
Rasyid kembali ke tempat duduknya. Dia tatap wajah Niken dengan tajam.
Niken malah menundukan wajahnya. Dia tak berani lagi menatap wajah Rasyid. Apalagi membantahnya.
"Makan! Jatah semua sama. Jangan coba-coba berbuat curang!" ucap Rasyid dengan ketus.
Niken hanya mengangguk, lalu mulai memakan jatahnya. Dengan cepat Niken menghabiskannya. Kalau soal makanan dia selalu nomor satu.
Selesai makan, Rasyid masuk ke kamar Laras. Dilihatnya Laras sedang tiduran sambil main hape.
"Perut kamu masih sakit?" tanya Rasyid. Dia duduk di tepi tempat tidur.
"Masih, Yah," jawab Laras.
"Kenapa kamu pulang ke rumah mamamu?" tanya Rasyid. Dia masih kesal karena mukanya bonyok akibat dihajar suaminya Alya.
"Mama bilang, biar Laras bisa istirahat. Dan buat masa recovery, Laras juga butuh makanan bergizi. Juga obat-obatan," jawab Laras.
Degh!
Rasyid merasa tertohok oleh ucapan Laras. Rasyid memang tak akan mampu memenuhi semua itu.
"Kalau itu, tanggung jawab Tomi. Bukan mama kamu! Tomi yang membuat kamu hamil!" sahut Rasyid.
Rasyid tetap berusaha biar Laras tak lagi berpikir tinggal di rumah Alya.
"Tapi Tomi kan tidak tinggal di sini, Yah. Bagaimana dia bisa mengontrol kesehatan Laras?" tanya Laras.
"Ayah yang akan mengontrol kesehatanmu! Tomi yang kasih biaya untuk kamu!" jawab Rasyid.
Rasyid juga berpikir, kalau Laras dikasih uang oleh Tomi, mereka sekeluarga bisa ikut menikmatinya.
"Laras malu kalau minta uang terus sama Tomi, Yah," sahut Laras.
"Mestinya kamu tak perlu meminta!" sahut Rasyid.
"Terus kalau Tomi tidak ngasih? Bagaimana Laras bisa kontrol ke dokter lagi? Tomi udah keluar banyak biaya untuk Laras," tanya Laras.
"Itu artinya, tanggung jawab Tomi belum selesai. Karena kamu belum sembuh," jawab Rasyid.
"Kenapa bukan si Niken yang harus tanggung jawab? Dia yang bikin Laras masuk rumah sakit! Dia juga yang udah membunuh calon anak Laras!"
Laras sudah mulai emosi, karena Rasyid terus saja memojokan Tomi.
"Laras!" bentak Rasyid.
Laras diam sambil matanya menatap Rasyid dengan kesal.
"Jangan kamu buat adik kamu merasa berdosa! Dia tak sengaja melakukannya!" lanjut Rasyid membela Niken.
"Enggak sengaja tapi mendorong Laras sampai jatuh?" sahut Laras.
Rasyid berdiri dan menarik tangan Laras hingga terduduk.
Laras berusaha melepaskan tangan Rasyid.
"Ayah mau menghajar Laras seperti menghajar Niken? Atau Ayah mau membunuh Laras? Bunuh, Yah! Bunuh Laras! Daripada Laras harus kesakitan lagi!" seru Laras.
Kini Laras tak lagi takut pada Rasyid. Ada tempat buat Laras lari. Rumah mamanya. Juga ada Tomi yang masih mau bertanggung jawab padanya.
__ADS_1
Rasyid langsung melepaskan tangan Laras dengan kasar. Hingga Laras kembali terbaring.
"Akh...!" teriak Laras karena merasa kepalanya pusing.
Kondisinya belum terlalu baik, karena Laras sempat kehilangan banyak darah.
Rasyid langsung keluar dari kamar Laras tanpa perasaan. Tanpa memikirkan kondisi Laras.
Tiba-tiba perut Laras terasa sangat mual. Kepalanya berdenyut dan berkunang-kunang.
"Howek...!" Laras menutup mulutnya dengan tangan, berusaha menahan rasa ingin muntahnya.
Dengan tertatih, Laras berjalan ke kamar mandi.
"Kak Laras kenapa?" tanya Ayu. Dia sempat melihat saat Rasyid menghempaskan tubuh Laras.
Laras hanya diam, karena mulutnya dia tutup rapat. Agar muntahannya tak kemana-mana.
Sampai di kamar mandi, Laras baru muntah.
Howek....!
Suara muntahan Laras terdengar sampai ke telinga Rasyid.
