
Suara Rasyid menggelegar dari teras rumah Alya. Semua orang yang sedang makan terkejut.
"Ma. Ayah...." ucap Laras.
Alya menatap wajah Bowo.
"Biar Laras saja yang nemuin, Ma. Kamu jangan ikut campur," ucap Bowo sambil memegang tangan Alya.
"Tapi, Pa..."
"Ma! Nurut sama Papa!" Suara Bowo pelan tapi tegas.
"Iya, Pa." Alya hanya bisa menurut. Dia tak mau ada keributan lagi dengan Rasyid. Apalagi ini di rumahnya. Malu sama tetangga.
Laras berdiri dengan malas.
"Laras ke depan dulu."
"Biar saja dulu, Ma. Katamu Laras kan sudah dewasa. Biar dia ambil keputusan sendiri," ucap Bowo setelah Laras keluar.
Alya mengangguk.
"Mama kan sudah kasih pilihan pada Laras. Biar saja. Papa enggak mau kita ribut lagi sama dia."
"Pulang!" ucap Rasyid setelah Laras sampai di teras.
"Laras mau di sini dulu, Yah," sahut Laras.
"Ayah bilang pulang ya pulang! Atau Ayah akan menyeretmu?" ancam Rasyid.
Wajah Rasyid masih bengkak. Ada luka di pelipisnya yang hanya di beri obat merah saja.
"Tapi, Yah...!"
"Enggak ada tapi-tapian. Sekarang juga kamu pulang!" seru Rasyid.
Beberapa tetangga Alya yang kebetulan ada di luar, melihat ke arah mereka.
Laras jadi merasa tidak enak.
"Iya, Yah. Laras ambil tas dulu. Sekalian pamit," sahut Laras mengalah. Dia pun tak mau ada keributan di rumah mamanya.
Laras masuk ke dalam.
"Ma. Om. Laras pulang dulu," ucap Laras. Lalu dia masuk ke kamar Aldo untuk mengambil tasnya.
Alya hanya bisa menatap anaknya itu dengan perasaan sedih dan kesal pada Rasyid.
Sejak dulu, Rasyid tak pernah berubah. Selalu saja memaksakan keinginannya dengan cara kasar.
Mata Alya berkaca-kaca, membayangkan nasib anak-anaknya yang ikut Rasyid.
Bowo menepuk tangan Alya dengan lembut. Aldo yang merasakan kesedihan mamanya, memeluk dengan erat.
Ya. Andai saja tak ada Aldo, mungkin Alya akan nekat menghadapi Rasyid. Meski dia harus ribut juga dengan suaminya.
"Laras pamit," ucap Laras. Dia menghampiri Alya dan mencium tangan Alya.
__ADS_1
Tak terasa air mata Laras keluar dan membasahi tangan Alya. Laras juga menyalami Bowo.
Tak ada yang berani bersuara. Tak juga Bowo. Dia hanya bisa diam. Bagaimana pun urusan Laras dan Rasyid bukan urusannya.
Rasyid segera menarik tangan Laras.
"Yah, jangan tarik tangan Laras. Laras belum bisa jalan cepat. Perut Laras masih sakit," ucap Laras.
Rasyid melihat sekilas ke perut Laras. Lalu melepaskan tangan Laras. Dia langsung naik ke atas motornya.
Laras juga naik ke motor Rasyid perlahan. Emosi yang rasanya hampir meluap, membuat perut Laras terasa perih.
"Jalannya pelan aja, Yah. Perut Laras belum kuat," ucap Laras.
Rasyid pun mengangguk. Dia melajukan motornya perlahan.
Di tempat makan, Alya terisak.
"Jangan nangis, Ma. Ada Aldo. Nanti dia ikut sedih," ucap Bowo.
Alya menghela nafasnya. Berusaha menghentikan isakannya. Lalu menghapus air matanya.
"Mama nais?" tanya Aldo.
"Enggak, Sayang." Alya memeluk Aldo dengan erat. Aldo pun kembali memeluk Alya.
Aku enggak mau kebahagiaan keluargaku diganggu oleh manusia itu! Aku akan selalu melindungi istri dan anakku ini. Ucap Bowo dalam hati.
Bowo keluar dan mengunci pintu rumahnya. Dia tak mau siapapun datang dan mengganggu keluarganya.
Rasyid dan Laras sampai di rumah. Di sana ada Niken dan Ayu yang menunggu kedatangan Laras.
