KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS

KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS
Bab 74 BABAK BELUR


__ADS_3

Sementara Rasyid juga keluar setelah Laras dan Beni ijin pergi nonton. Dia janjian dengan Ratih mau main ke rumahnya.


Rasyid berdandan rapi setelah tadi sempat mandi kilat. Hanya sekedar untuk menghilangkan bau keringat saja.


"Ayah mau kemana?" tanya Niken.


"Mau ke rumah teman," jawab Rasyid sambil menyisir rambutnya yang sudah terlihat gondrong.


"Tumben rapi amat, Yah?"


Dalam hati Niken bertanya-tanya juga, biasanya Rasyid hanya berpakaian ala kadarnya.


"Ya sekali-kali boleh kan Ayah rapi." Rasyid kembali mematut diri di depan cermin.


"Ayah mau kemana?" Ayu juga ikutan nanya.


"Mau cari mama baru," jawab Rasyid lalu buru-buru pergi sebelum kedua anaknya bertanya lebih banyak.


Ayu berpandang-pandangan dengan Niken.


"Yu, kamu tau enggak siapa teman yang akan didatangi Ayah?" tanya Niken pada Ayu setelah Rasyid pergi.


"Enggak. Dari pulang sekolah tadi, Ayah bilangnya begitu. Mau nyariin mama baru buat kita katanya," jawab Ayu yang tak paham arti pandangan mesra Rasyid pada Ratih tadi.


"Aku enggak mau kalau mamanya kayak tante Reisya. Makannya banyak," ucap Niken.


"Takut kesaing, ya?" ledek Ayu.


Niken langsung menoyor kepala Ayu.


"Enak aja!"


"Iih, sakit Kak!" seru Ayu, lalu masuk lagi ke kamarnya. Dia mau melanjutkan bermain bonekanya.


Rasyid bersiul-siul sambil melajukan motornya perlahan. Dia tak mau ngebut-ngebut, takut dandanannya berantakan.


Hingga dia sampai di depan rumah yang cukup mewah meski tak terlalu besar.


Rasyid melihat nomor rumah yang ada di sebelah pagar. Benar, nomor 10. Sesuai dengan alamat yang diberikan oleh Ratih.


Rasyid tersenyum. Lalu turun dari motornya untuk mencari bel.


Tak lama setelah Rasyid menemukan bel dan memencetnya, keluarlah seorang wanita dengan pakaian rapi juga.


"Subhanallah. Cantik sekali, kamu," puji Rasyid melihat Ratih yang juga tersenyum menyambut kedatangan Rasyid.


"Ah, Mas Rasyid bisa saja. Mari masuk, Mas," sahut Ratih mempersilakan Rasyid yang masih berdiri di luar pintu gerbang.


Dengan penuh percaya diri, Rasyid melangkah masuk mengikuti Ratih.


"Motornya dimasukin saja, Mas," ucap Ratih.


Rasyid pun berbalik dan memasukan motornya ke halaman rumah Ratih yang tak terlalu luas.


"Silakan duduk, Mas. Mau minum apa? Biar aku buatkan," ucap Ratih.


Dia hanya mempersilakan Rasyid duduk di kursi yang ada di teras.

__ADS_1


Padahal Rasyid berharap dipersilakan masuk ke ruang tamu, dan dia bisa melampiaskan rasa cintanya dengan sedikit mencumbui Ratih.


Ya, minimal pegang-pegang tangan Ratih yang lembut. Rasyid masih bisa merasakan kelembutannya saat dia menjabat tangan Ratih tadi siang.


"Kalau ada kopi hitam saja. Gulanya jangan banyak-banyak ya? Kan udah ada kamu. Nanti malah kemanisan," sahut Rasyid mulai menggombal.


Ratih hanya tersenyum saja. Baginya sudah biasa juga digombali laki-laki. Lalu dia masuk ke dalam. Kebetulan stock kopinya masih banyak.


Selesai membuat kopi, Ratih keluar dengan satu toples kue kering juga.


"Silakan, Mas." Ratih meletakan kopi dan kue keringnya di atas meja kecil.


"Terima kasih, Cantik," sahut Rasyid.


Ratih kembali hanya tersenyum. Senyum yang membuat Rasyid klepek-klepek.


"Kok sepi?" tanya Rasyid bermaksud memancing.


"Iya, Mas. Sinta lagi di rumah kakakku," jawab Ratih.


"Lho, besok kan sekolah?" tanya Rasyid lagi.


"Besok langsung berangkat dari sana. Nanti diantar kakakku."


Ratih terlihat gelisah. Dia berkali-kali melihat ke arah jalanan di depannya. Sepertinya dia sedang menunggu seseorang. Tapi yang ditangkap Rasyid, Ratih sedang melihat situasi untuk berduaan dengannya.


Rasyid senyum-senyum penuh kelicikan. Dia sedang berfikir bagaimana caranya mengajak Ratih masuk ke dalam.


"Ratih, aku boleh numpang ke kamar mandi?" Akhirnya Rasyid menemukan ide.


