
"Ayah! Tolong!" Niken yang tak pandai berenang menggapai-gapaikan tangannya.
"Aduh, bagaimana ini?" Rasyid kebingungan sendiri. Lili pun tak bisa berbuat apa-apa, karena dia juga tak bisa berenang.
Rasyid menoleh ke arah Lili, Lili menggeleng. Lalu Rasyid berjongkok sambil tangannya dia ulurkan. Tapi tak sampai.
Kalau dia nyebur, bukan cuma pakaiannya saja yang basah. Tapi dia juga bakal tenggelam bersama Niken.
Perlahan Rasyid duduk di tepian kolam, dan menceburkan dirinya sambil berpegangan tepian kolam. Lalu perlahan juga dia berjalan ke arah Niken.
Ternyata kolam renang itu tak seberapa dalam. Hanya sebatas bahu Rasyid saja. Rasyid mengulurkan tangannya dengan ke arah Niken dengan kesal.
"Ayo cepet naik. Kolam enggak dalam saja, hebohnya setengah mati!"
Niken meraih tangan Rasyid dan menggenggamnya erat. Dia yang sama sekali tak bisa berenang sudah parno duluan saat kejebur tadi.
Rasyid pun menarik tangan Niken perlahan menuju ke tepian. Lalu Niken membantu Rasyid mengangkat tubuh tambunnya untuk naik ke atas. Baru dia ikutan naik.
Satu tangan Niken masih menggenggam ponsel. Setelah sadar akan hal itu, Niken melihat ke ponselnya. Ponsel mati. Padahal saat kejebur tadi masih dalam mode kamera depan.
Niken berusaha menghidupkan lagi ponselnya. Berkali-kali. Tapi tidak juga ada respon.
"Ayah, ini bagaimana?" tanya Niken kebingungan. Rasyid sedang mengeringkan tubuhnya dengan handuk yang diberikan oleh Lili.
"Ya, mana Ayah tau. Lagian kamu pakai acara terjun segala," sahut Rasyid.
"Niken kepleset, Yah!" Niken tak mau disalahkan.
"Ya sudah, nanti dibawa ke tukang service. Siapa tau masih bisa ketolong." Rasyid menyerahkan handuk yang bekas dipakainya pada Niken.
Lili melihat ke ponselnya yang tadi dia ambil sekalian ambil handuk. Sudah hampir maghrib. Dia tidak lagi membiarkan Rasyid dan Niken tetap di tempatnya.
"Mas Kahlil, maaf aku mau ada urusan jam enam ini. Bukannya mau ngusir, tapi kalian pulang dulu ya? Besok pagi kalian bisa ke sini lagi." Lili mengatakannya dengan hati-hati.
Rasyid yang melihat Niken menggigil kedinginan juga enggak tega.
"Ayah, ayo pulang. Niken kedinginan," pinta Niken.
"Ya sudah, kita pulang dulu. Tapi, maaf nih, Lili ada uang enggak? Buat beli obatnya Ayu. Dompetku ketinggalan di rumah," ucap Rasyid.
Lili terdiam sejenak. Lalu merogoh kantongnya. Ada satu lembar lima puluh ribuan.
"Lili cuma ada ini, Mas. Cukup kan kalau cuma buat beli obat turun panas?"
Rasyid memandang Lili. Dalam hati, Rasyid merutuk. Busyet ini orang pelit amat. Rumah semewah ini, ngasih duit cuma lima puluh ribu perak.
Mana udah dibela-belain basah kuyup. Belum lagi ponsel Niken pakai ikut nyemplung juga. Tapi enggak apa-apa deh. Daripada enggak dapet sama sekali. Untung tadi aku belum sosor tuh bibir dowernya.
Rasyid langsung menyambar uang itu. Takutnya Lili berubah pikiran.
"Ya sudah, enggak apa-apa. Makasih ya, Li. Kita pulang dulu," sahut Rasyid tanpa kata-kata manis lagi.
__ADS_1
"Ayo, Niken. Kita pulang. Keburu malam," ajak Rasyid. Niken bergegas mengekor Rasyid.
Sampai di depan gazebo, Niken berhenti sebentar. Lalu meminum es siropnya yang masih utuh. Dan menyaut toples makanan.
"Tante, ini Niken bawa pulang, ya?" Niken mengangkat toples itu dan memperlihatkannya pada Lili.
Lili mengangguk. Toh, makanan itu sudah cukup lama juga. Sisa lebaran beberapa bulan yang lalu.
"Bawa saja. Di sini enggak ada yang makan," jawab Lili.
Rasyid segera menstater motornya. Dan tanpa berpamitan lagi pada Lili, dia segera melajukan motornya setelah Niken nyemplak.
"Enak, Ken?" tanya Rasyid melihat Niken dari kaca spion yang terus saja mengunyah.
"Enak, Yah. Ayah mau?" Niken langsung menyodorkan makanan itu ke mulut Rasyid.
