
Tak lama kemudian, dokter yang tadi masuk ke kamar Laras. Dua perawat yang tadi juga mengikutinya.
Tomi dan Rasyid ikut masuk. Mereka ingin tahu apa yang terjadi dengan Laras.
Dokter kembali memeriksa denyut nadi Laras. Lalu menyuruh salah satu perawat menyuntikan cairan ke infus Laras.
"Kita tunggu sebentar lagi ya, Pak. Satu jam lagi pasien akan siuman. Tolong ditunggu. Kalau sudah siuman, segera hubungi kami," ucap dokter pada Tomi dan Rasyid.
"Apa yang terjadi dengan anak saya, Dok?" tanya Rasyid dengan khawatir.
"Ada sedikit kesalahan dari perawat kami, Pak. Tapi tenang saja, kami akan mengatasinya," jawab dokter itu, lalu keluar diikuti oleh dua perawatnya.
Dan benar saja, Laras mulai siuman. Bahkan tak sampai satu jam setelah dokter itu pergi.
Tomi yang duduk di sebelah ranjang, segera menggenggam tangan Laras.
"Laras....kamu sudah sadar, Sayang?" Tomi begitu bahagia.
Laras hanya menggeliatkan badannya. Matanya belum terbuka.
"Eeehhh....!" Laras merintih. Sepertinya sedang menahan rasa sakit.
"Kamu kenapa, Ras? Sakit?" tanya Tomi.
"Om, tolong panggilkan perawat. Laras sudah sadar." Tomi lupa lagi kalau dia hanya perlu menekan bel, untuk memanggil perawat.
Rasyid yang sedang makan, segera meletakan makanannya di meja. Lalu mendekati Laras.
Rasyid menatap Laras dengan senyum bahagia. Akhirnya Laras sadar juga.
Rasyid pun lupa tentang bel yang ada di atas ranjang Laras. Rasyid berjalan keluar mencari perawat.
Sepeninggal Rasyid, Laras mulai membuka matanya.
"Ras...." Tomi menciumi tangan Laras.
"Tom.....mi...." sahut Laras lirih.
"Akhirnya kamu bangun juga, Sayang." Tomi terus saja menciumi tangan Laras.
Laras yang belum sadar seratus persen, masih bingung dengan apa yang terjadi padanya.
Kepalanya masih pusing. Badannya juga masih terasa lemas. Hanya matanya saja yang berputar menatap sekeliling.
"Suster, anak saya sudah siuman," ucap Rasyid setelah sampai di ruang perawat.
"Kenapa mesti ke sini, Pak? Kan tinggal tekan bel saja," sahut salah satu perawat jaga.
"Oh, iya. Saya lupa." Lalu Rasyid kembali berjalan ke kamar Laras.
Perawat itu mengikuti Rasyid.
Sampai di kamar Laras, perawat itu memeriksa denyut nadi Laras juga matanya.
Bagaimanapun Rasyid khawatir terjadi sesuatu pada Laras setelah lama tak sadarkan diri. Matanya tak lepas menatap Laras yang sedang diperiksa.
"Bagaimana kondisi anak saya, Suster?" tanya Rasyid.
__ADS_1
"Sudah baik, Pak. Tapi biar istirahat dulu, ya? Jangan kasih makanan apa-apa. Kecuali makanan dari kami. Sebentar, saya akan siapkan."
Perawat itu keluar dari kamar Laras.
Laras sudah mulai membuka matanya. Dia menatap Rasyid.
"Ayah..." ucap Laras perlahan.
"Iya, Nak." Rasyid mendekat dan membelai kepala Laras.
Laras hanya tersenyum tipis. Sepertinya dia belum punya tenaga meski hanya untuk tersenyum.
Tak lama perawat yang tadi datang membawa nampan berisi makanan dan minuman.
"Ini tolong disuapkan pelan-pelan. Usahakan biar habis. Juga teh hangatnya. Mulai nanti sore baru kami akan berikan obat-obatan. Sementara ini obatnya masih dari cairan infus," ucap perawat itu menjelaskan, sambil meletakan nampan di meja.
Lalu dia pergi lagi.
"Biar saya yang menyuapi Laras, Om." Tomi mengambil mangkuk berisi bubur hangat.
"Makan dulu ya, Ras," ucap Tomi.
Laras hanya mengangguk pelan. Perutnya seperti minta diisi. Tapi belum ada keinginan untuk makan.
"Om, tolong naikan bagian kepala Laras. Caranya bagaimana, ya?" Tomi kebingungan.
Rasyid pun mencari cara menaikannya. Sampai akhirnya menemukan tuas untuk itu.
