
Setelah mengajak Niken makan, Tanto mengantarnya pulang. Sepanjang jalan dan makan tadi, Niken jadi irit bicara. Dia udah terlanjur bete dengan Tanto.
"Ini rumah kamu?" tanya Tanto.
"Iya. Makasih!" ucap Niken dengan ketus. Lalu turun dari motor Tanto.
"Eh, aku ketemu ayah kamu dulu. Mau bilang makasih udah ngijinin anak gadisnya yang jutek makan denganku," sahut Tanto.
"Enggak usah. Entar aku aja yang bilang!" Niken tetap berjalan masuk ke rumahnya.
Tanto tak menyerah, dia turun dari motornya dan mengikuti Niken.
Niken masuk lewat pintu depan yang kebetulan terbuka. Di sana ada Laras yang sedang cemberut karena Tomi tak juga bisa dihubunginya.
Tanto yang berdiri di depan pintu, terbelalak melihat Laras yang sudah berdandan cantik.
"Kak! Ayah mana?" tanya Niken. Dia sadar kalau Tanto masih mengikutinya.
"Di dalam!" jawab Laras dengan ketus.
Oh, kakaknya. Cantik juga. Malah lebih cantik. Tapi kenapa wajahnya sama juteknya. Batin Tanto.
Tanto tersenyum ke arah Laras. Laras hanya menatapnya sekilas. Dia sudah tahu dari Rasyid kalau Niken akan pulang diantarkan karyawannya Willy.
"Ayah! Ada yang mau ketemu!" seru Niken sambil masuk ke kamarnya.
Rasyid yang mendengar, langsung berdiri. Lalu berjalan ke depan.
"Ada apa?" tanya Rasyid pada Tanto yang masih berdiri di depan pintu.
"Enggak apa-apa, Om. Cuma nganter Niken pulang. Makasih sudah mengijinkan Niken saya antar," jawab Tanto. Nyalinya ciut juga melihat tampang Rasyid yang butek.
"Iya, sama-sama," sahut Rasyid. Lalu kembali masuk ke dalam.
Tanto jadi heran. Kenapa satu rumah tak ada yang ramah. Padahal dia berniat baik.
"Mbak. Saya pamit pulang," ucap Tanto pada Laras yang sedang asik dengan hapenya.
"Iya!" jawab Laras ketus.
Tanto mengangkat bahunya, lalu pergi meninggalkan rumah yang penghuninya jutek-jutek.
Enggak dapet Niken, bakalan aku embat tuh kakaknya, tunggu aja. Batin Tanto sambil berjalan ke arah motornya.
Di depan sebuah warung sembako, Tanto bertemu dengan Beni. Mereka saling mengenal, meski Beni adalah kakak kelasnya saat di sekolah dulu.
"Lho, Mas Beni. Kok di sini?" tanya Tanto.
"Tanto, ya? Ini rumahku. Kamu dari mana?" jawab Beni.
"Nganter temen, Mas," sahut Tanto.
"Laras?" tanya Beni. Dia melihat Tanto sejak dia menstater motornya di depan rumah Rasyid.
__ADS_1
"Bukan, Mas. Tapi Niken," jawab Tanto.
Oh, jadi namanya Laras? Batin Tanto.
"Oh, kirain Laras. Niken adiknya Laras. Temannya Niken?" tanya Beni lagi.
"Iya, Mas." Tanto terpaksa berbohong. Malu kalau bilang mereka baru saja kenal.
"Mampir dulu, Tan." Beni berbasa basi menawari Tanto.
"Makasih, Mas. Ini udah malam. Besok aku harus kerja pagi-pagi," sahut Tanto.
"Memangnya kamu kerja di mana?" tanya Beni.
"Aku kerja di counter hape, Mas. Kalau Mas Beni kerja dimana?"
"Aku kerja di leasing. Dept Collector," jawab Beni dengan jujur. Dia tak pernah malu mengakui pekerjaannya. Toh, itu pekerjaan yang halal.
"Oke, Mas. Aku permisi dulu, ya." Tanto kembali melajukan motornya.
Kapan-kapan aku harus tanya pada Beni tentang Niken. Kalau perlu tentang Laras juga. Batin Tanto sambil melajukan motornya.
Baru beberapa meter, hapenya berbunyi. Ternyata sebuah pesan dari Imelda. Wanita setengah tua yang kemarin dikencaninya.
Dengan malas, Tanto menepikan motornya. Kalau bukan karena uang, rasanya tak mungkin dia mengencani wanita tua itu.
Tanto menelpon Imelda. Kalau hanya membalas pesannya, akan makan waktu lama menunggu balasannya. Sementara dia lagi di jalan.
