
"Pilih baju sesukamu, Ras," ucap Tomi. Sekali-kali dia ingin membahagiakan kekasih hatinya.
"Tapi harganya mahal-mahal, Tom," sahut Laras.
Laras yang biasa beli baju di toko thrift, tercengang melihat harga baju di sebuah toko kenamaan.
Tomi melihat label harganya. Hmm....enggak terlalu mahal. Masih mahal juga sepatu yang pernah dibelikan kliennya.
"Ambil aja, Ras. Sekali-kali boleh kan beli baju mahal?"
"Yang itu aja, ya? Beli dua gratis satu. Kan lumayan, bisa dapat tiga. Harganya juga enggak mahal." Laras menunjuk sebuah box yang berisi baju-baju sale.
"Ini aja. Yang itu udah ketinggalan jaman. Lagi pula biasanya kotor. Udah dicobain orang banyak," tolak Tomi.
"Kan bisa dicuci dulu, Tomi. Sayang uangnya kalau buat beli baju mahal." Laras tetap menolak.
Tomi sampai heran dengan Laras. Kebanyakan wanita pingin beli baju mahal apalagi yang bermerk. Ini disuruh milih malah nolak.
"Ras. Jangan malu-maluin aku, ah."
Tomi mengambil sebuah baju yang masih digantung dengan label new arrival.
"Nih. Cobain di sana." Tomi menunjuk sebuah kamar pas.
Laras mengangguk. Lalu membawa baju itu ke kamar pas.
Sebelum mencobanya, Laras melihat harga baju itu.
Mahal sekali. Ini bisa buat makan satu minggu. Batin Laras.
"Udah belum, Ras? Coba keluar sebentar. Aku pingin lihat!" seru Tomi dari luar.
"Iya, sebentar!" sahut Laras. Lalu buru-buru mencobanya.
"Gimana?" tanya Laras.
"Bagus. Pas banget sama warna kulit kamu. Modelnya cocok. Enggak norak. Enak enggak dipakainya?" tanya Tomi.
Laras mengangguk.
"Ya udah. Nih, yang ini juga dicoba. Kalau kurang pas ukurannya, bisa minta carikan yang pas." Tomi memberikan satu baju lagi buat Laras.
"Dua?" tanya Laras.
"He em. Kurang?"
Laras menggeleng. Dan kembali masuk ke dalam.
Tomi, kamu baik banget sih? Aku jadi makin sayang sama kamu. Gumam Laras.
Laras kembali keluar. Dan Tomi memberikan jempolnya, menandakan dia puas.
"Ganti lagi sana. Abis ini kita cari sepatu sama tas," ucap Tomi.
Laras kembali tercengang. Dua baju terusan ini saja sudah mahal, masih akan membelikannya sepatu dan tas.
__ADS_1
"Udah sana, ganti bajumu," ucap Tomi.
"I...Iya....!" Laras segera masuk lagi. Hatinya berbunga-bunga. Baru kali ini dia membeli baju mahal dan baru juga.
"Mba, tolong buatkan notanya!" pinta Tomi pada SPG yang berjaga.
"Oke. Ini aja?" tanya SPG cantik itu.
"Iya, Mbak," jawab Tomi.
Laras heran dengan pertanyaan SPG itu. Dua baju saja sudah mahal, masih ditanya ini aja.
"Ini, Mas. Barangnya di kassa A, ya?" SPG itu menyerahkan nota pada Tomi.
Tomi mengangguk. Lalu mengajak Laras mencari sepatu dan tas di toko yang sama.
"Kenapa mesti beli sepatu sama tas, Tom?" tanya Laras. Dia tak enak kalau terlalu banyak menghabiskan uang Tomi.
"Biar matching sama bajunya. Masa bajunya baru, sepatunya butut," sahut Tomi tanpa bermaksud menilai sepatu dan tas yang dikenakan Laras sudah butut.
Laras melihat sepatunya. Bagi Laras sepatunya masih layak pakai. Meski umurnya sudah beberapa tahun. Itu pun pemberian teman Rasyid.
Kebetulan teman wanita Rasyid membeli sepatu lewat online shop. Ternyata ukurannya terlalu kecil. Akhirnya dikasihkan ke Laras.
Dan tas yang dipakai Laras, hanya beli di pasar malam.
"Ini bagus, Ras." Tomi mengambil sebuah sepatu berhak tinggi.
"Ketinggian haknya, Tom. Aku takut kesleo," sahut Laras. Dia tak pernah pakai sepatu seperti itu.
