
Niken memegangi mulutnya. Dia merasakan perih di ujung bibirnya. Sepertinya berdarah.
Laras dan Ayu pun langsung terdiam.
"Kebiasaan kamu! Kalau ada makanan pasti kamu umpetin! Kamu enggak mikir yang lainnya laper?" tanya Rasyid dengan sengit.
"Maaf, Yah," ucap Niken.
"Maaf, maaf! Kalau udah abis, baru kamu bilang maaf!" Rasyid kembali ke ruang tamu.
Rasyid tak habis pikir dengan sifat jelek Niken yang tak juga berubah. Tak pernah mau berbagi kalau soal makanan.
Padahal dia selalu mengajarkan anak-anaknya untuk selalu berbagi, meski hanya sedikit.
Rasyid membuka ponselnya.
"Akh! Sialan! Kuotanya abis, lagi!" Rasyid membanting ponselnya ke sofa.
Rasyid berjalan ke kamarnya lagi.
"Ras, tethering dong. Kuota Ayah abis!" pinta Rasyid.
"Iya, Yah." Laras buru-buru mengaktifkan hotspotnya. Jangan sampai Rasyid ngamuk lagi.
"Kak. Ayu laper," bisik Ayu yang merasa kelaparan.
Laras mengambil uang di dompetnya.
"Nih, kamu beli mie instant. Sama telur, gula, kopi dan rokoknya ayah. Bisa kan?" Laras memberikan lembaran lima puluh ribuan pada Ayu.
"Bisa, Kak. Makasih, ya." Ayu segera bergegas ke warung Yanti.
Sampai di warungnya Yanti, Ayu mengantri. Karena ada beberapa pembeli lainnya.
"Beli apa, Yu?" tanya Yanti, setelah giliran Ayu.
Ayu memberikan uang lima puluh ribuannya.
"Mie instant, telur, gula, kopi sama rokoknya ayah. Cukup enggak?" tanya Ayu.
"Sebentar, ya. Diitung dulu," jawab Yanti.
Karena Rasyid merokoknya yang paling murah, jadi masih sisa uangnya.
"Masih sisa, Yu. Mau beli yang lainnya?" tanya Yanti.
"Enggak. Itu aja," jawab Ayu.
"Memangnya uang dari siapa?" tanya Yanti.
"Uangnya kak Laras," jawab Ayu.
"Ooh. Kakakmu udah pulang dari rumah sakit?" tanya Yanti.
"Udah. Baru aja," jawab Ayu.
"Eh, Yu. Sebentar. Kamu di rumah ada nasi enggak?" tanya Yanti, sebelum Ayu pulang.
Ayu menggeleng.
"Aku kasih nasi mau? Kebetulan masih banyak. Daripada kebuang," tanya Yanti.
Malam ini Beni katanya mau makan diluar bareng teman-temannya. Dan biasanya Beni tak mau makan lagi di rumah.
__ADS_1
Ayu hanya diam. Dia ingat kembali tadi Rasyid menggampar Niken. Dia takut kalau Rasyid bakal marah padanya dan menggamparnya.
"Enggak apa-apa. Ayah kamu enggak bakalan marah. Bilang aja, aku yang ngasih," ucap Yanti. Lalu dia bergegas masuk ke dalam.
Yanti menaruh nasi dan beberapa lauknya di rantang. Lalu segera membawanya keluar.
"Nih. Besok rantangnya dipulangin, ya?" Yanti memberikan rantang susun tiga itu pada Ayu.
"Iya. Makasih, Bu," sahut Ayu, lalu dia pulang dengan dua tangan membawa tentengan.
"Baik amat, Mba?" tanya Yuni yang kebetulan mau beli juga di warungnya Yanti.
"Dari pada kebuang. Kasihan mereka. Jarang kena nasi rumahan," jawab Yanti.
"Kok nasi rumahan?" tanya Yuni.
"Iya. Mereka sukanya nasi beli di warung. Apalagi sekarang Laras lagi sakit. Baru pulang dari rumah sakit dia," jawab Yanti.
"Memangnya si Laras sakit apaan, sih?" tanya Yuni, kepo.
"Enggak paham," jawab Yanti berbohong.
Yanti merasa kasihan juga pada Laras. Meski sebenarnya tak suka dengan cara bergaul dengan pacarnya. Sampai hamil di luar nikah.
"Lho kayaknya, Mbak Yanti kemarin ikut ke rumah sakit?" tanya Yuni.
"Iya. Cuma nganterin baju ganti buat Laras. Karena Laras mesti opname, kan?" jawab Yanti.
Yuni mengangguk-angguk, meski rasa keponya belum terpuaskan.
"Aku beli mie instant deh. Buat cadangan kalau anak-anak melek sampai malam," ucap Yuni.
