KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS

KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS
Bab 124 DIGANGGU PREMAN


__ADS_3

Rasyid bukannya pulang. Dia kembali duduk dan menyeruput lagi kopinya.


Yanti memperhatikannya sambil berdiri.


"Kenapa enggak pulang? Nanti keburu anakmu si Niken itu balik lagi," tanya Yanti.


"Iya, sebentar lagi aku pulang. Aku habisin kopinya dulu. Sayang," jawab Rasyid.


Rasyid kembali menyeruput kopinya, lalu mengantongi rokok yang disediakan oleh Yanti.


"Boleh aku bawa makanan ini? Buat camilan di rumah?" pinta Rasyid.


Yanti menghela nafasnya. Dasar tukang ngelaba.


"Boleh. Bawa aja. Tapi jangan sama stoplesnya. Tunggu sebentar." Yanti masuk ke dalam mencarikan kantong plastik.


Lalu kembali dan menaruh semua isi stoples ke kantong plastik.


"Nih, bawa! Buat camilan kalian!"


Rasyid menerimanya sambil tersenyum.


"Terima kasih, Cantik. Aku pulang dulu, ya." Rasyid menowel pipi Yanti.


Yanti melengos jengah. Sekarang dia benar-benar sudah tak mau lagi berhubungan dengan manusia seperti Rasyid.


Rasyid mengambil motornya. Lalu setelah menoleh ke kanan dan ke kiri, dia kembali ke rumahnya.


Sampai di rumah, tak ada siapapun. Pintu samping rumahnya terbuka.


"Niken! Ayu! Di mana kalian?" Rasyid mencari dua anaknya.


Tak ada yang menyahut. Lalu Rasyid melongok ke kamar Laras dan Niken. Kosong.


Berarti Niken masih mencarinya. Tapi kemana?


Rasyid melihat jam dinding. Sudah hampir jam sembilan malam.


Rasyid melongok ke kamarnya. Di pojokan kamar, duduk Ayu yang sedang terisak sambil memeluk lututnya.


"Ayu kenapa?" tanya Rasyid menghampiri anak bungsunya.


Ayu tak menjawab. Dia masih terisak. Bahkan isakannya malah semakin kencang.


"Sini....sini sama Ayah." Rasyid menarik tangan Ayu agar berdiri. Lalu memeluk tubuh kecil itu.


"Ayu kenapa, heh?" tanya Rasyid dengan suara lebih lembut.


Ayu mendekap tubuh tambun Rasyid semakin erat. Seakan takut ditinggal lagi.


"Ayu sendirian, Yah. Ayu takut...huwaa....!" Ayu malah menangis kencang.


"Sstt....jangan nangis, ah. Udah, jangan takut. Kan Ayah udah pulang. Mana kak Niken?" tanya Rasyid.


"Kak....Niken....pergi....!" jawab Ayu masih sesenggukan.


"Pergi kemana?" tanya Rasyid. Dia ingin tahu jawaban Ayu.

__ADS_1


Ayu menggeleng.


"Ya udah. Nih, Ayah bawakan makanan. Uang yang dari Ayah tadi, disimpan aja buat bekal sekolah besok," ucap Rasyid.


"Ayu....enggak dikasih uangnya. Dibawa kak Niken semua. Hiikkss....!" jawab Ayu masih terisak.


"Ya udah. Nanti Ayah ganti." Dalam hati, Rasyid kesal. Anaknya yang satu itu tak pernah berubah kalau soal uang. Selalu curang.


Rasyid membawa Ayu ke depan kamar. Mereka duduk di lantai.


Ayu membuka bungkusan yang berisi makanan dari Yanti. Dan mulai memakannya.


Mumpung tak ada kedua kakaknya, Ayu memakannya banyak-banyak.


"Kemana Niken?" gumam Rasyid pelan. Bagaimanapun dia khawatir karena sudah malam.


Ayu yang mendengarnya, tak peduli. Ayu malah berharap kakaknya itu pulang setelah dia puas makan.


Rasyid menyalakan rokok yang didapatnya dari Yanti. Pikirannya masih fokus pada Niken.


Meski dia tahu Niken anak yang pemberani, tapi tetap saja khawatir.


Sementara Yanti menelpon Beni. Dia akan menyuruh anaknya itu segera pulang.


Tapi Beni yang sedang asik menonton dengan Laras, tak mempedulikan ponselnya yang berkali-kali bergetar.


Beni pikir, itu telpon dari temannya. Dia lebih menikmati momen bersama Laras. Meskipun dia hanya bisa menggenggam tangan Laras.


Penonton film baru itu penuh. Hampir semua kursi penonton penuh. Tak mungkin Beni bisa bermesraan dengan Laras.


