KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS

KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS
Bab 30 LIKE FATHER LIKE SON


__ADS_3

Laras membuka hapenya. Dia kesal karena banyak foto dan video yang dihapus oleh Rasyid. Tapi dia juga takut, Rasyid akan kembali marah karena melihat gambar dan video-video itu.


"Kenapa, Kak?" tanya Niken.


"Ayah tadi buka-buka galery-ku. Bisa kena marah lagi kita," jawab Laras.


"Aku takut, Kak. Janji jangan bilang-bilang ya, soal di sekolahku tadi." Niken begitu ketakutan. Karena kalau soal sekolah, Rasyid tidak ada ampun lagi.


"Ah, aku enggak mikirin itu. Yang aku pikirin gimana nih, entar malem Tomi ama keluarganya mau dateng ke sini," sahut Laras.


"Ya udah, kamu siap-siap aja dari sekarang. Mandi kek, terus dandan yang cantik," saran Niken.


"Itu sih gampang. Tapi kita mau kasih makanan apaan nih? Ayah kan cuma kasih uang lima puluh ribu. Sedangkan kita sekarang laper. Kalau buat beli makan sama makanan, mana cukup?" sahut Laras lagi.


"Udah, yang penting makanan buat tamu aja dulu. Kalau buat kita sih nantilah, gampang." Tumben sekali Niken enggak mikirin perutnya sendiri.


"Oke deh. Kira-kira beli makanan apa, ya?" tanya Laras.


"Di ujung jalan sana banyak tukang jualan makanan, Kak. Beli aja yang harga seribuan. Kan dapet banyak, tuh," saran Niken.


"Ya udah, kalau begitu anterin yuk," pinta Laras.


Dengan senang hati, Niken mengiyakan. Kan lumayan, dia bisa ikutan icip-icip di sana.


"Yah, pinjem motornya. Kita mau beli makanan."


Rasyid merogoh kantong celananya.


"Nih. Beli yang banyak dan enak. Jangan malu-maluin Ayah," ucap Rasyid.


Laras bengong. Bagaimana bisa dapet banyak dan enak, kalau uangnya mepet.


"Udah sana! Jangan bengong aja!"


"I...Iya, Yah." Laras langsung menyambar kunci motor.


"Niken...! Kamu mau ikut enggak?" teriak Laras yang sudah di atas motor.


"Iya! Tunggu, Kak!" Niken segera mencari topinya.


"Ayo, cabut!" Niken langsung nyemplak di boncengan.


Laras pun langsung tancap gas. Sampai di sana, warung kue yang dimaksud ternyata tutup.


"Yaa...kok tutup. Coba kamu tanya warung sebelahnya, sana!" Laras menyuruh Niken turun.

__ADS_1


"Bu. Warung kuenya kok enggak buka?" tanya Niken.


"Ooh. Lagi libur dari kemarin, Neng," jawab ibu warung sebelahnya.


"Tutup, Kak. Dari kemarin katanya," ucap Niken pada Laras.


"Ya udah, kita cari warung lain." Laras melajukan motornya lagi.


Setelah muter-muter cukup jauh, baru ketemu warung lagi yang jual makanan.


"Kak, aku boleh makan satu ya?" Tanpa menunggu persetujuan Laras, Niken memakan satu.


"Yang ini enak, Kak." Niken menyuapkan ke mulut Laras.


"Iya, enak. Ini enak enggak ya?" Laras juga memakan kue lainnya.


Dan akhirnya mereka mendapatkan cukup banyak kue.


"Udah, yuk. Aku kan mesti nyiapin minumannya juga," ajak Laras.


Sementara Tomi yang tadi sedang main di rumah temannya, kembali ke rumah kontrakan orang tuanya.


"Pak, Bu. Nanti malam ikut Tomi, ya?"


"Kemana?" tanya bapaknya yang sedang menambal ban di bengkel kecilnya.


"Ngawur aja kamu. Mau ke rumah calon istri kok dadakan. Kayak tahu goreng aja!" sahut ibunya, lalu masuk ke dalam.


"Bu! Tomi belum selesai bicaranya."


Hardi, bapaknya Tomi hanya menatap anaknya sebentar. Tomi mengejar Lastri, ibunya, ke dalam.


"Bu, nanti malam mereka mengundang kita," ucap Tomi.


"Memangnya kamu benar-benar serius sama Laras?" tanya Lastri.


