu menghampiri Sulis.


"Apa kabar Tio?" Laras mengulurkan tangannya menyalami Sulis.


Sulis menyambutnya dengan tangan bergetar. Ada perasaan yang bergejolak di dada Sulis.


"Lho, kalian saling kenal?" tanya Yati.


"Iya, Bik. Sulistiono ini teman SMP‐ku," jawab Laras.


Lebih dari teman kali, Ras. Ucap Sulis dalam hati.


"Baguslah kalau kalian udah saling kenal. Lis, ajak ngobrol dulu, Larasnya. Aku lanjut siapin makanan buat adik-adiknya Laras," ucap Yati.


Yati bernafas lega. Akhirnya ada alasan buat Sulis menahan Laras pergi.


Yati jadi lupa mau menelpon Tasya. Karena dia malah menguping obrolan mereka.


"Gimana kabar kamu, Ras?" tanya Sulis. Dia duduk di depan Laras. Matanya tak lepas dari wajah Laras yang semakin cantik saja.


"Kan aku yang nanya duluan kabar kamu. Kamu belum jawab, malah nanya kabarku," sahut Laras.


"Oh iya. Aku lupa." Sulis nyengir.


"Kabarku baik-baik aja, Ras. Kayak begini ini," lanjut Sulis.


"Setelah lulus SMP, kamu lanjutin kemana?" tanya Laras.


"Aku enggak lanjut sekolah, Ras. Kamu tau sendiri kan, gimana kondisi orang tuaku," jawab Sulis.


Laras mengangguk.


Sebenarnya kondisi keluarga Sulis tak ada bedanya dengan kondisi keluarga Laras. Cuma pemikiran orang tua mereka berbeda.


Rasyid meskipun kadang eror, tapi dia punya cita-cita yang tinggi buat anak-anaknya.

__ADS_1


Rasyid ingin semua anaknya bisa sekolah yang tinggi. Tapi sayang, keinginannya tak didukung dengan kerja keras Rasyid.


Rasyid maunya bisa punya banyak uang buat menyekolahkan anak-anaknya, tanpa dia harus bekerja keras.


Rasyid lebih suka menjerat wanita biar bisa mendapatkan uang. Meski ujung-ujungnya sering apes.


Contohnya saja saat dia mendekati Cyntia. Dia sampai harus kehilangan istri tercintanya, Alya.


Rumah tangganya hancur berantakan, sampai akhirnya anak-anaknya tak terurus.


"Terus apa yang kamu lakukan?" tanya Laras.


"Aku kerja, Ras. Ikut omku kerja di kota besar. Tiga tahun aku kerja di sana," jawab Sulis.


"Lama juga, ya. Kerja apaan, Tio?" tanya Laras.


"Ikut orang. Kayak begini ini. Ya, namanya juga cuma lulusan SMP, mau kerja apa?" sahut Sulis.


"Ooh. Terus kenapa akhirnya kamu kerja di sini?" tanya Laras lagi.


"Ceritanya panjang, Ras. Dan kurang menyenangkan," jawab Sulis. Dia tak mungkin berterus terang pada Laras, meski mereka pernah sangat dekat.


Laras cuma mengangguk-angguk. Dia juga tak mau memaksa Sulis cerita.


"Kalau kamu sendiri, kerja dimana setelah selesai sekolah?"


Sulis pernah tahu dari temannya, kalau Laras meneruskan ke SMA favorit. Karena Laras tergolong anak yang cerdas. Nilai-nilai pelajarannya selalu tinggi. Meski jarang mendapatkan ranking.


"Aku belum pernah kerja. Nganggur aja di rumah. Ayah selalu melarang aku kerja. Padahal aku kepingin banget bisa punya uang sendiri kayak yang lainnya," jawab Laras.


"Bukan aku yang mau. Ayah yang maksa. Ayahku teman sekolahnya om Dino. Padahal aku enggak mau kerja di rumahan kayak begini," jawab Laras.


"Iya, Ras. Aku juga sebenarnya enggak mau. Tapi mau gimana lagi?" Sulis pun pasrah saja pada nasibnya.


"Ijasahku cuma SMP. Enggak ada gunanya!" lanjut Sulis.


"Kamu enggak pingin ikut kejar paket C? Kan lumayan, bisa dapet ijasah SMA," tanya Laras.


