KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS

KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS
Bab 58 TUKANG PIJAT


__ADS_3

Laras membelanjakan uangnya untuk memasakan ayah dan adik-adiknya. Hari ini dia ingin memasak sayur asem kesukaan Rasyid.


Laras ingin belajar menjadi seorang istri yang rajin. Biar disayang oleh suami juga mertuanya.


Dan kebetulan juga ada tukang sayur yang lewat depan rumahnya. Jadi dia tak perlu jauh-jauh belanja.


"Mau masak, Ras?" tanya Yanti yang kebetulan juga belanja.


"Iya, Bu. Belajar masak. Sebentar lagi kan aku mau menikah. Jadi harus belajar memasak," jawab Laras.


Dia sengaja memanas-manasi Yanti. Biar ngadu ke Beni. Dan Beni tak lagi mendekati Laras.


"Oh. Sama manager yang punya apartemen, kan?" sahut Yanti.


"Iya. Nanti aku juga akan tinggal di apartemen Tomi," ucap Laras sambil memilih sayuran yang akan dimasaknya.


"Baguslah. Bawa sekalian ayah dan adik-adik kamu. Kasihan kan mereka, hidup pindah-pindah kontrakan terus," sahut Yanti.


Dia tak merasa panas sedikitpun dengan ucapan Laras. Karena Yanti tak setuju kalau Beni menyukai Laras. Dia khawatir Rasyid dan dua anaknya yang lain malah merepotkannya.


"Oh iya, Ras. Calon suami kamu kok motornya butut banget? Masa manager enggak mampu beli motor bagus." Yanti malah yang terus saja memanas-manasi Laras.


"Tomi kan punya mobil. Dia pakai motor kalau mobilnya lagi dipinjam saja. Sebentar lagi juga, Tomi bakalan beliin aku motor. Udah, berapa semuanya, Pak?" Laras sudah pingin cepat-cepat menyingkir dari hadapan Yanti.


"Tiga puluh ribu, Neng," jawab tukang sayur setelah menghitung total belanjaan Laras.


Laras mengeluarkan uang yang dikasih Tomi.


"Wah, beda ya, yang punya calon suami manager? Kantongnya pasti tebal. Biar ayah kamu enggak ngutang rokok lagi." Ucapan Yanti benar-benar membuat kuping Laras merah.


Setelah menerima kembalian, Laras buru-buru pulang tanpa berpamitan. Hatinya sangat kesal pada Yanti. Niatnya ingin memanas-manasi, malah dia sendiri yang kepanansan.


Dalam hati Yanti bersorak. Mampus lu! Emak-emak dilawan. Sampai tak sadar Yanti tertawa sendiri.


"Sudah ketawanya jangan kelamaan, Mpok. Nanti kebablasan," ujar tukang sayur.


"Abisnya lucu dia itu. Anak kere aja, belagu. Pakek bohongin aku kalau calon suaminya manager, lagi," sahut Yanti.


"Lho memang calon suaminya kerja apa?" tanya tukang sayur, kepo. Maklum, tiap hari kumpulnya sama emak-emak. Jiwa keponya meronta.


"Tukang tagih kayak anakku. Tapi itu kemarin-kemarin," jawab Yanti.


"Kalau sekarang?" tanya tukang sayur lagi.


"Udah dipecat! Gara-gara keseringan bolos. Pacaran melulu sampai lupa kerja!" jawab Yanti lagi.

__ADS_1


"Owalah. Kasihan banget kalau nikahnya sama pengangguran," ucap tukang sayur.


"Biarin aja. Kan nanti dikasih makan cinta." Yanti segera membayar belanjaannya karena ada orang yang mau belanja juga di warung sembakonya.


Laras masuk ke rumahnya dan meletakan begitu saja belanjaannya. Moodnya memasak jadi hilang gara-gara kesal.


Lalu Laras masuk ke kamarnya. Dia ingin mengadukan perkataan Yanti pada Tomi. Tapi sayangnya, Tomi yang sudah sampai di apartemen Sylfie, mematikan hapenya.


Tomi sudah memulai pekerjaannya. Seperti kemarin, Sylfie mengundang Tomi hanya untuk memijatnya.


Tomi sampai heran. Kenapa Sylfie tak memanggil tukang pijat saja. Pasti pijatannya lebih enak.


"Tante kenapa suka sekali dipijat?" tanya Tomi penasaran.


"Aku capek banget, Tom. Adam payah, pijatannya tak seenak pijatanmu," jawab Sylfie. Matanya merem melek, karena Tomi masih terus memijatnya.


"Kalau ingin enak, panggil tukang pijat saja. Mereka kan sudah terlatih, Tante."


"Aku enggak mau tubuhku dipegang-pegang orang yang gak kenal," sahut Sylfie.


