KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS

KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS
Bab 55 DIKERJAI BERONDONG


__ADS_3

Tomi melajukan motornya. Dia malah bingung mesti kemana.


Setelah capek muter-muter, dia memutuskan ke rumah Laras. Sebelumnya dia beli makanan dulu buat sogokan, biar Laras enggak marah karena dari kemarin nomor hapenya diblokir.


Sampai di rumah Laras, Tomi disambut oleh Reisya. Tomi menatap bingung, karena setahunya orang tua Laras sudah berpisah.


"Selamat pagi. Larasnya ada?" tanya Tomi dengan sopan.


"Laras lagi pergi sama ayahnya. Kamu siapa, ya?" Reisya balik bertanya.


"Saya Tomi, temannya Laras," jawab Tomi.


"Ooh. Mari silakan masuk. Duduk dulu." Reisya mendahului duduk di sofa.


"Sudah lama kenal sama Laras?" tanya Reisya.


"Sudah. Saya calon suaminya," jawab Tomi percaya diri.


"Ooh, yang kata ayahnya Laras kerja jadi manager itu?" tanya Reisya lagi. Dia agak ragu melihat penampilan Tomi yang tidak meyakinkan. Apalagi motor yang dipakai Tomi juga cuma motor butut.


"Mm, iya," jawab Tomi berbohong.


"Maaf, Tante ini siapanya Laras?" lanjut Tomi.


"Saya calon mamanya Laras. Kenalkan, namaku Reisya." Reisya mengulurkan tangannya yang sebesar tales bogor.


Tomi agak ragu, tapi disambutnya juga tangan Reisya. Namanya kekinian banget. Apa jaman dulu ada orang tua yang menamai anaknya sekeren itu? Batin Tomi.


"Saya, Tomi."


"Kapan mau melamar Laras?" tanya Reisya, membuat Tomi gelagapan.


"Mm. Nanti, Tante. Kalau saya sudah tidak banyak pekerjaan." Tomi langsung pura-pura sibuk dengan hapenya. Dia membuka blokiran nomor Laras.


"Jam segini sudah apel, apa enggak ada kerjaan di kantor?" Reisya mulai kepo.


"Tadi kebetulan lewat, jadi mampir. Tante sendiri, di sini sejak kapan?"


"Kemarin sore. Aku menginap di sini. Nah, sekarang Laras sama bang Kahlil lagi nyariin tiket bus buat aku pulang. Sekalian beli sarapan," jawab Reisya.


"Bang Kahlil siapa?" Setahu Tomi, ayah Laras bernama Rasyid.


"Ayahnya Laras. Masa kamu calon suaminya enggak tau sih?" Reisya juga bingung, ngakunya calon suami tapi enggak tahu nama calon mertuanya.

__ADS_1


"Setahu saya, ayahnya Laras bernama Rasyid, Tante," sahut Tomi.


"Ngaco aja, kamu. Namanya Kahlil Gibran!"


"Hah? Kayak nama pujangga. Tante kenal ayahnya Laras di mana?" tanya Tomi penasaran.


"Kami kenal di medsos. Bang Kahlil itu orang hebat. Dia lebih hebat dari pujangga!" puji Reisya.


Ooh, pantesan. Jangan-jangan Reisya bukan nama sebenarnya. Mana ada orang setua ini bernama Reisya? Belum musim kalee. Tomi menahan tawanya.


"Kenapa senyum-senyum? Kamu enggak percaya? Lihat aja di medsosnya. Atau jangan-jangan kamu enggak berteman juga?"


Tomi membatin lagi, ogah amat berteman sama ayahnya Laras, bisa kebongkar topengnya. Laras saja berteman dengannya di akun yang jarang dibukanya. Kalau akun tempat Tomi mencari mangsa, dia tak berteman dengan Laras.


"Enggak, Tante. Saya jarang bermedsos. Sibuk kerja soalnya," sahut Tomi.


"Baguslah. Anak muda itu mesti rajin kerja. Biar enggak hidup kere dan bisa pakai mobil, bukan motor butut!" sindir Reisya.


"Oh, itu motor kesayangan saya, Tante. Biar butut tapi banyak kenangannya. Kalau saya mau ngajak Laras keluar, saya bawa mobil," sahut Tomi tak mau kalah.


Memang benar, Tomi sering bawa mobil. Tapi mobil pinjaman atau mobil milik driver taksi online.


"Ooh, punya mobil juga? Baguslah. Masa ngajak cewek secantik Laras pakai motor butut."


