
Selesai membuat kopi, Tomi berjalan ke ruang tamu. Dia akan menunggu sampai Niken bangun. Tak tega juga meninggalkan Niken yang terkapar keenakan.
Di ruang tamu, Tomi menghubungi Cyntia. Tomi bilang kalau siang ini akan menemuinya.
Tentu saja Cyntia tak menolak. Meski sebenarnya Cyntia ada rencana belanja ke supermarket.
"Jam berapa, Tom?" tanya Cyntia.
"Agak siangan, Madam. Aku lagi di rumah teman," jawab Tomi bohong. Sekarang Tomi sudah terbiasa berbohong disana sini.
"Ya udah. Aku tunggu. Aku kangen sama kamu, Tomi," ucap Cyntia. Padahal baru tadi malam mereka melakukannya.
"Tapi aku butuh uang, Madam. Maaf, kalau aku enggak dapet klien lagi, aku mau makan apa?" pancing Tomi.
Maksud Tomi, biar dia juga bisa mendapatkan uang lagi. Bukan service gratisan terus.
"Jangan kuatir, Tom. Nanti aku transfer. Anggap aja aku klienmu," sahut Cyntia. Lalu menutup telponnya.
Dan Cyntia segera membuka m-bankingnya. Tak lama, hape Tomi bergetar. Cyntia mengirimkan bukti transfernya.
Tomi membukanya sambil tersenyum. Mudah sekali mendapatkan uang dari Cyntia. Bukan cuma uang, tapi juga kenikmatan.
Permainan Cyntia belum ada yang menandingi. Meskipun klien-klien Tomi. Apalagi Laras dan Niken. Sangat jauh.
Saat bermain, Cyntia juga mengajari Tomi cara memuaskan klien. Biar semakin profesional.
Niken yang sudah berpakaian, menghampiri Tomi. Lalu duduk di sebelah Tomi dan menyandarkan kepalanya.
"Kak...." panggil Niken.
"Iya," jawab Tomi. Lalu menutup hapenya.
"Kakak punya uang?" tanya Niken.
"Buat apa?"
"Niken pingin punya hape lagi," jawab Niken malu-malu.
"Second aja, ya. Nanti aku belikan," sahut Tomi. Dia kasihan juga melihat Niken tak punya hape sendiri.
"Beneran, Kak?" Niken langsung mengangkat kepalanya dan menatap Tomi dengan berbinar.
Tomi mengangguk. Niken mengembangkan senyumannya.
"Tapi kamu harus janji. Jangan katakan apapun pada Laras juga ayahmu apa yang kita lakukan tadi," ucap Tomi.
"Iya, Kak. Niken janji. Enggak ada yang bakal tau," sahut Niken. Lalu mencium pipi Tomi tanpa malu lagi.
Bahkan Niken sudah berani mengecup bibir Tomi dan **********.
Tapi tiba-tiba suara motor Rasyid membuyarkannya.
__ADS_1
"Ayah pulang." Niken langsung menjauh. Lalu berdiri dan berjalan ke pintu samping untuk menyambut Rasyid dan Laras.
"Lho, kok kamu di rumah? Enggak sekolah?" tanya Laras yang sudah berjalan masuk.
"Dipulangkan awal, Kak. Gurunya mau rapat," jawab Niken berbohong. Seperti yang diajarkan Tomi tadi.
"Ooh. Tomi mana?" tanya Laras.
Niken hanya menunjuk dengan dagunya ke ruang tamu. Lalu dia masuk ke kamar.
Laras berjalan ke ruang tamu. Dilihatnya Tomi yang lagi pura-pura asik main hape.
"Hay, Ras," sapa Tomi.
"Hay, Tom. Katanya mau ke tempat kerja?" tanya Laras tanpa curiga. Lalu mencium pipi Tomi.
"Nanti aja. Aku masih kangen sama kamu," jawab Tomi berbohong.
Laras merasa melambung mendengarnya.
"Kamu dari mana aja? Kok lama banget?" tanya Tomi supaya Laras tak curiga.
"Kan aku udah bilang tadi. Aku ikut ayah ke rumah temannya. Tapi enggak ketemu," jawab Laras.
Tadi pagi saat Rasyid mau ke rumah temannya, Laras minta ikut karena bosan di rumah terus.
Rasyid mau nyari utangan untuk makan dia dan ketiga anaknya. Tapi sayangnya tidak berhasil menemui temannya itu.
"Niken! Bikinkan Ayah kopi!" seru Rasyid sambil berjalan ke ruang tamu.
Niken buru-buru membuatkan. Biar Rasyid tak banyak nanya padanya karena sudah ada di rumah.
