
Rasyid pulang mengantarkan Ayu. Meskipun Ayu terus merengek tak mau ditinggal nantinya.
Tapi sikap keras Rasyid tak tergoyahkan meski dengan air mata anak-anaknya. Sekali dia bilang tidak, ya tidak.
Ayu hanya cemberut saja sepanjang perjalanan. Apalagi setelah sampai di rumah.
Begitu melihat Niken, seperti melihat setan. Ayu langsung masuk ke kamarnya sendiri.
Ayu masih ingat betapa jahatnya Niken saat mendorong Laras hingga pingsan. Yang disangka Ayu, Laras mati karena tak juga membuka matanya.
"Yu, mau makanan enggak?" Niken tadi membeli makanan dari uang yang dikasih Tomi.
Rasyid yang melihatnya, menyangka Niken mendapatkan uang dari Alya.
Perasaan Rasyid pada Niken pun boleh dibilang belum baik. Meskipun dia tadi memaksa Niken untuk pulang dari rumah Alya.
"Enggak!" sahut Ayu. Lalu dia menyembunyikan wajahnya di balik bantal.
"Enggak mau ya udah!" Niken membawa kembali makanannya ke kamarnya.
Niken tak menawari Rasyid seperti biasanya. Perasaan Niken pada Rasyid pun belum baik.
Dia masih kesal pada Rasyid yang selalu keras padanya.
Di ruang tamu, Rasyid malah membuka hapenya. Bukannya bersiap ke rumah sakit untuk menggantikan Tomi menjaga Laras.
Di hape Rasyid, ada pesan masuk dari Ratih. Rasyid tersenyum senang. Ratih adalah salah satu wanita yang di sukai Rasyid.
Dan pastinya Rasyid masih penasaran pada Ratih. Karena setiap kali akan bercinta dengan Ratih, selalu gagal.
Padahal Rasyid sangat menginginkannya. Menginginkan Ratih seutuhnya. Dia tak pernah berpikir bahwa Ratih punya teman dekat yang jauh lebih segalanya dari dia.
Bagi Rasyid, selama Ratih masih mau mengirimkan pesan padanya, berarti dia masih layak untuk maju.
Ratih mengatakan kalau Sinta, kepingin mengerjakan PR sekolahnya dengan Ayu.
Awalnya Rasyid pura-pura jual mahal. Walaupun ujung-ujungnya mau juga.
Bahkan Rasyid bisa membuat Ratih mempersilakan Ayu tidur di rumahnya dengan Sinta malam ini.
Bagi Rasyid itu sebuah solusi dari ketakutan Ayu pada Niken.
Rasyid mendatangi Ayu di kamarnya.
"Ayu! Abis maghrib, kamu ikut Ayah!" ucap Rasyid.
"Kemana Yah?" tanya Ayu dengan antusias.
"Ke rumah Sinta. Dia bilang pingin ngerjain PR sama kamu. Sinta juga kepingin kamu tidur di sana malam ini. Jadi kamu enggak usah ikut Ayah ke rumah sakit," jawab Rasyid.
Padahal idenya tentang Ayu menginap di rumah Ratih.
__ADS_1
"Iya, Yah. Ayu mau. Ayu mau siap-siap!" Ayu langsung bersemangat.
Dia membereskan buku-buku yang akan dibawanya besok ke sekolah. Termasuk baju seragamnya.
Niken yang mendengar, hanya mendengus kesal. Semua diperhatikan, kecuali dia. Bahkan Rasyid tak menanyakan apa dia sudah makan atau belum.
Rasyid bakal menginap di rumah sakit, dan Ayu menginap di rumah temannya. Lalu bagaimana dengan sekolah Niken?
Rasyid tak berpikir sejauh itu. Yang ada di otaknya, dia akan kencan dengan Ratih. Meski harus sembunyi-sembunyi dari Ayu dan Sinta.
Rasyid tak mau lagi ketahuan mereka. Karena bisa gagal rencana Ayu menginap di sana.
Setelah maghrib, Rasyid benar-benar mengajak Ayu pergi dan mengacuhkan Niken.
Kalau sampai di rumah cuma dicuekin, kenapa aku mesti disuruh pulang? Tanya Niken dalam hati.
Niken tak berani protes pada Rasyid. Dia hanya bisa menatap kepergian mereka.
Niken membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Dia tak punya teman sama sekali di rumah ini. Hiburan pun tak ada. Tak ada televisi seperti di rumah orang lain pada umumnya. Bahkan radio pun tak ada.
Hanya ada kesunyian yang sangat menyiksa Niken. Pergi ke rumah mamanya pun, tak mungkin. Selain karena jauh, juga pasti akan jadi masalah lagi.
