KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS

KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS
Bab 90 MENCARIKAN PEKERJAAN


__ADS_3

"Yah, Laras cariin kerjaan dong," pinta Laras pada Rasyid.


"Mau kerja apa kamu?" tanya Rasyid sambil terus asik chating.


"Apa aja deh, Yah. Laras pingin punya pengalaman. Bosan di rumah terus," jawab Laras.


Sudah dua tahun sejak lulus SMA, Laras hanya di rumah saja. Rasyid tak pernah mengijinkan Laras kerja diluar. Dia lebih suka Laras menjadi penulis di media online meski bayarannya tak tentu.


"Biasanya juga kan kamu rajin menulis. Terusin aja, biar karyamu makin banyak dan makin bagus," sahut Rasyid.


Dia lebih bangga Laras menjadi penulis daripada hanya sekedar jadi pelayan toko.


"Itu kan bisa sambil kerja, Yah. Lagi pula, kalau di rumah terus, suka kehabisan inspirasi, Yah," ucap Laras.


"Tomi gimana kabarnya? Kapan dia akan melamarmu?" Rasyid kembali teringat pada janji Tomi yang akan segera melamar Laras.


"Melamar kan butuh modal yang enggak sedikit, Yah. Tomi mesti ngumpulin uangnya dulu. Katanya dia tak mau merepotkan kedua orang tuanya," sahut Laras.


Walaupun sebenarnya Laras khawatir juga kalau sampai Tomi mengingkari janjinya. Sementara dia sudah menyerahkan kesuciannya.


"Kamu tanyakan saja lagi ke Tomi. Kalau nanti kamu sudah menikah, kan enggak perlu kerja. Tomi yang akan memenuhi semua kebutuhan kamu," ucap Rasyid.


Sebenarnya Rasyid tetap tak setuju dengan keinginan Laras. Dia khawatir anak gadisnya yang cantik, jadi mangsa laki-laki hidung belang di luar sana.


"Tomi pasti setuju, Yah. Atau nanti biar Laras minta Tomi saja yang nyariin," ucap Laras, lalu dia masuk ke kamarnya. Malas berdebat dengan Rasyid yang selalu banyak alasan.


Rasyid hanya menghela nafasnya. Laras punya sifat yang keras. Kalau punya keinginan harus dipenuhi. Dan biasanya dia akan mengurung diri di kamar sampai keinginannya terwujud.


Rasyid mengambil kunci motornya. Dia akan ke counternya Willy. Siapa tahu di sana butuh tambahan karyawan. Sekalian juga menanyakan hape Niken yang dibawa Tanto.


Rasyid lebih percaya Laras kerja di sana. Dia sudah mengenal Willy yang mantan teman sekolahnya dulu, daripada kerja di tempat lain yang belum tahu lingkungannya.


Meskipun kalau di tempat Willy, Laras hanya sebagai penjaga counter saja. Laras pasti akan punya banyak waktu untuk tetap menulis novel-novelnya yang masih ongoing.


Nantinya Laras juga bisa mempromosikan novel online-nya pada pelanggan counter. Biar semakin banyak pembacanya. Begitu pikir Rasyid.


"Ras, Ayah ke counternya om Willy dulu. Siapa tau ada lowongan pekerjaan di sana," ucap Rasyid di depan pintu kamar Laras.


Laras yang tadi tidur menelungkupkan badan, langsung berbalik. Matanya berbinar mendengar Rasyid mau menuruti keinginannya.


"Iya, Yah. Laras boleh ikut?" tanyanya.

__ADS_1


"Enggak usah. Nanti Ayah sekalian jemput Ayu." Rasyid langsung meninggalkan Laras yang mengerucutkan bibirnya.


Setelah Rasyid pergi, Laras segera bangun. Dia membuka lemari dan membongkar isinya.


Laras memisahkan pakaian-pakaian yang nantinya akan dia pakai kalau sudah bekerja. Baru saja dikasih lampu kuning, Laras sudah berangan sangat jauh.


Laras juga membersihkan sepatunya. Meski hanya satu pasang, tapi bagi Laras itu sudah cukup. Yang penting tidak memakai sandal jepit.


Rasyid sampai di counter Willy. Pemiliknya sedang serius menelpon. Dan sepertinya Willy sedang marah, entah pada siapa. Rasyid hanya menatapnya saja.


"Hallo, Wil. Serius amat. Telpon siapa?" tanya Rasyid.


Dari dulu Rasyid dan Willy teman akrab. Meski sebenarnya Willy kurang suka dengan karakter Rasyid yang sering mencuranginya.


"Si Tanto. Sudah beberapa hari ini dia enggak masuk kerja," jawab Willy masih dengan muka asem.


