
Tomi pun tak kalah terkejutnya. Matanya hampir melompat melihat Bowo ada di rumah mamanya Laras.
Dan sedang menggendong anak kecil, yang diyakini Tomi adalah adik tiri Laras.
Bowo memberi kode pada Tomi untuk pura-pura tak saling mengenal, dengan matanya.
Tomi pun mengerti. Karena dia sendiripun tak mau kelakuannya di belakang Laras terbongkar.
"Ada! Ras. Ada Tomi," ucap Alya.
"Iya, Ma. Laras udah tau," jawab Laras. Lalu dia berdiri menyambut Tomi.
Alya yang sudah terlanjur mengajak makan Bowo dan Laras, tak mungkin membiarkan Tomi begitu saja.
"Ras, ajak Tomi sekalian makan. Mama mau siapin dulu." Alya pun masuk ke dalam. Bowo mengikutinya.
Lalu sambil menggendong Aldo, Bowo duduk di kursi makan. Menunggui Alya yang sedang menyiapkan makan untuk mereka.
"Udah kamu kasih makanannya ke ayahku, Tom?" tanya Laras.
"Udah. Ayah kamu lagi sakit, kata Niken. Ayu juga enggak berangkat ke sekolah," jawab Tomi.
"Oh iya. Aku lupa, tasnya Ayu ketinggalan di rumah sakit. Semalam aku taruh di dalam lemari," ucap Laras.
"Kamu gimana sih, Ras. Bisa sampai lupa," sahut Tomi.
"Iya. Aku benar-benar lupa. Gimana dong?" tanya Laras.
"Ya udah. Nanti aku ambilin. Moga-moga aja ada yang nyimpenin," jawab Tomi.
"Ayo kita makan dulu, Tom," ajak Laras.
"Mm....enggak usah deh. Aku langsung ke rumah sakit aja. Ambil tasnya Ayu," tolak Tomi. Kebetulan ada alasan Tomi untuk pergi.
"Nanti aja. Sekarang makan dulu sebentar." Laras menarik tangan Tomi.
Tomi pun tak bisa menolak.
Sampai di ruang makan yang menyatu dengan dapur, Tomi bertatapan lagi dengan Bowo.
"Ini Om Bowo. Suaminya mamaku, Tom," ucap Laras.
Tomi hanya menganggukan kepalanya saja. Dia masih bingung, apa yang harus dilakukannya.
Laras menarik satu kursi untuk duduk Tomi dan satu lagi untuk duduk dia sendiri.
Alya pun sudah duduk sambil melayani Bowo makan.
"Aldo pangku Mama dulu, ya. Papa biar makan." Alya mengulurkan tangannya.
"Biar Aldo sama aku dulu. Mama makan duluan aja. Papa bisa kok makan sambil memangku Aldo," sahut Bowo.
"Apa Aldo dipangku Kak Laras dulu, yuk." Laras berdiri hendak mengambil Aldo.
__ADS_1
"Jangan, Ras. Kamu belum boleh memangku Aldo dulu. Aldo berat. Nanti perutmu sakit lagi," ucap Alya.
Alya benar-benar ingin menjaga Laras, biar bisa cepat pulih lagi.
"Iya, Ma." Laras kembali duduk, dan mengambilkan makanan untuk Tomi.
"Masakan Mama enak banget lho, Tom," puji Laras.
Sejak kecil Laras sangat menyukai masakan Alya. Apapun yang dimasak Alya, bagi Laras dan kedua adiknya selalu enak.
"Oh, ya? Kamu belajar masak sama mamamu dong," sahut Tomi. Dia berusaha mencairkan suasana.
"Iya. Nanti kalau sudah sehat, aku bakal belajar memasak. Biar lebih enak lagi masaknya," sahut Laras.
Alya buru-buru menghabiskan makanannya. Biar bisa gantian dengan Bowo.
"Enggak usah buru-buru makannya, Ma. Nanti tersedak," ucap Bowo. Dia pun sesekali menyuap makanan ke mulutnya.
Bowo sangat menikmati saat-saat bersama Alya dan Aldo, meski kadang merepotkannya.
Bowo sangat perhatian pada Aldo. Meski diusianya yang tak lagi muda, biasanya lebih memilih untuk bersantai.
Tapi bagi Bowo, inilah saat-saat terindahnya. Bisa menimang anak lelaki yang diidamkannya dari dulu.
"Oh iya, Tom. Tadi kata kamu, ayah lagi sakit. Sakit apa? Semalam kayaknya baik-baik aja," tanya Laras pada Tomi.