"Iya, Tante. Tenang aja, saya juga selalu memperlakukan Laras dengan istimewa kok." Tomi meletakan makanan yang dibelinya di toko kue ternama di atas meja.


"Bawa makanan apa?" Reisya langsung membuka paper bag yang dibawa Tomi tanpa permisi.


"Eh, jangan Tante. Nanti saja nunggu Laras," cegah Tomi. Dia sudah terlanjur tak suka dengan omongan Reisya yang merendahkannya.


Tomi merebut paper bag-nya. Enak saja, bisa dihabiskan makanan yang buat sogokan Laras. Perutnya saja segede karung beras, batin Tomi.


"Cuma lihat. Aku juga lagi dibelikan sarapan sama bang Kahlil," sahut Reisya. Sesungguhnya dia sudah sangat lapar.


Tadi pagi-pagi hanya makan kue yang dibelinya di pedagang keliling.


"Ini makanan khusus untuk calon istri manager, Tante," ledek Tomi.


"Mm. Sombong! Memangnya kamu manager apa?" tanya Reisya kesal.


"Saya manager di perusahaan pembiayaan," jawab Tomi percaya diri.


"Leasing? Yang suka ngutang-ngutangin itu? Sama saja dengan rentenir dong?" Reisya balik meledek Tomi.

__ADS_1


"Ya beda dong, Tante. Kami ada badan hukumnya yang jelas. Setaraf bank-lah," sahut Tomi.


"Ah, sama saja. Sama-sama tukang ngutangin dengan bunga mencekik!"


"Jangan-jangan Tante sering ngutang juga, ya?" ledek Tomi lagi.


"Eh, enak aja. Suamiku orang kaya! Aku tak pernah kehabisan uang!" Tak sadar Reisya keceplosan.


"Loh, Tante masih punya suami?" tanya Tomi.


"Mm, maksudku mantan suamiku. Walaupun sudah pisah, tapi dia masih kasih uang yang cukup buat aku!" Reisya mulai emosi. Meski dia yang keceplosan tapi malah dia yang naik darah.


"Oh, sudah mantan. Maksudnya Tante sekarang janda?" tanya Tomi dengan mata nakal.


"Memangnya kenapa kalau aku janda?" tanya Reisya dengan kesal.


"Enggak apa-apa, Tante. Bagus kalau Tante sudah menjanda! Jadi Tante tidak berselingkuh." Tomi menekankan kata janda membuat Reisya semakin kesal.


Meski kenyataannya dia bukan janda. Dan hubungannya dengan Rasyid adalah sebuah perselingkuhan.


"Kamu itu menyebalkan! Aku bakal bilang ke bang Kahlil biar dia mencarikan calon suami lain buat Laras!" Reisya langsung berdiri dan meninggalkan Tomi yang malah tertawa ngakak.


Dasar karung beras! Bisa-bisanya calon bapak mertuaku mau sama wanita seperti itu? Tanya Tomi dalam hati.


Tomi yang ditinggal sendirian di ruang tamu, membuka akun medsosnya. Dia mencoba mencari nama Reisya di pencarian.


Ah, ketemu. Wouw! Cantik banget wajahnya. Kameranya sangat jahanam. Batin Tomi.


Tomi yang membukanya dengan akun abal-abal miliknya, mencoba meminta pertemanan pada Reisya.


Dan tak butuh waktu lama, Reisya yang berbaring di kamar Rasyid sambil membuka akun medsos-nya, langsung mengkonfirmasi.


Jadilah mereka berteman. Jiwa iseng Tomi beraksi. Dia ajak chat di inbox dengan kalimat-kalimat manis.


Reisya langsung menanggapi. Mereka berbalas pesan di inbox. Tomi dengan kalimat-kalimat nakalnya berniat mengerjai Reisya.


Sampai Reisya mau juga menutup pintu kamar Rasyid dan berpose telanjang. Lalu dikirimkan ke inbox. Tomi paling pinter soal merayu cewek sampai mau melakukan hal-hal yang tak senonoh.


Tomi di ruang tamu menahan tawanya. Jangan sampai sifat usilnya ketahuan Reisya.


Tomi terus saja mengerjai Reisya. Dia juga mengirimkan foto-foto bugil untuk memancing Reisya. Padahal yang dikirimkannya foto-foto yang diambilnya dari internet.


Reisya yang terpancing, malah mengirimkan video dia self servise di dalam kamar Rasyid.

__ADS_1


Reisya merasa besar kepala karena ada seorang berondong yang tertarik padanya. Bahkan memuji-muji tubuh polosnya.


__ADS_2