
Rasyid masih saja memaksa Laras bekerja di rumah temannya, Dino. Laras pun masih saja menolak. Dia tak mau kalau hanya kerja di rumah Dino.
"Terus kamu maunya apa?" tanya Rasyid pada Laras.
"Yah. Laras ini lulusan SMA. Masa cuma jadi ART!" sahut Laras.
"Cuma itu satu-satunya cara biar kamu bisa membantu Ayah mengurus dua adik kamu," ucap Rasyid.
Rasyid termakan iming-iming Dino yang akan memberi gaji besar buat Laras.
"Enggak! Laras tetap enggak mau, berapapun om Dino akan menggaji!" tolak Laras.
"Terus mau kamu apa?" tanya Rasyid.
"Laras mau membantu mama aja berjualan online!" jawab Laras.
"Berjualan online? Kamu pikir berapa hasil dari jualan yang enggak jelas itu?" tanya Rasyid.
Selama ini Rasyid tak pernah tertarik dengan bisnis online semacam itu. Hasil tak seberapa, cuma ngabis-abisin kuota saja.
"Semua tergantung keuletan kita, Yah. Semakin kita ulet, semakin besar penghasilan kita," jawab Laras.
"Kalau begitu, kenapa kamu mesti ngikut mama kamu? Jualan aja sendiri. Kamu buktikan pada Ayah kalau kamu bisa hidup dari situ!" sahut Rasyid.
"Kalau cuma untuk hidup Laras sendiri, pasti bisa. Tapi kalau untuk hidup sekeluarga? Itu kan bukan tanggung jawab Laras, Yah," ucap Laras.
Bukannya Laras tak mau membantu Rasyid, tapi kalau dia yang mesti menjadi tulang punggung, jelas saja Laras menolak. Laras juga punya kebutuhan sendiri.
Ponsel Rasyid berdering. Dino menelponnya.
"Gimana, Syid? Apa anakmu bisa kerja sekarang? Aku lagi butuh banget," tanya Dino.
"Anakku belum mau. Dia belum terlalu sehat. Kan seperti yang aku bilang, dia baru saja sakit," jawab Rasyid.
"Di rumahku, anak kamu enggak perlu kerja. Dia hanya mengawasi pembantu baru kami saja," ucap Dino.
"Ya sudah. Nanti aku bilang lagi," sahut Rasyid.
"Jangan lupa juga, Syid. Aku akan memberi gaji dua kali lipat gaji pembantu di rumahku. Enak, kan?" ucap Dino.
Cleguk.
Bayangan uang jutaan ada di depan mata Rasyid. Dia cuma perlu mengantarkan Laras ke rumah Dino saja.
Setelah Dino menutup telponnya, Rasyid kembali ke kamar Laras. Dia kembali merayu Laras.
"Tomi tak mengijinkan, Yah," ucap Laras.
__ADS_1
"Apa hubungannya dengan Tomi? Dia belum menjadi suami kamu. Dia belum berhak mengatur hidup kamu. Kamu masih hak Ayah!" sahut Rasyid.
"Terus karena itu, Ayah mau menjual Laras pada om Dino?" tanya Laras.
"Jaga omongan kamu Laras! Ayah menyuruh kamu bekerja. Bukan menjual diri, seperti yang kamu pikirkan," ucap Rasyid mulai emosi.
"Tomi tau siapa om Dino, Yah. Makanya dia bilang seperti itu. Bahkan Tomi tau bagaimana kehidupan mereka. Istri om Dino juga tak ada bedanya," sahut Laras.
"Ras. Kamu tak perlu memikirkan siapa mereka. Yang penting kamu bekerja dan dapat uang. Selesai!" ucap Rasyid.
"Orang bekerja juga mesti tau siapa yang akan kita ikuti, Yah. Pokoknya Laras enggak mau kerja di sana!" Laras tetap menolak.
Rasyid menghela nafasnya dalam-dalam. Dia merasa kehabisan kata-kata untuk merayu Laras.
"Ya udah. Kalau begitu, kita kesana dulu. Kamu bilang baik-baik alasan kamu pada Dino. Ayah enggak enak kalau langsung menolaknya," ajak Rasyid.
"Ayah kan bisa ke sana sendiri. Bilang sendiri. Kenapa harus Laras yang kesana," tolak Laras.
"Ras. Kamu bisa enggak sih, sekali saja menuruti kemauan Ayah," pinta Rasyid.
"Bukankah selama ini Laras selalu menuruti kemauan Ayah?" tanya Laras.