"Pingin sih. Cuma belum pernah cari infonya. Lagian bayarnya juga enggak murah, Ras," jawab Sulis.


"Setahuku ada yang gratis juga. Nanti deh, kalau aku ada info, aku kabarin. Boleh minta nomor hape kamu?" Laras yang masih memegangi ponselnya, langsung menyalakan lagi. Siap ngesave nomor Sulis.


Sulis pun segera menyebutkan nomor telponnya. Dia sangat senang, akhirnya bisa ketemu lagi dengan Larasati. Wanita yang pernah sangat dicintainya. Meski banyak orang bilang, cuma cinta monyet.


"Aku misscall, ya," ucap Laras setelah menyimpan nomor Sulis.


Sulis mengangguk dengan semangat.


"Aku pernah nyariin kamu, Ras. Tapi kata tetanggamu, kalian udah pindah," ucap Sulis.


Sulis yang ditugasi Yati untuk menahan Laras, berusaha mencari bahan pembicaraan. Meskipun setelah melihat Laras, Sulis tak yakin dengan kecurigaan Yati.


Setahu Sulis, Laras bukanlah orang yang suka mencuri. Apalagi sampai terlibat dengan komplotan.

__ADS_1


Dan rasa rindunya pada Laras, membuat Sulis ingin berlama-lama dengannya.


Tanpa diminta Yati pun, Sulis pasti akan menahan Laras untuk tidak pergi dulu. Minimal dia bisa menuntaskan kerinduannya.


"Iya. Kamu kan tau kalau ayahku seorang kontraktor. Hahaha." Laras tertawa terbahak-bahak.


Sulis menatapnya sambil tersenyum bahagia. Dia bisa kembali melihat tawa Laras yang begitu lepas. Seperti saat mereka masih remaja dullu.


Hidup tanpa beban, meskipun orang tua hidup pas-pasan. Bahkan boleh dibilang kurang mampu.


"Hampir tiap tahun kita pindah kontrakan, tau enggak," lanjut Laras setelah puas tertawa.


Sulis mengangguk. Dalam hati kasihan juga kehidupan Laras.


Semiskin-miskinnya orang tua Sulis, mereka punya rumah sendiri meskipun kecil dan hanya rumah warisan nenek buyutnya.


Ponsel Laras berdering lagi. Laras melihatnya sekilas.


Aduh, Tomi telpon lagi. Laras mendiamkannya dulu.


"Bik, udah jadi belum makanannya?" tanya Laras pada Yati.


"Oh, iya. Sampai lupa. Sebentar," jawab Yati.


Yati mengkode Sulis lagi. Sulis hanya bisa mengangkat bahu. Dia sudah berusaha menahan Laras. Tapi panggilan telpon tak bisa ditahan oleh Sulis.


Iih. Yati gregetan sendiri. Dia udah kehilangan cara untuk menahan Laras.


Laras mendekati Yati.


"Udah, ini aja enggak apa-apa, Bik. Aku udah ditungguin," ucap Laras. Dia melihat satu boks thinwall sudah diisi makanan oleh Yati.


"Eh, entar dulu. Yang ini belum," sahut Yati.


"Enggak usah, Bik. Aku buru-buru," tolak Laras.


Yati melirik ke arah Sulis. Seakan meminta pertolongan.


Sulis paham dengan kekhawatiran Yati, kalau sampai Laras buru-buru pergi.


Sulis bangkit dari tempatnya duduk. Lalu mendekati Laras.


"Ras, aku mau ngomong sesuatu sama kamu." Sulis meraih tangan Laras.


Laras menoleh.


"Ngomong apa? Bukannya kamu dari tadi udah ngomong?" tanya Laras.


"Ini soal lain, Ras. Jangan di sini. Ada bik Yati," bisik Sulis.


Yati pun pura-pura tak mendengarnya. Dalam hatinya, terserah deh Sulis mau bawa Laras kemana. Ke kamar juga boleh. Yang penting Laras tidak pergi dulu.


"Terus dimana?" tanya Laras.

__ADS_1


Sulis menarik tangan Laras masuk ke kamarnya. Dan langsung mengunci pintunya.


"Kamu mau apa, Tio?"


__ADS_2