Tomi sudah pernah membicarakan tentang Laras pada kedua orang tuanya.


"Serius, Bu. Ibu setuju, kan?"


"Memangnya kalau Ibu enggak setuju, kamu mau?" tanya balik Lastri.


"Ya enggak. Pokoknya bapak sama ibu harus setuju," jawab Tomi kekeh.


"Ya sudah. Mau naik apa kesananya?"

__ADS_1


"Nanti Tomi pinjam mobil Yoga. Tapi Ibu jangan bilang itu mobil pinjaman. Bilang aja itu mobil Tomi," ucap Tomi. Dia sudah terlanjur bilang ke Laras, kalau dia sudah punya mobil sendiri.


"Kamu itu! Sama calon istri kok bohong. Terus kalau dia jadi istri kamu, gimana?" tanya Lastri.


"Ya enggak gimana-gimana. Nanti gampanglah diatur. Nanti abis maghrib, Ibu siap-siap. Tomi mau ke rumah Yoga lagi, pinjem mobil." Tomi pergi begitu saja.


Yoga adalah teman Tomi yang paling baik. Dia anak orang kaya beneran. Dia juga punya mobil pribadi yang sering dipinjam Tomi buat ngapeli cewek-cewek.


"Kemana lagi anak kamu, Bu?" tanya Hardi yang sudab selesai menambal ban.


"Katanya mau ke rumah Yoga. Pinjem mobil," jawab Lastri sambil menyuapi adik Tomi yang menderita celebral palsy atau lumpuh otak sejak bayi. Meski usianya sudah cukup dewasa, tapi dia tak bisa melakukan apa-apa sendiri. Sejak bayi harus selalu dibantu.


Tomi memiliki empat orang adik. Tiga yang lain tumbuh normal. Hardi hanya seorang tukang tambal ban dan montir kecil-kecilan di depan rumah kontrakannya.


Dulunya dia bekerja di sebuah bengkel besar. Karena pernah melakukan kesalahan, dia dipecat dari pekerjaannya.


Sedangkan Lastri terlanjur menjadi seorang pengangguran. Dulunya dia bekerja di sebuah pabrik garment sebelum menikah.


Setelah menikah, Hardi melarangnya bekerja. Karena Lastri sudah hamil duluan. Hardi mau Lastri fokus menjaga kandungannya. Saat itu penghasilan Hardi cukup lumayan.


Lastri malah hampir setiap dua tahun sekali melahirkan. Karena dia sering lalai mengkonsumsi pil KB. Hingga anak mereka lima.


Setelah melahirkan yang kelima, dokter menyarankan Lastri untuk steril, karena anaknya sudah terlalu banyak.


Tomi sebagai anak pertama, mestinya bisa membantu ekonomi keluarganya setelah lulus SMA. Tapi kenyataannya, Tomi hanya jadi pengangguran.


Baru sebulan ini kerja sebagai dept collector. Itu pun masih masa training.


Sehari-hari Tomi bekerja menggunakan motor Hardi yang sudah butut. Tapi kalau ngapeli cewek, dia memanfaatkan mobil Yoga.


"Ga, aku pinjam mobilnya lagi ya? Aku mau ngenalin orang tuaku ke orang tuanya Laras," ucap Tomi setelah sampai di rumah mewah Yoga.


"Wah, sorry Tom, nanti malam aku janji mau nganter mamaku. Mobilnya lagi masuk bengkel," sahut Yoga.


"Waduh, padahal aku butuh banget. Masa iya kita kesana naik motor bertiga? Kalau besok sore bisa kan, Ga?" Tomi tetap memaksa.


"Besok aku usahain, deh. Moga-moga mobil mamaku sudah beres."


Tomi pun mengabari ibunya kalau acaranya di tunda besok malam. Tomi juga mengabari Laras. Alasannya dia ada meeting mendadak di luar kota.


"Di tunda katanya, Pak. Besok malam," ucap Lastri.


"Bapak malah maunya enggak jadi aja. Kita kan belum siap, Bu," sahut Hardi.


"Ibu juga maunya begitu. Tapi anakmu kayaknya udah kebelet kawin."

__ADS_1


"Kebelet kawin, kayak udah punya penghasilan yang bener aja!" Hardi kembali ke bengkel kecilnya.


Latri terkekeh sendiri. Sama persis seperti Hardi dulu. Saking kebeletnya sampai membuatnya mlendung duluan.


__ADS_2