
Beni berjalan duluan. Niken pun langsung mengikutinya dari belakang.
"Mau kemana, Ben?" tanya Yuni yang kebetulan keluar rumah. Dia mau mengunci pintu rumahnya.
"Ke rumah Niken, Bu!" jawab Beni.
"Malam-malam ke rumah Niken? Bukannya tadi ayahnya Niken pergi?" tanya Yuni dengan curiga.
"Iya, Bu. Kata Niken, Ayu jatuh dan pingsan!" jawab Beni.
Beni pun tadi melihat saat Rasyid pergi naik motor.
"Jatuh apa didorong lagi sama Niken?" Yuni menatap Niken dengan curiga.
Beni hanya mengangkat bahunya. Karena dia belum tahu yang sebenarnya. Mau menanyai Niken, sepertinya tidak tepat waktu.
Niken kembali hanya bisa menunduk sambil terus berjalan mengikuti Beni. Hingga mereka sampai di rumahnya.
"Dimana Ayu?" tanya Beni.
Niken menunjuk kamar Ayu.
Beni pun menuju kamar Ayu. Ayu masih terbaring di atas tempat tidurnya. Masih belum sadarkan diri.
Beni mendekati Ayu. Dia raba dulu kening Ayu. Badannya masih hangat. Itu artinya Ayu tidak mati, seperti yang dikhawatirkan Beni sepanjang jalan tadi.
Beni memberikan minyak kayu putih yang dibawanya pada Niken.
"Kamu yang mengoleskan. Di leher dan dahinya. Telapak tangan juga telapak kakinya," ucap Beni.
Niken mengangguk. Lalu melakukan yang Beni sarankan.
Ayu masih belum bereaksi.
"Masih belum sadar, Kak," ucap Niken.
"Ya sabar dulu. Coba kamu pijat-pijat jempol kakinya. Kata orang, biar cepet siuman," ucap Beni.
Beni pun tak tahu apa yang harus dilakukannya. Dia hanya mengira-ngira saja.
Niken kembali menurut. Dia pijat jempol kaki Ayu.
"Pelan aja. Jangan kenceng-kenceng," ucap Beni.
"Iya, Kak," sahut Niken.
"Ayu jatuhnya di mana?" tanya Beni mulai menyelidik.
"Di sini," jawab Niken singkat.
"Kepleset? Atau...." Beni belum tega langsung menuduh Niken.
Niken hanya diam saja. Niken hanya bisa menyesali perbuatannya.
__ADS_1
"Kak. Tolong, jangan bilang ke ayahku, ya," pinta Niken. Dia jelas takut bakal dihajar lagi oleh Rasyid.
"Kenapa? Kamu takut kena marah?" tanya Beni.
Beni berdiri di pintu kamar Ayu. Bagaimanapun, dia tetap menjaga jangan sampai ada fitnah. Karena Rasyid sedang tak ada di rumah.
Dulu memang Beni sempat menyukai Niken. Tapi setelah tahu kelakuan dan sikap kasar yang sering dilakukan Niken pada Laras juga Ayu, Beni jadi tak bersimpatik lagi.
Kalau sekarang Beni mau menolong, hanya karena kasihan pada Ayu.
"Iya. Aku bisa dihajar lagi sama ayah," jawab Niken.
"Makanya, kamu jangan bersikap kasar seperti itu. Dulu Laras yang kamu bikin pingsan, sampai dia kehilangan calon anaknya. Sekarang Ayu," ucap Beni.
"Aku enggak sengaja, Kak," sahut Niken.
"Enggak sengaja, kok sering. Kontrol dong. Kasihan kan, saudara-saudara kamu jadi korbannya," ucap Beni.
"Iya, Kak. Aku janji enggak akan begini lagi," sahut Niken. Dari suaranya, ada rasa ketakutan.
"Enggak usah janji padaku. Berjanjilah pada diri kamu sendiri. Dan penuhi janji itu. Jangan cuma di mulut aja!" sahut Beni dengan kesal.
Beni kesal karena ujung-ujungnya, tetangga juga yang direpotkan.
Niken kembali cuma bisa diam. Tangannya masih memijat kaki Ayu yang belum juga siuman.
"Aku telpon Laras, ya? Biar dia pulang."
Beni merogoh kantong celananya.
"Iyalah. Mana ada orang yang suka dengan kelakuan kamu!" Beni pun semakin tak suka pada Niken.
Tak lama Yanti dan Yuni datang.
"Gimana, Ben? Ayu udah siuman?" tanya Yanti.
