KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS

KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS
Bab 160 TAMU TAK DIUNDANG


__ADS_3

Laras menatap wajah Alya. Dia merasa tidak enak, karena bapak tirinya pergi saat Laras datang.


"Enggak apa-apa, Ras. Papanya Aldo lagi ada urusan. Nanti juga dia pulang. Ayo duduk," ucap Alya.


"Iya, Ma," sahut Laras.


"Mama bikinin minum, ya?"


Laras mengangguk.


"Aldo main sama kak Laras, ya?" Alya menggandeng tangan Aldo untuk mendekati Laras.


Laras mengulurkan tangannya. Aldo menatap Alya, seakan minta persetujuan.


Alya pun mengangguk. Dan dengan cepat, Aldo akrab bermain dengan Laras.


Laras pun seakan lupa dengan rasa sakit di perutnya. Dia asik bermain dengan Aldo.


"Ras. Minumannya di sini ya. Mama masak dulu. Kamu jagain Aldo aja," ucap Alya.


"Mau Laras bantuin enggak, Ma?" tanya Laras.


Sejak dulu, Laras memang anak Alya yang paling rajin. Dia suka membantu Alya di dapur tanpa diminta.


"Enggak usah. Kamu ajak main Aldo aja. Lagian kamu belum boleh capek-capek dulu," sahut Alya.


Itu salah satu alasan Alya mengajak Laras ke rumahnya. Selain buat membantunya jagain Aldo juga karena kondisi kesehatan Laras. Laras belum boleh kerja yang berat-berat dulu.


Alya memasak banyak. Karena ada Laras juga suaminya. Tidak seperti biasanya, yang hanya ada dirinya sendiri bersama Aldo.


Dan Alya tak perlu repot-repot masak untuknya. Cukup beli lauk mateng saja.


Setelah selesai masak, Alya kembali ke ruang tamu. Laras masih mengajak bermain Aldo.


Aldo yang kegirangan karena ada teman main baru, seakan tak ada capeknya bermain.


Alya kembali masuk ke dalam. Dia akan menelpon Bowo biar makan siang bareng. Karena biasanya Bowo akan pergi lagi sore atau malam harinya.


Seminggu kemudian baru Bowo pulang lagi ke rumah Alya. Waktu yang sangat sedikit sebenarnya. Tapi Alya menikmatinya.


Hal itu malah membuat Alya lebih leluasa. Tak setiap hari melayani suami.


Dan yang pasti membuat pertemuan-pertemuan mereka lebih berkualitas. Karena mereka akan membuat waktu yang sedikit itu menjadi sesuatu yang menyenangkan.


"Hallo, Pa. Papa di mana?" tanya Alya.


"Aku di rumah teman," jawab Bowo.


Jujur, Bowo merasa tidak nyaman ada Laras di rumahnya. Bukan karena dia tak menyukai Laras, tapi Bowo kuatir kalau sampai Tomi datang. Bakalan terbongkar semua rahasianya.


"Makan siang nanti Papa pulang ya? Aku udah masak banyak, buat makan kita," pinta Alya.


Bowo menghela nafasnya. Ingin sekali menolak, tapi dia tak tega kalau Alya jadi sedih dan kecewa.


Sebab dia tak pernah banyak memberi waktu untuk Alya. Waktunya habis dibagi untuk istri pertamanya, Cyntia juga pekerjaannya.

__ADS_1


"Iya, nanti Papa pulang," jawab Bowo.


Bowo hanya bisa pasrah. Dia berharap Tomi tidak datang ke rumahnya.


"Oke, aku tunggu ya, Pa. Jangan sampai enggak."


Lalu Alya menutup telponnya dan kembali ke ruang tamu.


Sambil menemani anak-anaknya bermain, Alya membuka lagi ponselnya. Tidak untuk chatingan, tapi menjajakan dagangannya di media online.


"Ras, apa kegiatanmu sekarang?" tanya Alya.


"Enggak ada, Ma," jawab Laras.


"Memangnya kamu enggak ada niat untuk cari kerja? Kamu masih muda lho, Ras. Masih banyak kesempatan," ucap Alya.


"Ayah selalu melarang Laras bekerja, Ma," sahut Laras.


"Melarang? Kenapa?" tanya Alya heran.


Bekerja kok dilarang, memangnya suruh nganggur seperti Rasyid? Dan akhirnya cari makan dengan cara tipu sana-sini. Minta sana sini.


Ujung-ujungnya kalau sudah tak ada mangsa lagi, keluarga yang jadi sasaran kemarahannya.


"Enggak tau, Ma. Selalu aja ada alasan buat melarang. Yang jauhlah tempatnya. Yang gajinya kecil lah. Pokoknya banyak alasan ayah buat melarang," jawab Laras.


