
Cyntia terkesiap. Dia menatap wajah Bowo.
"Rasyid?" tanya Cyntia.
Bowo mengangguk.
"Iya. Rasyid!" jawab Bowo.
Cyntia berdecak dengan malas.
"Ada apa dengan dia?" tanya Cyntia pada akhirnya.
"Kamu tahu siapa nama mantan istrinya Rasyid?" Bowo malah balik bertanya.
"Kenapa kamu menanyakannya?" Cyntia pun kembali bertanya.
"Jawab saja, Cyntia. Dan ceritakan yang sebenarnya hubungan kamu dengan Rasyid!" ucap Bowo.
"Apa itu penting bagimu?" tanya Cyntia. Dia saja sudah ingin melupakan masa lalunya bersama Rasyid. Terakhir dia menceritakannya pada Tomi.
"Sangat penting!" Bowo ingin mendengar cerita dari Cyntia, sebelum dia mendengarnya dari Alya.
"Oke. Kalau itu yang kamu mau. Aku mau cerita. Tapi tolong dengarkan ceritaku sampai selesai. Jangan menyela." Itu syarat dari Cyntia.
"Oke. Aku dengarkan."
Lalu Bowo menyalakan rokok milik Cyntia. Karena dia lupa membawa rokoknya sendiri.
Cyntia mulai menceritakan semuanya dari awal hingga akhir. Tanpa dia tutup-tutupi. Dan Cyntia berjanji tak akan pernah mau menceritakannya lagi, siapapun yang memintanya.
Dia akan benar-benar menghapus masa lalunya dengan Rasyid.
Bowo mendengarkannya dengan antusias. Karena ini menyangkut istrinya sendiri. Alya.
Sebagian dari cerita Cyntia sudah dia dengar dari Cyntia sendiri, sepulang mereka dari rumah sakit.
"Udah, selesai! Ada yang mau kamu tanyakan lagi?" tanya Cyntia setelah dia selesai bercerita.
Bowo mengusap wajahnya dengan kasar.
Ah, kenapa malah jadi serumit ini?
Jadi Laras adalah anak Alya. Dan dia pacarnya Tomi. Anak buahnya Cyntia yang dia yakini pasti sudah dimakan juga oleh Cyntia.
Dulu Alya berpisah dengan Rasyid gara-gara Cyntia. Dan sekarang dirinya juga punya hubungan spesial dengan Cyntia.
Bagaimana kalau Alya sampai tahu? Dia pasti akan sangat membenciku dan semakin membenci Cyntia.
Dan Alya pasti akan sangat kecewa karena dia dikecewakan oleh wanita yang sama. Lalu Alya akan meninggalkan aku!
Tidak! Aku tak mau kehilangan Alya. Terutama Aldo. Dia anakku. Aku tak mau kehilangan keduanya.
Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang? Bowo bertanya pada dirinya sendiri.
"Enggak. Udah cukup," jawab Bowo.
__ADS_1
Lalu Bowo berdiri.
"Kamu mau kemana, Mas?" tanya Cyntia.
"Aku kesini cuma ingin menanyakan itu aja. Aku pulang!" jawab Bowo sambil melangkah keluar.
"Mas...! Mas Bowo!" panggil Cyntia.
Tapi Bowo tak mau mendengarnya. Dia terus saja melangkah keluar.
Cyntia mengejarnya sampai ke mobil.
"Mas! Kenapa kamu tiba-tiba pulang?" tanya Cyntia sambil memegangi tangan Bowo.
"Aku kan udah bilang, aku kesini cuma mau menanyakan itu saja!" jawab Bowo.
"Bohong! Pasti ada yang kamu sembunyikan dariku! Katakan, Mas! Katakan!" paksa Cyntia.
"Tidak ada apapun!" Bowo tak mau mengatakannya.
"Tidak! Kamu tidak boleh pergi dengan cara begini! Kamu harus menceritakan padaku! Bukankah aku juga sudah menceritakan apa yang kamu mau?" pinta Cyntia.
Bowo menghela nafasnya.
"Kapan-kapan saja aku cerita. Sekarang aku capek. Aku pingin istirahat!" sahut Bowo.
Lalu Bowo naik ke mobil dan menutup pintunya dengan keras.
"****!" Maki Cyntia.
Entah siapa yang sedang dimakinya. Tapi yang pasti sekarang Cyntia sangat kesal.
"Rasyid sialan! Kenapa aku harus ketemu kamu lagi? Kenapa kamu harus ada dalam kehidupanku dahulu. Bajingan kamu Rasyid!"
Cyntia terus saja memaki dan menyesali kebodohannya di masa lalu.
