KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS

KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS
Bab 128 BUTUH DEKAPAN


__ADS_3

"Ada! Mau berapa slop?" tanya Yanti dengan ketus.


"Widiih...Ketus amat suaranya. Mana suara desahanmu yang merdu?" ledek Rasyid dengan wajah sok imut.


Yanti kembali melotot. Ingin rasanya dia lempar pakai gula pasir yang sedang ditimbanginya.


Untung saja Yuni sudah pergi. Kalau belum, bisa jadi gosip panas di kampungnya.


"Jangan ungkit-ungkit lagi! Mau beli apa? Cepetan!" seru Yanti.


"Rokok, Sayangku...." ucap Rasyid dengan suara menggoda.


Yanti segera mengambilkan rokok yang biasanya.


"Nih!"


"Dua, Cinta...!" Rasyid terus saja menggoda Yanti.


Yanti segera mengambilkan satu lagi. Dan saat memberikannya, Rasyid menangkap tangan Yanti.


"Iih, lepasin!" Yanti mengibaskan tangannya. Matanya melihat ke luar warung. Dan tatapan matanya bertemu dengan tatapan mata Yuni yang penuh dengan ejekan.


Mati aku! Si Yuni melihatnya!


"Mana uangnya!" pinta Yanti dengan berang.


"Nih. Sisanya besok pagi." Rasyid memberikan lembaran duapuluh ribuan. Jelas saja kurang.


Yanti menatapnya dengan kesal. Selalu saja begitu. Kalau enggak ngutang, pasti uangnya kurang.


"Utangmu sudah numpuk!" seru Yanti.


"Catat aja. Nanti aku bayar dengan kenikmatan. Hahaha." Lalu Rasyid pergi begitu saja. Tak lupa tangannya memberikan kissby untuk Yanti.


"Cuih! Enggak akan sudi lagi aku melayanimu! Dasar tukang ngutang!" seru Yanti.


Rasyid tak mempedulikannya. Baginya yang penting sudah mendapatkan apa yang diinginkannya.


Di seberang sana, Yuni tertawa ngakak dan masuk ke dalam rumahnya.


Yanti mendengus dengan kesal. Ingin rasanya berteriak memaki Rasyid dan juga tetangganya itu yang telah menertawakannya.


Dia pikir aku wanita gampangan? Dasar laki-laki enggak tahu diri! Laki-laki maunya gratisan!


Yanti terus saja memaki Rasyid yang sudah pulang ke rumahnya dan sedang menghisap rokok hasil ngutang.


Rasyid kembali asik dengan medsosnya. Dia sudah tak mempedulikan Yanti lagi. Toh, tak mungkin juga Yanti menagih ke rumahnya.


Tak lama datang tetangga Yanti yang lainnya. Pastinya untuk belanja di warung sembakonya Yanti.


"Beli apa, Bu?" tanya Yanti dengan ramah.


"Aku mau beli mie instan. Dua aja. Sama telurnya seperempat," jawab Nani.


Yanti mengambilkan pesanan Nani.

__ADS_1


"Mbak Yanti sama pak Rasyid mesra banget, ya?"


Yanti terkesiap mendengarnya.


"Mesra bagaimana?" tanya Yanti.


"Ya....kayak tadi itu. Pegang-pegangan tangan. Pak Rasyid pergi juga kasih kissby. So sweet," jawab Nani.


Glek.


Yanti berasa ingin pingsan. Rupanya Nani melihat adegan tadi. Meskipun kenyataannya tak seperti itu.


Nani hanya melihat dari kejauhan saja. Jadi dikiranya mereka sedang berpegangan tangan.


"Enggak, Bu. Ibu salah lihat. Pak Rasyidnya aja yang genit. Pegang-pegang tangan saya," elak Yanti.


"Iya juga enggak apa-apa, Mbak. Kalian kan sama-sama single," sahut Nani.


"Iih, mending jadi janda seumur hidup deh, daripada sama Rasyid yang pengangguran. Mana anaknya banyak, lagi. Yang ada malah saya yang ngasih makan mereka," sahut Yanti dengan kesal.


"Eh, ati-ati lho, Mbak. Omongan adalah doa. Entar didengar malaikat, bisa kejadian lho," ucap Nani.


"Mau didengar malaikat kek, didengar iblis kek. Saya tetep ogah sama Rasyid. Najis!"


"Ya sudah. Semua jadi berapa belanjaan saya?"


Yanti menghitungnya. Dan setelah membayar, Nani segera pergi.


Nani berhenti di depan rumah Yuni. Kebetulan Yuni lagi nyapu teras rumahnya.


Dan terjadilah apa yang dikhawatirkan Yanti. Mereka berghibah membicarakan Yanti dan Rasyid.


Padahal jarak mereka dengan warungnya Yanti lumayan jauh. Jadi enggak mungkin Yanti mendengarnya.


Dada Yanti naik turun menahan kesal. Matanya sudah memerah.


