
Tomi sampai di rumah Laras setelah mereka selesai makan.
"Tomi!" seru Laras dengan senang. Akhirnya Tomi datang juga meski hanya sendirian.
"Bawa apa, Tom?" tanya Laras melihat banyak bawaan Tomi.
"Oleh-oleh. Aku tadi diajak bos meeting," sahut Tomi berbohong.
"Aku panggil ayah dulu, ya." Laras masuk ke dalam memanggil Rasyid.
"Ayah. Tomi datang," ucap Laras.
"Sama orang tuanya?"
Laras menggeleng. Rasyid melengos kesal.
"Ayah temui Tomi saja dulu. Nanti Ayah bilang langsung ke Tominya," ucap Laras.
Rasyid mengangguk. Lalu berjalan ke ruang tamu. Rasyid melihat banyak kantong kresek di atas meja.
"Mana orang tuamu?" tanya Rasyid.
"Mm. Saya belum sempat ketemu mereka, Om. Saya baru saja pulang meeting. Ini ada oleh-oleh, tadi beli di jalan," ucap Tomi.
Tomi berharap Rasyid akan luluh dengan oleh-oleh yang dibawanya.
"Kamu mesti cepat membawa orang tua kamu! Aku tidak bisa menunggu lama-lama!" ucap Rasyid. Dia berharap setelah Laras menikah, bisa membantu memenuhi kebutuhan hidupnya.
"Iya, Om. Secepatnya," ucap Tomi dengan mantap.
Tomi sudah memantapkan diri membawa kedua orang tuanya. Tapi dia perlu mendandani kedua orang tuanya dulu. Biar meyakinkan kalau mereka berasal dari keluarga berada.
Tomi juga akan mencari tambahan dulu untuk biaya menikahnya nanti. Dia merasa sekarang sudah punya side job dengan bayaran tinggi.
Tapi Tomi akan merahasiakan pekerjaannya pada siapa pun. Yang penting uangnya banyak, cukup untuk membantu keluarganya, juga membahagiakan Laras.
Rasyiid masuk ke dalam. Dia malas mendengar alasan Tomi terus.
"Yah! Besok Ayu berangkat sekolah ya? Ayu kan udah sehat," ucap Ayu.
"Iya, Sayang," sahut Rasyid.
"Tapi buku tulis Ayu habis." Ayu mulai merajuk.
"Ayah belum punya uang, Nak." Rasyid sebenarnya masih punya sisa uang dari Wulan. Tapi kuotanya dia hanya tinggal hari ini saja. Kalau buat beli bukunya Ayu, bagaimana dia bisa mencari uang?
Laras yang akan membuatkan minuman buat Tomi, mendengarnya. Dia kasihan juga pada adiknya ini.
Selesai membuatkan minum, Laras berniat meminta uang pada Tomi.
__ADS_1
"Tom, boleh enggak aku minta uang, buat beli bukunya Ayu."
"Berapa?" tanya Tomi. Kalau cuma sedikit, dia masih ada. Karena rencananya Tomi juga akan memberikan uang untuk keluarganya.
"Enggak banyak. Cuma buat beli buku aja, kok," jawab Laras.
Tomi mengeluarkan dompetnya. Lalu memberikan selembar lima puluh ribuan.
"Ini cukup?"
"Cukup. Makasih ya, Tom." Tanpa malu-malu Laras menerimanya dan mencium pipi Tomi.
Laras segera masuk dan memberikan uang itu pada Rasyid.
"Yah, ini buat beli bukunya Ayu. Di kasih Tomi."
"Kamu minta?" tanya Rasyid.
Laras mengangguk lalu menundukan wajahnya. Dia takut Rasyid akan marah.
"Ya sudah. Bilang makasih sama Tomi," ucap Rasyid.
Laras menghela nafasnya, lalu mengangguk dan kembali ke ruang tamu.
"Yah, Niken ikut dong beli buku. Niken juga beliin kaus kaki, ya?" pinta Niken.
Rasyid hanya bisa mengangguk. Tidak mungkin dia menolak karena itu juga untuk urusan sekolah.
Ayu yang sudah lama tidak keluar, mengangguk dan segera berlari mendahului.
"Mau kemana mereka?" tanya Tomi. Dia mendengar Rasyid dan anak-anaknya ribut mau keluar.
"Paling beli bukunya Ayu," jawab Laras.
Dan terdengar motor Rasyid meninggalkan rumah. Suasana rumah jadi sepi.
