KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS

KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS
Bab 78 KAMAR HOTEL ATAS NAMA KLIEN


__ADS_3

Pagi-pagi Tomi baru saja bangun. Dilihatnya Maya sudah berpakaian rapi.


"Mau kemana?" tanya Tomi sambil menaikan lagi selimutnya. Udara dari AC lumayan dingin.


"Pagi ini, rencananya suamiku pulang. Aku harus ada di rumah sebelum dia datang. Kamu kalau masih ngantuk, tidur lagi aja. Check out sampai jam dua belas siang, kok," jawab Maya sambil membetulkan blouse-nya.


Tomi masih enggan menjawab. Maklum saja, nyawanya belum kumpul. Dia hanya memandangi Maya yang terlihat segar.


"Oh iya, nanti kamu kirim nomor rekeningmu. Biar aku transfer. Aku pergi dulu." Tanpa menoleh lagi, Maya keluar dari kamar dan meninggalkan Tomi begitu saja.


Tomi berdecak kesal. Karena dia masih ingin menikmati kehangatan tubuh Maya. Tapi, apa mau dikata. Tugasnya hanya melayani Maya saat diperlukan saja.


Lalu dia beranjak dari tempat tidur dan mengunci pintu kamar. Jangan sampai ada orang yang nyelonong masuk, sementara dia masih berbalut selimut saja.


Tomi meraih hapenya. Masih jam lima pagi. Pantas saja dia masih mengantuk.


Sejenak dia berfikir. Itu artinya masih ada sisa waktu tujuh jam, sampai saatnya check out nanti. Sayang sekali kalau dia tidak memanfaatkan kamar yang mewah seperti ini.


Lalu Tomi menelpon Laras. Dia mau Laras menenaminya pagi ini. Lumayan lah buat olah raga pagi setelah semalam bertempur habis-habisan.


"Hallo, Ras. Udah bangun belum?" tanya Tomi. Suara Laras masih parau. Otaknya belum konek. Nyawanya juga masih belum ngumpul.


"Udah. Ada apa?" Laras mengucek-ngucek matanya.


"Mandi gih. Terus kesini. Nemenin aku," ucap Tomi dengan lembut. Dia berharap Laras tak lagi marah.


"Nemenin di mana?" tanya Laras. Dia melirik ke jam di dinding kamarnya. Masih jam lima pagi.


"Aku ada di hotel de rose. Kamu tau letaknya, kan? Kamu kesini naik ojek online aja. Nanti aku ganti ongkosnya," jawab Tomi.


"Pagi-pagi begini kamu di hotel? Ngapain? Sama siapa?" Laras langsung ngomel. Kepalanya serasa mau meledak.


"Aku dari semalam kan disini, Ras. Semalam mau nyuruh kamu kesini, enggak enak. Karena teman-temanku masih ngumpul. Terus aku ketiduran. Ya sudah, sekarang baru sempat kabarin kamu," sahut Tomi berbohong.


"Kamu mau kan, kesini?" tanya Tomi.


"Iya, tapi aku mandi dulu," jawab Laras. Dia penasaran, Tomi disana sama siapa.


"Oke, aku tunggu. Tapi jangan kelamaan. Jam dua nanti, aku ada rapat lagi di luar kota." Lalu Tomi menutup telponnya.


Jelas saja, karena jam dua belas dia mesti check out. Lalu mengantar Laras pulang.


Lalu Tomi bergegas mandi. Dia mau membersihkan semua bekas Maya dari tubuhnya. Juga dari kamar ini.


Tak butuh waktu lama untuk mandi, asal ilang saja bekas wangi parfum Maya dari tubuhnya.


Selesai mandi, Tomi membereskan kamar yang berantakan dan semua sisa-sisa makanan dan minuman.

__ADS_1


Beres. Laras enggak akan curiga. Kalaupun dia tanya soal dengan siapa aku semalam di mall, bilang saja klienku.


Memang benar kan, Maya itu klienku. Dan aku harus melayani klien dengan baik. Laras enggak akan curiga. Apalagi kalau aku kasih uang ganti ongkos yang lebih. Pasti dia akan diam.


Tomi baru ingat kalau dia belum mengirimkan nomor rekeningnya ke Maya. Jangan sampai Maya lupa dan dia mesti menagihnya seperti dept collector.


Sepuluh menit setelah Tomi mengirimkan nomor rekeningnya, Maya sudah mengirimkan bukti transfernya.


