KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS

KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS
Bab 61 BUKAN ABEGE LABIL


__ADS_3

Laras sudah rapi menunggu Tomi yang katanya mau menjemput sejak habis maghrib.


"Mau kemana, Kak?" tanya Niken.


"Pacaran!" jawab Laras ketus. Dia kesal karena nomor Tomi tak bisa lagi dihubungi.


"Mau pacaran kok wajahnya jutek begitu," sahut Niken lalu keluar dari kamar. Dia menghampiri Rasyid yang sedang asik ngobrol dengan Lili di telpon.


"Yah. Kapan hape Niken dibetulin?" tanya Niken.


Rasyid melotot menatap Niken yang sering tak lihat situasi kalau ngomong.


Niken mendengus kesal, lalu meninggalkan Rasyid. Dia ke kamar Ayu.


"Heh! Ngapain kamu, ngomong sendiri!" Niken menoyor kepala Ayu yang sedang asik main boneka di atas tempat tidur.


"Kakak! Sakit tau!" seru Ayu.


Niken pun meninggalkan kamar Ayu. Dia bete banget karena semua orang di rumah, sibuk sendiri-sendiri.


Dia melamun di teras samping rumah. Tak ada yang bisa dikerjakannya. Hapenya rusak, teman yang rumahnya dekat juga enggak punya.


Pingin jajan, enggak punya uang. Mau minta pada ayahnya, pasti bakal dipelototin lagi.


"Niken, mau ikut Ayah enggak?" tanya Rasyid yang sudah selesai menelpon.


"Kemana, Yah?" tanya Niken.


"Katanya kamu mau benerin hape," jawab Rasyid. Dia langsung berjalan ke motornya.


"Iya, Yah. Niken pake topi dulu." Dengan semangat, Niken beranjak dan mengambil topinya.


"Ayah! Ayu ikut!" seru Ayu. Dia langsung menyingkirkan mainannya dan keluar dari kamar.


"Ngapain sih, kamu? Pake ikutan segala!" bentak Niken.


"Udah biarin! Ayo ikut. Panggil Laras!" seru Rasyid.


"Kak Laras, dipanggil Ayah!" seru Ayu.


Laras segera keluar dari kamarnya.


"Iya, Yah!" sahut Laras.


"Kamu mau ikut juga enggak?" tanya Rasyid.


"Enggak, Yah. Laras kan lagi nungguin Tomi," jawab Laras. Dia masih terus berharap Tomi segera datang menjemputnya meski nomornya tak bisa dihubungi.


"Dia enggak bakalan dateng. Udah, ayo ikut aja," ajak Rasyid.


Laras tetap menggeleng.


"Ya sudah. Nanti kalau kamu mau pergi, kunci pintu. Kuncinya taruh di tempat biasa," ucap Rasyid.


Dua anaknya yang lain sudah siap di boncengan motornya.


"Iya, Yah." Laras kembali masuk ke kamarnya.


Rasyid melajukan motornya ke sebuah ATM. Lili tadi sudah mengatakan kalau dia sudah transfer ke rekening Rasyid. Uang sejumlah dua ratus ribu yang pernah dijanjikannya.

__ADS_1


Sedianya uang itu untuk membayar sekolah Niken. Tapi melihat hape Niken yang rusak, Rasyid jadi berfikir akan menservisnya dulu.


Selesai ambil uang, Rasyid ke counter Willy temannya. Dia agak ngebut karena sudah malam. Keburu counter tutup.


Dan benar saja, counter sudah hampir tutup.


"Hey! Tunggu, jangan ditutup dulu. Aku mau service hape," seru Rasyid.


Tanto yang baru mau menutup rolling door, menghentikan tangannya. Dia melihat sosok Niken. Gadis kecil yang masih ingin didekatinya.


"Niken, ya?" tanya Tanto.


Niken ingat wajah Tanto. Karyawan counter yang pernah mentraktirnya ketoprak.


"Iya. Jangan tutup dulu, dong," pinta Niken. Dia berharap hapenya bisa segera diperbaiki.


"Ya, enggak bisa. Ini sudah jam tutup," jawab Tanto. Meskipun dia masih ingin bicara dengan gadis yang menurutnya sangat menantang untuk ditaklukannya.


Niken merengut kecewa. Rasyid pun tak bisa berbuat apa-apa. Karena karyawan lainnya pun sudah keluar dari counter.


"Begini aja, hape kamu aku bawa pulang. Besok sore kamu ambil di sini. Nanti aku coba bongkar di rumah. Moga-moga masih bisa diperbaiki," ucap Tanto.


Kali ini dia akan memanfaatkan kesempatan untuk bisa ketemu lagi dengan Niken.


"Gimana, Yah?" tanya Niken pada Rasyid.


"Ya sudah, kasihin aja. Besok sore sepulang sekolah, kita ke sini lagi," jawab Rasyid.