Karena ponselnya terus-terusan bergetar, Beni mengambilnya dari kantong celana.


"Siapa yang menelpon?" tanya Laras yang rupanya memperhatikan Beni.


"Ibuku," jawab Beni.


Lalu Beni mengirimkan pesan chat pada Yanti. Dia mengatakan kalau sedang bersama temannya di bioskop dan akan pulang setelah filmnya selesai.


Pulang sekarang! Balas Yanti.


Beni mengerutkan dahinya. Ada apa dengan ibunya? Tidak biasanya Yanti menyuruhnya pulang.


Kenapa, Bu? Tanya Beni.


Ibu tak suka kamu menonton dengan Laras! Pulang! Ketik Yanti lagi dengan penuh kemarahan.


Beni terkejut. Dari mana ibunya tahu kalau dia menonton bersama Laras?


Tapi Beni tak berani menanyakannya. Dia mematikan ponselnya.


"Ras. Kita pulang sekarang, yuk. Ibuku menyuruhku pulang. Kelihatannya ada yang penting," bisik Beni di telinga Laras.


"Sebentar lagi, Ben. Tanggung," jawab Laras pelan.


Beni menghela nafasnya. Dia bingung mesti bagaimana. Di satu sisi, takut kena marah Yanti yang tahu kalau dia menonton bareng Laras. Di sisi lain, kasihan melihat Laras yang lagi asik menonton.


Beni melihat jam di ponselnya. Masih setengah jam-an lagi.

__ADS_1


Beni mulai gelisah. Dia tak bisa lagi menikmati filmnya. Pikirannya bercabang.


Dan saat film selesai, Beni langsung berdiri dan menarik tangan Laras.


"Nanti aja, Ben. Jalannya masih berjubel," ucap Laras.


"Enggak apa-apa. Ibuku sudah menungguku," sahut Beni. Dia tetap menarik tangan Laras agar terus berjalan.


Laras menurut saja. Daripada malah ditinggal Beni. Susah pulangnya. Karena sudah malam, jarang ada angkot.


Lumayan lama mereka mengantri keluar dari ruangan bioskop.


Beni menghela nafas dengan lega, setelah berhasil keluar. Lalu buru-buru berjalan ke parkiran.


Laras terus mengikuti dengan langkah cepat. Dalam hatinya menggerutu. Dia berharap, setelah menonton Beni mengajaknya makan.


"Ayo naik!" Beni sudah siap di atas motornya.


Dengan malas, Laras naik ke belakang Beni. Dan Beni mulai melajukan motornya perlahan, karena jalanan keluar area bioskop penuh.


Di tengah perjalanan, Beni melihat seorang gadis sedang diganggu dua orang lelaki yang sepertinya preman.


Beni mengurangi kecepatan motornya. Dia perhatikan baik-baik wajah gadis itu. Lalu menghentikan motornya.


"Bukannya itu Niken?" tanya Beni pada Laras.


"Mana?" tanya Laras. Dia tak memperhatikan sisi kirinya. Karena dari tadi Laras hanya melihat ke sisi kanannya.


"Itu!" Beni menunjuk ke arah Niken yang mulai ditarik tangannya oleh salah satu lelaki.


Laras menoleh mengikuti arah tangan Beni.


"Iya! Itu Niken!" jawab Laras dengan terkejut.


"Gimana ini, Ben?" Laras tak berani turun. Badannya yang kecil, tak mungkin kalau melawan kedua lelaki itu.


Beni turun dari motornya. Lalu berjalan mendekat. Laras turun juga, tapi hanya berdiri di dekat motor Beni.


"Heh! Ngapain kalian mengganggu adikku!" teriak Beni.


Kedua lelaki itu dan Niken menoleh.


"Kak Beni!" seru Niken yang wajahnya sudah mulai pucat.


Lalu berusaha melepaskan tangannya.


Kedua lelaki yang sepertinya tak mau bermasalah dengan Beni, karena perawakan Beni yang tinggi besar, langsung melepaskan tangan Niken dan kabur.


Niken berlari ke arah Beni. Dengan nafas tersengal, Niken memeluk Beni.


"Kak! Aku takut!" ucap Niken sambil memeluk Beni.


"Udah, enggak apa-apa. Mereka udah pergi," ucap Beni.


Niken melepaskan pelukannya. Lalu melihat ke arah dua lelaki tadi. Benar saja. Keduanya sudah tak terlihat lagi.


"Ayo pulang," ajak Beni.

__ADS_1


Niken mengangguk. Lalu mengikuti Beni ke motornya. Di sana sudah berdiri Laras dengan tatapan mata tajam.


__ADS_2