
Alya dan Bowo tersentak mendengarnya.
Aduh! Kenapa Cyntia mesti menelpon Tomi sekarang? Dan kenapa si bodoh ini menyebutkan nama Cyntia? Bowo merutuk dalam hati.
Cyntia? Aku seperti pernah mendengar nama itu. Alya berusaha mengingatnya. Nama yang telah tiga tahun ingin dilupakan oleh Alya.
Mereka berdua menatap wajah Tomi.
Tomi yang merasa ditatap, buru-buru menelan makanannya.
"Maaf, hanya teman saja. Tak penting," ucap Tomi. Dia merasa bersalah karena keceplosan menyebut nama Cyntia.
"Itu kan bos kamu, Tom. Nanti kamu hubungi lagi aja, kalau udah selesai makan," ucap Laras.
"Iya. Udah, kamu makan dulu. Aku suapin, ya." Tomi berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Aku bisa makan sendiri, Tom. Kamu juga makannya diabisin," sahut Laras.
Laras hanya tau kalau Cyntia itu nama bosnya Tomi. Tomi selalu mengatakan begitu, biar Laras tak curiga saat Cyntia menghubunginya.
"Iya. Ini aku abisin, kok. Masakan mama kamu enak banget," puji Tomi.
Alya hanya tersenyum sedikit. Di hatinya masih ada pertanyaan tentang siapa Cyntia.
Bowo sesekali menatap Tomi dengan tatapan kesal. Dan seolah ingin membawa pergi Tomi untuk membuat kesepakatan.
Tapi Bowo belum tahu, bagaimana caranya. Karena dia sendiri tak menyimpan nomor telpon Tomi.
Selesai makan, Tomi duduk di teras. Seperti biasanya, dia merokok.
Laras membereskan meja makan. Alya menggendong Aldo yang sudah mulai mengantuk, karena kekenyangan.
"Dikeloni aja dulu, Ma," ucap Bowo. Dia sengaja bilang begitu, karena dia akan memanfaatkan kesempatan untuk bicara pada Tomi.
"Iya, Pa," sahut Alya. Lalu dia membawa masuk Aldo ke kamar.
Bowo buru-buru ke teras, sebelum Laras menyusul Tomi.
"Eh, Om. Ada apa?" tanya Tomi.
Bowo sengaja duduk lebih dekat pada Tomi.
"Jangan pernah cerita apapun soal Cyntia pada Alya juga Laras. Ingat Tom, aku juga bisa membongkar kelakuanmu di belakang Laras!" ancam Bowo dengan nada ditekan.
"Iya, Om. Tenang aja. Aku paham kok. Maaf, tadi keceplosan," sahut Tomi.
"Bagus! Kita bermain cantik!" sahut Bowo.
"Ya. Ya. Kita bermain cantik!" Tomi mengangguk-anggukan kepala.
"Aku tak mau kehilangan Alya. Dan kamu pun pastinya tak mau kehilangan Laras. Kamu jaga rahasiaku, dan aku akan jaga rahasia kamu," ucap Bowo.
Aldo ternyata tak mau ditidurkan. Dia maunya keluar lagi, meski matanya sudah lima watt.
__ADS_1
Mungkin karena terbiasa berdua saja dengan Alya, Aldo merasa senang sekarang banyak orang di rumahnya. Aldo juga sepertinya masih mau main lagi dengan Laras.
Alya membawanya keluar kamar.
Alya menggendong Aldo. Lalu dia berjalan menuju teras. Maksudnya mau menitipkan Aldo sebentar, karena Alya perutnya mulas.
Di dekat pintu rumah, Alya mendengar pembicaraan Bowo dan Tomi.
Alya berusaha menajamkan pendengarannya. Dan untungnya Aldo pun tak bersuara.
"Rahasia apa? Cyntia? Kalian kenal dengan Cyntia? Ada hubungan apa kalian dengan wanita murahan itu?" tanya Alya dengan dada bergemuruh.
Bowo dan Tomi terkesiap.
"Mama...!" ucap Bowo. Jantungnya terasa mau copot.
Alya mendekat sambil masih menggendong Aldo.
"Bermain cantik apa? Apa yang kamu lakukan di belakang Laras, Tom?" Mata Alya menatap nyalang ke arah Tomi.
Laras yang juga sedang berjalan ke teras pun mendengarnya. Laras hanya berdiri di pintu sambil menyimak.
"Ma....! Maksud Papa...." Bowo belum sempat menyelesaikan omongannya, langsung dicecar lagi sama Alya.
"Maksud Papa apa? Kalian mau menyembunyikan soal Cyntia dariku? Percuma! Aku sangat membenci Cyntia. Dia wanita murahan! Wanita yang telah merusak rumah tanggaku! Wanita yang telah tidur dengan....mantan suamiku!" sahut Alya dengan emosi.