"Pakai!" perintah Tomi.
Laras tak bisa menolaknya. Dan benar saja, baru memakai sebelah, Laras hampir jatuh.
"Tuh, kan?"
"Ya kan baru sebelah. Jadi belum seimbang. Pakai satunya!" perintah Tomi lagi.
Laras pun menurut.
"Nah. Begini kan kamu terlihat lebih tinggi. Jadi hampir sepadan sama aku," komentar Tomi.
Laras mengangguk, meski kakinya yang belum terbiasa terasa kaku buat melangkah.
"Udah pas kan, ukurannya?" tanya Tomi.
"Kalau satu nomor lagi di atasnya bisa enggak? Ini terlalu sempit," ucap Laras pelan. Takut Tomi marah. Padahal Tomi hampir tak pernah memarahinya.
"Ya ampun, Laras. Ya boleh, lah. Bilang dari tadi kalau kamu kurang nyaman. Nanti malah kakimu lecet," sahut Tomi.
Laras nyengir.
"Mba! Tolong carikan satu nomor di atasnya," pinta Tomi pada SPG yang berjaga.
Dengan sigap dicarikannya nomor yang diminta Tomi.
__ADS_1
"Wah, sayang sekali nomor itu habis. Apa mau ganti model lain?" SPG itu menawarkan model lain yang lebih tinggi.
Laras melongo. Itu saja dia merasa bakal kesulitan berjalan, apalagi yang lebih tinggi.
Tapi karena Tomi menyetujuinya, Laras tak bisa berbuat apa-apa selain mengangguk.
"Nah, sekarang tinggal cari tasnya. Cari yang agak besar ya? Biar muat bawa barang banyak."
Tomi tak mau dibantah lagi. Lalu dia mengambilkan satu buah tas berwarna senada dengan sepatu Laras.
Gede banget tas ini. Mau buat bawa barang apa? Aku kan enggak punya apa-apa. Batin Laras.
Setelah membayar semuanya, Tomi menyuruh Laras memakai semuanya di kamar pas. Dia pingin jalan dengan Laras dan penampilan barunya.
Laras kembali menurut. Dia lepas semua pakaiannya termasuk sepatu dan tasnya. Ganti yang baru.
Pakaian yang lama, dimasukannya ke tas belanjaan.
"Nah, gitu kan cantik," puji Tomi sambil mengacungkan jempolnya.
"Emangnya tadi enggak cantik?" Laras cemberut.
"Sekarang lebih cantik. Ayo jalan lagi. Kita cari makan. Kamu lapar, kan?" ajak Tomi.
Laras memgangguk senang. Hanya dengan Tomi dia bisa makan enak dan tak ada yang mengganggu.
Yang dengan Beni, Laras rahasiakan. Jangan sampai Tomi tahu. Bisa ngamuk kalau sampai ketahuan Tomi.
Baru beberapa langkah, Laras kesleo.
"Aduh....!" Laras terjerembab.
"Ya ampun, Laras. Hati-hati dong!" Tomi membantu Laras bangun.
Wajah Laras sudah memerah karena malu. Apalagi Tomi, tapi dia pura-pura tak memperhatikan beberapa pasang mata yang melihat mereka.
Sebagian dari mereka berbisik-bisik.
"Ceweknya cantik. Tapi sayangnya norak. Masa pake sepatu high heels segitu aja jatuh," ucap seorang wanita muda dengan gaya sangat modis.
"Orang udik kali. Biasa pake sandal jepit," sahut yang satunya.
Lalu mereka tertawa. Matanya mengarah pada Laras dan Tomi.
Ingin rasanya Tomi mencolok mata kedua gadis muda itu.
"Ayo cepetan jalannya." Tomi menarik tangan Laras.
"Jangan cepet-cepet jalannya. Nanti aku jatuh lagi," ucap Laras.
Tomi menghela nafasnya. Dan terpaksa mengikuti jalannya Laras yang mirip siput.
Tomi menebalkan mukanya. Karena sebagian dari pengunjung toko memperhatikan mereka. Terutama Laras yang jalannya sangat pelan dan hati-hati.
Laras merutuk dalam hati, coba tadi aku menolak sepatu ini. Kenapa aku turuti kemauan Tomi.
__ADS_1
Tomi pun merutuk dalam hati. Niatnya membuat Laras tampil modis seperti gadis kebanyakan, malah jadi malu karena sikap Laras yang norak.