Kesempatan Tomi untuk mencumbui Laras lagi. Tomi jadi keranjingan bercumbu dengan perempuan. Padahal semalam dia sudah menghajar Laras sampai pagi. Siangnya mendapatkan klien yang luar biasa.
Tomi langsung meraih dagu Laras dan ******* bibir Laras. Dia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan.
Laras pun tak menolak. Bahkan saat Tomi meremas dua gunungnya, Laras membiarkannya saja. Malah Laras membawa tangan Tomi untuk masuk ke dalam kaosnya.
Tomi meremas salah satunya. Hhmm. Punya Laras tak ada apa-apanya dibandingkan punya Sylfie. Tomi mulai membanding-bandingkan.
Tapi Tomi tetap saja meremasnya.
"Ras, tutup sebentar pintunya," pinta Tomi. Laras mengangguk, dan segera menuruti perintah Tomi.
"Kamar kamu sepi, kan?" tanya Tomi basa basi. Padahal jelas-jelas dia tahu kalau Rasyid pergi bersama dua anaknya.
__ADS_1
Laras tahu apa yang diinginkan Tomi. Laras yang masih menginginkan, meski baru saja semalam melakukannya dengan Tomi, menarik tangan Tomi.
Mereka berdua masuk ke kamar Laras dan menutup pintunya.
Kali ini Tomi akan bermain dengan cepat. Sebelum Rasyid dan adik-adik Laras pulang.
"Sebentar aja ya, Tom. Takut ayahku pulang," ucap Laras.
Tomi mengangguk dan segera mengeksekusi Laras. Dia dudukan Laras di tempat tidur. Lalu Tomi menyingkap kaos Laras ke atas.
Lalu membuka pengait bra Laras. Hingga menyembulah dua gunung yang masih ranum. Meski jauh lebih kecil dibandingkan milik Sylfie, tapi milik Laras masih kencang dan orisinil.
Yang pasti belum pernah ada yang menjamahnya selain dia. Tomi bangga karena menjadi orang pertama. Makanya Tomi berkeinginan menikahi Laras secepatnya.
Agar dia bisa terus menjaga milik Laras dan menikmatinya setiap hari. Soal hubungannya dengan Sylfie nantinya, akan dia atur.
Dengan rakus Tomi melahap keduanya bergantian. Sebenarnya Tomi ingin langsung pada tujuannya, tapi dia juga perlu membangunkan senjatanya biar tegak sempurna.
"Tomi!" pekik Laras menahan rasa geli dan enak. Tomi tak mempedulikannya. Dia malah menelusupkan tangannya ke dalam celana pendek Laras.
"Aakkhh...!" Laras merasa kembali memekik. Tomi memainkan jemarinya di sana. Setelah dirasa cukup basah, Tomi membaringkan Laras. Dan segera menarik turun celana pendek Laras.
Terpampanglah pemandangan yang semalaman tadi sudah di jamahnya. Tanpa menunggu waktu lagi, Tomi menurunkan celana panjangnya.
Dan segera melesakkan senjatanya. Dia akan bermain dengan cepat.
Laras memekik, menjerit dan menarik-narik kemeja Tomi. Tomi terus saja menaik turunkan miliknya dengan tempo cepat.
Laras tiba-tiba bersin. Dia mencium aroma parfum lain yang sangat menyengat.
"Kenapa, Ras?" tanya Tomi tanpa menghentikan gerakannya.
"Bau parfummu menyengat. Tapi kayak parfum cewek," ucap Laras.
Tomi menghentikan gerakannya. Lalu mencium bau badannya sendiri.
Rupanya penciuman Laras cukup sensitif. Itu bau parfum yang disemprotkan madam Cyntia bercampur aroma tubuh Sylfie.
"Aku beli parfum baru. Kamu suka?" tanya Tomi. Dia kembali melanjutkan gerakannya.
Laras mengangguk. Meski Laras tak menyukainya karena aromanya terlalu menyengat.
"Ya udah, nanti aku belikan." Tomi mempercepat gerakannya karena miliknya sudah hampir *******.
"Ras...! Laras....! Aakkh....!" Tomi memuntahkan miliknya di dalam gua Laras.
Setelah itu, dia ambruk di atas tubuh Laras. Badannya benar-benar terasa loyo.
Sejak semalam, dia seperti orang yang tak ada puasnya. Kini senjatanya benar-benar loyo.
__ADS_1
Laras memeluk tubuh Tomi. Laras memang belum berpengalaman. Dia hanya pasrah menikmati permainan Tomi. Apalagi sekarang, durasi mereka terbatas.