
Sampai di dekat motor, Niken menundukan wajahnya. Dia malu pada Laras.
Tadi waktu Laras mau pergi, di otaknya terbersit pikiran jahat. Ingin melaporkan pada Tomi kalau Laras pergi menonton bersama Beni.
"Ngapain kamu kelayapan malam-malam begini?" tanya Laras dengan ketus.
"A....Aku...." Niken gelagapan menjawabnya.
"Udah jangan dibahas di sini. Sekarang kita pulang," ajak Beni. Dia tak mau berlama-lama lagi. Karena tahu ibunya sudah menunggunya.
Dan Beni harus menyiapkan jawaban yang masuk akal biar Yanti tidak memarahinya.
Mereka naik ke motor. Untung motornya Beni cukup besar, jadi kuat untuk mengangkut mereka bertiga.
Seperti biasa, Beni lewat jalan lain yang tak melalui rumahnya. Dan nantinya bisa nembus bagian samping rumah Rasyid.
"Waduh! Jalannya ditutup." Beni menghentikan motornya. Di depannya dipasang portal dan papan bertuliskan jalan ditutup sementara, ada perbaikan.
"Ya udah, kita muter aja," sahut Laras.
Beni mengangguk. Dia pikir, bakal aman karena sudah malam. Warung ibunya juga pasti sudah tutup.
Beni memutar dan melajukan motornya lagi ke jalan utama. Hatinya ketar-ketir. Walaupun ada keyakinan kalau ibunya tak akan melihat.
Dan kekhawatiran Beni menjadi kenyataan. Yanti berdiri di depan warungnya yang sudah tutup sejak Beni pamit pergi tadi.
"Beni! Berhenti! Turun kalian!" teriak Yanti sudah mirip polisi lalu lintas yang mau menilang.
Beni menghentikan motornya. Laras dan Niken turun.
"Ben, kita pulang duluan ya," ucap Laras pelan. Takut didengar Yanti. Beni mengangguk.
"Permisi, Bu," ucap Laras sambil mengangguk ke arah Yanti dan berjalan cepat-cepat. Niken mengikutinya.
Yanti menatap keduanya dengan tatapan tak suka.
"Masuk kamu, Beni!" seru Yanti penuh amarah.
Beni membawa motornya masuk. Dia sudah siap menerima kemarahan ibunya.
Yanti menunggu Beni di ruang tamu.
"Duduk!" seru Yanti.
Beni menurut. Dia duduk sambil menunduk. Sesekali dia melihat ke arah Yanti.
__ADS_1
"Dari mana kamu?" tanya Yanti menginterogasi.
"Nonton dengan Laras, Bu," jawab Beni jujur. Tak mungkin lagi dia berkelit.
"Bagus! Tadi kamu bilang nontonnya sama teman kamu!" seru Yanti. Suaranya sudah penuh kemarahan.
"Laras kan teman Beni, Bu. Bukan....pacar," jawab Beni sambil menunduk.
Dalam hatinya sedih. Dia pergi menonton dengan pacar orang lain. Bahkan hampir menikah.
"Teman? Memangnya kamu enggak punya teman lain? Dia pacar orang, Beni! Dan mereka mau menikah! Kamu tau itu, kan?"
"Iya, Bu. Maafin Beni," sahut Beni.
"Kamu jangan malu-maluin Ibu! Susah payah Ibu sekolahin kamu, biar bisa pinter. Bisa dapat pekerjaan yang enak. Setelah dapat pekerjaan yang enak, uangnya cuma buat jalan sama pacar orang! Di mana pikiran kamu, Beni?"
Beni seperti ditampar mendengarnya. Semua perkataan ibunya benar. Dia melakukan hal yang sia-sia. Dan pastinya akan bikin malu ibunya kalau sampai tetangga ada yang melihatnya.
Dan Beni jadi merasa bodoh. Selama ini terus mengejar Laras. Sementara Laras sedang menunggu lelaki lain menikahinya.
Dan saat Beni mengharapkan Niken, sikapnya malah bikin sakit hati. Tadi saja bisa baik, karena Beni menolongnya.
"Maafin Beni, Bu. Beni janji enggak akan melakukannya lagi," ucap Beni lagi.
"Ibu pegang janji kamu, ya?"
"Ya udah, masuk ke kamarmu. Awas kalau Ibu sampai tau kamu jalan lagi sama mereka," ancam Yanti.
Beni beranjak dari duduknya, dan melangkah masuk ke kamarnya.
Sementara, Laras dan Niken yang berjalan dengan cepat, sampai di rumahnya.