Cyntia duduk di sofa. Lalu dia ingat pertanyaan Bowo tentang istrinya Rasyid yang bernama Alya.
Kenapa Bowo menanyakan Alya? Bukankah Alya sudah pergi jauh?
Berita terakhir yang Cyntia dengar, Alya mau berangkat ke Arab, jadi TKW di sana.
Alya memang dulu sempat mendaftarkan dirinya sebagai TKW. Dia ingin pergi sejauh-jauhnya dari Rasyid.
Tapi takdir berkehendak lain. Alya kena masalah di kantor imigrasi, saat mengurus paspor.
Dan akhirnya Alya bekerja di rumah salah satu pegawai kantor imigrasi, teman Bowo.
Sementara Bowo segera pulang ke rumah Alya. Dia merasa ingin sekali ketemu Alya. Bukan lagi untuk meminta Alya cerita tentang Rasyid. Tapi Bowo ingin memeluk Alya. Dia tak mau Alya meninggalkannya.
Bowo juga berjanji, akan segera memutuskan hubungannya dengan Cyntia. Dan akan menjauhkan Alya dari Cyntia.
Bowo tak ingin Alya mengetahui hubungannya dengan Cyntia. Karena bisa dipastikan Alya akan sangat kecewa padanya.
Bowo sampai di rumah Alya. Alya yang mendengar mobil Bowo datang, segera membukakan pintu.
__ADS_1
Dia menyambut kedatangan Bowo dengan senyuman menawan. Alya ingin Bowo melupakan tentang kejadian tadi, dan tak menanyakannya lagi.
"Udah beres urusannya, Pa?" tanya Alya. Dia langsung melendot di lengan Bowo.
"Udah, Sayang. Aldo udah tidur?" tanya Bowo.
Alya terkejut, karena dipanggil sayang oleh Bowo. Jarang sekali Bowo memanggilnya begitu.
"Udah. Baru aja," jawab Alya.
Bowo langsung mengunci pintu rumah, dan menggendong Alya menuju ke kamar mereka.
Saat ada Bowo di rumah, Alya menidurkan Aldo di kamar lain. Karena tak mau saat dia melayani Bowo, dilihat oleh Aldo.
Walaupun sebenarnya, anak sekecil Aldo belum paham apa yang dilakukan kedua orang tuanya.
Tapi tak ada salahnya berjaga-jaga. Jangan sampai anaknya tiba-tiba mengatakan pada orang lain, apa yang dilihatnya.
"Papa mau ngapain?" tanya Alya dengan manja.
"Papa kangen sama kamu, Sayang." Bowo menciumi Alya yang masih ada digendongannya.
Bowo meletakan Alya di atas tempat tidur, dan siap mencumbuinya.
"Papa enggak ke kamar mandi dulu?" tanya Alya.
"Enggak perlu. Papa kan enggak ngapa-ngapain. Cuma ngobrol aja tadi sebentar sama teman," jawab Bowo berbohong.
Lalu dia segera menggarap Alya hingga mereka sama-sama terkapar kelelahan.
"Papa buas banget. Kayak macan!" ucap Alya bahagia.
"Papa ingin membuatmu puas, Sayang. Kamu puas, kan?" tanya Bowo.
"Mm....memangnya kalau aku belum puas, Papa masih kuat?" ledek Alya.
"Nantang nih ceritanya?" tanya Bowo.
Bowo tahu kalau Alya cuma ngomong doang. Karena Alya bukan maniak seperti Cyntia.
Alya yang sudah capek seharian merawat Aldo, tak punya banyak tenaga untuk berolah raga malam.
Walaupun Alya tetap berusaha memuaskan Bowo. Karena mereka tak setiap hari ketemu.
Bowo hanya seminggu sekali saja pulang. Itupun hanya sehari saja.
Karena Bowo harus membagi waktunya untuk istri pertamanya juga Cyntia. Wanita yang menolak dinikahinya dengan alasan tidak mau terikat.
"Kalau Papa masih kuat, aku siap." Alya langsung menaiki tubuh Bowo.
"Udah. Udah, Ma. Papa menyerah," ucap Bowo. Padahal dia kasihan pada Alya. Dia pasti sangat capek.
Apalagi dengan kejadian tadi di warung nasi goreng. Belum lagi kepala Alya yang diyakini Bowo, masih terasa sakit.
Alya tertawa pelan. Dia merasa menang karena Bowo menyerah.
__ADS_1
Bowo pun tersenyum bahagia, melihat tawa istri yang sangat disayanginya.
Jangan pernah tinggalkan aku, Alya. Aku sangat mencintaimu. Ucap Bowo dalam hati.