"Anterin dong. Entar aku kesasar lagi," pinta Rasyid sok manja.


"Masa kesasar sih? Orang cuma di situ kok," sahut Ratih.


"Kesasar ke kamar kamu, maksudnya. Hehehe."


Ratih menatap ke arah Rasyid dengan tatapan aneh. Dia mulai merasa tidak nyaman.


Benar juga, bagaimana kalau Rasyid sampai nyasar masuk ke kamarnya? Jangan sampai terjadi sesuatu yang tak diinginkan.


Lalu Ratih beranjak dan berjalan mendahului Rasyid. Dia maunya hanya memastikan kalau Rasyid tak salah masuk.


Tapi yang terjadi malah diluar pemikirannya. Sampai di dalam, Rasyid menarik tangan Ratih hingga jatuh ke pelukannya.


"Ah! Mas Rasyid mau apa?" teriak Ratih. Dia spontan memegangi area dadanya yang membusung seperti menantang Rasyid.


"Mau memeluk kamu, Sayang." Rasyid memeluk erat tubuh Ratih.


"Lepaskan, Mas! Jangan kayak gini!" seru Ratih.


Rasyid yang sudah dimabuk kepayang, tak mempedulikan penolakan Ratih. Dia malah merasa tertantang untuk melakukan lebih.


Rasyid menganggap Ratih hanya pura-pura menolak. Padahal mau.


"Ratih. Aku sangat mencintai kamu," ucap Rasyid. Lalu dengan paksa mencium bibir Ratih.


Ratih berusaha melepaskan pagutan Rasyid yang tiba-tiba.

__ADS_1


"Aah!" Ratih berhasil melepaskan diri dan menjauh dari Rasyid.


"Kenapa, Sayang?" Rasyid mendekat ke arah Ratih.


"Jangan mendekat!" teriak Ratih.


"Kenapa? Kamu juga menginginkannya, kan?" ucap Rasyid. Dia sudah berhasil mengungkung Ratih yang berdiri mepet tembok.


Rasyid berusaha mencium bibir Ratih lagi. Dia berfikir, kali ini Ratih tak akan menolaknya. Dia akan membuat Ratih terlena dengan ciumannya dan membalas ciuman Rasyid dengan dahsyat.


"Jangan, Mas!" Ratih menghindar dengan memalingkan wajahnya.


"Nikmati saja, Sayang." Rasyid langsung nyosor lagi.


"Empth!" Ratih menutup mulutnya rapat-rapat.


Tiba-tiba....Bugh!


Sebuah hantaman melayang ke kepala Rasyid, hingga dia oleng ke samping dan melepaskan pelukannya.


"Mas Ricko!" Ratih segera berlindung di belakang tubuh lelaki yang menghantam kepala Rasyid.


"Kurang ajar!"


Bugh!


Sekali lagi tangan kekar Ricko menghantam kepala Rasyid. Kali ini Rasyid tersungkur. Darah segar keluar dari hidungnya.


"Sudah, Mas Ricko!" Ratih menahan tubuh Ricko yang akan mendekati Rasyid.


Rasyid berusaha berdiri dengan susah payah. Andai saja Ratih tak menahan tubuh Ricko, pasti tendangan kakinya akan melayang ke tubuh Rasyid.


"Keluar kamu, Bajingan!" seru Ricko.


Rasyid tak gentar, meski sudah babak belur. Dia menatap wajah Ricko.


"Siapa kamu?" tanya Rasyid. Lalu mengelap hidungnya yang berdarah.


"Aku yang mestinya tanya. Kamu siapa? Berani-beraninya kamu menyentuh wanitaku?" Ricko balik bertanya dengan geram.


Wanitaku? Apa dia pacarnya Ratih? Tanya Rasyid dalam hati. Karena dari cerita Ratih tadi siang dan juga di chat mereka, Ratih sudah tak bersuami.


"Pergi kamu, Mas!" usir Ratih pada Rasyid.


"Ratih. Aku mencintai kamu!" sahut Rasyid tak mau kalah. Dia berfikir toh kedudukannya sama dengan Ricko. Sama-sama masih berteman. Belum ada janur kuning melengkung.


Ricko hendak maju lagi. Dan sekali lagi Ratih menahannya. Dia tak mau ada keributan di rumahnya.


"Sudah! Sudah! Kamu pulang, Mas!" seru Ratih pada Rasyid.


Rasyid memandang kesal pada Ratih yang malah mengusirnya.


Melihat wajah Ricko yang garang, Rasyid tak mau babak belur lagi. Meski sepertinya umur mereka tak jauh beda, tapi badan Ricko jauh lebih atletis.


Rasyid pun melangkah pergi tanpa sepatah katapun. Dia langsung menstater motornya dan mengegas dengan kencang.


Awas saja kamu, Ricko. Besok lagi, aku akan buat perhitungan denganmu. Gumam Rasyid yang masih belum terima dengan pukulan Ricko.

__ADS_1


__ADS_2