"Oh, iya. Mana tuh bocah? Hapenya Niken dibawa dia. Katanya mau diperbaiki," tanya Rasyid.


"Udah aku pecat!" sahut Willy ketus. Sebenarnya dia marah pada Tanto, malah Rasyid yang jadi sasarannya.


"Hah? Di pecat? Terus gimana nasib hape anakku, Wil?" tanya Rasyid.


Willy hanya mengangkat bahunya. Karena setahunya di counter tak ada laporan tentang hape Niken yang diservice.


"Gue juga jawab serius! Orangnya baru saja gue pecat. Dan kalau soal hape anakmu, aku enggak tahu. Kan enggak lewat counter kan, service-nya?" Willy tak mau kalah ketus.


"Ya enggak sih. Orang kamu bilang, hapenya Niken udah enggak bisa diperbaiki lagi," sahut Rasyid.


"Ya emang enggak bisa. Kan udah aku bilangin, kalau hape itu mati total." Willy masuk meninggalkan Rasyid yang melongo.


Ilang deh hape Niken. Mana dia enggak tahu rumahnya Tanto. Nomornya Tanto pun, Rasyid enggak tahu.


Rasyid masih saja duduk di depan etalase. Pastinya sambil membuka medsosnya. Sudah saatnya dia mencari mangsa baru yang lebih tajir dari sebelum-sebelumnya.


Dan harus dipastikan kalau tak bermasalah lagi seperti saat dengan Ratih. Rasyid kapok kalau mesti bonyok lagi.


Willy keluar lagi. Dia menatap Rasyid yang sedang senyum-senyum sendirian.


Enak sekali hidup manusia satu ini. Tak punya pekerjaan tapi masih bisa senyum terus, batin Willy.


Sebenarnya Willy eneg melihat sikap Rasyid. Tapi untuk mengusirnya, dia juga tak tega.

__ADS_1


"Bro, anakku Laras pingin kerja. Ada kerjaan enggak buat dia?" tanya Rasyid. Dia tak mau menyia-nyiakan kesempatan lagi. Jangan sampai tau-tau Willy pergi dan tidak kembali lagi.


"Anak kamu lulusan apa?" tanya Willy dengan malas. Dia berfikir, bapaknya saja pemalas, bagaimana dengan anaknya.


"SMA. Dia lulus dengan nilai cukup baik, lho. Dia juga seorang penulis." Rasyid berniat mempromosikan Laras.


"Waduh! Di sini enggak butuh seorang penulis. Tapi orang yang mau kerja keras dan jujur," sahut Willy.


Promosi Rasyid tidak tepat sasaran.


"Kalau itu pasti. Laras type pekerja keras." Rasyid kembali memuji anaknya.


"Pengalaman kerja?" tanya Willy sambil mengutak atik hape milik pelanggannya yang sedang diservice.


"Ya itu tadi. Penulis. Karyanya sudah banyak," jawab Rasyid.


"Kan udah aku katakan tadi. Di sini enggak butuh penulis. Tapi seorang yang cekatan melayani pelanggan," sahut Willy dengan kesal.


"Tenang aja, Bro. Laras pasti sanggup. Dia kan masih sangat muda. Cantik juga." Rasyid tertawa bangga.


Diantara ketiga anak Rasyid, memang Laras yang paling cantik dan rajin.


"Bisa ya, Bro? Daripada kerja di tempat lain. Aku enggak percaya," ucap Rasyid.


Willy menatap wajah Rasyid yang terlihat serius.


"Ya udah. Besok bawa ke sini anakmu. Tapi training dulu, ya. Seminggu. Kalau dalam waktu seminggu ternyata enggak mampu, terpaksa aku keluarkan tanpa gaji."


Willy sengaja mengatakannya supaya Rasyid tidak jadi meminta anaknya kerja di tempatnya.


"Tega amat! Masa kerja enggak dibayar," sahut Rasyid.


"Kalau kerjanya enggak becus, masa aku harus membayarnya? Yang ada aku malah tekor," Willy tak mau dikatakan tega.


"Oke deh. Besok pagi, aku bawa Laras ke sini. Aku minta nomornya Tanto sini. Aku mau minta hape anakku. Enak aja itu anak. Hapenya Niken dibawa kabur," ucap Rasyid.


Willy tertawa.


"Mana ada orang yang mau bawa kabur hape matot? Paling juga udah buat ngelempar anj*ng."


Rasyid berdiri. Dia menatap Willy dengan kesal. Karena dia merasa Willy tak menghargai miliknya.

__ADS_1


Lalu tanpa pamit, dia pergi meninggalkan counternya Willy. Rasyid lupa kalau Willy bakal jadi calon majikan anaknya.


__ADS_2