"Kakak udah sembuh?" tanya Ayu.
"Udah," jawab Laras singkat. Hatinya sangat sedih dan kecewa.
Baru saja tadi Alya dan Bowo menawarinya pekerjaan, sekarang dia harus berada kembali di rumah kontrakan Rasyid.
Rumah kecil dan kumuh yang tak punya fasilitas apapun. Meski bukan itu alasan Laras ingin ikut Alya.
Laras masuk ke kamarnya. Kamar kecil yang berantakan, karena Niken tak pernah mau membersihkan dan membereskan.
"Kenapa kamu pulangnya ke sana?" tanya Rasyid dengan ketus. Dia sudah ada di kamar Laras.
"Mama mau merawat Laras dulu, Yah. Sampai Laras sehat," jawab Laras.
"Memangnya kamu enggak bisa merawat dirimu sendiri?" tanya Rasyid lagi.
"Yah, Laras belum boleh kerja yang berat-berat dulu. Laras mesti bedrest," jawab Laras.
"Kamu bisa bedrest di sini. Memangnya di sini enggak ada kasur?" sahut Rasyid.
"Tapi, Yah. Di sini enggak bisa tenang. Ayah lihat sendiri kan, kamar selalu berantakan. Padahal Laras sudah membereskan," ucap Laras.
Rasyid melihat kamar Laras yang berantakan dan kotor. Sprei tak terpasang. Bantalnya kemana-mana.
Buku berserakan. Baju-baju juga sebagian digantung asal, sebagian lagi teronggok di lantai yang kotor.
__ADS_1
Bekas bungkus makanan ada di mana-mana.
Rasyid berdecak kesal. Ini pasti ulah Niken.
"Niken...!" panggil Rasyid dengan suara keras.
"Iya, Yah!" Niken langsung berlari ke kamarnya.
"Bereskan kamarmu. Biar kakakmu nyaman istirahatnya. Nanti malam kamu tidur di luar!" ucap Rasyid.
Niken pun berdecak kesal. Pasti Laras mengadu lagi pada Rasyid tentang kamar yang berantakan.
"Iya, Yah." Niken tak berani membantah, meskipun kesal.
"Laras, kamu tunggu di kamar Ayu dulu!" ucap Rasyid.
Laras pun beranjak dan jalan perlahan ke kamar Ayu.
Kamar Ayu pun tak kalah berantakannya. Mainan berserakan di mana-mana. Bahkan di tempat tidur pun banyak mainan yang belum dibereskan.
Laras menghela nafasnya.
Laras berpikir, kenapa keluarganya sangat jorok dan pemalas? Baru ditinggal Laras beberapa hari, rumah sudah seperti kapal pecah.
"Kak. Ayu lapar," ucap Ayu pelan. Dia duduk di sebelah Laras.
"Ayu belum makan?" tanya Laras.
Ayu menggeleng.
Laras kembali menghela nafasnya. Di rumah mamanya, banyak sekali makanan. Bukan cuma nasi dan lauk yang enak-enak, buah dan puding pun ada di kulkas.
"Tadi pagi kan, kak Tomi ke sini bawain makanan?" tanya Laras.
Makanan yang dibawa Alya untuk Laras di rumah sakit, tadi pagi dibawa Tomi pulang ke rumah Rasyid.
"Udah abis. Diabisin kak Niken. Ayu cuma dikasih satu bungkus," sahut Ayu.
Ya ampun, itu anak. Sifatnya tak pernah berubah kalau soal makanan. Rakus dan mau menang sendiri.
"Ayah?" tanya Laras.
"Ayah masih tidur, waktu kak Tomi kesini. Dan makanannya diumpetin sama kak Niken semua. Ayu cuma dikasih satu doang," jawab Ayu.
"Heh! Enggak usah ngadu-ngadu, lu! Lagian itu kan makanan dari mamaku!" sahut Niken.
Niken ternyata mendengarkan omongan Ayu dan Laras.
"Dan makanan itu bukan buat kamu! Tapi buat aku! Mana siniin makanannya?" sahut Laras.
Laras sangat kesal pada sifat Niken itu.
"Abis! Kalau mau, tungguin aja di wc besok pagi!" sahut Niken sambil tertawa melecehkan Laras.
Laras langsung meradang. Kata-kata Niken sangat tidak sopan dan menjijikan.
Plak!
__ADS_1
Satu tamparan melayang ke mulut Niken.