"Kamu cuma lulusan SMA, memangnya minta gaji berapa? Kalau minta disamain dengan yang lulusan sarjana ya enggak mungkin dong," sahut Alya.


Dari dulu Rasyid selalu begitu. Maunya kerja santai tapi gaji gede. Kalau dibebani kerjaan banyak, langsung resign.


"Waktu itu ayah pernah nyuruh Laras kerja di counter hape punya om Willy. Tapi terus enggak ada kelanjutannya lagi. Kalau ditanyain, ya gitu. Banyak alasan!" ucap Laras dengan kesal.


"Willy yang orang cina itu?" tanya Alya. Dia kenal dengan Willy, karena dia teman sekolahnya Rasyid dahulu.


Dan Willy banyak membantu kehidupannya waktu itu. Cuma sayangnya sering dimanfaatkan oleh Rasyid. Jadi Willy malas untuk membantunya lagi.


"Iya, Ma," jawab Laras. Dia juga tahu kalau Alya kenal baik dengan Willy.


"Kemarin-kemarin malah temannya ayah ngajakin Laras kerja. Kerjanya sih cuma membantu ART-nya aja. Enggak berat, tapi kata ayah, om Doni pasti berani menggaji besar," ucap Laras.


"Doni? Yang orangnya ganteng itu?" tanya Alya.


Laras mengangguk. Doni memang orangnya ganteng. Tapi Laras tak suka kalau ditatap Doni. Tatapannya seolah akan menelanjangi Laras.


Laras ingat, waktu itu pernah datang ke rumah Doni dengan pakaian compang camping. Tapi tetap saja Doni menatapnya penuh nafsu.


"Jangan kerja sama dia, Ras!" sahut Alya.


Alya tahu bagaimana kelakuan Doni. Meski memiliki istri cantik, tapi tetap saja celamitan sama wanita lain.


"Memangnya kenapa, Ma?" tanya Laras.


"Pokoknya jangan deh. Nanti kamu diapa-apain sama dia!" jawab Alya.


"Diapa-apain bagaimana, Ma?" tanya Laras tak mengerti.

__ADS_1


"Kamu sudah dewasa, Ras. Tak perlu Mama jelaskan. Intinya dia itu maniak!" jawab Alya.


Bahkan dulu, Alya pun pernah digoda oleh Doni. Bahkan sampai dipegang-pegang saat tak ada Rasyid.


Makanya Alya tak pernah mau kalau Rasyid mengajaknya ke rumah Doni.


"Iya, Ma," jawab Laras. Dia pun sudah merasa bakal seperti itu.


"Om Bowo kemana, Ma?" tanya Laras.


"Dia lagi ada urusan di rumah temannya," jawab Alya.


Padahal biasanya Bowo tak pernah pergi kemanapun saat sedang bersama Alya. Meskipun untuk urusan penting. Bowo selalu menangguhkannya.


Baru saja Laras menanyakan, tak lama Bowo pulang.


"Itu om Bowo pulang. Panjang umur dia. Baru saja diomongin," ucap Alya.


Alya meletakan ponselnya dan menyambut Bowo. Aldo pun yang tahu kalau papanya pulang, ikut lari menyambutnya.


Itu salah satu hal yang selalu dirindukan oleh Bowo. Sambutan hangat dari istri dan anaknya.


"Papa....!" Aldo langsung merentangkan kedua tangannya.


Bowo langsung meraih tubuh gembul Aldo. Lalu menciuminya dengan gemas.


Laras merapikan mainan Aldo yang berantakan. Dia merasa diabaikan oleh Bowo. Makanya Laras mencari kesibukan sendiri.


"Anak Papa udah maem?" tanya Bowo.


"Eyum. Ado ainan adi," jawab Aldo.


"Belum, Pa. Aldo mainan tadi." Alya membantu menterjemahkan kalimat Aldo.


"Mainan apa, Sayang?" tanya Bowo.


"Obing-obingan." Aldo kembali menjawab dengan suara cadelnya yang terdengar lucu.


Dan Alya kembali menterjemahkannya.


"Ooh, mobil-mobilan. Sama Mama?" tanya Bowo.


Aldo menggeleng. Lalu menunjuk pada Laras.


Bowo menatap Laras yang juga sedang menatapnya. Laras segera menunduk.


"Ayo kita makan. Papa pasti udah laper, kan?" ajak Alya.


"Permisi. Larasnya ada?"


Bowo dan Alya menoleh ke arah pintu.


Bowo membelalakan matanya, melihat siapa yang datang.


Tomi...!

__ADS_1


__ADS_2