
"Mau kemana, Ras?" tanya Yanti, pemilik warung sembako yang sedang menyapu halaman.
"Ke rumah pak RT, Bu. Mari," jawab Laras sambil terus berjalan.
Sampai di rumah mewah milik pak RT, Laras menatapnya sejenak. Apa pak RT mau membantunya ya? Laras hanya bisa berdoa dalam hati, semoga pak RT terketuk hatinya.
"Assalamualaikum. Permisi." Laras mengetuk pintunya.
"Oh, itu ada belnya." Laras menekan bel sekali. Dan tak lama keluarlah pak RT yang tak begitu Laras kenal.
"Ya. Cari siapa?" tanya pak RT. Kelihatannya dia juga tak mengenali Laras.
"Saya Laras, Pak. Anaknya pak Rasyid yang tinggal di ujung sana." Laras memperkenalkan dirinya lebih dahulu.
"Oh, yang mengontrak di rumahnya bu Wahid?" tanya pak RT lagi. Laras mengangguk.
"Mari masuk." Pak RT mendahului masuk dan duduk.
"Silakan duduk, Laras. Ada apa?"
Laras duduk dengan sopan.
"Begini, Pak. Adik saya Ayu sedang sakit demam dari kemarin. Ayah saya sedang tak ada uang sama sekali. Boleh saya minta tolong sama Bapak?" ujar Laras.
"Minta tolong apa?" pak RT mengerutkan dahinya.
"Adik saya lapar, Pak. Sejak tadi pagi kami belum makan. Kalau boleh, saya minta sedikit makanan untuk adik saya saja. Badannya makin lemah karena lapar." Laras menundukan kepalanya. Sebenarnya dia sangat malu meminta makan pada orang lain.
"Astaghfirullahaladzim. Sudah dikasih obat?" tanya bu RT yang tiba-tiba sudah ada di dekat mereka.
"Bu." Laras menatap sebentar lalu menganggukan kepalanya menyapa.
"Sudah, Bu. Hanya obat warung saja, dikasih sama bu Yanti kemarin," jawab Laras dengan jujur.
"Ya sudah. Tunggu sebentar. Ibu ambilkan makanan." Bu RT yang berbadan gendut masuk lagi ke dalam.
"Kenapa baru ke sini sekarang?" tanya pak RT.
Laras hanya tersenyum.
Tak lama, bu RT kembali dengan sebuah kotak makan dan satu kantong kresek.
"Ini bawa untuk kalian. Ini juga ada obat turun panas. Berikan pada adikmu setelah makan." Bu RT menyerahkan bawaannya pada Laras.
"Banyak sekali, Bu," sahut Laras. Dia pikir hanya akan diberi satu piring nasi saja.
"Sudah tidak apa-apa, bawa saja. Di sini juga tidak ada yang makan," sahut bu RT yang ternyata orangnya sangat baik.
"Kamu kalau perlu pertolongan, segera ke sini. Jangan tunggu sampai adikmu sakitnya makin parah." Pak RT ikut menimpali.
__ADS_1
"Iya, Pak. Bu, saya permisi. Assalamualaikum," pamit Laras.
"Waalaikumsalam," jawab mereka bersamaan.
Laras pulang dengan banyak bawaan yang belum tahu isinya apa saja.
"Pak. Perhatikan warganya dong," ucap bu RT saat Laras sudah pergi.
"Ya, Ibu kan tau sendiri mereka orangnya sangat tertutup. Si Rasyid saja kalau dikasih undangan pertemuan warga, tidak pernah datang," sahut pak RT.
"Iya sih, Pak. Ibu juga baru sekali ini ngeh wajah anaknya itu. Padahal mereka sudah hampir satu tahun di sini.
"Nah, kan. Ibu yang sering keluar saja baru tau, apalagi Bapak yang sibuk kerja."
Bu RT manggut-manggut.
"Oh iya, Bu. Nanti malam ada pertemuan warga di rumah pak Salim. Biar nanti kita bicarakan soal mereka. Soalnya Bapak dengar, si Rasyidnya juga tak punya pekerjaan," ujar pak RT.
"Ibu dengar juga begitu, Pak. Terus mereka makan dari mana ya, selama ini?"
Pak RT hanya mengangkat bahunya saja. Lalu bersiap ke mushola untuk sholat maghrib.
Laras sudah sampai di depan rumahnya. Hari sudah menjelang gelap. Tapi lampu di rumahnya belum ada satupun yang menyala.
Laras masuk dulu ke kamar Ayu, meletakan bawaannya.
