KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS

KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS
Bab 113 CARI PERMATA DAPATNYA BATU KALI


__ADS_3

Rasyid meletakan hapenya. Lalu makan nasi padang yang dibeli Niken.


"Panggil Laras dan Ayu. Suruh makan sekalian," ucap Rasyid.


"Entar aja, Yah. Niken laper banget," jawab Niken. Dia sudah tak bisa lagi menahan rasa laparnya.


Rasyid hanya mendengus. Dia pun masih enggan menyapa dua anaknya itu. Ada rasa malu karena ketahuan mereka.


Rasyid pun makan hanya ditemani Niken.


"Yah, kapan kak Tomi melamar kak Laras?" tanya Niken.


"Ayah maunya secepatnya," jawab Rasyid.


"Terus nanti mereka tinggal dimana?" tanya Niken lagi.


Niken berharap, setelah Tomi melamar Laras, tinggal satu rumah dengannya. Biar dia bisa setiap hari ketemu dengan Tomi.


Niken tak peduli meski harus sembunyi-sembunyi. Yang penting dia bisa ikut merasakan kenikmatan dari Tomi.


"Katanya Tomi punya apartemen. Mungkin mereka tinggal di sana," jawab Rasyid.


"Ya....jauh dong." Niken merasa kecewa mendengarnya. Dia bakal tak bisa lagi ketemu dengan Tomi.


"Nanti Laras kan juga sering pulang," sahut Rasyid. Dia pikir, Niken tak mau berjauhan dengan kakaknya.


Bukan kak Laras, yah. Tapi kak Tomi. Jawab Niken. Tapi hanya di dalam hatinya saja.


Setelah selesai makan, seperti biasanya Rasyid minta dibuatkan kopi. Lalu kembali membuka aplikasi chatnya.


Ada satu pesan dari teman barunya. Rasyid membalasnya, meski sekarang teman chatnya sudah tak aktif lagi.


Lalu Rasyid mengajak janjian ketemu dengan teman chatnya itu, nanti malam.


Rasyid yang masih mempunyai uang dari Dino tadi siang, mengajaknya ketemuan di sebuah cafe yang tak jauh dari rumahnya.


Malam harinya, Laras mengirimkan pesan chat pada Tomi. Tomi yang ngakunya ada kerjaan di luar kota, masih tetap berbohong. Meski sebenarnya dia sangat kangen pada Laras.


Malam ini ada acara tahlilan, mengirimkan doa untuk Sinta. Dan Tomi pun tak mungkin pergi kemana-mana.


Tomi sendiri sudah berjanji, akan libur selama tiga hari. Dia belum bisa berkonsentrasi kalau harus mulai kerja.


Apalagi pekerjaan yang sedang dijalani Tomi, bukan cuma butuh konsentrasi, tapi juga badan dan pikiran yang fresh. Biar bisa memberikan service terbaik.

__ADS_1


Akhirnya Laras yang merasa kesepian, mengajak Beni jalan. Tadinya Beni menolak, karena malam ini ibunya mau pergi ke rumah teman katanya.


Yanti berbohong pada Beni. Dia bilang, akan main ke rumah temannya. Dan saat mau diantar, Yanti menolak.


Yanti ingin naik becak katanya. Sambil menikmati suasana malam di jalan.


Yanti pun mengijinkan Beni yang katanya juga mau main ke rumah temannya. Dan warungpun terpaksa tutup.


Yanti pergi duluan. Dia janjian dengan temannya jam tujuh malam. Kalau Beni lebih bebas. Karena dia hanya pergi bersama Laras.


Saat Beni menjemput Laras, Rasyid sudah pergi. Dia bilang ke anak-anaknya ada urusan penting dengan temannya.


Yanti yang sudah memakai baju warna merah seperti janjinya, sampai duluan. Dia memilih tempat duduk paling ujung.


Yanti memesan segelas orange juice. Dan Yanti berlagak seperti abege yang sedang kasmaran. Matanya berbinar, karena sebentar lagi dia akan ketemu dengan teman barunya.


Yanti berharap, teman barunya itu akan membuatnya membuka hati dan menjalin hubungan dengan serius.


Selama ini, Yanti masih menutup diri dari lelaki. Apalagi yang pernah mendekatinya adalah Rasyid.


Yanti tak menyukai keluarga Rasyid yang menurutnya menyebalkan. Anak-anak Rasyid juga sering bersikap tidak sopan.