Niken langsung sumringah. Setidaknya besok sore dia bisa menggunakan hapenya lagi.


"Nih." Niken memberikan hapenya pada Tanto.


"Iya, Om," sahut Niken.


"Kok Om, sih? Abang kek. Apa Mas aja?" Tanto tak suka kalau dirinya dipanggil om. Apalagi umurnya yang baru menginjak dua puluh satu tahun.


"Ya udah, Abang aja. Besok aku ke sini lagi sama ayah. Abang ada di sini, kan?" tanya Niken. Dia tak lagi jutek sama Tanto, demi hapenya.


"Ok. Kamu bonceng aku aja yuk. Aku antar pulang. Daripada bonceng ayah kamu, desak-desakan." Tanto mencoba mencari peluang.


Niken menoleh ke arah Rasyid. Rasyid pun mengangguk. Demi bisa menservis hape milik Niken. Syukur-syukur bisa gratisan.


"Om. Saya ajak makan dulu ya, Nikennya?" Tanto malah ngelunjak.


Sebenarnya Rasyid keberatan, tapi wajah Niken seolah menuntutnya untuk mengangguk.


"Boleh. Tapi jangan kemalaman pulangnya," jawab Rasyid.


Tanto langsung sumringah dan menganggukan kepalanya. Akhirnya dia bisa juga mengajak Niken jalan.


Rasyid pergi duluan bersama Ayu. Dia mau langsung pulang.


"Kamu mau makan apa?" tanya Tanto pada Niken.


"Apa aja, deh. Yang penting enak," jawab Niken.


"Oke. Bagaimana kalau nasi goreng aja. Eh, rumah kamu dimana sih?" tanya Tanto.


"Di jalan mawar tiga," jawab Niken.

__ADS_1


"Oh, yang deket supermarket besar itu?" tanya Tanto lagi. Niken mengangguk.


"Oke, kalau begitu kita cari makannya ke arah sana aja. Biar pulangnya enggak muter-muter," ajak Tanto.


"Iya, boleh," sahut Niken.


"Atau kamu mau muter-muter dulu?" goda Tanto.


Niken memonyongkan bibirnya. Tanto tertawa tergelak, lalu mengacak rambut Niken.


"Ayo naik." Tanto menunjuk belakang motornya dengan dagu.


Niken menurut. Dia naik ke belakang motor Tanto, tapi dengan memberi jarak.


Busyet nih abege. Bonceng aja pake jaga jarak. Tanto sengaja tak segera menstater motornya.


"Kok enggak jalan?" tanya Niken.


"Abisnya, kamu boncengnya jauh banget. Aku takut kamu jatuh," jawab Tanto sekenanya.


"Iih. Terus aku mesti gimana?" tanya Niken.


"Peluk, dong. Biar kayak orang pacaran," jawab Tanto.


"Ogah, ah. Entar temenku ada yang lihat, besok diledekin di sekolahan," sahut Niken.


"Ya enggak apa-apa diledekin. Bilang aja aku pacar kamu," sahut Tanto.


"Idih, ogah! Masa punya pacar om-om?"


"Emang aku kayak om-om, ya?" Tanto melihat wajahnya lewat kaca spion.


"Mirip!" seru Niken sambil ketawa.


"Enak aja! Orang ganteng begini, dibilang kayak om-om." Tanto tetap tak terima dirinya dikatain om-om.


"Ya udah enggak deh. Tapi cepetan jalan. Katanya mau ngajak makan," pinta Niken.


"Peluk dulu, baru jalan," sahut Tanto.


Niken jadi kesal karena Tanto tetap memaksa. Akhirnya dia turun dari motor.


"Eh, mau kemana?" tanya Tanto.


"Pulang!" Niken tetap berjalan meninggalkan Tanto.


Tanto jadi merasa bersalah. Dia menstater motornya dan mengejar Niken.


"Iya, deh. Ayo naik," ucap Tanto yang sudah berada di sebelah Niken.


"Enggak! Aku mau pulang aja. Jalan kaki!" Niken tetap saja melangkah.


Tanto kebingungan dengan sikap Niken yang keras kepala.


"Ayolah. Maafin aku. Please. Ya....aku janji enggak maksa lagi deh." Tanto tetap mensejajari Niken dengan motornya.


Niken menghentikan langkahnya. Dalam hati berkata, capek juga kalau benar-benar harus jalan kaki. Akhirnya dia mau juga naik ke motor Tanto.


"Tapi janji jangan maksa-maksa lagi!" seru Niken.

__ADS_1


"Iya." Tanto hanya bisa menelan ludahnya. Dia pikir akan mudah menaklukan abege macam Niken. Ternyata yang ini bukan jenis abege labil seperti yang sering ditemukannya di medsos.


__ADS_2