
Laras terbangun jam lima pagi. Meski matanya masih terasa lengket tapi dipaksanya melek.
Dan alangkah terkejutnya Laras mendapati dirinya tak berpakaian selembar pun. Begitu juga Tomi yang masih terkapar.
"Tom! Tomi! Bangun, Tom. Kita mesti pulang!" Laras mengguncang tubuh Tomi.
"Hhmm!" Tomi hanya menggeliat lalu membalikan badannya membelakangi Laras.
"Iih, Tomi bangun! Aku mau pulang!" Laras terus saja mengguncang tubuh Tomi.
"Iya, nanti! Aku masih ngantuk!"
Laras cemberut kesal. Lalu turun dari tempat tidur. Di depan cermin besar, Laras menatap tubuhnya yang polos.
Di beberapa bagian tubuhnya, terlihat tanda merah. Semalam Tomi begitu genjar menyerangnya. Dia menggigiti bagian-bagian tubuh Laras hingga meninggalkan jejak kemerahan.
Laras merasakan perih di **** *************. Dia tatap lewat cermin. Ada bekas aliran darah yang sudah mengering.
Laras menyentuhnya dengan sedikit membuka pangkal pahanya.
Aku sudah melakukannya. Aku sudah tidak perawan lagi. Bagaimana kalau aku sampai hamil, batin Laras.
Lalu dia menoleh pada Tomi yang masih terlelap. Laras kembali mendekat ke tempat tidur. Di belainya kepala lelaki yang telah merenggut keperawanannya dan sangat dicintainya itu.
"Ada apa?" tanya Tomi memicingkan matanya.
"Aku mencintaimu, Tom." Laras terus membelai kepala Tomi.
Tomi merengkuh tubuh polos Laras dan membawanya kembali terbaring.
"Aku juga sangat mencintai kamu, Ras." Tomi mendekap Laras dengan erat.
Laras terdiam lama di dada Tomi. Dengan masih setengah melek, Tomi menjauhkan Laras. Lalu dengan nyaman gantian dia yang mendekat ke dada Laras.
Bagaikan anak bayi yang baru terbangun dari tidurnya, Tomi menyusu Laras dengan lembut.
Laras kembali berdesir. Bahkan dia merasakan bagian intinya berdenyut.
Laras menekan kepala Tomi dan Tomi semakin kecang menghisapnya.
Paha Laras tak sengaja menyentuh senjata Tomi yang sudah mulai menggeliat.
"Ras. Kamu membangunkannya lagi," ucap Tomi yang sudah puas menyusu.
Lalu dengan sigap Tomi beralih ke atas tubuh Laras. Tanpa ada penolakan, Tomi kembali melancarkan serangannya.
Pagi buta dengan udara dingin yang cukup menusuk tulang, membuat pergulatan mereka semakin panas.
Laras sudah mulai bisa mengimbangi permainan Tomi. Semalam dia sudah banyak mempraktekan gerakan dan posisi-posisi yang pernah dia tonton di video dewasa.
Suara ******* bahkan erangan Laras kembali tak terkendali. Dengan bebas Laras menjerit-jerit penuh kenikmatan. Membuat Tomi semakin bergairah.
Laras terus saja meracau, tangannya pun menelusuri tubuh Tomi dengan liar.
__ADS_1
Pagi hari memang saat yang paling pas untuk bercinta. Setelah semalam mereka melakukannya tanpa lelah.
Dan mereka kembali terkapar setelah mencapai puncak masing-masing.
Tubuh Laras terbaring tak berdaya. Sisa tenaganya sudah tak ada lagi. Dia memilih tidur sambil mendekap tubuh Tomi yang bermandikan keringat.
Di rumahnya, Rasyid menggeliatkan tubuh. Dia teringat Laras yang belum terdengar pulang.
Rasyid langsung bangkit dan mencari Laras. Benar sekali, Laras belum pulang.
Rasyid kembali ke ruang tamu. Diambilnya hapenya. Ah! Abis lagi batrenya, gerutu Rasyid. Lalu segera mengechasnya.
Rasyid ke kamar mandi. Dia berniat akan mencari Laras dimanapun berada.
Kurang ajar Tomi. Berani-beraninya membawa anakku semalaman. Rasyid membayangkan, Laras diapa-apakan oleh Tomi.
Selesai mandi, Rasyid mengaktifkan hapenya dan menghubungi Laras. Sayang sekali, hape Laras pun kehabisan daya.
Malah hapenya enggak aktif. Kemana dia? Tanya Rasyid dalam hati.
"Niken! Bangun!" teriak Rasyid dari ruang tamu.
Niken yang masih meringkuk di ranjangnya, sama sekali tak mendengar teriakan Rasyid.
Rasyid berlari ke kamar Niken. Dilihatnya Niken masih setia mendekap guling lusuhnya.
