KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS

KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS
Bab 33 MENDAKI GUNUNG MELIHAT LEMBAH


__ADS_3

Saat Laras dikamar mandi, Tomi ditelpon Adam.


"Apaan sih, kamu? Gangguin aja!" ucap Tomi dengan kesal. Suaranya tak berani kencang takut Laras mendengar.


"Cuma mau memastikan aja, kalian udah di lokasi?" tanya Adam terkekeh.


Laras keluar dari kamar mandi.


"Sudah bos. Jam berapa bos ke mari?" Tomi berpura-pura. Seolah yang menelpon bosnya.


Adam yang sudah paham karena dia juga dalangnya, menjawab seolah dia bosnya Tomi.


"Mungkin tengah malam. Kamu mau ke sini apa menunggu di vila?" tanya Adam dengan suara sok berwibawa.


"Saya menunggu di sini saja, Bos. Tunangan saya tidak berani ditinggal sendirian," jawab Tomi.


"Ya sudah. Kalau begitu saya lanjut meetingnya." Adam menutup telponnya.


Laras yang ikut mendengarkan jadi yakin, kalau Tomi tak berbohong. Dia bisa bernafas lebih tenang.


Laras masih berdiri di depan Tomi.


"Duduk sini, Ras. Kamu mau aku buatkan minuman?" tanya Tomi. Dia tahu kalau Laras masih gugup. Laras mengangguk.


Tomi pun ke dapur. Yoga dan keluarganya memang selalu menyediakan stock minuman dan makanan kecil di dapur.


Dan penjaga vila juga selalu menyimpannya dengan rapi. Jadi Tomi tak kesulitan mencarinya.


Tomi membuat dua gelas coklat hangat. Minuman yang selalu dia minta saat Yoga mengajaknya ke sini.


"Ini, Ras. Minumlah, biar badan kamu hangat." Tomi meletakan gelas di atas meja.


Lalu Tomi duduk di sebelah Laras dan membuka sepatunya.


"Ras," panggil Tomi perlahan menghadap ke Laras. Tangannya memainkan anak rambut Laras.


Laras hanya menatap Tomi. Ada rasa bangga karena Tomi bukanlah orang sembarangan. Sepertinya Tomi sangat dipercaya oleh bosnya.


"Kamu benar-benar mencintaiku, kan?" tanya Tomi.


Laras mengangguk.


"Kamu mau kan, menikah denganku?" tanya Tomi lagi.


Laras kembali mengangguk.


"Kamu juga mencuntaiku kan, Tom?" Laras balik bertanya.


"Sangat, Ras. Dan aku, ingin segera menikahi kamu. Memiliki kamu seutuhnya," jawab Tomi.

__ADS_1


Mata Laras berkaca-kaca mendengar jawaban Tomi.


Tomi menyentuh bibir Laras dengan jarinya. Lalu membelai bibir Laras. Melihat Laras yang pasrah, Tomi mendekatkan bibirnya.


Laras malah memejamkan matanya. Tak menyia-nyiakan kesempatan, Tomi langsung menyambar bibir Laras.


Tubuh Laras menegang. Dan dia meremas bahu Tomi. Tomi yang memiliki kebebasan penuh, semakin liar. Dia eksplor mulut Laras sampai ke dalam-dalamnya.


Laras semakin tegang. Remasannya di bahu Tomi semakin kencang.


Tomi melihat peluang terbuka lebar. Dia akan menuntaskan semuanya di sini. Seperti anjuran kedua teman gokilnya.


Dia akan mengecek dulu kondisi Laras. Kalau memang masih ori, dia akan lanjut terus. Kalau tidak, ya seperti anjuran kedua temannya. Sekedar have fun saja. Tapi jangan sampai dia perlihatkan kekecewaannya, biar acara have fun-nya enggak cuma sekali.


Tangan Tomi mulai berkelana. Mendaki gunung dan nantinya akan melewati lembah. Lembah yang bakal di masukinya malam ini juga.


Karena Tomi sudah berencana akan menginap di sini semalaman. Jadi dia bisa melakukannya berkali-kali. Dan menurut pengamatan Tomi, banyak tempat yang bisa di jadikannya ajang bertempur.


Dia akan mempraktekan langsung pada Laras, pelajaran berharga yang sering dia tonton di video.


Tomi memang sering berganti-ganti pasangan. Dan sering mempraktekan pada wanita-wanita hasil buruannya. Tapi sejauh ini, hanya sekedar *****-***** saja. Dia belum berani terlalu jauh. Mungkin bukan belum berani, tapi belum ada kesempatan.


Tangan Tomi menelusup lewat kancing blouse Laras yang sudah di lepasnya. Kalau soal buka-buka kancing, Tomi sudah lihay.


