
Setengah mati Bowo mengemudikan mobilnya. Satu-satunya tempat yang ada di otak Bowo, adalah rumah Alya.
Entah kenapa, keinginan Bowo untuk pulang ke sana begitu kuat. Seperti ada magnet yang menariknya.
Kepala Bowo yang masih berputar, membuatnya sulit sekali mengenali jalanan. Padahal jalanan itu sering sekali dia lewati.
Bowo terus berusaha konsentrasi. Hingga satu jam kemudian, baru Bowo sampai di halaman rumah Alya. Padahal mestinya setengah jam paling lama untuk sampai di sana.
"Ma...!" Bowo mengetuk pintu rumah.
Alya yang baru masuk kamarnya sendiri dan menidurkan Aldo yang tadi terjatuh dengannya, belum bisa meninggalkan Aldo sendirian.
Untungnya tadi Alya terjatuh di atas karpet tebal. Dan tak membentur apapun. Karena memang Alya menata meja tak seperti biasanya.
Alya meletakan meja di sisi kursi. Bukan di depan kursi. Biar saat Aldo bermain, lebih lega.
Tapi meskipun tak membentur apapun, Aldo yang masih dalam gendongan Alya, menangis lagi.
Dan Alya mesti menggendongnya lagi, sampai Aldo benar-benar diam.
Barulah Alya yang sudah sangat capek, menidurkan Aldo di kamarnya.
"Ma...! Mama...!" Bowo terus saja mengetuk dan akhirnya menggedor-gedor.
Sebenarnya Alya ingin menyahut, tapi khawatir suaranya akan membangunkan Aldo lagi.
Jadi Alya memilih diam, sambil perlahan-lahan turun dari tempat tidur.
Setelah berhasil turun, Alya bergegas keluar kamar. Dia setengah berlari membukakan pintu untuk Bowo.
Dalam hati ada sebuah pertanyaan, kenapa Bowo pulang ke rumahnya? Padahal jatahnya minggu ini sudah habis.
Bahkan kemarin, Bowo memberinya bonus semalam lagi.
Tapi, ya sudahlah. Alya anggap ini bonus berikutnya. Alya juga berharap akan ada bonus-bonus lagi.
Bonus waktu bersama suaminya. Bapak dari anaknya.
Alya membukakan pintu. Posisi Bowo yang sedang menyandarkan badannya di pintu, membuatnya terhuyung ke depan. Tepat di depan tubuh Alya.
Alya tak mampu menahan tubuh Bowo yang hampir dua kali lipat tubuhnya. Hingga mereka terjatuh di lantai.
Untungnya Alya mampu sedikit mengelak, hingga tubuh kecilnya tak tertindih.
"Auwh!" pekik Alya.
"Hhh...!" Bowo malah melenguh.
Alya mencium aroma alkohol dan bekas muntahan dari mulut Bowo.
Alya segera beranjak bangun. Lalu membantu Bowo bangun juga, dengan menarik tangannya.
"Kamu mabuk, Pa?" tanya Alya.
"Hhh...!" Bowo kembali melenguh.
Alya membawa Bowo ke sofa dan mendudukannya.
Dipandanginya penampilan Bowo yang berantakan. Persis seperti yang terlihat di mimpinya tadi.
__ADS_1
Dan bau alkohol itu. Alya merasa pernah menciumnya. Tapi dimana?
Karena baik Rasyid maupun Bowo, tak pernah membawa aroma minuman keras itu sampai di rumah.
Alya merasa seperti dejavu. Merasakan sesuatu yang seperti pernah dirasakan sebelumnya.
Alya berjalan ke dalam. Dia akan mengambilkan air putih hangat untuk Bowo.
Sepanjang berjalan, otak Alya terus saja memikirkan perasaan dejavunya.
Ah, iya. Aku ingat. Tadi aku menciumnya di dalam mimpiku. Tapi apa begitu kuatnya, sampai aku masih bisa merasakannya?
Mimpi?
Akh, tidak!
Aku tak mau mimpi itu jadi kenyataan.
Aku tak mau berurusan lagi dengan manusia murahan seperti Cyntia.
Alya kembali ke ruang tamu, dengan membawa segelas air putih hangat.
Tapi sampai di ruang tamu, Alya mendapati Bowo sudah terlelap di atas sofa.
Alya meletakan gelasnya di atas meja. Lalu mengunci pintu rumahnya.
Alya kemudian mendekati Bowo yang sudah terlelap. Bahkan mungkin sudah tak sadar lagi.
Perlahan Alya mengendus seluruh badan Bowo. Dia ingin memastikan tak ada aroma parfum wanita menempel di sana.
Sampai akhirnya Alya tak menemukan aroma lain, selain aroma alkohol yang menyengat.
