KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS

KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS
Bab 98 POSITIF THINGKING


__ADS_3

Tomi terus berjalan ke kamar mandi. Dan tepat di depan pintu kamar mandi, dia melihat tubuh polos Ayu sedang mencari handuknya.


"Iih, awas Kak Tomi." Ayu menutupi tubuhnya dengan tangan.


Tomi langsung bersembunyi di tembok depan kamar mandi.


Ayu yang sudah menemukan handuknya, berlari ke kamar setelah memakainya.


Akh, kenapa mereka begitu ceroboh? Tak sadarkah kalau ada aku? Tomi mengusak rambutnya. Lalu masuk ke kamar mandi.


"Yah! Bangun! Udah jam enam lewat!" Niken mengguncang tubuh Rasyid yang masih meringkuk di sofa.


"Ayah, bangun!" Niken kembali mengguncangnya, karena Rasyid tak bereaksi sedikitpun.


"Hhmm. Jam berapa sekarang?" tanya Rasyid.


"Jam enam lebih, Yah," jawab Niken.


Rasyid menggeliat. Lalu beranjak duduk.


"Bikinkan Ayah kopi dulu, Nak," pinta Rasyid.


Niken mengangguk. Lalu berjalan ke dapur. Di depan pintu kamarnya, dia melihat Laras sedang menyisir rambut basahnya.


"Ada apa?" tanya Laras melihat Niken yang menatapnya dengan tajam.


"Enggak apa-apa," jawab Niken. Lalu kembali melangkah ke dapur.


Ceklek.


Niken menyalakan kompor. Tomi masih menyelesaikan acara mandinya. Dan setelah selesai, dia keluar dari kamar mandi.


Niken menoleh. Ditatapnya tubuh Tomi yang masih basah.


"Kak Tomi mau kopi juga?" tanya Niken menawari.


"Eemm...Boleh. Jangan terlalu manis, ya," jawab Tomi, lalu berjalan ke kamar Laras.


Niken menatap punggung Tomi yang sedang berjalan. Hatinya bergejolak. Kini Niken jadi mengagumi tubuh itu. Tubuh yang tadi membuatnya sejenak melayang.


Sampai di kamar, Laras sudah selesai menyisir rambutnya.


"Nah, begitu dong. Kan lebih enak dilihatnya," ucap Laras. Lalu mendekat dan memeluk tubuh Tomi dengan erat.


Tomi membalasnya, lalu melepaskan pelukan Laras.


"Aku pakai baju dulu, Ras," ucap Tomi.


Laras mengambilkan pakaian Tomi yang sudah dibereskannya. Dan membantu memakaikan.


Mereka sudah seperti pasangan suami istri. Dengan telaten, Laras memasangkan kancing kemeja Tomi.


Tomi membelai rambut basah Laras dan mencium aroma shampoo yang menguar. Lalu mengecup sekilas kening Laras.

__ADS_1


Tomi berusaha menghilangkan pikirannya tentang Niken. Juga berusaha melupakan kejadian tadi.


"Kak Tomi, kopinya sudah jadi...." Niken tertegun di dekat pintu yang terbuka lebar.


Dia melihat saat Tomi mengecup kening Laras. Ada rasa cemburu di hatinya.


"Oh, iya. Taruh saja di meja depan," sahut Tomi.


Laras menoleh. Dia melihat Niken membawa dua cangkir kopi.


Niken melengos dan melangkah ke ruang tamu.


"Yang ini punya kak Tomi," ucap Niken.


Satu cangkir diletakan di depan Rasyid yang sedang membuka medsosnya di hape. Cangkir satunya dia jauhkan agar tak tertukar.


Tomi yang sudah rapi, berjalan ke ruang tamu dan diikuti Laras yang menggelayut manja di bahu Tomi.


Mereka berpapasan dengan Niken yang mau kembali ke kamarnya. Niken menatap sebal dengan sikap manja Laras. Lalu melangkah dengan kesal.


Sampai di kamarnya, Niken menata buku-bukunya dan memasukan ke tas kumalnya.


Sementara Tomi duduk di samping Rasyid. Laras duduk di sandaran tangan sofa yang sudah tak ada busanya.


"Bagaimana temanmu, sudah bisa menemukan Tanto?" tanya Rasyid.


Tomi terkesiap. Dia baru ingat kalau harus menyelesaikan masalah Tanto.


"Mmm...Sebentar, Om." Tomi buru-buru mencari hapenya.


"Oh, iya. Aku taruh di meja belajar," jawab Laras.


Tomi beranjak dan berdiri. Laras tak berniat mengambilkannya. Dia berfikir, Tomi akan mengambilnya sendiri karena merasa Tomi sudah tahu tempatnya.


Tomi berjalan ke kamar Laras. Dan sampai di kamar, Niken masih menata buku-bukunya.


