
Rasyid menurunkan lagi tangannya. Dia merasa tak tega melihat luka di pelipis Niken yang belum sembuh.
Rasyid keluar dari kamar Niken dan pergi lagi dengan motornya.
Niken hanya bisa menangis sejadi-jadinya di kamar. Karena tak akan ada yang mendengar.
Di rumah sakit, Laras belum diperbolehkan pulang. Dia masih harus bedrest. Sementara pakaiannya habis. Karena kemarin Niken hanya membawakan dua stel.
"Gimana kalau aku ambilkan di rumahmu?" tanya Tomi. Dia juga butuh mencari makan siang untuk dirinya sendiri.
"Ya udah. Kamu jangan lupa makan, Tom. Kamu belum makan, kan?"
"Iya. Nanti aku sekalian makan siang. Bajunya di sebelah mana?" tanya Tomi.
"Lemari yang sebelah kanan. Ambil dua lagi aja. Besok kan aku udah boleh pulang," jawab Laras.
"********** juga?" tanya Tomi lagi.
"Iyalah. Masa aku enggak pakai dalaman," jawab Laras.
"Ya udah. Aku pergi dulu. Kamu tidur aja. Nanti mau dibeliin buah?"
Laras mengangguk.
Tomi kalau di depan Laras, sangat sayang. Tapi kalau sudah di luar, pikirannya langsung belok.
"Buah apa maunya?" tanya Tomi.
"Buah naga aja deh. Beli yang udah potong-potong aja, Tom. Biar tinggal makan," jawab Laras.
"Oke, siap bunda ratu." Tomi mengecup kening Laras dengan lembut.
Laras memejamkan matanya, menikmati kecupan Tomi.
"Ati-ati, Tom." Laras masih saja memegangi tangan Tomi. Seakan tak mau berpisah.
"Iya, Sayang. Udah dong, jangan dipegangin terus. Kapan aku perginya kalau begini?"
Laras tersenyum. Lalu melepaskan tangan Tomi.
Tomi mencari makan dulu sebelum ke rumah Laras. Perutnya sudah terasa sangat lapar. Padahal tadi pagi sudah sarapan di rumah Ike.
Selesai makan, Tomi malah mendapatkan pesan chat dari Ike. Dia mengajak Tomi ketemu.
Tomi menolaknya dengan alasan lagi sibuk. Tapi Tomi janji, nanti malam akan menemui Ike lagi.
Tomi melajukan motornya ke rumah Laras. Sampai di sana, dia lihat pintu samping terbuka.
Tomi berpikir, Rasyid ada di dalam. Tomi mengucapkan salam. Tapi tak ada yang menjawab.
Akhirnya Tomi langsung masuk ke kamar Laras. Pintu kamar hanya ditutup sedikit.
Alangkah terkejutnya Tomi saat melihat Niken tertidur. Mestinya jam segini Niken masih sekolah.
Tomi tak membangunkan Niken. Dia masih marah pada calon adik iparnya ini.
Saat mencari baju Laras, Tomi menjatuhkan sebuah gantungan kunci yang disimpan Laras di sela-sela bajunya.
Niken terbangun karena terkejut.
__ADS_1
"Kak Tomi...!" gumam Niken. Dia merasa ketakutan pada Tomi.
Tomi hanya melirik sekilas. Tak ada hasrat sedikitpun pada Niken.
"Kak Tomi mau ngapain?" tanya Niken.
"Mau ambil bajunya Laras. Kamu bisa tolong ambilkan?" Tomi terpaksa meminta tolong Niken, karena dia bingung mau ambil yang mana.
Niken mengangguk. Meski hanya sebuah perintah, tapi Niken senang. Minimal Tomi mau bicara padanya.
Niken mencarikan baju Laras lengkap dengan **********.
"Ini, Kak." Niken menyerahkan baju Laras.
Tomi menatap luka di pelipis Niken. Lalu menyentuhnya dengan lembut.
"Sakit?" tanya Tomi.
Niken mengangguk.
"Maafin aku, ya? Aku sangat emosi kemarin," ucap Tomi. Dia jadi merasa bersalah.
"Iya, Kak. Enggak apa-apa. Aku yang salah." Niken mengakui kesalahannya.
"Besok-besok, jangan terlalu kasar pada Laras. Kasihan. Dia kan kakakmu sendiri," ucap Tomi.
"Iya, Kak. Maaf," sahut Niken.
"Minta maaf pada Laras. Gara-gara kamu, kami jadi harus kehilangan calon anak kami."
Niken mengangguk. Dia tak berani menatap wajah Tomi.