"Lumayan juga," sahut Rasyid. Walau sebenarnya dia merasakan ada aroma apeknya. Tapi karena laper, abaikan saja.
"Yah, katanya mau ngajak makan di luar?" tanya Niken.
"Kata siapa?" Rasyid balik bertanya.
"Yaaa. Ayah mah gitu, sukanya pura-pura lupa." Niken merajuk.
"Ya udah. Kita beli nasi goreng aja. Tapi kita makan di rumah. Kasihan Laras sama Ayu." Rasyid mengalah.
Niken cemberut. Bayangannya bisa makan di luar lalu di posting, sirna sudah.
"Apaan siha kamu? Ngagetin Ayah aja!"
"Hape Niken gimana?" Niken jadi ingat dengan hapenya yang mati.
"Ya nanti, satu-satulah," jawab Rasyid dengan santai.
Rasyid menghentikan motornya di sebuah kios nasi goreng.
"Pesen sana. Dua porsi!"
"Kok dua, Yah? Katanya Laras dan Ayu juga dikasih?" tanya Niken.
"Kamu barengan sama Laras. Ayah sama Ayu. Pas kan?"
Niken hanya menghela nafasnya. Bakalan kelaparan nih, nanti malam. Tapi enggak apa-apalah. Niken lalu memesan dua porsi.
"Nasi gorengnya yang apa, Neng?" tanya penjualnya. Niken mengerutkan keningnya.
"Yang mateng, Bang!" jawab Niken. Dan langsung disambut tawa oleh orang-orang yang ngantri.
Niken makin bingung. Kenapa mereka malah ketawa?
"Maksud saya, yang spesial apa yang biasa?" tanya si penjual lagi.
__ADS_1
"Yang spesial dong," jawab Niken percaya diri. Karena disuruh milih, ya Niken milih yang istimewa dong.
"Nah, gitu. Tunggu ya, masih antri lima lagi," sahut si penjual.
"Oke. Saya boleh minta air putihnya enggak, Bang?" Niken yang tadi makan kue dari toples enggak pake minum, terasa seret juga di tenggorokan.
"Boleh, Neng. Tuh ambil aja di sana." Tukang nasi goreng itu menunjuk sebuah meja yang berisi aneka minuman.
Ada teh, ada juga jeruk peras. Membuat air liur Niken serasa mau menetes. Tapi sayangnya dia tidak punya uang. Kalau minta pada Rasyid, bakalan diocehin.
Niken hanya bisa menelan air liurnya saja. Lalu menuang air putih dari ceret yang menghitam pantatnya.
Niken menuang lagi setelah tuangan pertama habis. Dia bawa ke depan untuk Rasyid. Rasyid pasti seret tenggorokannya.
"Nih, Yah. Minum dulu. Mana makanannya tadi?" Rasyid meraih gelas berisi air putih dan menyerahkan toples yang hanya tersisa satu nastar.
Niken melihat tak percaya. Lalu dibukanya tutup toples. Benar-benar cuma tinggal satu.
"Kemana yang lain, Yah?" tanya Niken.
"Nih. Masuk semua ke sini." Rasyid menunjuk perut buncitnya.
"Ayah...! Masa Niken cuma disisain satu?" Niken cemberut.
Beberapa orang menoleh ke arah mereka dengan heran.
"Sstt. Jangan kenceng-kenceng. Tuh mereka pada lihatin kemari. Lagian tadi, Ayah pikir kamu udah enggak mau lagi." Rasyid yang malu karena dilihatin orang, bicara pelan.
Niken yang kesal, hanya bisa menghentakan kakinya saja. Sambil mulutnya mengomel enggak jelas. Tapi tetap dihabiskannya juga nastar yang tinggal satu butir.
Rasyid hanya tersenyum saja melihat tingkah Niken.
"Neng! Sudah jadi nih, nasi gorengnya. Mateng!" teriak tukang nasi goreng. Lalu ketawa terbahak. Orang-orang yang sedang mengantri, ikutan ketawa.
Niken meminta uangnya pada Rasyid, lalu mendekat ke tenda sambil membawa gelas yang dipakainya minum.
"Berapa, Bang?" tanya Niken sambil mengambil pesanannya dan menyerahkan gelas.
"Dua spesial, jadi lima puluh ribu."
Tanpa beban sama sekali, Niken menyerahkan lembaran lima puluh ribuannya.
"Mana kembaliannya?" Rasyid menengadahkan tangannya.
"Enggak ada lah, Yah. Kan dua ini harganya lima puluh ribu," jawab Niken.
"Kalau Ayah enggak percaya, tanya aja sendiri sana," lanjut Niken.
Rasyid langsung memasang tampang seremnya. Bagaimana mungkin uang hasil buruannya hanya cukup untuk membayar nasi goreng?
Lalu bagaimana dengan obatnya Ayu? Sepanjang jalan, Rasyid hanya merutuki dirinya yang lagi apes. Niatnya memancing kakap, malah cuma dapat ikan teri.
__ADS_1