"Udah cukup, Om," ucap Tomi.
Laras menyedotnya pelan. Tenggorokannya sudah mulai basah dan hangat.
"Ayo makan, Ras. Aakk....!" Tomi mulai menyuapi Laras dengan telaten.
Laras membuka mulutnya dengan malas.
Baru sekali suapan, Laras sudah menolaknya. Mulutnya masih terasa pahit.
"Ras. Kata perawat tadi, ini harus dihabiskan. Biar kamu cepet pulih lagi," ucap Tomi.
Laras menggeleng.
"Separo aja deh." Tomi mencoba bernegosiasi.
Laras tetap menggeleng.
"Sekali lagi, ya?" tawar Tomi.
Akhirnya Laras membuka mulutnya lagi.
Selain rasa buburnya yang hambar, mulut Laras juga masih terasa pahit.
Rasyid kembali memberikan minuman pada Laras. Kalau minum, Laras mau agak banyak. Dan itu bisa membuatnya lebih segar.
Seharian itu, Tomi dan Rasyid kompak mengurus dan menjaga Laras.
Saat Laras tertidur, baru salah satu dari mereka keluar untuk menghirup udara segar.
__ADS_1
Dan siang menjelang sore, Tomi pamit keluar. Dia ingin ngopi dan merokok. Rasanya sangat jenuh seharian di dalam kamar.
"Nungguin siapa?" tanya seorang gadis seumurannya.
Tomi menoleh. Ike, mantan teman sekolahnya tersenyum.
"Ike? Kok....kamu disini?" tanya Tomi.
Tomi menatap wajah Ike dan penampilannya yang lebih sopan. Berbeda dengan pakaian yang dikenakannya saat kerja di sebuah toko sepatu ternama.
"Aku menunggui papaku. Dia dirawat di sini, Tom. Kamu sendiri?" tanya Ike.
Tomi tak mau Ike mengetahui hubungannya dengan Laras, apalagi sampai tahu kalau Laras dirawat karena keguguran.
"Menunggui sepupuku. Dia juga dirawat di sini," jawab Tomi.
"Ooh....sakit apa?" tanya Ike.
"Kata dokter kena types," jawab Tomi asal.
"Kalau papaku, jantungnya kumat lagi. Dan baru semalam dibawa ke sini," ucap Ike tanpa diminta.
"Terus kamu enggak berangkat kerja dong?" tanya Tomi.
"Kebetulan hari ini aku libur. Kamu sendiri enggak kerja?"
Tomi pun menjawab dengan santai.
"Tadi barusan ijin keluar sebentar. Nanti balik lagi ke kantor." Entah kantor apa, hanya Tomi saja yang tahu.
"Kamu nginap di sini, Ke?" tanya Tomi.
"Iya, Tom. Nemenin mamaku. Kasihan kalau mama sendirian."
Lalu mereka terlibat pembicaraan yang lebih akrab lagi. Meski jaman sekolah, mereka tak begitu akrab. Hanya sesekali saja saling sapa.
Maklum, kasta mereka berbeda. Ike anak orang kaya, sedangkan Tomi hanya anak orang biasa. Bahkan boleh dibilang anak orang yang tak punya.
Tapi entah mengapa, sekarang Ike bisa begitu akrab dengan Tomi.
"Kamu kok sekarang kerja, Ke? Bukannya kamu kuliah?" Tomi memberanikan diri bertanya.
"Sejak papaku sakit-sakitan. Terpaksa aku keluar dari kuliah dan mencari pekerjaan, Tom," jawab Ike dengan lesu. Sepertinya dia menyimpan banyak masalah.
Tapi Tomi tak menanyakannya lebih banyak. Bukan sifatnya mau tahu urusan orang lain.
Malah Ike yang cerita sendiri. Ike seperti menumpahkan semua bebannya.
Tomi mendengarkannya dengan serius. Sambil sesekali mengomentari untuk sekedar menguatkan Ike.
Ternyata Ike pernah berhubungan dekat dengan seorang lelaki. Sayangnya ternyata bukan lelaki baik-baik. Hingga akhirnya lelaki itu berhasil menguras harta orang tua Ike.
"Ya sudah. Anggap itu sebagai pelajaran berharga, Ke. Sekarang jalani saja hidup kamu dengan baik," ucap Tomi dengan bijak.
Jawaban Tomi mampu membuat Ike tenang. Apalagi Tomi menggenggam tangan Ike dengan erat.
Ike merasa sangat nyaman. Hingga mereka lupa kalau harus kembali ke dalam rumah sakit.
__ADS_1