"Apa itu, Kak?" tanya Ayu yang masih setia menunggu Laras mencari makanan.
"Kok mati?"
"Iya, Kak. Barusan mati lampu," sahut Ayu.
"Oh." Laras manggut-manggut.
Sementara Niken begitu mendengar ada makanan, signalnya yang kuat langsung menuju kamar Ayu.
"Makanan apa, Kak?" Niken langsung meraih kantong plastik yang tadi diletakan Laras di atas tempat tidur Ayu.
"Heh! Jangan dibuka-buka. Kalau ada makanan aja, kamu langsung melotot matanya," hardik Laras. Lalu menyingkirkan tubuh Niken.
"Minggir!"
Laras tak ingin makanannya dihabiskan lagi sama Niken yang rakus.
"Ih, pelit amat, sih!" Niken cemberut. Tapi masih setia menunggu dan melihat apa isi kantong kresek bawaan Laras.
Laras membuka kotak makanan, yang ternyata isinya nasi dan sayur. Ada sepotong ayam gorengnya juga.
"Wauw! Kayaknya enak banget itu," ucap Niken.
__ADS_1
"Ini buat Ayu! Kasihan dia lagi sakit!" seru Laras.
Lalu Laras membuka kantong kresek. Yang ternyata isinya beberapa roti isi dan beberapa buah pisang yang sudah terlalu matang.
"Nih! Kamu ini aja!" Laras memberikan sebuah roti dan pisang pada Niken.
Niken menerimanya, tapi matanya masih tertuju pada ayam goreng di kotak makanan.
"Kak. Nyicip itu dong," pinta Niken.
"Enggak! Ini buat Ayu!" bentak Laras.
Niken langsung mengkeret di bentak Laras. Lalu keluar dari kamar Ayu sambil bergumam tak jelas.
"Ayu makan, ya. Kakak suapin."
Ayu mengangguk. Apalagi melihat menu makanan yang menggoda selera.
Ayu makan dengan lahap. Laras juga ikut menyuap untuknya sendiri, berganti-ganti dengan Ayu. Kalau enggak begitu, bakal disaut oleh Niken sisanya.
"Minum, Kak," pinta Ayu. Laras mengambil minum di dapur. Suasana rumah sudah lumayan gelap.
Sampai dikamar Ayu, Laras menyalakan senter hapenya. Lalu kembali menyuapi Ayu.
"Laras....! Kenapa gelap sekali? Nyalakan lampunya!" teriak Rasyid yang baru saja terbangun.
"Mati lampu, Yah!" Niken yang menjawab. Dia sedang memakan pisang di pintu samping.
"Dari mana mati lampu? Itu di tempat tetangga lampunya nyala!" Rasyid sudah berdiri di dekat jendela. Lalu berusaha menekan saklar lampu.
"Niken! Coba lihat di meteran listriknya. Siapa tau njeglek!" Kebiasaan Rasyid selalu main perintah pada anak-anaknya yang sering membuat kesal. Karena Rasyid kalau merintah tak kenal situasi dan harus dilaksanakan.
"Tokennya abis, Yah!" teriak Niken.
"Kamu gimana sih? Token sampai habis enggak ada yang tau! Laras! Kamu lagi! Ngapain aja sih di kamar?" Rasyid terus saja teriak-teriak.
Tak urung dia berjalan juga ke kamar Ayu. Dan di sana dia menyaksikan Laras sedang menyuapi Ayu dengan telaten.
Rasyid sangat tersentuh melihatnya. Tapi darimana Laras mendapatkan makanannya? Rasyid mendekat. Dan dia melihat Ayu sedang memegangi ayam goreng yang tinggal tulangnya saja.
"Makanan dari mana, Ras?" tanya Rasyid.
"Mm. Dari...pak RT, Yah. Maaf, tadi Laras terpaksa ke rumah pak RT. Terus dikasih ini." Laras tidak bilang kalau dia memang sengaja meminta makanan.
"Baik juga, pak RT. Terus dikasih apa lagi?" tanya Rasyid.
"Ini, Yah." Laras memberikan kantong kresek yang berisi roti dan pisang. Ada juga obat turun panas buat Ayu.
Rasyid melihat sekilas isi kantong kresek. Lalu mengambil satu buah pisang yang paling besar.
__ADS_1
"Enggak dikasih uang?" tanya Rasyid.
Laras terkejut dengan pertanyaan Rasyid. Dikasih makanan sama obat saja sudah untung, masa iya Laras harus minta uang juga.