Akhirnya Niken memilih tidur dan berharap mimpi indah, hidup di sebuah keluarga yang normal.
Rasyid sampai di rumah Ratih.
"Selamat malam, Cantik...!" Sapa Rasyid.
Rasyid mengangguk mengerti. Lalu masuk dan langsung duduk di sofa empuk. Jauh lebih empuk dari sofa di ruang tamunya.
Ayu dan Sinta langsung masuk ke kamar. Mereka berencana akan bermain boneka setelah selesai mengerjakan PR.
"Mau kopi, Mas?" tanya Ratih.
"Pastilah. Apalagi kopi buatan kamu. Hhm....bikin aku tak bisa tidur." Rasyid memulai gombalannya.
Ratih hanya tersenyum saja. Dia sudah mulai terbiasa dengan gombalan Rasyid. Meskipun itu membuat hatinya berbunga-bunga.
Salah satu perbedaan Rasyid dengan Ricko teman kencannya, Rasyid sangat romantis. Terlalu romantis malah.
Meskipun tanpa diketahui Ratih, kalau Rasyid bersikap sama pada setiap wanita incarannya.
Ratih tak pernah berpikir buruk pada Rasyid. Menurutnya, tak mungkin orang dengan ekonomi pas-pasan seperti Rasyid akan menggombali banyak wanita.
Dipikir Ratih, hanya dirinyalah yang bisa menerima Rasyid apa adanya.
Ratih yang memiliki penghasilan sendiri dari kerja part time dan usaha jualan online-nya, tak pernah mengharapkan uang dari Rasyid.
Baginya, asal Rasyid selalu bersikap manis padanya, itu sudah lebih dari cukup.
Dan bagi Rasyid, itu sebuah anugerah yang luar biasa. Karena memang wanita-wanita seperti Ratihlah yang jadi incarannya.
__ADS_1
Syukur-syukur dia bisa mendapatkan uang dari mereka, meski sekedar untuk beli bensin, rokok dan jajan anak-anaknya.
"Ini, Mas." Ratih meletakan cangkir kopi di meja.
Ratih juga membawa dua gelas es sirop kesukaan Sinta dan sepiring bolu untuk teman dua anak mereka belajar.
"Itu yang di piring apa?" tanya Rasyid.
"Bolu. Buat anak-anak," jawab Ratih.
"Kayaknya enak. Boleh minta satu?"
"Ambil aja. Ini juga kebanyakan kalau buat mereka berdua," sahut Ratih.
"Ya udah. Bagi dua aja." Rasyid langsung membagi dua dan menaruh bagiannya di atas meja.
"Kok taruh di sini sih, Mas? Kan kotor." Ratih menggunakan piring lepek kopi Rasyid untuk menempatkannya.
"Eh, piring lepeknya kan mau aku pakai minum kopi," ucap Rasyid.
"Nanti aku ambilkan lagi." Ratih langsung masuk ke kamar Sinta.
Di kamar Sinta, mereka malah minta Ratih mengajari soal yang sulit. Jadilah Ratih tak keluar-keluar lagi.
Lama, sampai kue bolu dan kopi Rasyid tinggal separuh. Rasyid juga sudah menyalakan rokoknya berbatang-batang.
Setelah perutnya kenyang, Rasyid malah ketiduran. Dia meringkuk di sofa.
Ratih keluar dari kamar Sinta dan mendapati Rasyid mendengkur.
"Lho, kok malah tidur," gumam Ratih.
Akhirnya Ratih pun memilih berselancar di medsosnya. Seperti biasa, Ratih menawarkan dagangannya dan membalas komentar-komentar yang masuk.
Hingga tiba-tiba Ricko menelpon Ratih. Dia ingin mengajak Ratih makan malam.
Ratih menoleh ke arah Rasyid yang masih terlelap. Bakal jadi masalah kalau Ricko tahu, Rasyid tidur di situ.
Akhirnya Ratih yang mengalah, datang sendiri ke tempat mereka makan malam. Dengan alasan, saat ini dia lagi di rumah temannya.
"Sinta, Ayu. Mama mau ke rumah teman, mengantar pesanan. Kalian di rumah saja, ya. Kalau mau tidur, pintu dikunci saja. Mama bawa kunci cadangan. Ayahnya Ayu tidur, tuh di sofa," pamit Ratih pelan, biar Rasyid tak mendengar.
"Iya, Ma," sahut Sinta.
"Iya, Tante," sahut Ayu.
Ratih berbalik badan, siap melangkah.
Langkah Ratih terhenti saat Rasyid tiba-tiba duduk. Matanya menatap tajam ke arahnya.
Waduh! Gagal deh!
__ADS_1