
Rasyid tersenyum senang karena misinya mengibuli Dino berhasil.
Di tengah jalan, Rasyid bertanya pada Laras.
"Kamu mau beli makanan apa?"
"Enggak, Yah. Laras mau pulang dulu." Kini Laras tak begitu maruk pada makanan. Karena Tomi juga Beni sering mentraktirnya makanan enak.
"Sekalian jalan!" paksa Rasyid.
"Laras sudah risi dengan pakaian ini, Yah. Laras juga malu kalau ada yang melihat." Laras tetap menolak.
Akhirnya Rasyid mengalah. Karena dia sudah puas dengan keberhasilannya hari ini.
Bukan cuma uang, tapi juga sembako dan pakaian pantas pakai untuk anak-anak Rasyid, yang didapatkannya.
Meskipun Rasyid harus menerima kenyataan yang mengesalkan. Kesal karena dia ternyata telah meniduri seorang pembantu.
Dulu dia pikir, Wulan seorang wanita pekerja biasa. Minimal buruh pabrik atau apalah. Bukan seorang pembantu yang dinilai Rasyid sangat rendah.
Sampai di rumah, Laras buru-buru masuk ke kamar mandi. Dia membersihkan badannya dari debu yang sengaja dilekatkan oleh Rasyid untuk menambah kesan kumal.
Laras keluar dari kamar mandi dengan hanya melilitkan handuk kecil ditubuhnya. Rasyid menatap tubuh Laras yang semakin terlihat seksi dan mempesona.
Benar juga kata si Dino. Anakku ini sangat cantik dan seksi. Tak kalah dengan istrinya Dino. Hanya butuh uang untuk memolesnya.
"Ras!"
"Iya, Yah." Laras menghentikan langkahnya di depan Rasyid.
Rasyid sampai menelan ludahnya. Belahan dada Laras terlihat menggoda. Dan dua gunungnya juga nyaris menyembul.
"Pakai baju dulu. Ayah mau ngomong sama kamu." Rasyid buru-buru pergi ke ruang tamu. Dia takut khilaf dengan anaknya sendiri.
Laras mengangguk dan masuk ke kamarnya. Laras menutup pintu kamarnya sedikit. Lalu melepas handuknya.
Laras menatap tubuh polosnya dan mengagumi dua gunung kembarnya yang sudah mulai merekah. Lalu memegang dan meremasnya perlahan.
Sementara Rasyid yang sudah sampai di ruang tamu, tak bisa melepaskan otak kotornya. Dia masih terbayang oleh tubuh mulus dan seksinya Laras.
Kepala Rasyid sampai berdenyut. Senjatanya mulai menggeliat seiring dengan pikirannya yang melayang.
Rasyid tak bisa lagi menahan diri. Dia bergegas berjalan ke kamar mandi.
__ADS_1
Sampai di depan pintu kamar Laras, dari celahnya Rasyid melihat Laras sedang meremas dua gunung kembarnya dengan lembut.
Rasyid menghentikan langkahnya. Dia terus menatap tubuh polos anaknya. Jantungnya berdegup makin kencang. Senjatanya pun terus menggeliat.
Rasyid mencengkeramnya. Lalu memasukan tangan ke dalam celana panjangnya dan meremasnya.
Laras yang tak sadar kalau sedang diintip Rasyid, terus meremas dan perlahan salah satu tangannya turun menyusuri perut ratanya. Lalu berhenti di depan pintu guanya.
Perlahan Laras membelainya dan mulai menggosok-gosok pintunya. Tangan satunya mendekap dua gunung kembarnya sambil memainkan puncaknya dengan meremas.
Jemari Laras menelusup masuk ke dalam gua yang sudah basah. Dan menari di sana diiringi ******* nafasnya.
Laras semakin mempercepat tarian jemarinya dengan nafas yang memburu.
Rasyid yang menatapnya semakin tak bisa menahan diri. Matanya tak lepas dari tubuh molek anaknya. Dan semakin kencang menggenggam senjatanya.
Jakun Rasyid naik turun, menelan ludahnya yang terasa kering.
Laras terus saja memainkan jemarinya dan meliuk-liukan badan. Sambil memejamkan mata. Mulutnya mendesah.
"Aakkhh....! Aakkh....!"
Laras tak kuat lagi berdiri, lalu beringsut ke tempat tidur sambil terus memejamkan mata. Hingga dia tak melihat sepasang mata milik ayahnya menatap tanpa berkedip.