Bowo mendekati Alya.
"Iya, Ma. Papa udah tau," ucap Bowo tak sadar.
"Papa tau dari mana?" tanya Alya dengan tatapan menyelidik.
Bowo langsung salah tingkah. Karena dia salah omong.
"Dari...Cyntia." Akhirnya Bowo mengaku.
"Jadi Papa kenal dengan wanita pelacur itu?" tanya Alya dengan geram.
Alya menyebut Cyntia pelacur, karena dengan mata kepala sendiri dia mendapati Rasyid sedang berduaan dengan Cyntia di kamarnya.
Alya belum tahu profesi Cyntia yang bahkan lebih dari seorang pelacur.
"Iya, Ma. Dia...temanku," jawab Bowo.
Menurut Bowo, lebih baik dia mengakui Cyntia sebagai temannya, daripada Alya menuduh lebih dari itu. Meski sebenarnya memang lebih dari teman.
"Teman? Kenapa Papa enggak pernah bilang?" cecar Alya.
"Ma...Papa enggak mau Mama salah sangka. Kami hanya berteman," sahut Bowo.
"Berteman dengan wanita yang pernah menghancurkan aku?" Alya mulai berkaca-kaca.
Alya merasakan kembali bagaimana sakit hatinya saat itu. Saat Cyntia mengakui kalau dialah yang membayari rumah kontrakan mereka.
__ADS_1
Seakan Cyntia merasa punya hak tinggal di rumah kontrakan itu, dan Alya hanya menumpang hidup darinya.
"Ma. Papa janji, setelah ini, akan menjauhi Cyntia." Bowo meraih satu tangan Alya. Dan menggenggamnya erat.
Bowo tak mau kehilangan Alya. Dia lebih baik melepaskan Cyntia.
"Lalu, apa hubungannya dia denganmu Tom?" Kini giliran Tomi yang gelagapan.
"Cyntia bosnya Tomi, Ma," sahut Laras yang dari tadi menguping. Dia tak mau kalau Tomi dicecar dengan banyak pertanyaan.
Bagaimana pun Laras akan membela Tomi. Karena Tomi adalah calon suaminya.
"Kamu diam dulu, Ras. Dan jangan mudah percaya dengan omongannya!" ucap Alya.
Tomi masih diam.
"Ma, Tomi adalah calon suami Laras. Bagaimana Laras bisa menjalani hubungan kalau tidak mempercayai Tomi?" sahut Laras.
"Benar dia bos kamu, Tom?" tanya Alya pada Tomi.
"Iya, Tante. Saya bekerja padanya," jawab Tomi. Tak salah Tomi mengaku seperti itu. Karena kenyataannya begitu. Meski Tomi tak mengakui kalau hubungannya dengan Cyntia juga lebih dari itu.
"Kenapa semua harus berhubungan dengan dia lagi? Tak adakah orang lain lagi di dunia ini?" sesal Alya.
"Ma. Ini semua cuma kebetulan saja," sahut Bowo.
"Kebetulan yang menyakitkan!" Alya menepiskan tangan Bowo dan kembali masuk ke dalam sambil menggendong Aldo.
Bowo mengikutinya. Dia tak mau Alya merasa sedih sendirian di kamar.
Alya meletakan Aldo di tempat tidur. Lalu dia duduk sambil terisak.
Sakit sekali hatinya, mengingat kembali semua yang dialaminya dengan Rasyid dahulu.
"Ma. Jangan nangis dong. Kasihan Aldonya, tuh." Bowo mendekap kepala Alya.
"Mama nais?" tanya Aldo, sambil memeluk Alya dari belakang.
"Enggak, Sayang. Mama enggak nangis," ucap Bowo. Lalu melepaskan dekapannya pada Alya dan meraih tubuh Aldo.
"Aldo mau bobok sama Papa?" tanya Bowo.
"Ado ndak antuk. Ado mau nemenin Mama," jawab Aldo.
Alya segera menghapus air matanya. Lalu meraih Aldo dari gendongan Bowo.
"Sini Aldo sama Mama aja. Temani Mama ya, Nak. Cuma Aldo milik Mama satu-satunya. Yang tak pernah bikin Mama nangis. Yang tak pernah mengecewakan Mama," sindir Alya.
Aldo mengangguk, lalu menjatuhkan kepalanya di bahu Alya.
Bowo memeluk Alya dan Aldo. Dua miliknya yang tak akan pernah akan dilepaskan.
"Papa janji tak akan bikin Mama menangis lagi. Papa juga janji tak akan mengecewakan Mama lagi," ucap Bowo.
__ADS_1
Pelukannya makin erat.