KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS

KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS
Bab 14 BUAYA DIKADALIN


__ADS_3

Rasyid masuk ke dalam rumahnya lewat pintu samping. Dia meletakan dulu belanjaan hasil jarahannya di lantai depan kamarnya.


Lalu masuk ke kamarnya hendak membangunkan Ayu. Menyuruhnya makan dan minum obat yang diberikan oleh Yanti.


Laras dan Niken yang melihat Rasyid meletakan kantong kresek segera berlari menghampiri.


Laras langsung membuka kotak makanan.


"Wauw! Nasi pakai capcay dan telur dadar!" teriaknya seperti orang yang kelaparan.


"Ih! Mana aku juga mau!" Niken merebutnya.


Rasyid yang baru saja akan duduk di tempat tidur, keluar lagi.


"Siapa bilang itu makanan buat kalian?" Rasyid berkacak pinggang di tengah pintu.


Niken langsung meletakan kembali kotak makanan itu di lantai. Keduanya lalu menunduk, tapi tatapan mata mereka tak lepas dari isi kotak makanan.


Rasyid mendekat dan mengambilnya.


"Ambilkan sendok." Lalu Rasyid masuk lagi ke kamar.


Dengan malas Laras mengambilkan sendok. Kalau harus menyuruh Niken, bisa keluar lagi sungutnya Rasyid.


"Nih, Yah."


Ayu sudah bangun dan dalam posisi duduk menyandar di dinding.


Rasyid memberikan kotak makanannya pada Laras.


"Nih, suapin Ayu. Pastikan Ayu makan banyak. Setelah itu kasih obatnya. Tadi Ayah taruh di dalam kresek." Lalu Rasyid ke ruang tamu.


"Niken! Bikinkan Ayah kopi!" teriak Rasyid dari ruang tamu. Kopinya sudah berantakan bersama gelas yang dilemparnya tadi.


"Iya, Yah!" Niken ke dapur sambil membawa mie instant. Daripada lapar, mie instant pun bolehlah untuk mengganjal perutnya.


"Nih, Yah." Niken meletakan gelas berisi kopi.


"Mana cangkir Ayah?"


"Belum di cuci!" Niken baru saja akan melangkah pergi.


"Heh! Bersihkan dulu bekas kopi Ayah itu!" Rasyid menunjuk lantai yang kotor terkena tumpahan kopi dan pecahan gelas yang berceceran.

__ADS_1


"Niken lagi rebus mie, Yah!" Niken berlari lagi ke dapur. Mie instant-nya sudah dia masukin ke panci sisa air buat bikin kopi.


Rasyid hanya menghela nafasnya tanpa berniat membersihkannya sendiri.


Kling!


Satu pesan masuk ke ponsel Rasyid. Lili yang sudah selesai dengan pekerjaannya, mengirimkan pesan teks pada Rasyid.


Awalnya Lili hanya menanyakan kabar Rasyid. Lalu basa basi menanyakan kondisi Ayu dan terakhir meminta maaf soal semalam.


Rasyid langsung menelpon Lili. Dia tidak paham kenapa Lili mesti meminta maaf padanya. Karena yang Rasyid tahu, mereka sama-sama terpuaskan meski kegiatan mereka hanya lewat video call.


"Kenapa mesti minta maaf? Semalam kamu sudah bisa memuaskan aku, Sayang," ucap Rasyid perlahan. Takut terdengar anak-anaknya.


Lili terperangah mendengarnya. Karena dia sebenarnya meninggalkan Rasyid, bukan karena sudah puas, tapi karena ketahuan majikannya.


"Oh... iya. Tentu saja," jawab Lili tergagap.


"Nanti malam kita ulangi lagi? Kamu masih menginginkannya, kan?"


Lili gelagapan menjawabnya. Dia khawatir majikannya akan mengintip lagi, meski Lili bisa mengunci pintunya.


"Iya. Bo...Boleh." Lili tak mau menolak keinginan Rasyid. Dia takut Rasyid kecewa dan kemudian menjauhinya.


"Iya. Datang aja. Ayah enggak ada acara, kok," sahut Rasyid.


Lili masih setia di seberang sana.


"Bagi uang dong, Yah. Buat beli makanan. Masa Tomi datang cuma disuguhi air putih aja," ucap Laras.


"Iya, nanti Ayah usahakan. Sudah sana, Ayah lagi ngobrol sama tante Lili." Rasyid mengusir Laras dengan tangannya.


Dalam hati Rasyid, ini bukan tante, tapi nenek. Karena Lili lebih pantas jadi nenek anak-anaknya.


"Siapa tadi, Mas?" tanya Lili dengan suara manja.