Yanti segera mengambilkannya. Dan berharap Yuni cepat-cepat pergi.
Hhh...! Yanti menghela nafas lega.
Yanti memang suka ngomongin orang. Tapi saat orang lain kena musibah, dia akan mengunci mulutnya. Takut kuwalat.
Karena Yanti percaya, kalau doa orang yang lagi kesusahan akan manjur. Dia tak mau didoakan jelek, kalau sampai mulutnya membicarakan mereka yang lagi kesusahan.
Ayu kembali ke rumahnya.
"Kak...! Kak Laras!" panggil Ayu.
Laras sudah kembali ke kamarnya, yang sudah dibersihkan Niken.
"Ada apa, Yu?" tanya Laras sambil tiduran.
"Ini!" Ayu memperlihatkan bawaan di tangannya.
"Woo, banyak amat. Apa aja itu?" tanya Laras.
Ayu masuk ke kamar Laras, dan meletakan bawaannya di lantai.
"Ini belanjaannya kak Laras. Ini dikasih bu Yanti. Tapi katanya besok pagi, rantangnya harus dikembalikan," jawab Ayu.
Laras duduk di sisi ranjangnya.
"Ya udah, Ayu makan sama ayah. Bagi kak Niken juga. Kasihan, nanti kelaparan dia," ucap Laras.
"Hhh!" Ayu mendengus sebal.
"Eeh, enggak boleh begitu. Lagian dimakan Ayu sendirian juga enggak habis, kan?" ucap Laras lagi.
__ADS_1
"Kak Laras?" tanya Ayu.
Laras menggeleng.
"Kakak udah makan. Kalian aja. Kakak mau istirahat dulu, ya," sahut Laras. Lalu kembali tiduran.
"Oh iya, Kak. Ini kembaliannya." Ayu memberikan sisa uang belanjanya pada Laras.
"Buat kamu aja. Buat uang saku sekolah, besok pagi," sahut Laras yang malas membuka lagi dompetnya.
"Iya, Kak. Makasih, ya," ucap Ayu dengan riang.
Ayu membereskan tentengannya tadi, lalu membawanya ke ruang tamu.
"Wih, banyak amat, yu? Dari siapa?" tanya Rasyid dengan mata berbinar.
Lalu Ayu menjelaskannya satu persatu.
"Nih, rokoknya Ayah. Ayu yang beli. Tapi pake uangnya kak Laras. Hehehe." Ayu nyengir.
Ayu membongkar rantang dari Yanti.
"Ayu ambil piring ya, Yah." Tanpa menunggu persetujuan Rasyid, Ayu ke dapur mengambil piring.
Sampai kembali di ruang tamu, Ayu membagi makanan dari Yanti, menjadi tiga bagian.
"Kok cuma tiga? Kita kan berempat," tanya Rasyid.
"Kak Laras udah makan, katanya. Sekarang lagi istirahat," jawab Ayu.
"Ya udah. Sekarang panggil kak Niken. Suruh makan. Entar mati kelaparan, lagi!" suruh Rasyid.
"Iya, Yah." Ayu berdiri dan memanggil Niken.
"Kak, disuruh ayah, makan!" ucap Ayu.
Mendengar kata makan, Niken yang tadi tiduran di kamar Ayu, langsung bangun.
Tanpa menunggu dua kali, dia langsung mengikuti Ayu ke ruang tamu.
"Tuh, makan! Jangan curang lagi. Udah dibagi rata!" ucap Rasyid dengan ketus pada Niken.
"Iya, Yah," sahut Niken.
Dia mengambil satu bagiannya. Rasyid pergi ke kamar mandi.
"Yu. Itu di kantong plastik, apaan?" tanya Niken pelan. Takut kedengeran Rasyid.
"Mie instant sama telur. Buat besok aja. Sekarang kan udah ada nasi," jawab Ayu.
"Tapi ini kan cuma sedikit, Yu," sahut Niken.
Buat Ayu, porsi segitu cukup. Karena kapasitas perutnya sedikit. Tapi buat Niken yang kapasitasnya lebih besar, jelas kurang.
"Enggak apa-apa. Ini kan juga udah malem. Jangan makan banyak-banyak. Entar gendut, lho," ucap Ayu.
"Hhm. Padahal enak tuh, kalau ditambah mie instant pakein telur. Apalagi tambahin cabe," sahut Niken.
"Jangan, Kak. Besok pagi kita mau makan apa, kalau dimakan sekarang semua?" tolak Ayu.
"Satu aja, Yu. Nanti kita bagi dua deh," rayu Niken.
"Masih kurang banyak?" tanya Rasyid tiba-tiba.
__ADS_1
Niken langsung terdiam dan menundukan wajahnya.