Ternyata Imelda meminta Tanto untuk menemuinya di apartemen tempat kemarin mereka kencan. Hanya kencan saja. Karena Imelda sudah tak mampu bertanding di tempat tidur.
Menurut pengakuannya, dia baru kali ini menyewa jasa laki-laki bayaran macam Tanto.
Tanto hanya diminta mendengarkan cerita tentang kehidupannya yang menurut Tanto sangat membosankan.
Tapi Tanto mencoba menurutinya, karena Imelda memberinya bayaran cukup. Meski harus dibagi dua dengan Cyntia sebagai agency-nya.
"Baik, Bunda. Aku datang sekarang," jawab Tanto.
Lumayan bisa menambah penghasilanku. Dan aku bisa membantu adik-adikku sekolah. Batin Tanto sambil melajukan motornya.
Sampai di depan unit milik Imelda, Tanto bertemu dengan Tomi.
"Kamu bukannya Tanto anak buah Cyntia?" tanya Tomi. Dia baru saja keluar dari unit Sylfie. Malam ini dia urung menginap di unit Sylfie. Karena Sylfie ada acara mendadak.
"Iya. Kamu Tomi, kan?" tanya balik Tanto.
Tomi mengangguk.
"Selamat bekerja," ucap Tomi, lalu pergi berlalu. Dia akan ke rumah Laras. Seperti yang dijanjikannya tadi siang.
Tomi melajukan motornya ke rumah Laras. Dia sengaja tak mengaktifkan hapenya. Biar Laras enggak ngambek karena dia kemalaman.
Nanti dia akan beralasan banyak pekerjaan sampai lupa mengechas hapenya.
__ADS_1
Sampai di rumah Laras, sudah jam sembilan malam. Tomi berharap Laras belum tidur. Dan dia bisa mengajaknya sekedar hang out.
"Assalamualaikum." Tomi mengetuk pintu yang sudah terkunci.
Tak lama, pintu terbuka. Rasyid yang membukakannya.
"Selamat malam, Om. Larasnya ada?" tanya Tomi dengan sopan.
"Ada. Masuk!" Rasyid langsung masuk lagi memanggil Laras yang masih bete di kamarnya.
"Tuh, Tomi sudah datang," ucap Rasyid.
Laras langsung berbinar. Meski dandanannya sudah berantakan, dia keluar menemui Tomi. Rambutnya yang tadi digerai, hanya di ikat asal saja.
"Tomi...!" sapa Laras.
"Hallo, Sayang. Maaf, aku terlambat. Pekerjaanku banyak sekali. Ini baru saja selesai," ucap Tomi berbohong.
"Iya, enggak apa-apa." Laras mengecup pipi Tomi yang sudah duduk di sofa.
"Gimana, mau keluar apa ngobrol di sini aja?" tanya Tomi.
"Kamu capek enggak?" tanya Laras. Meski dalam hati merasa kepingin sekali keluar, tapi Laras berusaha tidak egois.
"Kalau buat kamu, enggak ada kata capek," jawab Tomi yang membuat Laras semakin berbinar.
Dia sangat bangga pada Tomi yang selalu membuatnya bahagia.
"Ya udah, aku siap-siap dulu. Kita mau kemana, Tom?" tanya Laras.
"Terserah kamu. Mau hang out apa mau booking hotel?" tanya Tomi pelan. Takut terdengar Rasyid ataupun adik-adik Laras.
"Hang out aja, ya? Enggak enak sama ayahku kalau kita nginap," jawab Laras, pelan juga.
"Ok. Kita cari cafe saja buat ngobrol."
Laras mengangguk. Lalu segera ke kamarnya sekalian pamit pada Rasyid.
"Yah, Tomi mau ngajak ke cafe. Boleh kan?" tanya Laras pada Rasyid yang sedang duduk di lantai sambil merokok dan ngopi.
"Ya. Pulangnya jangan malam-malam," jawab Rasyid.
"Ini kan juga sudah malam, Yah. Lagian perginya juga sama Tomi. Masa Ayah enggak percaya," sahut Laras.
"Ya udah. Terserah. Nanti pulangnya lewat pintu samping aja. Ayah malas membukakan pintu depan," ucap Rasyid.
"Iya, Yah."
"Kak, ikut dong," pinta Niken.
Laras menatap Niken dengan tatapan aneh.
"No!" sahut Laras sambil berjalan ke ruang tamu. Ada-ada saja. Mau pacaran, ngajak adik. Batin Laras.
__ADS_1
Setelah berpamitan pada Rasyid, Tomi mengajak Laras ke sebuah cafe yang buka sampai tengah malam, biar enggak buru-buru nongkrongnya.