KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS

KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS
Bab 81 TERBURU-BURU


__ADS_3

"Siapa dia?" tanya Laras dengan kesal karena dia merasa tak dianggap oleh Maya. Dia masuk dan keluar tanpa menyapanya.


"Dia...klienku," jawab Tomi tanpa berani menatap wajah Laras.


"Kalian menginap di sini semalam?" tanya Laras lagi.


"Mm....Enggak. Dia pulang semalam. Ada....satu teman lagi. Percaya padaku, Ras. Dia hanya klienku aja," jawab Tomi berusaha meyakinkan Laras.


"Klien tapi jalannya pake rangkulan mesra!" Laras langsung cemberut dan duduk di sofa.


Tomi menghampiri dan berlutut di depan Laras. Dia meraih tangan Laras.


"Percaya padaku, Ras. Kami tak ada hubungan apapun. Cuma sebatas hubungan kerja aja."


"Kerja apa? Jangan bohongi aku, Tom."


"Enggak, Ras. Aku enggak bohong. Yang kamu lihat hanya pura-pura aja. Aku hanya...ingin menyenangkannya aja. Biar dia mau terus jadi klienku." Tomi menggenggam tangan Laras dan menciuminya.


"Kamu dari tadi bilang klien klien terus. Sebenarnya urusan kerja apa, sih?" Laras mulai menyelidik.


Tomi kesulitan mencari jawabannya.


"Dia mau....menjual apartemennya. Aku yang mencarikan pembelinya."


"Kamu makelarnya?" tanya Laras.


Tomi mengangguk. Dia merasa Laras sudah berhasil dibohongi.


"Memangnya ada ya, makelar ama kliennya mesti bersikap mesra begitu?" Laras merasa tak terima.


"Ras. Pergaulan yang membuatnya bersikap seperti itu. Aku hanya mengimbangi aja. Kalau aku ada apa-apa dengannya, ngapain aku manggil kamu ke sini? Aku cinta banget sama kamu, Ras. Aku kangen."


Tomi beralih duduk ke sebelah Laras.


"Kamu enggak kangen denganku?" bisik Tomi di telingan Laras. Membuat Laras merinding.


"Ras...." Tomi mulai mencumbu. Laras yang sudah mulai kecanduan bercinta, tak menolak. Meski tak membalas karena hatinya masih kesal pada Tomi.


Pagi itu, Laras menikmati cumbuan Tomi yang panas. Tak seperti Beni yang justru menolaknya saat dia mulai on fire.


"Aku kunci pintunya dulu." Tomi beranjak dan mengunci pintu. Dia tak mau pergulatannya nanti dengan Laras diganggu oleh siapapun.


Tomi kembali ke sofa dan meminta Laras duduk di atas pangkuannya. Bagai kerbau dicucuk hidungnya, Laras menurut saja.

__ADS_1


Tak bisa dipungkiri, cumbuan Tomi dan situasi yang mendukung, membuat Laras cepat naik.


Perlahan Tomi melepas kaos yang dipakai Laras. Di balik bra murahan yang dikenakan Laras, tersembul dua gunung milik Laras yang masih ranum.


Jelas berbeda dengan milik Maya. Meski lebih besar ukurannya, tapi sudah agak kendur.


Tomi melahapnya dengan rakus. Membuat Laras melenguh.


Tomi terus saja membuat Laras memekik kenikmatan. Agar Laras tak lagi menanyakan soal urusannya dengan Maya.


Permainan mereka lanjutkan di atas tempat tidur mewah kamar VIP yang dibooking Maya semalam.


Tomi tak peduli meski Maya mengancam akan memotong bayarannya untuk membayar biaya kamar setengahnya.


Baginya saat ini, bagaimana caranya bisa membahagiakan Laras. Dan Laras tak lagi cemberut.


Berbagai gaya yang sudah lihay dimainkan oleh Tomi, membuat Laras serasa terbang ke langit biru.


Tomi seperti tak memberi ampun pada Laras, meskipun waktu mereka tak banyak. Hanya tinggal dua jam lebih saja.


Dan permainan diakhiri dengan suara jeritan dari mereka berdua. Jerit kenikmatan yang tiada tara.


"Kamu puas, Ras?" tanya Tomi di telinga Laras.


Laras yang sudah terkapar, hanya sanggup mengangguk. Matanya terpejam seperti tak mampu lagi membuka.


Lalu Tomi ke kamar mandi membersihkan diri dan kembali berpakaian.