Ah, sayang sekali aku enggak punya m-banking. Aku enggak bisa mengeceknya. Nanti siang saja aku akan ke bank, setelah mengantar Laras pulang. Aku akan urus m-banking.


Aku harus mulai memilikinya. Malu kan, klienku orang-orang modern, sementara aku masih konvensional. Batin Tomi.


Tak lama, Laras mengirimkan pesan kalau dia sudah pesan ojeg online. Tomi pun memberitahukan nomor kamarnya.


"Kakak mau kemana?" tanya Niken. Dia baru mau bersiap ke sekolah.


"Mau ketemu Tomi," jawab Laras, lalu keluar dari kamarnya.


"Pagi-pagi begini?"


Laras hanya melirik saja. Malas sekali meladeni pertanyaan kepo dari adiknya.


"Mau kemana, Ras?" tanya Rasyid yang baru bangun.


"Mau ke hotel de rose, Yah. Tomi ada di sana. Dia minta Laras menenami sampai siang nanti, sebelum rapat keluar kota," jawab Laras. Dia menjawab seperti yang dikatakan Tomi tadi.


"Iya. Dari semalam katanya. Udah dulu ya, Yah. Tuh, ojeg online-nya udah dateng." Laras menunjuk keluar rumah dengan dagunya. Lalu meraih tangan Rasyid dan menciumnya.


"Hati-hati, Ras. Kalau ada apa-apa, telpon Ayah," ucap Rasyid. Dia selalu mengkhawatirkan anak-anaknya kalau pergi tanpa dirinya.


Laras sudah tak mendengarnya, karena berjalan dengan cepat keluar rumahnya.


Seorang pengemudi ojeg online sudah menunggunya.


"Mbak Laras, ya?" tanyanya.


"Iya."


Driver itu memberikan helm pada Laras.


"Makasih." Laras segera mengenakannya.


"Hotel de rose ya, Mbak?" tanya driver.


"Iya, Mas. Jalannya agak cepet ya? Soalnya saya udah ditunggu," sahut Laras.


Si driver pun segera melajukan motornya menuju ke hotel yang dimaksud Laras.

__ADS_1


"Mau ketemu siapa, Mbak?" tanya driver saat lampu merah.


"Calon suami saya, Mas," jawab Laras.


"Oh."


Begitu lampu hijau, motor langsung melaju kencang sesuai permintaan Laras.


Sampai di lobby hotel, Laras menanyakan kamar yang diberitahukan oleh Tomi.


"Kamar atas nama Maya Savira, ya?" tanya resepsionis cantik yang berjaga.


Laras mengerutkan dahinya. Bukannya Tomi yang tidur di kamar itu? Kenapa namanya Maya Savira?


"Mm....Iya." Laras mengiyakan saja. Nanti dia akan menanyakan pada Tomi, siapa itu Maya Savira.


"Ada di lantai tiga. Cari aja nomornya di sana. Mbaknya naik lift itu." Si resepsionis cantik menunjuk ke arah lift dengan sopan.


"Makasih, Mbak." Laras segera menuju lift.


Sampai di lantai tiga, Laras keluar dari lift. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri. Bingung juga berada di tempat baru yang masih sepi. Maklum saja, masih terlalu pagi. Para penghuni kamar pastinya masih lelap di balik selimut tebalnya.


"Mau cari siapa, Mbak?" tanya seorang petugas kebersihan.


"Saya mau cari kamar nomor 305," jawab Laras.


"Oh, itu Mbak. 305." Petugas itu menunjuk sebuah kamar yang tak jauh dari pintu lift.


"Makasih, Mas." Laras segera menuju kamar yang dicarinya.


Laras mengetuk pintunya, dan keluarlah Tomi dengan pakaian yang sudah rapi.


"Hallo, Sayang." Tomi langsung meraih tubuh Laras dan memeluknya.


"Kangen sama kamu, Ras," ucap Tomi di telinga Laras, membuat Laras merinding.


"Ayo, masuk," ajak Tomi. Lalu menutup lagi pintunya.


Laras masuk dan menelisik seisi kamar. Tak ada tanda-tanda orang lain di kamar itu.


"Tadi aku nanya ke resepsionis. Kok kamarnya atas nama Maya Savira?" tanya Laras to the point.


Mata Tomi langsung terbelalak. Mati aku!


"Dia.... Dia, klienku. Kamar ini memang atas nama dia. Tapi....aku yang pakai dari semalam," jawab Tomi tergagap.


Laras memandang Tomi tak percaya. Masa kamar hotel atas nama klien.

__ADS_1


__ADS_2