"Niken! Bantu kakak kamu! Dia lagi muntah!" ucap Rasyid pada Niken.
"Iya, Yah!" Niken segera lari ke kamar mandi.
Ayu sudah berdiri di dekat kamar mandi. Dia tadi mengikuti Laras. Takut kakaknya itu terjatuh lagi.
"Kakak kenapa?" tanya Niken di pintu kamar mandi.
Laras diam, karena dia masih sibuk membersihkan mulutnya.
Laras semakin memojokan diri di sudut kamar mandi.
"Kak...!" panggil Laras.
"Kamu mau apa?" tanya Laras ketakutan.
"Kak. Aku mau menolong Kakak!" ucap Niken.
"Enggak! Pergi kamu! Pergi!" seru Laras. Tangannya digerak-gerakan untuk mengusir Niken.
"Kak...!" ucap Niken yang kebingungan. Dia merasa tak akan berbuat jahat, tapi Laras seperti ketakutan.
"Aku bilang pergi! Pergi...!" teriak Laras.
Bahkan Laras seperti orang yang kalap. Dia mengambil air dengan gayung dan menyiramkan ke arah Niken.
Niken langsung berlari menjauh. Tapi Laras terus saja melakukannya sambil berteriak.
"Pergi kamu! Pergi!"
"Ayah....! Kak Laras, Yah!" ucap Ayu dengan nafas terengah-engah.
Ayu tadi lari saat Laras menyiram-nyiramkan air ke arah Niken.
"Kenapa Laras?" tanya Rasyid.
__ADS_1
Barusan Rasyid malah asik mendengarkan voice note dari teman-temannya di grup whatsapp.
Ayu tak dapat menjawab. Dia hanya menunjuk ke arah kamar mandi.
Rasyid melihat ke arah kamar mandi. Dia baru mendengar suara teriakan Laras dan air yang disiram-siramkan keluar.
"Kak Laras ngamuk, Yah!" ucap Niken yang berjalan meninggalkan kamar mandi. Bajunya basah akibat siraman Laras.
Rasyid segera ke kamar mandi.
"Heh! Hentikan!" bentak Rasyid.
Spontan Laras menghentikan siramannya. Lalu Laras menangis sambil badannya melorot ke lantai kamar mandi.
"Bangun! Berdiri! Apa-apaan kamu! Pakai acara ngamuk, lagi!" bentak Rasyid lagi.
Laras tak peduli, dia terus saja menangis.
Rasyid menarik tangan Laras. Lalu menyeretnya keluar dari kamar mandi.
"Ayah! Ampun Ayah! Ampun! Sakit....!" Laras berteriak-teriak kesakitan sambil memegangi perutnya.
"Enggak usah pura-pura kamu! Ayo jalan!" Rasyid terus menarik tangan Laras.
Kepala Laras semakin pusing dan sejenak Laras kehilangan kesadarannya.
Laras terjatuh.
"Ayah! Jangan, Ayah! Kasihan kak Laras!" seru Ayu.
Rasyid yang masih memegangi tangan Laras, seperti tak punya rasa kasihan sedikitpun.
Dia hempaskan tangan Laras dengan keras.
"Pakai pura-pura pingsan!"
Lalu Rasyid bergegas meninggalkan Laras dan kembali ke ruang tamu. Dia kembali menyimak obrolan di grupnya.
"Kak...! Kak Laras! Bangun, Kak!" Ayu berjongkok di depan tubuh Laras dan mengguncang lengan Laras, sambil menangis.
"Bangun, Kak!" seru Ayu sambil terus menangis.
"Siram pakai air! Biar bangun!" teriak Rasyid dari ruang tamu.
Ayu menatap ke arah ruang tamu dengan tatapan kebencian. Ingin rasanya Ayu mendatangi Rasyid dan melemparnya keluar.
Tapi apa daya, badannya terlalu kecil untuk melakukannya.
Ayu memilih tetap duduk di depan tubuh Laras yang masih tergeletak sambil terus terisak.
Niken yang sudah berganti pakaian, keluar dari kamar.
"Kak, tolongin kak Laras," pinta Ayu.
"Boleh. Tapi bagi aku mie instant sama telurnya. Aku masih laper!" sahut Niken.
"Ambil, Kak. Tapi tolongin kak Laras dulu," ucap Ayu. Dia sudah tak memikirkan soal mie instant dan telur lagi.
"Ya udah, bantuin aku ngangkat badannya!" ucap Niken pada Ayu. Ayu mengangguk.
__ADS_1
Saat tangan Niken menyentuh tubuh Laras, mata Laras langsung terbuka.
"Jangan...! Pergi kamu!"