KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS

KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS
Bab 82 SATU GURU SATU ILMU


__ADS_3

Setelah check out, Tomi mengajak Laras mencari tempat makan.


"Kamu mau makan apa, Ras?" tanya Tomi sambil mengendarai motornya.


"Enggak! Aku mau pulang aja!" jawab Laras yang masih kesal.


"Jangan ngambek dong. Kan udah aku jelasin," sahut Tomi. Lalu tangannya mencari tangan Laras dan menggenggamnya erat.


"Abis kamu nyebelin!" Laras masih mencurigai Tomi.


"Aku kan udah ngomong yang sebenarnya, Ras." Tomi membelokan motornya ke sebuah restauran cepat saji.


Tomi berfikir, Laras pasti menyukainya dan enggak ngambeg lagi.


"Ayo masuk. Wajahnya jangan manyun gitu. Enggak malu apa dilihat banyak orang." Tomi menggandeng tangan Laras.


Laras berusaha mengatur emosinya. Malu juga sih kalau orang-orang melihatnya cemberut. Meskipun tak kenal.


"Pilih sesukamu. Kamu yang antri. Aku ambil uang dulu di ATM." Tomi menunjuk ke sebuah mesin ATM yang ada di area restauran.


Laras menurut. Dia mengantri di urutan terakhir sambil membaca papan menu yang terpampang.


Ada rasa bangga bisa makan di tempat yang terkenal dan mahal. Biasanya dia hanya mengatri di warung makan murahan pinggir jalan saja.


Sejenak Laras teringat ayah dan kedua adiknya. Ingin rasanya membelikan juga buat mereka. Tapi apa uang Tomi cukup, melihat harganya sangat mahal menurut Laras.


Tomi kembali saat antrian Laras tinggal satu orang lagi.


"Mau pesan yang mana?" tanya Tomi.


"Paket yang itu saja." Laras menunjuk sebuah paket makan yang tak terlalu mahal.


"Oke. Tambah yang nomor dua, ya? Biar kenyang," sahut Tomi. Karena yang Laras pesan hanya nasi plus ayam goreng saja.


Laras mengangguk. Sebenarnya dia juga menginginkannya. Tapi takut uang Tomi tak cukup.


Tomi sendiri sudah mengambil cukup dari transferan Maya barusan. Sebagian akan dia berikan juga untuk ibunya. Biar bisa buat nambah uang belanja di rumah.


Tomi memesan banyak makanan. Laras sampai kebingungan. Bagaimana mungkin dia menghabiskan semuanya?


"Ini enggak kebanyakan, Tom?" tanya Laras pelan.

__ADS_1


"Enggak. Aku laper banget. Dari pagi belum makan," jawab Tomi.


Lalu mereka mencari meja yang kosong. Untungnya masih ada beberapa yang kosong meski di jam makan siang.


"Tom. Itu bukannya Tanto, ya?" Laras menunjuk ke arah lelaki muda yang jalan dengan wanita setengah tua. Bukan wanita yang kemarin bertemu dengan Laras lagi.


"Iya. Sama siapa lagi, dia?" tanya Tomi. Pertanyaan yang lebih ditujukan pada dirinya sendiri.


Hebat si Tanto. Kliennya berganti-ganti terus. Darimana dia mendapatkannya? Secara, Cyntia menghilang sejak beberapa hari yang lalu. Batin Tomi.


"Heh! Malah bengong!" Laras menepuk bahu Tomi yang duduk di depannya.


"Eh, enggak kok." Tomi kembali fokus pada makanannya. Jangan sampai Laras kembali membahas soal Maya. Apalagi katanya semalam Laras melihatnya berjalan dengan Maya.


"Mesra banget. Kayak kamu semalam dengan....siapa nama wanita yang semalam jalan sama kamu?" tanya Laras.


"Mm...Maya," jawab Tomi ogah-ogahan. Dia sebenarnya tak mau Laras mengetahui nama-nama kliennya. Tapi Tomi terlanjur mengatakan nama yang sebenarnya.


"Apa itu klien si Tanto juga? Pantas saja dia tak ada di counter. Rupanya dia sudah ada pekerjaan lain," ucap Laras.


"Udah, dimakan. Jangan mikirin orang lain." Tomi jadi salah tingkah. Berharap Laras tak bertanya ini itu lagi.


Dan tanpa diduga, Tanto masuk di restauran yang sama. Tapi kebalikan dengan Tomi, Tanto yang mengantri dan wanita itu yang ambil uang di mesin ATM.