"Belum, Bu. Tuh, masih belum sadar." Beni menunjuk Ayu yang masih terbaring tak sadarkan diri.
"Aduh...gimana sih, ini?" Yanti mendekati Ayu. Lalu memegang dahinya, seperti yang dilakukan Beni tadi.
Yuni ikut masuk, dan berdiri di sebelah Yanti.
"Kita bawa ke rumah sakit aja, apa?" tanya Yuni.
"Siapa yang mau bayar biayanya?" Yanti balik bertanya.
"Memangnya enggak punya kartu jaminan kesehatan?" tanya Yuni lagi.
"Mana mereka punya. Kartu Keluarga aja udah expired," sahut Yanti.
"Memangnya kartu keluarga bisa expired, Mbak?" tanya Yuni. Menurut Yuni yang expired cuma makanan aja.
"Bisalah." Lalu Yanti menceritakan kejadian setahun yang lalu.
__ADS_1
Yanti pernah disuruh pak RT minta kartu keluarga milik Rasyid. Waktu Rasyid dan anak-anaknya baru pindah.
Pas Yanti baca, di KK itu tertulis Rasyid masih punya istri. Padahal kenyataannya mereka sudah lama bercerai.
Buat Yanti itu yang namanya KK-nya expired.
Yuni tertawa ngakak mendengar cerita Yanti.
"Bisa jadi, mereka ini warga selundupan? Atau warga abal-abal." Yuni yang keceplosan, langsung menangkup mulutnya dengan kedua tangan.
Niken menatap tak suka pada kedua wanita setengah tua itu, yang melecehkan keluarganya.
"Ya udah, sekarang mau diapain nih anak?" tanya Yuni.
Hari semakin malam. Yuni pun harus pulang, karena bakal dicariin oleh suaminya.
"Udah biarin aja. Entar juga bangun. Yang penting masih ada nafasnya," jawab Yanti.
"Kalian udah pada makan belom?" tanya Yuni pada Niken.
Meski kesal, Niken tetap mengangguk.
"Kirain belom," sahut Yuni.
"Emangnya Mbak Yuni mau ngasih mereka makan?" tanya Yanti.
"Ya enggak juga sih. Kasihan ayam-ayam di rumah, bakalan pada mati kalau sisa makanannya buat mereka. Udah, ah. Aku mau pulang!" Yuni langsung ngeloyor pergi.
Niken semakin geram mendengar ocehan tetangganya yang bermulut pedas itu.
"Ben. Kita pulang yuk. Enggak enak kalau kita di sini terus. Udah malam juga," ajak Yanti.
"Terus Ayu gimana, Bu?" tanya Beni.
"Nanti Ibu telponin ayahnya aja. Biar dia cepet pulang. Anaknya pingsan, malah enak-enakan ngelayap," jawab Yanti.
"Jangan, Bu. Jangan telponin ayah!" ucap Niken.
Niken benar-benar tidak mau kalau Rasyid sampai tahu kejadian ini. Meskipun Niken beralasan Ayu pingsan karena jatuh, tapi Rasyid tetap akan marah padanya. Karena tadi Rasyid sudah bilang ke Niken untuk menjaga Ayu.
"Kenapa? Kamu takut kan, kalau ayahmu marah?" tanya Yanti.
Niken hanya diam saja.
"Makanya jangan jahat sama saudara! Kalau Ayu sampai mati, kamu bakal masuk penjara tau!" Yanti malah menakut-nakuti Niken.
Niken menelan ludahnya. Dia tak bisa menyahut omongan Yanti. Jelas dia akan kalah.
"Ya udah, kalau kamu enggak mau ayahmu tau. Aku enggak akan telpon. Jagain adik kamu sampai bangun. Kita mau pulang!" ucap Yanti dengan ketus.
Tanpa menunggu persetujuan Beni, Yanti menarik tangan Beni pergi dari rumah Rasyid.
"Kasihan mereka, Bu," ucap Beni sambil terus berjalan.
__ADS_1
"Ngapain dikasihani? Tuh, lihat kelakuan si Niken. Udah dua kali dia buat saudaranya pingsan. Terus ayahnya, mana mau peduli? Dia pasti sedang bersenang-senang sama wanita incarannya," sahut Yanti panjang lebar.
Dalam hati Yanti ada perasaan kesal. Tapi ada juga rasa cemburu. Karena Yanti juga sejujurnya masih menyimpan rasa untuk Rasyid. Andai Rasyid mau berubah.