
"Bang, bolehkan kalau malam ini aku menginap di sini? Kalau langsung pulang, badanku enggak kuat. Capek," ujar Reisya.
"Nginap di sini?" Rasyid terkejut dengan permintaan Reisya.
"Iya, Bang." Reisya menggenggam tangan Rasyid dengan erat.
"Aduh, gimana ya? Di sini cuma ada dua kamar," sahut Rasyid kebingungan.
Sebenarnya bukan soal kamarnya, tapi bagaimana kalau anak-anak Rasyid protes.
"Aku tidur di sini juga enggak apa-apa, Bang." Reisya tetap memaksa.
Rasyid berfikir sejenak. Otak mesumnya mulai beraksi. Boleh juga sih. Itung-itung memanjakan adiknya nanti malam.
Sudah lama juga Rasyid tak merasakan nikmatnya tidur dipelukan wanita. Meski yang bakal memeluknya Reisya yang berbadan jumbo.
Biarin deh, anggap saja punya sofa baru. Rasyid terkekeh sendiri.
"Kok, Abang ketawa?" tanya Reisya.
"Em... Enggak. Oke, enggak apa-apa deh. Nanti biar Ayu tidur dengan kakak-kakaknya," jawab Rasyid.
Reisya tersenyum senang. Akhirnya malam ini dia tak kesepian lagi.
Reisya sebenarnya masih memiliki suami. Tapi hubungan dengan suaminya tak terlalu baik. Dan mereka sudah lama pisah ranjang.
Reisya rindu belaian seorang lelaki yang mencintainya seperti Rasyid. Meski baru kemarin dikenalnya secara pribadi.
"Boleh aku mandi dulu, Bang?" pinta Reisya.
"Ya, silakan. Mau aku antar atau kita mandi bareng," sahut Rasyid menggoda Reisya. Membuat Reisya tersipu malu.
"Sendiri aja, Bang." Reisya membuka tas besarnya yang ternyata berisi pakaian juga handuk kecil.
"Ya sudah. Masuk saja ke belakang." Rasyid menunjukan jalan menuju ke arah kamar mandi.
Reisya masuk ke dalam kamar mandi yang sangat kotor dan bau. Sebenarnya dia risi melihatnya. Tapi kalau mesti membersihkannya, dia pun enggan.
Di rumahnya semua dikerjakan pembantu. Meski Reisya bukan orang kaya raya, tapi dia tak mau mengerjakan pekerjaan rumah sendirian.
Suaminya masih mampu memberikan uang untuk menggaji pembantu.
"Ayu, kamu nanti malam tidur sama kakak-kakakmu. Tante Reisya mau menginap di sini," ucap Rasyid.
"Nginap di sini, Yah?" tanya Laras.
"Iya. Dia kan rumahnya jauh. Kasihan kalau harus pulang malam-malam," jawab Rasyid lalu meninggalkan anak-anaknya yang kurang suka dengan keputusan Rasyid.
Laras terutama. Tidur dengan Niken saja sudah sempit, apalagi kalau ditambah dengan Ayu.
Hmm. Apa aku hubungi Tomi saja, ya. Aku bisa tidur di apartemennya. Masa ayah enggak setuju. Dia saja membawa wanita tidur di rumah. Batin Laras.
__ADS_1
Lalu dia menghubungi nomor Tomi. Sayangnya Tomi belum membuka blokirannya.
Aduh, kemana sih Tomi. Masa nomorku masih diblokir terus. Laras mulai gelisah. Dia khawatir Tomi menghilang.
Selesai mandi, Reisya kembali ke ruang tamu. Dia memakai daster yang sudah disiapkannya dari rumah.
Busyet, itu badan gede amat. Gimana dalemannya? Batin Rasyid.
"Bang. Dekat sini ada warung enggak? Aku kepingin makan cemilan," tanya Reisya.
Rasyid menelan ludahnya. Dia saja yang makannya banyak, masih merasa kenyang.
"Ada. Dekat sini. Kasih saja uang ke anak-anak, biar mereka yang membelikan," jawab Rasyid.
"Tapi nanti enggak sesuai sama yang aku inginkan," sahut Reisya.
"Enggak enak sama tetangga kalau sampai mereka tau ada wanita di rumah ini. Mereka kan taunya aku hanya hidup dengan anak-anakku saja," ucap Rasyid.
"Ya udah, deh." Reisya mengalah dan memberikan uang duapuluh ribuan pada Rasyid.
"Ada satu lembar lagi enggak? Buat beli rokok," pinta Rasyid.
Reisya mengeluarkan satu lembar lagi. Rasyid langsung meraihnya. Dan memanggil Laras.