"Oke. Oke. Sekarang Ayah minta, sekali lagi kamu menuruti Ayah. Ya?" mohon Rasyid.
"Ya udah. Tapi Laras ke sana tidak untuk bekerja. Laras cuma mau memberikan alasan saja, kalau Laras menolak pekerjaan itu." Akhirnya Laras mengalah.
Rasyid langsung tersenyum sumringah. Dia merasa yakin, setelah Laras sampai di sana, tak akan menolak pekerjaan itu.
"Kamu siap-siap. Ayah juga mau siap-siap." Rasyid buru-buru memakai pakaiannya lagi.
Dengan malas Laras berganti pakaian. Lalu meraih tas selempangnya.
"Ayo. Mumpung adik-adik kamu belum pulang sekolah," ajak Rasyid.
Pada jam pulang sekolah, tentu saja Rasyid akan menjemput Niken dan Ayu. Karena Rasyid hampir tak pernah memberi uang saku pada mereka.
Laras pun membonceng Rasyid, tanpa memberi tahukan pada Tomi kalau dia pergi ke rumah Dino. Karena Tomi melarang keras Laras ke sana.
Tomi tahu watak Dino dari cerita Cyntia. Dan Tomi mempercayainya.
Sampai di sana, Laras dan Rasyid disambut Dino dan Tasya, istrinya.
"Ini yang namanya Laras? Yang mau bekerja di sini?" tanya Tasya.
Tasya belum paham pada Laras. Karena baru pertama ketemu. Itupun saat Laras dipaksa Rasyid memakai baju compang camping.
"Iya. Ini Laras, anakku," jawab Rasyid setelah menyalami keduanya.
__ADS_1
Laras pun menyalami dengan sopan.
"Cantik sekali. Enggak ngira Bang Rasyid punya anak gadis secantik ini," ucap Tasya.
"Bapaknya juga ganteng," sahut Rasyid narsis.
"Ganteng dari hongkong!" sahut Dino yang dari tadi diam memperhatikan Laras.
"Ayo duduk," ucap Dino mempersilakan.
Rasyid dan Laras pun duduk di sofa mewah yang sangat jauh dari sofa yang ada di rumah mereka.
Tasya menatap Laras dengan cermat, dari atas sampai bawah.
"Pa. Laras buat aku aja, ya," pinta Tasya.
"Maksud Mama?" tanya Dino.
"Mama butuh teman, Pa. Sekalian jadi asisten pribadi. Kayaknya Laras cocok," jawab Tasya.
Tasya adalah seorang sosialita. Tapi dia juga sering berbisnis online. Dia cari tambahan penghasilan dari teman-teman sosialitanya. Meski Dino memberinya uang tak sedikit.
"Lho, Mama gimana sih? Katanya perlu orang buat bantuin Yati?" tanya Dino.
"Itu nanti bisa diatur, Pa. Kamu mau kan, Ras?" tanya Tasya.
Laras jadi bingung. Kenapa berbeda dengan omongan Rasyid di rumah tadi? Ini beneran apa cuma jebakan biar Laras mau menerimanya?
Lalu dia menoleh ke arah Rasyid.
Rasyid mengangguk. Memberi tanda pada Laras untuk menerimanya.
"Tugas saya apa, Tante?" tanya Laras dengan sopan.
"Tugas kamu, menemani kemanapun aku pergi. Ya itu kalau aku pingin ngajakin kamu. Kalau enggak ya, kamu tetap di rumah ini," jawab Tasya.
"Memangnya pergi kemana saja, Tante?" tanya Laras.
"Biasanya aku ke mal cari barang. Atau tempat dimana aku pingin dapetin barang. Bisa juga keluar kota. Asik kan? Kerja sambil jalan-jalan. Atau jalan-jalan sambil kerja. Hahaha." Tasya tertawa renyah.
Begitulah dunianya. Dunia foya-foya. Meski Tasya merasa dia juga mencari penghasilan dari situ, tetap saja tak sebanding dengan pengeluarannya.
"Udah, ambil aja. Daripada kamu enggak ada kegiatan," ucap Rasyid.
"Gaji saya gimana, Tante?" tanya Laras ingin punya kepastian. Dia tak mau kayak beli kucing dalam karung. Udah kerja capek-capek, ternyata gajinya tak sesuai.
"Memangnya kamu mau gaji berapa?" Tasya malah balik bertanya.
__ADS_1
Otak Rasyid langsung bekerja, menyiapkan angka yang akan disebutkannya.