Bukan sekali dua kali dia melakukannya. Bahkan dari jaman SMA, dia pernah melakukannya. Meski hanya sekedar menyentuh isinya saja.


Tomi kembali menyambar bibir Laras agar tidak protes.


Dan dengan gerakan cepat, Tomi melepas semua kancing blouse Laras.


Tomi melepas blouse Laras dan membuangnya ke sembarang arah. Laras sempat meronta, dia malu karena bagian atas tubuhnya terpampang jelas.


Hanya tinggal sport bra-nya saja yang menutupi gunung kembarnya.


Tangan Tomi yang sudah terlatih, meyusuri punggung Laras. Dengan sekali gerakan, dua pengait lepas. Dan...terpampanglah pemandangan indah yang beberapa hari kemarin sempat membuatnya di sidang oleh Rasyid.


Laras langsung melepaskan bibirnya. Dan kedua tangannya menutupi dua gungungnya. Dia masih malu memperlihatkannya pada Tomi.


"Kenapa ditutupi?" tanya Tomi dengan sabar. Dia tahu Laras masih terlalu polos.


"Aku malu Tom," jawab Laras.


"Enggak usah malu, Sayang. Kita kan bakal jadi suami istri," bisik Tomi.


Lalu Tomi menyingkirkan kedua tangan Laras. Tomi menatapnya dengan lekat. Masih begitu ranum. Dan mencuat indah.


Tomi menyentuh ujungnya. Membuat Laras terjengit. Tomi bukannya menjauhkan tangannya, malah memainkannya.


"Aahhkk....!" Laras mendesah. Kenikmatan tiada tara yang Laras rasakan. Apalagi saat kepala Tomi mendekat. Dan seperti bayi yang kehausan Tomi menghisapnya.

__ADS_1


Laras sampai kejang. Kakinya terasa kaku tak bisa di gerakan. Tangan Laras meremas rambut dan menekan kepala Tomi.


Bulatan yang tak terlalu besar itu seperti hampir masuk semua ke mulut Tomi. Tangan Tomi yang satunya ikut mendaki gunung sebelahnya.


Dalam hati Tomi bersorak. Dia berhasil mendaki gunung Laras lagi tanpa ada pengganggu.


Sekarang tinggal langkah selanjutnya. Tomi akan melewati lembah yang Tomi belum pernah melihat wujudnya sama sekali. Bahkan belum sempat menyentuhnya. Karena keburu kepergok Rasyid.


Sambil terus menyusu, Tomi memikirkan dimana tempat yang enak untuk mengecek lembah milik Laras.


Kalau di sofa ini, dia khawatir cairan-cairan yang akan mengalir nantinya, mengotori sofa mewah ini.


Tomi memutuskan, akan mengeksekusi Laras di kamar yang biasa dipakai Yoga. Paling juga hanya mengotori sepreinya saja. Dan Tomi bisa menggantinya dengan yang baru.


Tomi melepaskan hisapannya. Lalu mencium kening Laras. Laras sudah terlihat sangat bergairah. Tatapan matanya nanar.


Tomi berdiri dan mengangkat tubuh Laras. Tubuh Tomi yang lebih besar, membuatnya dengan mudah mengangkat Laras.


Tangan Laras melingkar di leher Tomi.


"Mau kemana, Tom?" tanya Laras dengan suara parau.


"Kita di kamar saja. Biar kamu lebih nyaman," ucap Tomi.


Sampai di kamar, Tomi meletakan tubuh Laras perlahan di atas tempat tidur Yoga.


Posisi Laras yang terlentang, membuat Tomi mudah melepaskan kancing celana panjang Laras.


"Tomi, jangan!" Laras menahan tangan Tomi yang akan menarik turun celananya.


"Kenapa?" tanya Tomi dengan lembut.


"Aku takut, Tom," jawab Laras.


"Takut apa?" tanya Tomi lagi.


"Kalau aku hamil bagaimana?" Laras tetap menahan tangan Tomi.


"Kan kita mau menikah. Apa yang kamu takutkan?"


"Tapi Tom...." Suara Laras bergetar. Antara takut dan hasrat yang sudah sangat menggelora.


"Jangan takut, Sayang. Aku pasti akan menikahimu," bisik Tomi.


Akhirnya tangan Tomi bisa juga menarik turun bahkan melepaskan celana panjang Laras. Dan terpampanglah lembah dengan bulu-bulu halus yang membuat tenggorokan Tomi tercekat.


Wouw, indahnya. Tomi tak mengira akhirnya bisa melihat secara langsung. Lembah milik perempuan yang selama ini dia hanya berani meraba-rabanya.


Semoga lembah ini belum pernah terjamah siapapun, harap Tomi dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2