"Laras!"
"Iya, Yah." Laras bergegas ke ruang tamu.
"Makanan kecilnya apa, Tante?" tanya Laras.
"Roti aja deh. Biar kenyang. Sama minuman dingin, ya," jawab Reisya.
Laras mengangguk dan segera pergi ke warung milik Yanti.
Di warung Yanti, Beni yang kebetulan sedang menjaga. Beni langsung tersenyum melihat Laras. Tapi tidak dengan Laras, dia malah cemberut.
"Beli apa, Ras?" tanya Beni dengan suara lembut.
"Rokok," jawab Laras dengan ketus. Lalu dia memilih beberapa bungkus roti dan minuman dingin.
"Nih. Semua berapa?" Laras meletakan belanjaannya di atas etalase.
Tanpa menghitungnya, Beni memasukan semua ke kantong plastik.
"Bawa aja, Ras. Entar aku yang bayar ke ibuku," jawab Beni dengan tulus. Setulus cintanya pada Laras meski Laras tak pernah bersikap baik padanya.
Munculah sikap licik Laras. Dia langsung memberikan senyuman pada Beni.
Lumayan, uangnya bisa aku simpan. Batin Laras.
"Makasih ya, Ben," ucap Laras dengan suara lembut.
__ADS_1
Beni langsung melambung tinggi. Ternyata gampang sekali membuat Laras bersikap baik, kata Tomi dalam hati.
"Iya, Ras. Sama-sama. Oh iya, kamu udah tau belum kalau Tomi sudah dipecat dari kerjaan?" Beni berusaha menjatuhkan Tomi.
Laras langsung berubah wajahnya. Dia kesal kekasihnya dijelek-jelekan lagi.
Tanpa menjawab Laras langsung balik kanan dan pergi meninggalkan Beni begitu saja.
Beni hanya menggaruk kepalanya. Sia-sia usahanya menjatuhkan Tomi. Sia-sia juga uang yang bakal dikeluarkannya untuk mengganti belanjaan Laras.
Laras kembali ke rumahnya. Dan memberikan belanjaannya pada Reisya.
"Ini Tante." Laras langsung masuk ke dalam. Dia tak mau ditanyakan uang kembaliannya. Bisa-bisa dia malah diminta semua oleh Rasyid.
"Beli apaan, Kak? Bagi dong!" Niken langsung nodong.
"Beli rokok! Mau minta?" jawab Laras dengan kesal.
Niken langsung cemberut. Dia tadi sempat dengar Rasyid menyuruh membeli cemilan. Niken sudah berharap bakal dapat jatah.
Niken keluar dari kamar. Dia yang kadang suka tidak tahu malu, berjalan ke ruang tamu.
Rasyid yang melihat Niken, langsung menghardiknya. Anaknya satu ini sering membuatnya malu.
"Niken! Masuk!"
Niken kembali masuk ke kamar. Dia hanya bisa menelan ludahnya. Bayangan bakal dikasih makanan oleh Reisya, hilang sudah.
Reisya sendiri enggan berbagi kalau soal makanan. Dia memakannya sendiri sambil sesekali menyuapi Rasyid.
Mereka sudah seperti abege yang sedang kasmaran. Becanda sambil suap-suapan. Rasyid sudah tak mempedulikan lagi tubuh gembrot Reisya.
"Sudah malam. Tidur yuk," ajak Reisya. Dia sudah capek karena seharian belum rebahan.
"Sebentar. Aku lihat anak-anak dulu." Rasyid beranjak dari duduknya.
Dilihatnya, ketiga anaknya sudah terlelap. Lalu Rasyid menutup pintu kamar anak-anaknya.
Rasyid juga menutup semua pintu rumahnya. Lalu mengajak Reisya masuk ke kamarnya.
Begitu Reisya sudah masuk, Rasyid langsung mengunci pintu kamar. Malam ini dia tak mau diganggu oleh anak-anaknya.
Reisya naik ke tempat tidur Rasyid yang tak terlalu besar. Rasyid pun menyusulnya.
Mereka berbaring berhadapan. Hasrat mereka sudah sama-sama menggelora. Apalagi kesempatan sudah di depan mata.
Tanpa babibu lagi, Rasyid mencumbui Reisya dengan penuh nafsu. Dan perlahan dibukanya kancing daster Reisya.
Terpampanglah melon besar milik Reisya. Rasyid menyentuhnya dengan perlahan. Dan langsung melahapnya.
Reisya pun menekan kepala Rasyid hingga wajah Rasyid nyusruk ke dalamnya.
__ADS_1