Apalagi Rasyid yang hanya seorang pengangguran. Yanti tak mau kalau dia nantinya malah menafkahi Rasyid dan anak-anaknya.


Dan Yanti merasa melambung tinggi membacanya. Itu yang membuat Yanti bersedia diajak janjian.


Tak lama setelah Yanti menikmati minumannya, matanya melihat sosok Rasyid. Reflek Yanti memalingkan wajahnya. Dia tak mau Rasyid melihatnya.


Ngapain itu orang ada di sini? Dan kenapa dia memakai baju warna merah juga? Nyama-nyamain aja. Batin Yanti dengan kesal.


Rasyid mengedarkan pandang. Dan matanya menatap sosok Yanti yang duduk sendirian di bangku paling pojok. Yanti yang mengenakan baju warna sama dengannya.


Jangan-jangan akun yang bernama Yanti Shara itu dia. Rasyid menepuk dahinya. Dia pikir, mendapatkan wanita cantik yang masih muda. Bukan tetangganya yang bawel dan berumur tak jauh darinya.


Karena tak melihat wanita lain yang berbaju merah, terpaksa Rasyid menghampiri Yanti. Yanti yang merasa Rasyid semakin dekat, jantungnya semakin berdetak kencang.


Rasyid langsung duduk di depan Yanti. Matanya menatap tajam ke wajah wanita yang tak begitu disukainya itu.


"Kamu nunggu siapa?" tanya Rasyid dengan ketus.


"Enggak nunggu siapa-siapa," jawab Yanti berbohong. Yanti tak mau kalau Rasyid tahu dia sedang menunggu teman chatingnya.


"Ya udah. Aku temani kamu. Sudah malam, jangan sampai ada lelaki iseng sama kamu," ucap Rasyid.

__ADS_1


Meski Rasyid kurang suka pada Yanti, tapi Rasyid tetap khawatir terjadi sesuatu dengan Yanti.


"Ya udah. Terserah kamu," jawab Yanti dengan cuek.


Rasyid memanggil seorang pelayan cafe. Dia memesan kopi hitam kesukaannya.


Yanti membuka aplikasi chatingnya. Dia akan menghubungi teman barunya. Dan mengatakan kalau dia sudah sampai di lokasi.


Baru saja Yanti selesai mengetik dan mengirimkan pesan itu, hape Rasyid berbunyi. Sebuah pesan masuk ke aplikasi chatingnya.


Rasyid membuka dan membacanya. Tanpa membalas, Rasyid menatap wajah Yanti dengan tajam.


Yanti memalingkan wajahnya. Dia benci ditatap seperti itu oleh Rasyid. Karena yang sudah-sudah, setiap ditatap Rasyid seperti itu, Yanti akan memberikan apapun yang Rasyid minta.


"Kamu yang namanya Yanti Shara?" tanya Rasyid.


Yanti langsung menoleh dan menatap wajah Rasyid.


"Iya," jawab Yanti pelan. Perasaannya sudah tidak enak.


Rasyid mengulurkan tangannya. Yanti tak merespon.


"Aku Kahlil Gibran," ucap Rasyid meski Yanti tak menerima uluran tangannya.


Yanti terdiam. Dia merasa seluruh persendiannya lemas. Menyesal, pasti. Menyesal karena dia begitu bodoh menerima rayuan Rasyid. Tanpa menyelidiki dulu siapa sebenaenya lelaki itu.


Dan juga malu. Karena dia bersikap layaknya abege saat Rasyid merayunya.


Ingin rasanya Yanti lari dan bersembunyi. Tapi semua sudah terlanjur.


Dia hanya menelan ludahnya. Nasi sudah menjadi bubur. Akhirnya Yanti tertawa. Menertawakan kebodohannya.


Tapi dasarnya mulut Yanti lemes dan suka asal kalau ngomong, dia malah meledek Rasyid.


"Aku pikir dapat kenalan orang kaya, eh malah dapat barang antik yang enggak jelas," ucap Yanti.


"Aku juga mikirnya dapat wanita cantik yang masih muda. Eh, malah dapet nenek-nenek bau tanah," sahut Rasyid tak mau kalah.


"Enak aja, kamu bilang aku bau tanah! Umurku masih jauh di bawah kamu, tau!"


Dan ledek-ledekan antara mereka terus berlanjut, sampai kemudian mereka sama-sama ketawa.


Menertawakan kebodohan mereka sendiri. Pingin dapat permata, malah ketemunya batu kali.

__ADS_1


__ADS_2