
Tomi melajukan motornya meninggalkan rumah Laras. Awalnya Niken jaga jarak. Tapi setelah jauh dari rumahnya, Niken mulai mendekatkan badannya dan memeluk Tomi dari belakang.
Tomi hanya bisa menelan ludahnya. Kekhilafannya tadi pagi malah membuat Niken nempel terus. Padahal Tomi tak sadar melakukannya.
Tomi membelai sekilas tangan Niken dengan lembut. Lalu tangannya kembali fokus pada stang motornya.
"Ken, aku lapar. Kamu mau enggak nemenin aku sarapan. Sebentar aja," pinta Tomi.
"Boleh, Kak. Niken juga laper. Tadi kan belum makan," sahut Niken. Hatinya berbunga-bunga.
Padahal kemarin sore dia sudah berdesir saat bertatapan dengan Beni. Sekarang malah beralih pada Tomi yang jelas-jelas pacar kakaknya sendiri.
"Kamu mau makan apa?" tanya Tomi.
"Terserah Kakak. Apa aja," jawab Niken.
Tomi yang sangat menyukai sarapan lontong sayur, membelokan motornya di sebuah warung tenda pinggir jalan.
Niken turun dari motor Tomi. Lalu menunggu Tomi masuk ke warung dan mengikutinya.
"Bu, dua ya," ucap Tomi pada penjualnya.
"Bu. Yang satu tambahin sambel ya. Yang banyak," ucap Niken. Dia sangat menyukai pedas level setan.
"Jangan pedas-pedas. Nanti perut kamu sakit," cegah Tomi.
"Kalau enggak pedes, enggak enak, Kak," sahut Niken.
"Iya. Tapi jangan banyak-banyak."
Lalu Tomi mengatakan pada penjualnya untuk mengurangi sambelnya Niken.
Niken langsung cemberut. Karena dia sudah membayangkan makan lontong sayur dengan ekstra sambal.
Tomi mencubit hidung Niken dengan gemas. Tak ada hasrat apapun. Hanya perasaan sayang sebagai kakak kepada adiknya.
Tapi sayangnya, Niken mengartikan berbeda. Dia yang belum pernah jatuh cinta, apalagi diperlakukan mesra, menganggap Tomi mencintainya.
Meskipun Niken sendiri belum paham apa makna cinta yang sesungguhnya.
Saat makan, berkali-kali Niken mencuri pandang kepada Tomi.
"Ngapain lihatin aku terus?" tanya Tomi.
"Enggak apa-apa." Niken menundukan wajahnya. Malu juga ketahuan.
"Jam berapa kamu masuk kelasnya?" tanya Tomi lagi.
__ADS_1
"Jam tujuh, Kak," jawab Niken.
"Waduh! Ayo makannya cepetan. Udah kurang lima belas menit lagi," ucap Tomi. Dia tak mau kalau gara-gara sarapan dengannya, Niken terlambat masuk sekolah.
"Enggak apa-apa, Kak. Niken juga lagi males sekolah. Ada ulangan pagi ini. Semalam kan Niken enggak sempat belajar," sahut Niken.
"Lho, kamu gimana sih? Nanti diomelin gurunya," ucap Tomi.
"Udah biasa, Kak. Paling juga disetrap." Niken tetap menikmati makanannya dengan santai.
"Terus kamu mau membolos?" tanya Tomi.
Niken mengangguk. Tomi malah menatapnya dengan heran. Bandel juga ternyata. Batin Tomi.
"Ya udah. Terus kamu mau kemana?"
"Kak Tomi mau kemana?" Niken malah balik bertanya.
Tomi menelan ludahnya. Hari ini rencananya banyak sekali. Jangan sampai Niken mengganggunya. Apalagi saat menemui Cyntia nanti.
"Aku mau kerja, Ken," jawab Tomi berbohong.
Niken langsung manyun. Pupus sudah harapannya bisa berduaan dengan pacar kakaknya.
"Eh, tadi katanya Kakak mau ke rumah sakit?" Niken ingat ucapan Tomi tadi, waktu pamit pada ayah dan kakaknya.
"Iya. Terus lanjut ke kerjaan." Tomi sengaja tak menawari Niken. Biar Niken mikir untuk tetap ke sekolah meskipun terlambat.
Tomi terbatuk mendengarnya. Pasalnya, dia juga tadi pagi sempat hampir memperkosa Niken. Meskipun yang mau diperkosa menikmatinya. Bahkan menuntut lebih.