"Itu Laras. Nanti siang pacarnya mau datang ke rumah. Tapi ya gitu deh." Rasyid akan mencari cara agar Lili mau mengucurkan dana ke rekeningnya.


"Gitu deh, kenapa Mas?" tanya Lili.


"Uangku belum bisa cair hari ini. Paling tidak dua atau tiga hari lagi." Rasyid mulai mengibuli Lili.


"Ooh. Mas Kahlil ada penghasilan juga?" Karena setahu Lili, Rasyid sedang tidak bekerja alias pengangguran.

__ADS_1


Rasyid langsung memutar otaknya.


"Ada! Aku kan seorang penulis. Jadi ada penghasilan dari situ." Padahal yang suka menulis adalah Laras.


Laras suka dengan dunia menulis sejak masih SMA. Dia pernah beberapa kali menang lomba menulis tingkat SMA. Dan sekarang rajin menulis di beberapa platform novel online. Meski belum pernah dapat penghasilan, tapi Rasyid sangat membanggakannya.


Parahnya lagi, kadang Rasyid mengakui kalau itu adalah karyanya. Kalau ada yang bertanya soal pen name-nya kenapa memakai nama perempuan, gampang saja bagi Rasyid menjawab. Dia tak mau identitas aslinya dikenal orang. Hahaha. Rasyid memang licik. Terlalu banyak jawaban. Apapun bisa menjadi miliknya asal dia suka.


"Ooh. Mas Rasyid suka menulis novel online? Aku pembaca setia novel online, loh. Daripada bete enggak ada pekerjaan, aku baca novel-novel online." Lili tak kalah bohongnya dari Rasyid.


Padahal jangankan membaca novel, kadang seharian dia sibuk dengan pererjaan di rumah majikannya.


"Oh ya? Baca dong karyaku. Nanti aku kirimi link-nya." Rasyid pun percaya dengan kibulan Lili.


"Iya, Mas." Setengah mati Lili berfikir, apa itu link. Dia takut kalau mengeklik sesuatu dari ponselnya, kejadian yang dulu-dulu terulang lagi.


"Oke. Eh, Sayang. Boleh enggak aku pinjam uang kamu dulu? Nanti kalau honorku cair, aku pulangin." Rasyid berusaha menembakan pelurunya.


Waduh! Pake acara pinjam uang juga rupanya, batin Lili.


"Bisa, Mas. Tapi kartu ATM Lili keblokir. Jadi Lili belum bisa transaksi apapun," jawab Lili asal. Dia tidak mau juga terulang lagi jadi korban teman medsosnya. Meski sepertinya Lili mulai jatuh cinta pada Rasyid.


Hampir semua uang gaji Lili dipakai untuk berobat dan kebutuhan kedua orang tuanya yang sudah sangat tua. Mereka tinggal di kampung.


Dan setiap bulan, Lili harus mengirimkan uang ke rekening adiknya. Itu pun bukan Lili sendiri yang transfer, tapi Maya, majikannya.


Lili mana bisa urusan begituan? Dia hanya bisa berfoto-foto lalu menguploadnya.


"Diurus dong, Sayang. Apa aku ke rumahmu sekarang? Terus aku antar kamu mengurusnya?" Rasyid menawarkan diri. Karena dengan begitu, dia akan tahu berapa jumlah saldo di rekening Lili. Pasti ratusan juga. Itu bayangan Rasyid. Dan dia akan bisa mendapatkannya, minimal sepuluh persen.


"Besok saja deh, Mas. Hari ini Lili ada urusan penting. Lili tinggal dulu ya. Mobil Lili sudah kelamaan di panasi." Lalu Lili menutup telponnya.


Lili sengaja menutup telponnya karena dia takut Rasyid benar-benar akan ke sini dan mengantarkannya ke bank.


Bank apa? Lili tak pernah memiliki rekening bank. Hampir semua gajinya langsung masuk ke rekening adiknya di kampung yang merawat kedua orang tuanya.


Dan sekarang adalah jadwalnya menguras kolam renang. Karena nanti sore Maya akan berenang setelah pulang dari kantornya.


Hhmm. Rasyid makin penasaran saja pada Lili. Dan semakin ingin memiliki Lili, agar bisa menguasai semua isi rekening Lili. Kalau mungkin Rasyid akan meminta fasilitas mobil pada Lili, agar kalau pergi dengan anak-anaknya tak perlu berdesakan di satu motor.


Kling!


Rasyid mengirimkan pesan pada Lili agar berhati-hati di jalan. Dan Rasyid juga mengingatkan kalau menyetir mobil jangan ngebut-ngebut. Karena ada hati yang akan setia menunggunya.

__ADS_1


Lili hanya tersenyum membacanya. Ternyata berhasil juga dia mengibuli Rasyid alias Kahlil Gibran.


__ADS_2