
Tomi berjalan sendirian di mall. Sebenarnya dia ingin mengajak Laras, tapi tidak enak kalau tidak membelikan juga buat Laras.
Sementara saat ini Tomi harus pintar-pintar mengatur keuangan, biar apa yang diinginkannya segera terwujud.
Saat sedang asik memilih, seorang perempuan menabraknya dari samping. Bahu Tomi ditabrak dada wanita itu yang cukup besar.
"Auwh! Oh, maaf....maaf," ucap wanita itu sambil memegangi dadanya. Seakan takut terjatuh.
"Iya, tidak apa-apa, Bu. Eh, Tante," sahut Tomi. Karena bagi Tomi itu sebuah tabrakan yang menguntungkannya.
Meski tak sengaja, tapi bahunya bisa merasakan bagaimana kenyalnya dua benda yang membusung cukup tinggi di dada wanita itu.
Wanita itu tersenyum, karena yang ditabraknya tidak marah. Lalu permisi minta jalan pada Tomi, karena dia akan memilih sepatu di sebelah kiri Tomi.
"Maaf, permisi."
Tomi pun sedikit maju. Tapi sayang, lengan Tomi menyenggol beberapa sepatu yang dipajang hingga berjatuhan.
Sebenarnya itu terjadi karena Tomi menghindari tangannya menabrak dada wanita itu lagi. Tapi karena kurang hati-hati, maka sepatulah yang jadi korbannya.
"Aduh!" pekik Tomi perlahan. Lengannya mengenai kaca rak, hingga sedikit terluka.
Wanita itu menatap Tomi. Lalu kembali mendekat.
"Masnya enggak apa-apa?" tanyanya sambil memperhatikan lengan Tomi.
"Enggak. Cuma sedikit lecet aja." Tomi pun menatap lengannya yang memerah dengan garis tipis yang lumayan perih.
Seorang karyawan toko datang dan membantu Tomi membereskan sepatu-sepatu yang berantakan.
"Maaf ya, Mbak. Saya enggak sengaja," ucap Tomi.
"Iya, Mas. Lain kali hati-hati," sahutnya.
Matanya menatap tajam wajah Tomi yang sepertinya dia kenal.
"Tomi, ya?" tebaknya.
Ganti Tomi yang menatap wanita itu.
"Kamu....Ike?"
Wanita yang bernama Ike itu mengangguk. Dia adalah teman sekolah Tomi semasa SMA dulu.
Tomi mengulurkan tangannya.
"Apa kabar, Ke? Kamu kerja di sini?" Setahu Tomi, Ike dulu anak orang kaya. Dan kabarnya dia melanjutkan kuliah di universitas ternama.
"Iya, Tom."
Tomi yang masih belum percaya, menelisik penampilan Ike mulai dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. Tangannya masih menjabat tangan Ike.
Wanita tadi yang menabrak Tomi, menatap mereka dengan pandangan tak suka. Dan sebagai pramuniaga yang baik, Ike menarik tangannya dan berusaha tersenyum pada wanita itu.
__ADS_1
"Aku tinggal dulu, Tom. Silakan pilih dulu modelnya. Kalau ada yang perlu dibantu, aku di sana," ucap Ike sambil menunjuk deretan sepatu yang sedang dipajang.
"Oh, iya, Ke. Silakan." Tomi kembali menyibukan diri dengan memilih model yang cocok dengan adiknya. Dia tak sadar, sepasang mata menatapnya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Seperti yang dilakukan Tomi tadi pada Ike.
Tomi sudah menemukan modelnya. Cuma nomornya terlalu besar. Lalu dia mencari Ike, untuk mencarikan nomor yang akan diambilnya.
"Nomor empat puluh, ya? Buat siapa, Tom?" tanya Ike.
"Buat adikku." Tomi menyerahkan sepatu yang dibawanya pada Ike.
Baik sekali Tomi. Membelikan adiknya aja, sepatu mahal. Apa dia sekarang sudah sukses? Setahuku, dia anak orang yang kurang mampu. Batin Ike.
"Oh. Sebentar ya, Tom. Aku carikan." Lalu Ike sibuk mencari nomor yang dikehendaki Tomi.
Dan tak lama yang dicarinya, ketemu.
"Ini, Tom. Diperiksa dulu. Atau mau dicoba?" tanya Ike.
"Mana muat. Ukuranku kan empat puluh dua? Kalau ukuranmu?" Tomi bukannya melihat kaki Ike, tapi malah menatap dada Ike yang penuh berisi.
