
Laras terpaku setelah membaca pesan dari Tomi. Matanya berkaca-kaca. Bagaimana tidak, dia sudah susah payah mencari makanan buat suguhan nanti. Dia juga sudah berdandan all out dengan memakai baju terbaiknya.
"Ada apa, Kak?" tanya Niken yang melihat Laras hampir menangis.
"Tomi tidak jadi ke sini. Besok malam katanya," jawab Laras terbata-bata.
Mata Niken langsung berbinar. Itu artinya dia bebas memakan makanan yang tadi dibeli.
"Serius, Kak?"
Laras hanya mengangguk lalu duduk di tempat tidurnya sambil menangis sesenggukan.
"Ada apa?" tanya Rasyid yang juga mendengar isakan Laras.
"Kak Tomi enggak jadi ke sini, Yah." Niken yang bantu menjawab. Karena Laras masih terisak.
"Apa?" Mata Rasyid hampir meloncat saking kagetnya.
Laras dan Niken hanya mengangguk. Tak berani lagi mereka menjawab.
"Anak kurang ajar! Berani-beraninya dia main-main denganku!" Rasyid mengepalkan tangannya.
"Siniin hape kamu!" Rasyid mengambil sendiri hape yang masih dipegang Laras.
Lalu Rasyid mencari nomor kontak Tomi. Laras menelan ludahnya. Bakalan dihabisin Tomi, batin Laras.
"Hallo!" seru Rasyid tanpa mengucap salam dulu.
"Iya, Ha...Hallo," jawab Tomi dari seberang sana. Dia sudah punya feelling tidak enak.
"Heh, Tomi! Apa-apaan kamu, main cancel acara seenakmu? Kamu mau main-main denganku, hah?" Suara Rasyid meninggi yang membuat kuping Tomi langsung memerah.
"Eng...Enggak, Om. Saya...Saya ada acara mendadak, Om. Saya sekarang lagi diluar kota. I..Iya...dengan bos saya." Tomi gelagapan menjawabnya.
"Alasan saja kamu. Pokoknya aku enggak mau tau, malam ini juga kamu harus datang ke sini dengan orang tuamu! Atau aku akan mendatangi rumah keluargamu!" ancam Rasyid, lalu dia menutup panggilannya dan melemparkan hape Laras ke tempat tidur.
Laras terkesiap, dan spontan menoleh ke arah jatuhnya hape. Dia khawatir hapenya bakal eror atau mungkin pecah kalau terbentur tembok.
"Bilang sama Tomi! Ayah tidak mau mendengar alasan apapun! Malam ini juga dia harus datang ke sini! Titik!" Lalu Rasyid meninggalkan kamar Laras.
Laras menundukan kepalanya. Bagaimana caranya, sedangkan Tomi sendiri mengaku sedang berada di luar kota.
Niken berdecak kesal. Harapannya bisa memakan banyak kue malam ini, buyar. Lalu dia pun meninggalkan Laras sendirian.
__ADS_1
Laras menghubungi Tomi.
"Hallo, Tomi. Iya, ini aku, Laras," ucap Laras masih sesenggukan.
"Ras. Aku kan udah bilang, kalau aku masih di luar kota," sahut Tomi yang sedang nongkrong bersama teman-temannya.
Beberapa temannya yang mendengar tertawa terbahak-bahak. Tomi memberi kode pada mereka untuk diam.
"Itu siapa yang tertawa?" tanya Laras curiga.
"Itu....teman-teman bosku. Biasalah, namanya bos, meeting pun mereka cuma ketawa-tawa. Kita anak buahnya disuruh serius nyimak," sahut Tomi. Dia sudah menjauh dari kerumunan teman-temannya.
"Terus bagaimana ini, Tom? Ayahku sudah marah-marah?" tanya Laras.
"Ya gimana lagi? Aku kan enggak mungkin juga pulang sekarang. Meetingnya baru saja dimulai. Dan aku berangkat pakai mobil bosku. Susah kalau aku harus pulang sendiri. Bisa dipecat nanti." Banyak sekali alasan Tomi yang membuat Laras tak bisa menjawab lagi.
Rasyid yang dari tadi ternyata mendengarkan, mendekat dan merebut lagi hape Laras.
"Heh, Tomi! Sekali lagi kamu beralasan, aku seret orang tua kamu ke sini!"
Klik. Rasyid memutuskan panggilannya. Laras kembali menangis. Dia bisa memaklumi alasan Tomi. Tapi Rasyid? Sama sekali tak peduli.