"Nanti kalau kita sudah menikah, aku buatkan kamu ATM sendiri," sahut Tomi sambil makan.


Tanto yang lagi mengantri, tak sadar menoleh dan melihat Laras yang sedang duduk menghadap ke arahnya. Sementara Tomi membelakanginya.


Laras pun secara tidak sengaja sedang melihat ke arah Tanto. Mata mereka bertemu.


Tomi yang juga sedang menatap Laras, mengikuti arah pandang Laras.


Tomi berdecak kesal karena Laras terus saja menatap Tanto.


"Ras!" Tomi menyentuh tangan Laras.


"Eh, iya. Maaf," sahut Laras. Lalu mengalihkan pandangannya pada Tomi.


"Kan udah aku bilang, jangan urusi orang lain. Kamu malah ngeliatin terus," ucap Tomi dengan kesal.


"Iya, Maaf. Enggak sengaja." Laras lalu menyibukan diri dengan makanannya.

__ADS_1


"Lagi pula dia laki-laki enggak bener," ucap Tomi.


"Enggak bener bagaimana?" Laras menatap Tomi. Matanya sempat melirik sekilas ke arah Tanto yang masih saja menatapnya.


Dalam hati, Tanto berfikir, kenapa Laras bisa jalan sama Tomi? Apa mereka beneran pacaran atau Laras hanya akan dipermainkan Tomi saja.


Karena Tanto tahu pekerjaan Tomi yang tak jauh beda darinya. Bahkan setahunya, Tomi sudah lebih dulu nyemplung ke dunia hitam.


Ingin sekali Tanto membawa Laras pergi dan mengungkap siapa sebenarnya Tomi. Bukan cuma kasihan pada Laras, Tanto juga memiliki perasaan pada Laras. Meskipun dia juga masih penasaran dengan Niken, adik Laras.


Tomi pun akhirnya mengungkap pekerjaan Tanto yang sebenarnya selain sebagai karyawan di counter hape. Juga tentang siapa kemungkinan wanita tua yang bersama Tanto.


"Hah?" Laras sangat terkejut mendengarnya. Matanya sampai melotot dan dia hampir saja tersedak.


Tomi memberikan minuman yang langsung disambut oleh Laras.


"Makasih, Tom," ucap Laras setelah menelan minumannya. Tomi hanya mengangguk.


"Darimana kamu tau, Tom?" tanya Laras penasaran.


Kini giliran Tomi yang tersedak karena kaget mendengar pertanyaan Laras. Dia tak berfikir Laras akan menanyakan itu.


Tomi pun langsung menenggak minumannya. Sambil berfikir sejenak agar Laras tak mencurigainya.


"Temanku yang cerita. Dia satu profesi dengan Tanto." Tomi mengkambinghitamkan Adam. Toh Laras tak mengenal Adam.


Laras mengernyitkan dahinya.


"Kamu punya temen yang berprofesi seperti itu? Teman baik?" tanya Laras.


Tomi makin bingung dengan pertanyaan Laras yang terlalu lugu.


"Ras. Kita kan berteman tak memandang pekerjaannya. Yang penting orangnya baik, it's ok. Kamu juga kenal sama Tanto, kan?"


"Tapi aku enggak berteman dengannya. Niken yang mengenalnya. Aku hanya pernah melihatnya mengantar Niken kemarin malam. Dan nanti aku mau kasih tau Niken, biar enggak bergaul sama Tanto," jawab Laras dengan jujur.


Meski Rasyid bukan orang yang jujur, tapi Laras tak menuruni sifat buruk itu. Laras cenderung jujur dan lugu.


"Ya jangan sampai kamu berteman sama dia." Tomi menunjuk Tanto dengan dagunya. Dia tak mau kalau Tanto tertarik pada Laras dan mendekatinya.


Tanto yang sudah selesai memesan makanan, mencari tempat duduk kosong bersama wanita tua itu. Dan mereka mendapatkan tempat tak jauh dari tempat duduk Laras dan Tomi.

__ADS_1


Tanto tersenyum ke arah Laras. Laras hanya mengangguk. Tapi Tomi yang mengartikan lain, malah melotot ke arah Tanto.


Tanto yang mendapat tatapan sinis dari Tomi hanya tersenyum saja. Dalam hatinya dia berkata, kita satu guru satu ilmu. Tak perlu munafik.


__ADS_2