
Rasyid terkejut melihat Tomi sudah berdiri di ambang pintu. Tomi pun sebenarnya kaget juga. Tapi dia pura-pura tenang.
Cyntia tersenyum penuh kemenangan. Cyntia merasa lebih aman, karena Tomi datang pas saat Cyntia membutuhkan.
"Ada apa, ini?" tanya Tomi.
Cyntia menolehkan dagunya ke arah Rasyid.
"Ada apa, Om?" tanya Tomi.
"Enggak ada apa-apa," sahut Rasyid dengan kesal.
Tomi datang dan merusak rencananya.
"Aku pulang. Cyntia, ingat permintaanku tadi!" ucap Rasyid pada Cyntia.
Cyntia hanya mengangkat bahunya. Dan membiarkan Rasyid pergi.
Tomi menatap tak mengerti pada calon bapak mertuanya. Rasyid ada di rumah Cyntia. Wanita yang pernah dianggap merusak rumah tangganya.
"Mau apa dia?" tanya Tomi.
"Duduklah dulu. Kita lanjut minumnya," ajak Cyntia.
"Belum habis dari tadi?" tanya Tomi.
"Aku enggak minum lagi. Tom, singkirkan gelas itu! Bekasnya calon mertuamu! Jijik aku!" ucap Cyntia.
Tomi tertawa ngakak. Lalu mengambil gelas itu.
"Kalau perlu, buang aja ke tempat sampah di luar sana!" Cyntia menunjuk keluar.
Tomi hanya mengangkat bahunya sambil terus tertawa.
Tomi meletakan gelas itu di tempat cucian. Lalu mengambil gelas baru.
Tomi membawanya ke depan, lalu mulai menuang minuman ke gelas.
"Nih!" Tomi memberikan satu gelas kecil pada Cyntia.
"Gimana? Ada apa dia kesini?" tanya Tomi.
"Dia mau coba-coba memeras Bowo. Belum tau dia, Bowo orangnya kayak apa?" ucap Cyntia.
"Memangnya kayak apa?" tanya Tomi. Dia sendiri, sedang menyiapkan peluru untuk menyerang Bowo.
"Dia orang yang kuat, Tom. Jangan coba-coba menyenggolnya. Atau...Kek!" Cyntia memberikan tanda di lehernya dengan telapak tangan.
"Wouw, menakutkan!" sahut Tomi. Tapi nadanya seperti meremehkan.
"Memangnya kenapa sampai dia mau memeras om Bowo?" tanya Tomi.
Lalu Cyntia menceritakan semuanya. Dari saat Rasyid datang, sampai akhirnya pergi.
Tomi hanya mengangguk-angguk.
"Kamu udah tau?" tanya Cyntia.
Tomi kembali mengangguk. Lalu menuangi gelasnya lagi.
"Kenapa kamu tak cerita padaku?" tanya Cyntia. Dia menerima gelas dari Tomi dan menenggaknya lagi.
"Aku belum sempat cerita. Kan kamu tau sendiri, kita belum punya waktu begini," jawab Tomi.
__ADS_1
Cyntia mengangguk. Benar juga omongan Tomi. Selalu saja ada orang lain, saat Tomi datang.
"Lalu?" tanya Cyntia.
"Lalu apanya?" Tomi balik bertanya.
"Darimana Rasyid mengetahuinya?" Cyntia melanjutkan pertanyaannya.
"Bisa jadi dia kesana. Laras kan di rumah mamanya," jawab Tomi.
Tomi belum tahu kalau Laras sudah dipaksa pulang oleh Rasyid. Sebab Tomi belum sempat membuka ponselnya.
"Owh. Jadi sekarang Laras tinggal di rumah Alya?" tanya Cyntia.
"Untuk sementara. Aku juga belum tahu kelanjutannya." Lalu Tomi menyalakan ponsel yang sedari tadi dia matikan.
"Kamu katanya ada urusan. Urusan apa?" tanya Cyntia.
"Apa kamu enggak akan marah, kalau aku bicara jujur?" Tomi kembali balik bertanya.
"Masa orang jujur dimarahi. Ada-ada saja kamu, Tom. Katakan saja. Aku mau denger," sahut Cyntia.
Tomi menghela nafasnya dalam-dalam sebelum bicara pada Cyntia.
"Aku berhutang pada Voni," ucap Tomi, mengawali ceritanya.
"Berhutang? Pada Voni?" tanya Cyntia tak mengerti.
Tomi mengangguk.
"Untuk apa?" tanya Cyntia penasaran.
"Untuk membayar biaya Laras di rumah sakit. Aku terpaksa berhutang padanya. Kamu sendiri, sepertinya tak mau membantuku," jawab Tomi.
"Hey! Dia calon istriku. Kalau kamu tak mau membantunya, itu artinya kamu juga tak mau membantuku!" ucap Tomi.
"Mungkin lain halnya kalau dia tak lagi tinggal dengan Rasyid, ataupun Alya. Aku sangat membenci mereka!" sahut Cyntia.