Ah, percuma saja membangunkannya. Lebih baik aku cari sendiri.
Laras sendiri masih mendekap tubuh kekasihnya hingga siang.
"Ras! Laras! Bangun!" Gantian Tomi yang mengguncang tubuh Laras.
"Mmm!" Laras memicingkan matanya.
"Bangun. Sudah siang. Kita pulang. Bosku pasti menungguku di kantor," ucap Tomi.
"Jam berapa sekarang?" tanya Laras dengan malas.
"Jam sepuluh," jawab Tomi yang sudah melihat jam di hapenya.
"Hah...!" Laras sampai terlonjak saking kagetnya. Bagaimana mungkin? Dia pasti akan dimarahi.
"Kita pulang sekarang, Tom. Ayah pasti akan marah!" Laras segera bangkit.
"Eh, mandi dulu. Terus di beresin tempat tidurnya," ucap Tomi. Dia tidak mungkin meninggalkan kamar Yoga dalam kondisi berantakan. Belum lagi banyak ceceran cairannya dan juga darah perawan Laras yang menempel di sprei.
"Ya sudah, aku mandi dulu." Laras berlari ke kamar mandi tanpa sehelai baju pun.
Selesai mandi singkat, dengan hanya menggunakan handuk yang tersampir di kamar mandi, entah handuk siapa, Laras masuk kembali ke kamar mandi.
Dilihatnya Tomi sedang mengganti sprei. Dan melipat sprei yang kotor.
"Mau diapakan sprei itu?" tanya Laras. Karena Tomi melipatnya dengan rapi dan diletakan di atas tempat tidur.
__ADS_1
"Aku bawa pulang aja. Biar aku simpan. Buat kenang-kenangan kita," jawab Tomi. Lalu dengan memakai handuk bekas Laras, dia ke kamar mandi.
"Oh iya, Ras. Kalau kamu sudah rapi, tolong bersihkan semuanya. Biar kita tinggalkan tempat ini dalam keadaan rapi kembali," ucap Tomi sebelum menghilang keluar kamar.
Laras mengangguk. Lalu segera merapikan pakaiannya.
Laras yang sudah terbiasa merapikan rumah, dengan sigap membersihkan kamar yang bekas dipakainya bercinta.
Begitu juga ruangan lain yang juga tak terlewati mereka gunakan meneguk manisnya percintaan.
"Udah beres semua?" tanya Tomi yang baru keluar dari kamar mandi.
"Udah. Aku lapar, Tom," sahut Laras.
"Coba kamu ke dapur. Di dalam kulkas kamu lihat, ada enggak yang bisa dimakan. Aku sekalian buatkan kopi, ya?"
Laras mengangguk dan segera ke dapur. Begitu membuka kulkas, Laras terkesima dengan isinya.
Ini sih bukan cuma ada, tapi banyak yang bisa dimakan. Tapi apa boleh dimakan? Tanya Laras dalam hati.
Laras membuatkan kopi dulu untuk Tomi dan teh hangat untuknya. Lalu mengambil sekotak nugget. Dia mengambilnya sebagian, lalu menggorengnya.
Laras juga mengeluarkan kotak yang berisi risol beku. Kayaknya ini enak. Laras juga mengambil sebagian lalu menggorengnya.
Udah, ah. Cukup segini aja. Takutnya di marahi yang punya vila. Walaupun dalam hatinya sangat ingin membuka kotak-kotak lainnya.
Pasti isinya makanan yang enak-enak. Di rumahnya, mana ada stock makanan sebanyak ini. Setiap ada makanan langsung dihabiskan oleh mereka.
Soal nanti lapar lagi, Rasyid dan anak-anaknya tak pernah peduli.
Tomi yang sudah rapi dengan pakaian kerja yang dikenakannya kemarin, menyusul Laras ke dapur.
Bak seorang juragan, Tomi menarik kursi makan.
"Cuma ini, Ras?" tanya Tomi.
"Iya. Aku enggak enak mengambilnya banyak-banyak. Nanti kamu dimarahi bosmu," jawab Laras.
"Jangan pikirkan itu. Ada buah juga kan, di kulkas?"
Laras mengangguk.
"Ambilkan sini. Kita makan buah biar badan lebih segar. Eh, enggak ada roti tawar?" tanya Tomi.
Laras melihat sekeliling. Matanya menangkap sebungkus roti tawar yang belum dibuka.
"Kamu mau?" tanya Laras.
"Iyalah. Ginian aja, mana kenyang? Tenagaku kan habis buat memanjakan kamu semalaman," jawab Tomi.
Laras tersipu malu. Lalu membuatkan roti tawar oleh selai coklat dan selembar keju.
Hhm. Enak sekali jadi orang kaya. Makanannya banyak sekali. Aku jadi betah. Batin Laras sambil menggigit roti tawarnya.
__ADS_1