Tomi sempat menyulut rokoknya dan menyeduh kopi sambil menatap Laras yang terkapar tak berdaya tanpa sehelai benang pun.


"Ras. Jam dua belas kita harus check out. Bangun, yuk." Tomi berbisik di telinga Laras. Laras hanya menggeliat dengan malas.


"Sekarang jam berapa?" tanya Laras dengan suara serak.


"Sebelas. Kamu ke kamar mandi dulu, sana. Sebentar lagi kita check out. Sekalian cari makan. Kamu lapar, kan?" tanya Tomi.


Laras mengangguk. Perutnya langsung keroncongan mendengar kata makan. Maklum saja dari pagi tadi belum terisi apapun.


Laras beranjak dan berjalan ke kamar mandi. Dia sudah tak malu lagi berjalan tanpa sehelai benang pun di hadapan Tomi.


Tomi hanya menatap sambil tersenyum. Dia merasa bangga karena dialah lelaki pertama yang telah menjamah Laras. Dan mungkin juga satu-satunya.


Karena di mata Tomi, Laras adalah seorang gadis yang masih lugu.

__ADS_1


Laras menikmati air dari shower yang terasa sangat segar mengenai sekujur tubuhnya.


Cukup lama, Laras berdiam diri di bawah aliran air dari shower. Hingga tak sadar kalau Tomi memperhatikannya dari pintu yang tak ditutup rapat.


Pikiran nakal Tomi langsung berkelana. Dia tatap lama-lama tubuh polos yang sedang menikmati kucuran air.


Tomi berusaha sekuat hati menahan hasratnya. Sayang adiknya tak bisa diajak kompromi. Hingga akhirnya, Tomi melucuti lagi pakaiannya dan bergabung mandi lagi dengan Laras.


"Tomi....!" pekik Laras saat menyadari Tomi sudah mendekapnya dari belakang.


"Aku mau mandi lagi bareng kamu, Sayang...." seru Tomi. Suaranya kalah dengan suara air yang mengucur deras.


Dan bisa ditebak, mereka tak hanya mandi. Tapi kembali melakukan pertempuran di sana.


Suara pekikan Laras malah membuat Tomi makin bersemangat. Tomi menghujamkan miliknya sambil berdiri. Terasa sangat nikmat buat mereka berdua yang semakin kecanduan bercinta.


Tak terasa alarm yang disetel Tomi di hapenya, berbunyi. Menandakan waktunya tinggal seperempat jam lagi.


Tomi segera menuntaskan permainannya. Dan diakhiri dengan jeritannya yang menggema di kamar mandi yang cukup luas itu.


Tomi memegangi tubuh Laras yang hampir oleng. Laras juga menjerit karena melakukan pelepasan bersamaan.


"Ayo kita pulang, Ras. Waktunya hampir habis," ajak Tomi sambil memeluk tubuh Laras dari belakang.


"Apa enggak bisa minta tambahan waktu?" Laras merasa tak mampu lagi untuk berjalan.


"Enggak, Ras. Kalau kamu masih mau, nanti kita cari kamar lain aja yang lebih murah. Di sini sangat mahal," sahut Tomi. Dia buru-buru membersihkan tubuhnya juga tubuh Laras.


Setelah itu, Tomi meraih handuk dan mengeringkan tubuh mereka. Tomi melakukannya karena tahu kalau Laras sudah tak bertenaga.


Setelah mengeringkan tubuh Laras, Tomi menggendongnya hingga sampai di tempat tidur. Lalu dia letakan tubuh Laras perlahan.


Sementara dia mengenakan kembali pakaiannya. Setelah rapi, barulah Tomi perlahan-lahan memakaikan pakaian Laras.


Tomi melirik jam di hapenya. Tinggal lima menit lagi.


"Ayo, Ras. Nanti kena cas lagi kalau kamu kelamaan. Sayang kan uangnya. Bisa buat jajan kamu nanti," ucap Tomi.


Laras langsung bangun meski merasa enggan karena badannya terasa sangat lelah.


Baru saja Laras berdiri, Tomi sudah membuka pintu dan siap untuk pergi.


Laras berdecak kesal. Bagaimana tidak, Tomi membuatnya jadi terburu-buru.

__ADS_1


"Barang-barang kamu ada yang ketinggalan enggak?" tanya Laras yang belum juga keluar.


"Enggak ada! Ayo cepat!" Tomi benar-benar tak mau terlambat semenit pun.


__ADS_2