Rasyid melihat dengan jelas gua basah milik anaknya yang sangat menggoda. Jika saja tak ingat kalau itu anak kandungnya sendiri, Rasyid pasti sudah menubruknya.
Laras membuka pintu guanya dengan dua jari, hingga semakin jelas aksesnya. Lalu jemarinya kembali menari di dalamnya.
Rasyidpun tak kuat lagi berdiri. Dia berpegangan pada sisi pintu, dan satu tangannya menurunkan celananya sedikit.
Rasyid mulai memainkan sendiri senjatanya, sambil terus menatap anaknya yang sedang menggelepar-gelepar, bak cacing kepanasan dengan mulut yang terus meracau.
"Aakkhh....! Aakkhh....!" Laras tak henti-hentinya meracau.
"Hhh....Hhh...Hhh....Aakkhh....!" Rasyid pun ikutan mendesah.
Mereka berdua seperti orang gila yang bermain sendiri-sendiri hingga mencapai puncaknya.
"Aakkhh....!" pekik Laras saat mencapai orgasmenya. Lalu merentangkan tangannya dengan tubuh lunglay tak berdaya. Matanya tetap terpejam.
Rasyid memacu terus tangannya. Dia juga hampir mencapai puncaknya. Hingga...cairan Rasyid muncrat ke depan dan mengenai pintu yang setengah terbuka.
"Aakkhh....!" Rasyid pun memekik.
__ADS_1
Saking enaknya, Rasyid tak mengontrol suara pekikannya. Dan apesnya, Laras mendengarnya.
Spontan Laras membuka matanya dan mencari sumber suara itu.
Mata Laras hampir melompat melihat ayahnya berdiri di depan pintu dengan tangan menggenggam senjata dan celana panjang yang sudah melorot sampai ke lantai.
"Ayah....!" seru Laras. Dan dia pun segera menutupi bagian tubuhnya dengan tangan.
Rasyid pun tak kalah terkejutnya. Dia tak menyangka kalau Laras akan melihatnya.
Dengan serta merta, Rasyid melepaskan senjatanya yang telah memuntahkan lahar dan menaikan celananya.
Rasyid lari terbirit-birit ke kamar mandi. Ada rasa malu yang amat sangat karena aksinya ketahuan Laras.
Di dalam kamar mandi, Rasyid menyandarkan tubuh gempalnya dan menuntaskan aktifitasnya yang tadi.
Kali ini Rasyid lebih bebas. Dia juga melucuti sendiri pakaiannya dan bermain sepuasnya. Meski swalayan.
Laras yang melihat Rasyid lari pergi, segera mengunci pintu kamarnya. Jantungnya berdegup sangat cepat.
Ngapain ayah tadi di sana? Apa ayah melihatku tadi? Berbagai pertanyaan membuat jantung Laras semakin berdegup kencang.
Laras takut nanti bakal dimarahi oleh ayahnya. Kenapa aku begitu bodoh, tak mengunci pintunya? Dan kenapa aku begitu terlena sampai tak menyadari kalau ayah melihatku? Laras menyesali kecerobohannya.
Ah, sudahlah. Kalau dimarahi ya sudah resiko. Lalu Laras mengambil baju dan memakainya. Selesai berpakaian, Laras memilih tidur.
Rasyid yang juga sudah menuntaskan permainannya, keluar dari kamar mandi. Badannya yang sudah diguyurnya, terasa lebih segar.
Rasyid berhenti di dapur dan membuat sendiri kopinya. Dia tak enak kalau minta dibuatkan Laras.
Bahkan sepertinya, untuk bicara atau menatap Laras saja, Rasyid masih tak enak hati.
Selesai membuat kopi, Rasyid berjalan kembali ke ruang tamu. Dia berhenti sejenak di depan pintu kamar anaknya.
Sepertinya dikunci. Rasyid melanjutkan langkahnya.
Gila! Aku benar-benar sudah gila! Aku terpesona dan terangsang oleh tubuh anakku. Anak kandungku sendiri, yang aku rawat sejak bayi.
Ah! Untung saja aku masih bisa menahan diri. Tidak sampai menidurinya.
Tapi Laras juga lebih gila lagi. Apa dia juga sering melakukannya dengan Tomi? Kalau iya, berarti Tomi harus segera menikahinya. Aku tak mau kalau Laras hamil diluar nikah.
Lalu bagaimana dengan tawaran Dino? Ah, andai saja Laras mau bekerja di sana. Aku yakin, Dino akan tergoda oleh Laras.
__ADS_1
Ah! Rasyid segera menepis pikiran gilanya.