Rasyid dan Ayu masih duduk di lantai sambil makan camilan. Rasyid menatap pada kedua anak gadisnya.
Kenapa mereka bisa bersamaan?
"Dari mana kalian?" tanya Rasyid.
"Laras dari nonton sama Beni kan, Yah? Kalau Niken, enggak tahu. Kita ketemu dia di pinggir jalan yang sepi. Dia lagi main sama preman-preman," jawab Laras asal.
"Enggak, Yah. Preman-preman itu yang gangguin Niken," sahut Niken membela diri.
"Digangguin preman?" tanya Rasyid terkejut.
"Iya, Yah." Niken mulai terisak. Dia luapkan kesedihannya saat digangguin preman tadi.
__ADS_1
"Sukurin! Diperkosa baru tau rasa!" ucap Laras.
"Laras! Enggak boleh bilang kayak gitu!" bentak Rasyid.
"Lagian, malam-malam kelayapan aja!" Laras berjalan masuk ke kamarnya.
Niken makin terisak. Dia ingat kembali saat Tanto dulu hampir memperkosanya.
Niken jadi menyesali kebodohannya tadi. Pergi sendirian, jalan kaki, malam-malam juga.
"Kamu dari mana?" tanya Rasyid lagi.
"Tadinya Niken mau main ke rumah Rara. Tapi pas sampai rumahnya bu Yanti, Niken melihat motor Ayah ada di teras rumahnya. Niken mengetuk pintunya, kata bu Yanti, Ayah kehabisan bensin. Dan Ayah lagi nyari bensin. Niken nyariin Ayah ke kios-kios bensin," jawab Niken.
Rasyid tercekat mendengarnya. Dia merasa bersalah karena berbohong pada anak-anaknya.
Laras pun yang mendengarnya ternganga. Motor ayah ada di teras rumahnya Beni? Lagi ngapain ayah di rumah Beni?
Niken mengetuk pintu? Itu artinya pintu rumah Beni tertutup. Apa ayah ada main dengan bu Yanti?
Kalau alasannya karena kehabisan bensin dan menitipkan motornya di sana, jelas enggak masuk akal.
Toh, rumah mereka berdekatan. Bisa saja ayah pulang. Ini pasti ada hubungannya dengan ayah yang tiba-tiba menyuruhnya nonton bersama Beni.
Lalu kenapa tadi Beni tiba-tiba minta pulang? Dan bu Yanti yang marah-marah padanya. Apa karena ketahuan sama Niken? Batin Laras.
Laras keluar dari kamarnya. Dia mau mencari tahu jawabannya.
"Kenapa Ayah nitip motor di rumahnya bu Yanti?" tanya Laras penuh selidik.
"Ayah kehabisan bensin, Laras," jawab Rasyid. Seperti yang dikatakan Yanti pada Niken.
"Kalau kehabisan bensin, kenapa motornya enggak dibawa pulang aja? Kan rumah kita deket? Kenapa mesti di titipin? Dan kenapa ditaruh di teras? Enggak di halamannya aja?" Banyak sekali pertanyaan Laras yang menjebak dan membuat kepala Rasyid nyut-nyutan.
"Kebetulan tadi bu Yanti lagi di depan rumahnya. Lalu dia menawari waktu lihat Ayah kehabisan bensin. Salah kalau Ayah menerima tawarannya?" Rasyid berkelit. Berusaha menutupi kelakuannya.
"Enggak salah. Tapi enggak harus ditaruh di teras juga, kan?" Laras masih saja menyerang Rasyid.
"Bu Yanti mungkin takut kalau motor Ayah hilang. Lagian kan tadi Niken bilang, kalau pintu rumahnya ditutup," jawab Rasyid. Dia merasa dapat angin segar dengan cerita dari Niken.
Laras menatap wajah Rasyid dengan tajam. Lalu mendengus kesal dan masuk lagi ke kamarnya. Dia tak percaya sama sekali dengan alasan Rasyid.
Sebab Laras sudah tahu kelakuan Rasyid yang sering berganti-ganti wanita.
Tapi kenapa mesti dengan bu Yanti? Apa Ayah enggak malu kalau ketahuan tetangga? Dan bagaimana kalau sampai Beni tahu?
__ADS_1
Sedangkan Laras yakin, pasti ayahnya itu hanya main-main saja dengan bu Yanti.
Laras menutup wajah dengan telapak tangannya. Dia malu membayangkan kalau kecurigaannya benar. Terutama malu pada Beni.