"Ken, ada hapeku?" Suara Tomi mengejutkan Niken yang memang sedang memikirkan lelaki yang sudah menjamahnya tadi.


Niken menoleh. Tomi mendekat. Dia akan mengambil hapenya yang sudah terlihat.


Niken terus saja menatap Tomi. Tomi pun membalas tatapan Niken setelah mengambil hapenya.


Entah dorongan darimana, tiba-tiba Tomi meraih kepala Niken dan mencium bibirnya.


Niken hanya diam. Yang pasti karena Niken belum terbiasa berciuman. Hanya Tanto yang semalam memaksa menciumnya.


Tomi ******* bibir Niken dengan rakus. Ingin rasanya melakukan lebih. Tapi jelas tak mungkin.


Tomi segera melepaskan ciumannya. Dia tak mau ada yang melihatnya. Lalu dia mengelap bekas liurnya di bibir Niken.


Niken tersenyum menikmatinya. Pantas saja Laras begitu tergila-gila. Tomi sangat romantis dan mampu membuat wanita melayang tinggi, batin Niken.


Tomi keluar dari kamar, meninggalkan Niken yang masih mematung. Sebuah senyuman kembali terulas dari bibir Niken.

__ADS_1


Tomi kembali ke ruang tamu. Dilihatnya Laras sedang ngobrol dengan calon bapak mertuanya.


Tomi duduk di tempatnya semula. Lalu menghubungi nomor Cyntia. Dia yang semalam berjanji akan membuat perhitungan dengan Tanto.


Dari tempatnya duduk, Laras membaca sebuah nama yang sedang dihubungi Tomi. Madam Cyntia.


Laras merasa aneh dengan sebutan madam. Seperti sebutan untuk tokoh di film barat, pikir Laras tanpa curiga.


Setelah tersambung dengan nomor Cyntia, Tomi berdiri dan berjalan menjauh.


"Iya, hallo Tom," sapa Cyntia di rumahnya. Meskipun Cyntia bukan wanita baik-baik dan sering begadang semalaman, tapi dia selalu punya kebiasaan bangun pagi.


"Bagaimana soal Tanto, Madam?" tanya Tomi.


Laras dan Rasyid, ikut menyimak meski suara Cyntia tak bisa mereka dengar.


"Benarkah?" tanya Tomi dengan mata berbinar.


Cyntia mengabarkan kalau Tanto sudah dihajar oleh preman yang disewanya hingga babak belur. Dan kini Tanto sudah di bawa ke rumah sakit oleh pemilik kos dan beberapa tetangga kamarnya.


"Oke, Madam. Nanti aku cek ke rumah sakit. Aku akan memastikan kondisinya," sahut Tomi.


"Kalau sudah, kamu ke rumahku ya," pinta Cyntia. Dia mulai ketagihan dengan permainan ranjang Tomi yang membuatnya melayang.


"Siap, Madam." Lalu Tomi menyudahi panggilannya dan kembali ke sofa.


"Gimana, Tom?" tanya Laras menuntut.


"Temanku udah memberinya pelajaran. Tanto sudah dilarikan ke rumah sakit," jawab Tomi.


Laras dan Rasyid sama-sama tak percaya. Bukan mereka menganggap cerita Tomi itu bohong.


Mereka hanya tak mengira kalau Tomi bisa melakukan itu. Melumpuhkan orang tanpa mengotori tangannya sendiri.


Niken yang akan ke ruang tamu pun ikut terkejut. Dia semakin kagum pada Tomi.


"Aku akan ke sana buat memastikannya," lanjut Tomi.


"Iya, Tom. Diminum dulu kopinya. Keburu dingin," sahut Laras.


"Yah, Niken ada ulangan pagi ini," ucap Niken tiba-tiba.


Rasyid menatap wajah Niken. Dia sangat tak suka kalau diburu-buru.


"Biar saya antar, Om. Sekalian saya ke rumah sakit." Tomi menawarkan diri.


Tomi tak punya maksud negatif pada Niken. Karena setahunya, sekolah Niken sejalur dengan rumah sakit.


"Ya udah. Aku juga belum ke kamar mandi," sahut Rasyid. Dia pun tak berfikiran negatif pada Tomi.


Tomi beranjak setelah menyeruput kopinya sekilas.


"Aku pergi dulu, Ras. Om, saya sekalian pamit." Tomi memberikan tangannya. Rasyid pun menerima uluran tangan Tomi.

__ADS_1


Niken tersenyum penuh kemenangan. Pagi ini dia bisa bersama lagi dengan Tomi.


Dan mereka pergi setelah Laras mengantarnya ke depan. Laras memandang kepergian mereka tanpa menaruh curiga sedikitpun.


__ADS_2