Dan lebih kesal lagi, saat beberapa ibu-ibu yang sedang berjalan, ikut bergabung. Entah apa yang dibicarakan mereka.


Yanti merasa semakin emosi. Dia merasa semua orang sedang membicarakannya.


Saking kesalnya, Yanti menarik rolling door warungnya dengan kencang.


Setelah warungnya tertutup, Yanti berlari ke kamarnya dan menangis sejadi-jadinya. Kepalanya menelusup ke bawah bantal.


Dia sangat kesal pada tetangga-tetangga yang membicarakannya. Dia juga sangat kesal pada Rasyid yang tadi datang dan membuat semakin kacau.


Dan satu hal lagi, Yanti sangat menyesali kebodohannya yang mau saja melayani nafsu bejadnya Rasyid.


Jam satu siang, Beni pulang ke rumah. Seperti hari-hari biasanya. Karena Yanti pasti sudah memasakan untuk anak satu-satunya itu.


Beni melihat warung ibunya tutup.


Tumben tutup. Apa ibu pergi? Kok enggak bilang aku? Beni bertanya-tanya dalam hati.


Lalu Beni menaikan motornya ke teras. Beni selalu membawa kunci cadangan. Jadi seandainya Yanti pergi, Beni tetap bisa masuk ke rumah.

__ADS_1


Saat Beni sampai di depan pintu, ternyata tidak dikunci. Beni semakin curiga. Jangan-jangan ibunya sakit di dalam.


Beni membuka pintunya perlahan. Dan sayup-sayup terdengar suara tangisan.


"Ibu?" gumam Beni.


Beni menuju kamar Yanti. Dia yakin suara itu berasal dari sana.


Dan benar saja. Yanti sedang menangis sambil menelungkup dan kepalanya di bawah bantal.


"Ibu....! Ibu kenapa?" Beni menghampiri Yanti.


Yanti menyingkirkan bantalnya. Lalu bangkit dan memeluk Beni dengan erat.


"Ibu kenapa?" tanya Beni lagi.


Yanti terus saja menangis. Sepertinya belum puas dia menangis sendirian dari tadi.


Beni menepuk-nepuk punggung Yanti perlahan. Berusaha memberikan rasa nyaman. Dia biarkan Yanti menumpahkan semuanya lewat tangisan.


Setelah puas menangis, Yanti melepaskan pelukannya. Tangannya mengelap ingus dari hidungnya yang terus keluar.


Beni memberikan tissue yang ada di meja dekat tempat tidur Yanti.


"Udah nangisnya?" tanya Beni setelah Yanti tak lagi menangis. Hanya tinggal sesenggukan.


"Beni ambilin minum, ya?"


Yanti mengangguk.


Buru-buru Beni mengambilkan air putih. Dan memberikannya pada Yanti.


"Minum dulu, Bu. Biar lebih tenang."


"Makasih, Ben," sahut Yanti setelah menghabiskan minumannya.


"Ibu mau cerita sama Beni?" tanya Beni perlahan.


Yanti mengangguk. Lalu menyusut ingusnya lagi.


"Ibu kenapa? Cerita sama Beni. Beni akan dengarkan."


Yanti menghela nafasnya lalu membuangnya perlahan. Mencoba menenangkan dirinya.


Beni dengan sabar menunggui Yanti siap cerita. Tangannya meraih tangan Yanti yang tak memegang tissue dan menggenggamnya.


Yanti mendapatkan kedamaian lewat genggaman Beni. Dan setelah benar-benar tenang, Yanti memulai ceritanya.


Yanti menceritakan tentang kejadian di warungnya tadi. Mulai dari Yuni yang meledeknya dengan Rasyid. Rasyid yang datang dan menggodanya. Lalu Nani yang melihatnya dan menganggap ada sesuatu dengan Yanti dan Rasyid. Sampai ibu-ibu yang menurut Yanti sedang mengghibahinya.


Beni mendengarkannya dengan fokus. Dan karena Yanti tak menceritakan perbuatan mesumnya dengan Rasyid, Beni menyimpulkan bahwa Rasyidlah yang mengejar-ngejar Yanti.


"Kalau memang tak ada hubungan apapun, Ibu tak perlu terpengaruh omongan orang lain. Abaikan saja, Bu. Dan abaikan juga kalau om Rasyid menggoda ibu. Nanti Beni bilang ke Laras, biar bilang ke ayahnya, jangan menggoda ibu lagi," ucap Beni.


Yanti terpaksa mengangguk. Dia harus tetap menyimpan hubungan sesaatnya dengan Rasyid dari siapapun. Termasuk Beni.

__ADS_1


Dan biarlah Beni menganggap Rasyid yang kurang ajar padanya. Bisa jadi itu sebuah alasan yang tepat, biar Beni menjauhi Laras.


Yes. Yanti tersenyum senang dan lebih tenang.


__ADS_2