Uhuk! Uhuk! Uhuk!
Bowo paham apa yang membuat Alya tersedak. Dia mengambilkan gelas yang berisi air putih, untuk Alya.
"Kan Papa udah bilang, jangan buru-buru makannya," ucap Bowo, pura-pura.
"Aku enggak tahu persis. Karena ayah kamu masih tidur di kamar Ayu. Tapi kata Niken, semalam ayah kayak abis berantem gitu," jawab Tomi.
"Berantem? Sama siapa?" Laras jadi kuatir dengan Rasyid.
Soalnya bukan sekali dua kali Rasyid mukanya bonyok, karena di hajar orang. Dan biasanya masalah wanita.
Bowo menyimak cerita Tomi. Ya, siapa tahu Tomi menyebut namanya atau menyindirnya.
"Aku enggak tau. Niken juga enggak tau, karena Ayu enggak mau ngomong," jawab Tomi.
"Pasti masalah wanita," gumam Laras pelan.
"Hush! Jangan menuduh dulu, kalau belum tau masalahnya," ucap Tomi.
"Bukan menuduh, Tom. Tapi biasanya begitu. Maaf." Laras menunduk. Dia lupa kalau di situ ada Bowo juga.
Alya hanya menghela nafasnya.
Dulu, Alya pun sering mendapati Rasyid pulang ke rumah, babak belur.
Rasyid memang orangnya keras kepala dan selalu ingin menang sendiri. Kadang hal itulah yang membuat orang lain kesal dan marah.
__ADS_1
Seperti Bowo tadi malam, yang emosi. Dan akhirnya menghajar Rasyid.
"Tom, kalau kamu ada waktu, ajak ayahnya Laras ke dokter. Mungkin dia terluka. Takutnya kalau infeksi, lho," ucap Alya pada Tomi.
Bowo menyenggol lengan Alya. Dia tak suka Alya memberi perhatian pada Rasyid.
Bukan cemburu, karena bagi Bowo, Rasyid bukan tandingannya. Tak pantas mencemburui lelaki macam Rasyid.
Bowo cuma tak suka dengan sikap kasar Rasyid pada Alya, semalam.
Alya pun langsung terdiam. Padahal niatnya baik. Dan lagipula, bukan dia yang akan membawa Rasyid ke dokter.
"Iya, Tante. Nanti sekalian mulangin tasnya Ayu," jawab Tomi.
Padahal Alya berharap Tomi melupakan omongannya tadi. Karena Bowo tak menyukainya.
Alya hanya mengangguk. Tak mau memperpanjang omongan tentang Rasyid.
"Lukanya Ayu gimana?" tanya Laras.
"Ayu juga tadi masih tidur. Jadi aku tak sempat melihatnya," jawab Tomi.
Mereka pasti belum makan. Semalam saja Ayu mengeluh lapar. Dan sekarang dia lebih memilih tidur.
Sejenak Alya diam. Dan tanpa sadar, matanya berkaca-kaca. Membayangkan anak-anaknya tiap hari kelaparan.
Sebenarnya, bisa saja mulai sekarang Alya memberikan uang untuk makan mereka. Tapi Alya yakin, pasti uangnya bakal dipakai Rasyid untuk yang lainnya.
Sifat boros Rasyid yang tak pernah berubah. Selalu cepat menghabiskan uang, untuk hal-hal yang tak penting.
Rasyid tak pernah memikirkan besok pagi mau makan apa, yang penting hari ini bisa bersenang-senang.
"Mama kenapa?" tanya Bowo. Dia melihat mata Alya berair.
"Oh, enggak apa-apa. Cuma kepedesan aja, Pa," jawab Alya berbohong. Lalu Alya mengambil lagi gelasnya.
Dia pura-pura minum yang banyak, untuk menutupi perasaan sedihnya.
Mereka kembali makan. Alya yang sudah selesai, meraih Aldo dan memangkunya.
"Aldo sama Mama, ya? Sekalian mamam," ucap Alya.
Alya mulai menyuapi Aldo dengan makanan yang sudah disiapkannya.
Tiba-tiba ponsel Tomi berdering. Tomi merogoh kantong celananya. Lalu melihat siapa yang memanggilnya.
Karena tak enak, Tomi menolak panggilan itu. Nanti setelah makan, Tomi bisa menelpon balik.
"Kok ditolak? Siapa yang telpon, Tom?" tanya Laras.
Dengan tanpa rasa bersalah Tomi menjawabnya.
"Cyntia!"
__ADS_1