Niken menggeleng. Kalau pagi, dia sudah sarapan di rumah mamanya. Tapi siang ini dia belum makan lagi. Rasyid pergi entah kemana, tak meninggalkan uang sepeserpun.
Tomi mengambil dompetnya. Lalu mengeluarkan satu lembar lima puluh ribuan.
"Ini buat beli makan. Kamu enggak sekolah?" tanya Tomi.
"Enggak, Kak. Aku dari rumah mamaku," jawab Niken.
"Mamamu?"
Niken mengangguk.
Laras memang pernah cerita soal mamanya. Tapi Tomi tak menyangka kalau mereka masih berhubungan.
Tomi duduk di tepi tempat tidur.
"Kalian masih berhubungan dengan mama kalian?" tanya Tomi.
Niken pun duduk di sebelah Tomi.
"Aku dan kak Laras pernah mencarinya. Dan ketemu alamatnya. Tapi kami tak berani ke sana. Kami takut sama mama," cerita Niken.
"Takut kenapa?" tanya Tomi penasaran.
"Ada masalah, Kak. Maaf, aku belum bisa cerita."
Tomi menganggukan kepalanya. Mungkin suatu saat mereka akan cerita. Batin Tomi.
__ADS_1
Tomi pun tak begitu mau tahu. Baginya bukan masalah keluarga orang tua Laras berantakan. Yang penting dia mencintai Laras.
"Aku kemarin pulang sekolah ke rumah mama. Menginap di sana. Tadi ayah menjemputku. Tapi sebenarnya aku malas pulang. Aku ingin tinggal di rumah mama aja," ucap Niken.
"Kamu enggak betah di sini?" tanya Tomi.
Niken menundukan wajahnya.
"Kenapa enggak betah?" tanya Tomi lagi.
"Ayah terlalu keras dan kadang kasar padaku. Tapi tidak pada kak Laras ataupun Ayu. Aku enggak tau sebabnya," Niken langsung murung.
Rasyid memang terlalu membeda-bedakan anak.
"Mungkin karena kamu bandel," sahut Tomi.
Niken menggeleng.
"Terus?" tanya Tomi.
"Enggak tau. Ayah selalu saja marah padaku, walaupun kesalahanku tak seberapa. Dan kalau udah marah, ayah sering memukulku," jawab Niken.
"Memukul?" tanya Tomi lagi.
Niken mengangguk.
"Sebelum kejadian kak Laras aku dorong, ayah memukulku. Itu karena kak Laras mengadu pada ayah, kalau aku yang membanting pintu kamar. Karena aku kesal sama kak Laras, aku dorong dia sampai jatuh." Niken menundukan kepalanya.
"Kamu sadar akibat dari perbuatanmu?"
Niken mengangguk.
"Aku enggak mikir sampai sejauh itu, Kak. Aku kan juga enggak tau kalau kak Laras lagi....hamil," sahut Niken.
Tomi menghela nafasnya. Dia pun tak mengira kalau Laras ternyata sedang mengandung anaknya.
"Ya udah. Mau dikata apa lagi. Semua udah terjadi. Kami udah kehilangan calon anak. Mungkin nanti sepulang dari rumah sakit, aku akan membawa Laras ke tempatku," ucap Tomi. Meskipun dia belum tahu mau membawa Laras kemana.
Tomi tak mungkin membawa Laras ke rumah orang tuanya. Karena mereka belum menikah. Pasti orang tuanya tak mengijinkan.
"Kenapa kak Laras mesti dibawa pergi?" tanya Niken.
"Dia kelihatannya masih marah dan kecewa sama kamu. Daripada nantinya Laras yang jadi korbanmu lagi," jawab Tomi.
"Kak, aku janji enggak akan kasar lagi sama kak Laras. Please, jangan bawa pergi kak Laras. Ayah juga pasti tak akan setuju," pinta Niken.
"Nanti aku yang akan ngomong. Kalau alasannya tepat, pasti ayahmu setuju," sahut Tomi.
"Itu berarti kak Tomi enggak akan ke sini lagi?" tanya Niken.
"Kenapa? Nanti kamu kangen sama aku?" ledek Tomi.
Niken tersipu malu.
"Nakal!" Tomi mencubit hidung Niken.
"Iih, sakit, Kak." Niken mengusap hidungnya yang masih sakit karena kena tonjok Tomi di rumah sakit.
"Oh, sorry....sorry." Tomi mengelus hidung Niken. Dia juga merasa bersalah karena terlalu emosi, lalu menonjok Niken.
__ADS_1
Tomi mendekatkan wajahnya. Dia akan mencium Niken. Niken pun sudah memejamkan matanya. Siap menerima ciuman Tomi.