Sampai di ruang tamu, Rasyid tak jadi duduk. Karena melihat Laras sedang menciumi Tomi.
Rasyid duduk di lantai depan kamarnya sambil selonjoran.
"Kok di sini, Yah?" tanya Niken saat sudah selesai membuat kopi.
"Iya. Pingin selonjoran," jawab Rasyid.
Rasyid sengaja menutupi apa yang tadi dilihatnya. Karena Rasyid berfikir Niken masih terlalu kecil untuk tahu.
"Mau Niken pijit, Yah?" Niken berusaha mencari muka.
"Boleh." Rasyid langsung mengarahkan kakinya ke tangan Niken.
Dengan perlahan Niken memijat kaki Rasyid. Sambil memijat, Niken mengira-ngira apa yang sedang dilakukan Tomi dan Laras di ruang tamu.
"Yang bener mijatnya. Jangan melamun!" ucap Rasyid mengagetkan Niken.
"Iya, Yah." Niken kembali fokus ke kaki Rasyid. Meskipun telinganya mendengar suara tawa Laras yang kegirangan, tapi terasa menyakitkan bagi Niken.
__ADS_1
Tak lama, Laras dan Tomi berjalan mendekat ke arahnya. Laras mendekap tangan Tomi dengan erat. Seakan takut kehilangan.
"Yah. Tomi mau pamit," ucap Laras.
"Iya, Om. Saya pamit dulu. Ada kerjaan," pamit Tomi.
"Iya. Tom, sebaiknya secepatnya kamu lamar Laras. Ajak orang tuamu kesini." Rasyid sudah sangat khawatir kalau sampai Tomi mengingkari janjinya.
"Iya, Om. Nanti saya bicarakan lagi sama orang tua saya," jawab Tomi.
Niken menundukan wajahnya. Tomi mau melamar Laras, lalu bagaimana dengan dirinya?
Laras menepuk-nepuk tangan Tomi perlahan. Seakan ingin memberi kekuatan pada Tomi agar segera bisa mewujudkan impian mereka.
Mereka kembali berjalan bersisihan. Niken menatapnya dengan rasa cemburu.
Enak sekali mereka, bisa terbuka bermesraan. Sedangkan aku, harus menutupinya. Gerutu Niken dalam hati.
Dan dari tempatnya duduk, Niken bisa melihat Laras mencium pipi Tomi. Tomi membalasnya dengan mengecup bibir Laras seperti yang dilakukannya tadi.
Niken menelan ludahnya. Hatinya menangis terbakar cemburu pada Laras. Kakaknya sendiri.
Laras yang tak mengerti apa-apa, melakukannya tanpa merasa berdosa. Bahkan Tomi pun seperti mengacuhkan Niken.
Padahal tadi Tomi baru saja bercinta dengan Niken. Dan saling memuaskan. Meski Tomi belum tega memasuki Niken.
"Kamu kenapa? Melamun terus?" tanya Rasyid.
"Enggak apa-apa, Yah. Cuma lagi enggak enak badan aja," alasan Niken. Yang enggak enak bukan badan, tapi hatiku, Yah. Batin Niken.
"Ya udah. Tidur aja sana. Malah geli kamu mijatnya pelan banget." Rasyid menjauhkan kakinya.
Niken berdiri. Dengan kesal dia masuk ke kamar dan langsung merebahkan diri.
Laras masuk ke kamar setelah Tomi pergi. Dilihatnya Niken yang tidur menghadap tembok.
Laras tak mempedulikannya. Dia membuka aplikasi menulis di hapenya. Dan mulai mengetik untuk novel online-nya yang sedang on going.
"Kak. Kapan kak Tomi mau melamarmu?" tanya Niken masih menghadap tembok.
"Sebentar lagi," jawab Laras dengan malas.
Kebiasaan Laras, kalau sedang ngetik, tak mau diganggu oleh apapun.
"Terus kalau sudah menikah, kalian tinggal disini, kan?" tanya Niken. Dia tak mau semakin jauh dari Tomi.
"Ya enggaklah. Mungkin di apartemennya Tomi. Mungkin juga di rumahnya," jawab Laras.
Niken terkejut mendengarnya. Dia pikir nanti Laras dan Tomi tinggal di rumah ini. Jadi dia bisa selalu dekat dengan Tomi.
"Kenapa enggak disini aja, sih?" Niken ingin sekali memaksa.
__ADS_1
"Kalau disini, mau tidur dimana? Lagian, enak di tempat sendiri. Bisa bermesraan sepanjang hari," sahut Laras.
Darah Niken langsung mendidih. Hatinya dipenuhi rasa cemburu pada kakaknya sendiri.