Dan kalau soal suguhan, mungkin Laras bisa bernegosiasi dengan Tomi. Dia bisa meminta uang pada Tomi untuk menggantinya besok.
Tomi yang dari tadi mengacak-acak rambutnya, menggelengkan kepala.
"Ngomong aja sama kita. Kali aja kita bisa bantu, Tom," ucap Rojak. Teman Tomi yang lainnya.
Akhirnya Tomi mau juga ngomong. Dia ceritakan semua dengan detail.
"Tapi belum kamu bobol gawangnya kan, Tom?" tanya Adam.
"Belum. Keburu ayahnya pulang," jawab Tomi dengan jujur.
"Aman kalau itu sih. Enggak perlu juga kamu dateng sama orang tuamu. Masa cuma ***** doang suruh ngawinin. Gila aja tuh bokapnya. Kayak enggak pernah muda aja," ucap Adam yang paling tua diantara mereka.
"Iya, Tom. Kamu perlu bukti juga, masih perawan enggak tuh cewek. Jangan kayak beli kucing dalam karung. Minta dikawinin ternyata udah bolong," sahut Rojak.
"Nah, bener tuh. Jangan mau rugi." Adam tertawa tergelak.
"Terus gimana dong?" tanya Tomi kebingungan.
"Ajak dulu si Laras. Kemana kek, hajar habis-habisan. Kalau bener-bener masih ori, baru kamu nikahin," jawab Adam.
__ADS_1
Tomi menatap wajah Adam.
"Jangan ngelihatin aku kayak gitu, entar naksir lho!" Adam menoyor kepala Tomi.
Tomi pasrah saja. Saat ini otaknya sedang error.
"Udah sana. Dieksekusi secepatnya. Nunggu apa lagi?" Rojak terbahak-bahak.
"Bentar-bentar. Aku mau nanya ama kamu, Dam. Kamu kan udah sering tuh, membobol gawang cewek. Kenapa mereka enggak minta dinikahi?" Pertanyaan yang dari dulu tersimpan di kepala Tomi, akhirnya meluncur juga.
"Karena bukan aku pembobol pertamanya. Aku enggak mau lah nikahin barang second," jawab Adam dengan santai.
"Jadi kalau misalkan nanti Laras sudah enggak ori, aku angkat tangan aja nih?" Tomi bertanya dengan bodohnya.
"Bukan cuma angkat tangan, angkat kaki juga, bego!" seru Adam. Membuat teman-temannya yang lain menoleh.
"Berisik, woy!" Salah satu dari mereka melemparkan puntung rokoknya.
"Oke deh, kalau begitu aku telpon Laras sekarang. Kalian jangan berisik!" ucap Tomi lalu membuka hapenya.
"Hallo, Ras. Kamu di mana?" tanya Tomi dengan suara ditenang-tenangkan.
"Aku di rumah. Kamu di mana sekarang? Jemput aku, Tom. Aku takut. Ayahku marah-marah terus," sahut Laras.
Rasyid di rumah sensi banget. Salah sedikit saja dia akan berteriak dan melempar apa saja yang ada di dekatnya.
"Oke. Oke. Aku akan jemput kamu sekarang. Tapi aku belum bisa membawa orang tuaku ke rumahmu dulu. Aku sudah terlanjur membatalkan acaranya. Mereka juga masih ada urusan lain. Nanti kamu ikut aku ya? Biar ayah kamu enggak menuduh aku berbohong," ucap Tomi.
Adam dan Rojak yang ikut mendengarkan, mengangkat jempolnya.
"Oke. Satu jam lagi aku sampai di rumah kamu. Kamu siap-siap ya, Sayang. Dandan yang cantik. Muuach!" Lalu Tomi menutup telponnya.
"Nah gitu dong. Baru namanya laki-laki. Jangan cemen. Baru digertak sama calon mertua aja udah mengkeret!" komentar Adam.
"Kalau calon mertua belum apa-apa udah galak. Kasih pelajaran. Makan anak gadisnya. Biar tahu rasa!" Rojak menimpali.
"Dasar pemain, kalian!" maki Tomi.
"Biarin. Kami pemain yang enggak bego kayak kamu! Baru digertak aja udah mlehoy. Huuuu." Adam membanggakan diri.
"Iya, Tom. Dan main kita bukan hanya di gunung doang, tapi masuk ke lembah! Hahaha." Rojak terbahak-bahak.
"Si Tomi mainnya kurang jauh!" sahut salah satu teman mereka yang ikut nguping.
__ADS_1
Tomi mendelik ke arahnya. Dan mereka semua hanya tertawa ngakak.