Sama besarnya dengan milik wanita tadi yang menabraknya.
Ike jadi kikuk sendiri. Lalu dia mengalihkan perhatian Tomi.
"Tom, maaf kakimu menginjak kertas nota." Kebetulan memang tadi kertas nota Ike jatuh dan belum sempat diambilnya.
"Oh, iya. Maaf, Ke." Tomi mengambil kertas yang diinjaknya. Lalu menyerahkannya pada Ike.
"Sekalian aku buatkan notanya ya, Tom," ucap Ike setelah menerima kertas yang diberikan oleh Tomi.
"Bisa aja kamu, Tom." Ike meninggalkan Tomi untuk membuatkan nota.
Baginya, hal biasa pelanggan meminta nomor hapenya. Kalau yang serius, biasanya dia kasih. Tapi yang sekedar menggoda dan basa basi, dia cuekin.
"Aku serius, Ke," ucap Tomi sambil mengikuti Ike.
Ike membuatkan nota untuk Tomi.
"Ini dibayar di kasir. Sinikan hape kamu." Ike menadahkan tangannya.
"Lho, buat apa?" tanya Tomi tak mengerti. Sejak kapan ke kasir, hapenya diminta dulu. Batin Tomi.
"Katanya mau minta nomorku."
Tomi langsung memberikan hapenya tanpa diminta lagi. Ike segera mengetikan nomornya.
"Nih. Aku masih banyak kerjaan. Kalau mau chat, aku pulang sore jam lima," ucap Ike, lalu meninggalkan Tomi yang masih bengong. Sebab satu kancing baju Ike terbuka.
Tomi menelan ludahnya melihat pemandangan indah dan menggairahkan di depan matanya. Meski hanya sedikit, tapi sudah bisa dibayangkan isi di dalamnya.
"Tom! Kasirnya di sana," ucap Ike. Dia kembali lagi sambil membawa beberapa sepatu untuk ditata.
"I...Iya. Mm...Anu, Ke." Tomi gelagapan. Bingung ngomongnya.
__ADS_1
"Apa lagi? Di sini bisa bayar pakai kartu juga kok, kalau kamu enggak bawa uang cash," sahut Ike.
"Bukan itu. Mm....Maksudku....kancing baju kamu terlepas satu," ucap Tomi pada akhirnya.
Ike menundukan wajahnya. Lalu dengan santai memasang kembali kancingnya.
"Makasih sudah diingatkan, Tom," ucap Ike.
Tomi mengangguk, lalu berjalan ke kasir.
"Kamu suka yang besar-besar, ya?" tanya wanita yang tadi menabrakan gunungnya ke lengan Tomi.
Tomi menatap wanita itu. Dan pandangannya jadi tertuju pada aset wanita itu yang sebelas dua belas dengan milik Ike.
Wanita itu mengulurkan tangannya. Mengajak Tomi berkenalan.
"Voni," ucapnya tanpa ditanya.
Mau tak mau, Tomi menjabat tangan mulus wanita itu.
"Tomi."
Wanita itu tersenyum penuh arti. Lalu meminta nota milik Tomi.
"Buat apa?" tanya Tomi.
"Biar sekalian aku yang bayar. Anggap saja sebagai salam kenal dari aku," jawab Voni.
"Tapi ini mahal," sahut Tomi tak enak hati.
"Isi kartuku lebih dari cukup untuk membayarnya." Lalu Voni segera membayarnya di kasir.
Tomi kembali menelan ludahnya. Enak sekali jadi orang kaya. Tinggal gesek aja.
"Nih." Voni memberikan tas berisi sepatu yang sudah dibayarnya.
"Terima kasih," ucap Tomi dengan sopan.
"Maukah kamu menemaniku makan?" tanya Voni.
Tomi tak mungkin menolaknya, apalagi dia sudah dibayari. Tapi Tomi pura-pura ragu.
"Biar kita bisa saling kenal lagi," ucap Voni.
Tomi pun mengangguk. Dalam hatinya berharap, Voni adalah target selanjutnya.
Voni langsung menggandeng tangan Tomi. Di dekat pintu keluar, Ike sedang menata beberapa sepatu di rak pajang.
"Ke, aku duluan ya," pamit Tomi.
Ike menoleh dan mengangguk.
Voni menatap Ike penuh kemenangan. Dan terus menggandeng tangan Tomi hingga sampai di sebuah restauran cepat saji.
__ADS_1
Ike hanya mengangkat bahunya. Pantas saja uangnya banyak. Rupanya Tomi gampang digandeng. Batin Ike.