Niken memberikan gelas berisi air putih pada Tomi.
"Ati-ati makannya, Kak. Keselek, kan?"
Tomi menatap wajah Niken. Wajah yang masih sangat muda dan lugu. Meski terkesan urakan.
Sangat berbeda dengan Laras yang lebih feminin dan dewasa.
Tomi masih ingat rasa dan bentuk onderdil Niken. Dua gundukan di dada Niken yang masih sangat ranum dengan ujung yang masih sangat kecil.
Telapak tangan Tomi masih terlalu besar saat meremasnya. Bahkan saat Tomi menyesapnya, hampir masuk semua ke dalam mulutnya.
Beda dengan milik Laras. Meskipun tak terlalu besar, tapi sudah terasa sangat kenyal.
Juga gua milik Niken. Masih polos. Belum banyak bulu-bulu halusnya. Beda dengan milik Laras yang sudah berbulu lumayan lebat.
Tapi sama-sama enak. Gua yang belum terjamah. Bahkan milik Laras pun, hanya Tomi yang telah menjamahnya.
__ADS_1
Aku belum pernah masuk ke gua anak seumuran Niken. Apa rasanya beda, ya? Tanya Tomi dengan otak kotornya.
"Kak! Malah melamun!" Niken melambaikan tangannya di depan muka Tomi.
Tomi langsung tersadar dari pikiran kotor yang sempat mampir ke kepalanya.
"Eh, enggak. Siapa yang melamun?"
Tomi pura-pura kembali makan. Dan berkali-kali tatapannya bertemu dengan tatap mata Niken.
Ah, perasaan apa ini? Masa aku jamah juga Niken. Dia kan adiknya Laras.
"Udah, yuk," ajak Tomi. Lalu membayar makanan mereka.
Tomi mengajak Niken ke rumah sakit. Karena Niken tetap kekeh tak mau masuk sekolah.
Sampai di rumah sakit, ternyata tak ada pasien rawat inap bernama Tanto. Menurut keterangan di bagian pendaftaran, pasien itu semalam langsung pulang setelah mendapat penanganan dokter jaga.
"Gimana, Kak?" tanya Niken yang menunggu di bangku panjang.
"Dia enggak diopname. Langsung pulang katanya," jawab Tomi.
"Ayo, aku antar kamu pulang. Aku mau ke tempat kerja," ajak Tomi. Padahal dia mau menemui Cyntia. Dan menanyakan tentang Tanto.
Memang dasarnya Tomi sudah tak suka dengan Tanto. Dan dia akan meminta Cyntia melakukan yang lebih jahat lagi pada Tanto.
"Kok pulang sih? Nanti kalau ditanya ayah apa kak Laras gimana?" Niken malah kebingungan sendiri. Rasyid pasti akan marah besar kalau tahu dia membolos.
"Bilang aja gurunya rapat. Sekolah dibubarkan. Masa berani membolos, gak punya alasan," sahut Tomi.
"Hehehe. Takut kena marah sama ayah, Kak." Niken menggaruk-garuk tengkuknya.
"Ayo naik!"
Niken pun langsung nyemplak di belakang Tomi dan memeluk dengan erat. Karena tangan Niken terlalu ke bawah, senjata Tomi yang sedang disembunyikan, menggeliat.
Belum sempat Tomi melajukan motornya, Laras menelponnya. Tomi bisa tahu karena nada deringnya dia bedakan.
Tomi mengambil hapenya di kantong celana.
"Iya, Ras. Aku baru aja dari rumah sakit," jawab Tomi. Lalu Tomi mengatakan kalau Tanto tak sampai dirawat. Tapi Tomi tak mengatakan kalau sekarang dia sedang bersama Niken.
"Ya udah. Aku mau ikut ayah ke rumah temannya. Bete di rumah sendirian," ucap Laras.
"Oke, Ras. Hati-hati, ya. Aku mau langsung ke tempat kerja," sahut Tomi.
Rencananya Tomi akan mengantar Niken pulang lalu ke rumah Cyntia. Tempatnya bekerja.
__ADS_1
"Aku antar pulang. Laras sama ayah kamu lagi pergi. Jadi aman. Moga-moga aja mereka pulangnya sore," ucap Tomi setelah Laras menutup panggilannya.
Niken mengangguk sambil tersenyum. Itu artinya dia bisa berduaan lagi dengan Tomi. Karena nanti Niken akan memaksa Tomi menemaninya. Mumpung tidak ada orang di rumahnya. Anggap saja kesempatan kedua.