"Oke, kamu membenci Rasyid dan anak-anaknya. Tapi kenapa kamu juga membenci Alya? Bukankah dia yang mestinya....maaf, membenci kamu?" tanya Tomi.
"Karena aku diperdaya Rasyid. Aku juga korban dari Rasyid. Tapi Alya mengata-ngataiku dengan sangat menjijikan. Dan yang paling membuat aku benci, anaknya Rasyid yang nomor dua, ikut juga mengataiku. Bahkan mengusirku!" jawab Cyntia.
"Niken?" tanya Tomi.
"Jangan sebut nama itu. Aku membencinya. Aku bersumpah, akan menghancurkan anak itu, juga semua anak-anak Rasyid!" ucap Cyntia.
Tomi kembali menghela nafasnya.
"Menghancurkan Laras, berarti juga menghancurkan aku," ucap Tomi.
"Kamu tau kan, bagaimana aku mencintai Laras? Aku relakan menjual diriku demi dia," lanjut Tomi.
Cyntia tertawa ngakak.
"Jangan bicara seperti itu. Kedengarannya kamu seperti orang yang dipaksa melakukan ini. Sementara kamu menilmatinya kan, Tom?" tanya Cyntia.
"Ya, pada akhirnya. Dan memang aku harus belajar mencintai pekerjaanku. Kalau tidak, seperti waktu jadi dept collector. Membosankan!" jawab Tomi.
"Ya udah. Berarti tak ada masalah, kan?" tanya Cyntia.
"Sejauh ini. Tapi ya resikonya, Laras bakalan kabur kalau tau yang sebenarnya," jawab Tomi.
"Jangan bodoh, Tom! Jangan lakukan hal konyol lagi, seperti dengan Tasya!" ucap Cyntia.
__ADS_1
"Om Bowo tidak bodoh! Tapi apa yang terjadi? Segala sesuatunya, bisa saja terjadi," sahut Tomi.
"Kebodohan Bowo adalah dia menikahi Alya. Alya itu sudah jadi bagian dari kehidupan Rasyid. Dan si Rasyid sialan itu, akan terus membayangi siapapun yang dekat dengan Alya!" ucap Cyntia.
"Dan kamu juga akan mengatakan kalau aku bodoh?" tanya Tomi.
"Apes!" Cyntia tertawa terbahak-bahak.
Ponsel Tomi mulai aktif. Dan munculah banyak notifikasi. Termasuk dari Laras yang beberapa kali melakukan panggilan.
Tomi tak berniat menelpon balik Laras. Dia hanya membaca pesan chat Laras.
Tomi terdiam.
"Ada apa?" tanya Cyntia.
"Laras. Dia ingin bicara padaku. Dia juga ingin aku secepatnya membawa dia pergi dari rumah Rasyid," jawab Tomi.
Cyntia yang sudah bilang malas membantu, hanya mengedikan bahunya.
"Tolong bantu aku, Madam! Bantu aku membawa keluar Laras!" pinta Tomi.
"Kenapa harus aku?" tanya Cyntia. Dia benar-benar malas membantu Tomi kalau berhubungan dengan Laras.
"Terus aku harus minta bantuan siapa lagi? Aku sudah minta tolong Voni. Yang pada akhirnya dia anggap sebagai hutang. Hutang yang harus aku bayar setiap malam! Wanita gila!" umpat Tomi.
"Hahaha. Hutang kenikmatan!" sahut Cyntia sambil tertawa.
"Kenikmatan bull ****! Dia wanita yang punya kelainan!" maki Tomi.
"Oh ya? Tapi kamu menyukainya, kan?" goda Cyntia.
"Kalau bukan karena hutang, aku tak akan sudi melayaninya!" sahut Tomi.
"Memangnya separah apa?" Cyntia hanya tau slentingan-slentingan saja.
"Sangat parah!" jawab Tomi.
"Mungkin orang seperti itu mestinya dipertemukan dengan Rasyid!" ucap Cyntia.
"Apa Rasyid juga punya kelainan?" tanya Tomi.
"Iya. Sama-sama gila. Pasti cocok! Hahaha." Cyntia kembali tertawa.
Hhh! Tomi mendengus kesal.
"Kenapa? Masih bingung cari tempat tinggal buat Laras?" tanya Cyntia.
Tomi mengangguk.
"Kamu masih ingat dengan penawaran Bowo, kan?" tanya Cyntia.
Tomi mengerutkan dahinya.
"Tentang apartemen yang mau dia pinjamkan untuk kalian," ucap Cyntia.
Tomi mengangguk.
"Ya. Aku ingat," sahut Tomi.
"Ya udah. Mau tunggu apalagi? Toh, bagaimanapun Laras adalah anak Alya. Anak tiri Bowo. Wajarkan kalau kamu menagih janjinya?"
Tomi hanya bisa diam. Dia bingung. Dia seakan masuk ke dalam lingkaran setan.
__ADS_1