"Pa. Bangun, Pa. Tidurnya pindah di kamar, yuk," ajak Alya sambil mengguncang lengan Bowo.
Bowo yang sudah tak sadar, sama sekali tak mendengar suara Alya lagi. Bahkan menggeliatpun tidak.
Bowo anteng saja tidur. Posisinya yang terlentang, dengan mulut sedikit menganga, membuatnya mendengkur.
Alya kebingungan, bagaimana caranya dia memindahkan Bowo? Sedangkan badan Bowo besar.
Alya hanya mengela nafasnya.
Lalu Alya ke kamarnya, mengambil selimut. Biar Bowo tak kedinginan karena tidur di ruang tamu.
Alya yang sudah mengantuk dan capek, kembali ke kamarnya dan tidur berdua dengan Aldo.
Dipeluknya Aldo dengan erat. Biar tidur Aldo makin lelap. Dan juga hangat.
Menjelang dini hari, Bowo terbangun. Kepalanya sudah mulai enteng. Dia duduk sendirian di sofa. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang telah terjadi padanya.
Bowo ingat terakhir dia ada di sebuah cafe. Lalu banyak minum dan....Ah, iya!
Bowo baru ingat kalau Cyntia mengirimkan pesan padanya yang belum sempat dia balas.
Bowo membuka ponselnya dan membaca pesan dari Cyntia kembali.
Dalam pesannya Cyntia mengetik kalau dia diminta datang ke rumahnya, karena ada Rasyid di sana.
"Bajingan itu datang lagi. Mau apa dia?" gumam Bowo.
__ADS_1
Tapi karena suasana malam yang hening, suara gumaman Bowo terdengar oleh Alya yang kebetulan terbangun.
Alya mau mengecek Bowo yang tidur di sofa.
"Siapa, Pa?" tanya Alya tiba-tiba.
"Oh...! Mm...bukan siapa-siapa, Ma," jawab Bowo terkejut.
"Bukan siapa-siapa, tapi barusan Papa menyebut bajingan?" tanya Alya sambil berjalan mendekati Bowo.
"Orang yang lagi berusaha memeras Papa, Ma," jawab Bowo pada akhirnya. Tanpa menyebutkan kalau orang itu adalah Rasyid. Mantan suaminya Alya.
"Waduh! Kriminal itu, Pa. Laporin ke polisi aja," ucap Alya.
Bowo menatap wajah Alya.
Laporin polisi, dan Rasyid masuk penjara. Lalu bagaimana dengan ketiga anakmu?
Aku enggak mau kalau mereka tinggal di sini. Kata Cyntia, mereka anak-anak yang sangat nakal. Aku tak mau Aldo terkontaminasi sifat buruk mereka.
"Pa...!" Alya mengguncang lengan Bowo.
"Eh, iya Ma. Nanti Papa laporin ke polisi," sahut Bowo tanpa berpikir panjang.
"Nah, itu lebih baik. Biar Papa nyaman." Alya mengelus lengan Bowo dengan lembut.
"Memangnya ada masalah apa Pa, kok sampai dia mau memeras?" tanya Alya.
Waduh...! Bowo mengacak rambutnya sendiri. Dia merasa terjebak. Sifat Alya, dia akan terus bertanya sampai mendapatkan jawaban yang memuaskan.
"Cuma masalah pekerjaan kok, Ma. Udah, Mama enggak usah ikut mikir. Mama pikirkan Aldo aja, ya," jawab Bowo. Dia akan berusaha membawa Alya pada topik pembicaraan yang lain.
"Oh iya, Pa. Semalaman tadi Aldo rewel. Badannya agak panas," ucap Alya.
Hhh! Bowo menghela nafas lega. Meski terus cemas karena anak kesayangannya sakit.
"Aldo sakit? Udah dikasih obat, Ma?" tanya Bowo.
"Udah, Pa. Mama udah kasih obat turun panas. Tapi, ya tetep aja rewel. Mintanya digendong terus. Sampai Mama ketiduran di sini sambil gendong." Alya menepuk sofa yang didudukinya.
"Capek dong?" Bowo memijat bahu Alya dengan lembut.
"Mama sampai terjatuh. Untung Aldonya enggak apa-apa," ucap Alya sambil tersenyum.
"Jatuh? Di mana?" Bowo jadi panik.
"Di sini." Alya menunjuk tempatnya jatuh.
"Tadinya Mama mimpi, Pa," ucap Alya.
"Mimpi apa?" tanya Bowo.
"Mimpi....Papa selingkuh terus ketahuan Mama. Mama lari sambil menggendong Aldo. Terus nabrak pohon. Mama jatuh deh," jawab Alya.
Mimpi aku selingkuh?
Itu bukan selingkuh, Ma. Tapi....
Ah! Bowo mengacak lagi rambutnya.
__ADS_1