Tomi hampir saja tertawa mendengarnya. Dia saja belum kenal Sylfie sebelumnya, tapi di awal pertemuannya, Sylfie bukan hanya dipegang-pegangnya, tapi lebih dari itu.


"Kakiku, Tom." Sylfie yang tengkurap, tak tahu kalau Tomi sedang menahan tawa.


Tomi yang tak bisa menjawab, langsung berpindah ke kaki Sylfie. Dielusnya kaki mulus Sylfie. Tomi ingin menggoda, karena sebenarnya dia sudah menahan hasrat sejak Sylfie merebahkan tubuh.


Tapi apa boleh buat, Sylfie hanya menginginkan pijatannya saja. Sesuai perjanjiannya dengan Cyntia, Tomi hanya boleh melakukan yang diinginkan kliennya saja.


"Yang enak mijitnya dong, Tom. Kayak gitu mana kerasa?" protes Sylfie.


Tomi hanya bisa menelan ludahnya. Dia harus bisa menahan hasratnya. Dan memulai memijat kaki Sylfie dengan mengurut-urutnya.


Dan tak lama, seperti kemarin, Sylfie pun tertidur dengan lelap. Bahkan saat Tomi mencoba mengguncangnya, Sylfie tak bereaksi. Hanya menggeliat saja.


Tomi turun dari tempat tidur. Dia akan menunggu Sylfie bangun di ruang tamu. Dia tak mau kalau kali ini gagal mendapatkan uang lagi.


Tomi mengaktifkan lagi hapenya. Dia berharap, semoga saja ada job lain dari Cyntia. Karena tenaganya masih cukup untuk bergulat dengan calon klien lain.


Tomi malah membaca satu pesan dari Laras. Dia membalas chat Laras. Tomi mengatakan nanti malam kalau urusannya sudah selesai akan menjemput Laras. Dia akan melampiaskan hasratnya pada Laras saja.


Mungkin nanti uang dari Sylfie cukup untuk membayar kamar di sebuah hotel. Dia ingin menghabiskan malam bercinta dengan Laras.


Laras membaca balasan chat dari Tomi langsung semangat lagi. Dia lalu ke dapur. Memasak dan akan menyisihkan untuk Tomi nanti malam.


Biar Tomi merasakan masakannya. Laras juga ingin dipuji seperti tadi Tomi memuji masakan ibunya sendiri.

__ADS_1


Selesai masak, Laras menyisihkan masakannya. Jangan sampai dihabiskan kedua adiknya. Terutama Niken yang suka lupa diri kalau makan.


"Ras! Laras!" Rasyid sudah pulang dari terminal. Dia berhasil menjual kembali tiket yang mestinya dipakai Reisya untuk pulang. Walaupun dengan harga lebih murah.


Rasyid membelikan beras dan sayuran. Dan tak lupa rokoknya sendiri.


"Iya, Yah," sahut Laras.


"Ini beras dan sayuran. Ayah ingin kamu masak sayur asem." Rasyid memberikan kantong plastik yang dibawanya.


"Wah, Laras juga sudah masak, Yah. Sayur asem kesukaan Ayah," sahut Laras.


"Kamu punya uang?" tanya Rasyid.


"Tadi dikasih Tomi, Yah," jawab Laras dengan jujur.


"Ya sudah, simpan saja. Buatkan kopi." Rasyid pergi ke ruang tamu.


Laras segera membuatkan kopi. Dia nanti akan meminta ijin keluar dengan Tomi pada Rasyid.


"Yah, nanti malam Tomi mau ngajak Laras keluar. Boleh ya, Yah?" pinta Laras.


"Ya. Pergilah. Tapi jangan kemalaman pulangnya," sahut Rasyid.


"Kan Laras belum tau jam berapa Tomi datangnya," ucap Laras sambil pergi ke kamarnya.


Tomi masih setia menunggu Sylfie bangun. Saking lamanya Sylfie tertidur, Tomi pun ikutan terlelap di sofa hingga sore.


"Tom. Tomi. Bangun." Sylfie mengguncang bahu Tomi.


"Eh, Tante sudah bangun." Tomi segera beranjak sambil mengucek matanya.


"Kamu bisa menyetir?" tanya Sylfie.


Tomi mengangguk. Dia dulu pernah diajari Yoga, sahabatnya.


"Kalau begitu, antarkan aku ke supermarket. Tanganku masih sakit. Kamu mijitnya kurang sip," ucap Sylfie. Lalu dia kembali ke kamarnya untuk berganti pakaian.


"Auwh!" teriak Sylfie.


Spontan Tomi berlari ke kamar Sylfie.


"Ada apa, Tante?"


"Bahuku sakit banget, Tom. Tolong pijit bagian sini." Sylfie menepuk bahunya.

__ADS_1


Tomi menghela nafasnya. Nasibnya siang ini hanya jadi tukang pijat saja.


__ADS_2