
Rasyid masuk ke kamarnya dan tidur bersama Ayu. Niken yang masih tidur dibangunin Laras dan disuruh pindah ke kamar sebelah.
"Udah, biarin aja. Aku tidur di ruang tamu juga enggak apa-apa," ucap Tomi. Tak enak juga rasanya membangunkan Niken yang sedang lelap tertidur.
"Enggak apa-apa. Lagian sofa di ruang tamu kan kotor. Entar kamu gatal-gatal," sahut Laras.
Sampai saat ini, Laras masih berfikir kalau Tomi anak orang kaya yang semuanya mesti bersih.
"Ya udah terserah kamu aja." Tomi akhirnya pasrah pada kemauan Laras.
"Apaan sih, Kak?" tanya Niken yang membuka sedikit matanya.
"Pindah ke kamar Ayu, sana. Malam ini Tomi mau tidur di sini," jawab Laras.
Niken mengernyitkan dahinya.
"Ayah?" tanya Niken.
"Ayah ngebolehin, kok. Udah sana pindah." Laras menarik tangan Niken biar cepetan bangun.
"Iih. Orang lagi enak-enak tidur, juga." Dengan malas Niken bangun dan pindah ke kamar Ayu.
"Ayah, geser!" Niken mendorong tubuh gempal Rasyid yang sedang memeluk Niken yang masih tertidur.
"Kamu kenapa kesini?" tanya Rasyid setelah membalikan badannya.
"Kak Tomi katanya mau tidur di kamar Niken."
Rasyid menghela nafasnya. Mau bagaimana lagi, tadi saat Tomi meminta ijin, dia sudah terlanjur mengijinkan.
Tapi Laras? Apa dia juga harus mengijinkan mereka tidur bersama? Sementara mereka belum ada ikatan apapun.
Bagaimana kalau sampai kejadian? Sementara Tomi tidak juga membawa kedua orang tuanya ke sini.
Atau....Aku biarkan saja. Dan besok aku todong si Tomi untuk segera melamar Laras. Alasannya apalagi kalau bukan karena mereka sudah tidur bersama. Rasyid bergelut sendiri dengan perasaannya.
"Ayah, awas! Malah bengong!" Niken mengejutkan Rasyid yang lagi berfikir.
Lalu dia segera turun dari tempat tidur. Dia akan tidur di sofa bututnya saja daripada habis badannya ditendang-tendang Niken saat dia tidur nanti.
Sampai di depan pintu kamar Laras, Rasyid kembali bengong. Pintu kamar sudah ditutup rapat. Dan sudah terdengar suara-suara ******* Laras.
__ADS_1
Rasyid mengacak rambutnya. Pusing dia memikirkan kelakuan Laras dan Tomi.
Mau dilarang, takut Tomi tersinggung dan membatalkan rencana melamarnya. Tapi kalau dibiarkan, bagaimana kalau Laras sampai hamil diluar nikah?
Tapi Rasyid juga tak mengingkari kelakuannya sendiri yang sering meniduri wanita-wanita yang dekat dengannya. Apa ini juga karma baginya?
Ah, tidak! Ini bukan karma. Toh, Laras melakukannya hanya dengan Tomi. Calon suami yang sebentar lagi melamarnya.
Dengan langkah gontai, Rasyid menuju ke ruang tamu. Telinganya makin panas saja mendengar suara ******* anak gadisnya.
Rasyid mengambil headset-nya. Dan menyetel lagu-lagu favoritnya untuk menghindari mendengar suara-suara itu.
Sementara di kamar, Laras dan Tomi sedang asik bercumbu. Laras terus saja menyerang Tomi. Hingga Tomi tak bisa menolaknya.
Padahal badan Tomi sudah sangat lelah. Tadi siang sampai sore dia bertempur dengan Voni. Lalu malamnya diserang Cyntia yang gila belaian lelaki. Sekarang Laras.
Laras seperti singa lapar. Dia menyerang dan mencabik-cabik pakaian Tomi hingga tak bersisa sehelai benangpun.
Hingga Tomi tak bisa lagi menahan senjatanya yang sudah semakin menegang. Dia pun membalas serangan Laras.
Meski dengan tenaga seadanya, Tomi mampu membuat Laras mendesah. Dan tanpa mereka sadari, suara desahannya sampai ke telinga Rasyid.
Untungnya Laras tak seganas wanita-wanita yang membooking Tomi. Hingga meskipun tenaga Tomi kurang, Laras tak protes.
Laras mengangguk, karena sudah sejak kemarin Laras menginginkannya.
Dengan modal tutorial yang diam-diam ditontonnya di internet saat rumah sedang sepi, Laras mencoba mempraktekannya.
Hampir semua gaya yang pernah dilihatnya dia praktekan. Meskipun hasilnya masih kurang memuaskan, karena Laras belum terlatih.
"Iya, Sayang. Begitu. Lebih dalam lagi..." Tomi menekan kepala Laras agar senjatanya lebih dalam masuk.
"Keluar masuk, Sayang. Iya.....bagus begitu. Terus....Terus....Sayang....." Tomi sudah seperti tukang parkir yang sedang memberikan aba-aba pada pengendara mobil.
Laras terus saja menuruti permintaan Tomi. Dia berusaha memuaskan Tomi agar tak diduakan lagi.
Sejak melihat Tomi merangkul wanita lain, Laras merasa telah diduakan oleh Tomi. Meskipun Tomi sudah memberikan penjelasan tentang siapa wanita itu.
Penjelasan Tomi tak membuat Laras percaya seratus persen. Apalagi wanita itu tiba-tiba datang ke kamar hotel di mana mereka akan bercinta.
Malam ini Tomi benar-benar kehabisan energi. Hingga dia pasrah saja saat Laras beralih bermain di atasnya.
__ADS_1
Dia hanya perlu menjaga jangan sampai senjatanya loyo dan pastinya akan membuat Laras kecewa.
Permainan mereka dikuasai Laras sepenuhnya. Hingga akhirnya Laras tumbang dan terjatuh di atas tubuhnya.
Mereka tetap pada posisi seperti itu hingga pagi menjelang. Hanya satu ronde, tapi sudah membuat Laras kelelahan.
Jam enam pagi, pintu kamar digedor oleh Niken yang akan mengambil baju seragamnya.
Pagi ini Laras akan berangkat ke sekolah. Meski semalam baru saja mengalami peristiwa yang membuatnya syok, Niken tetap akan ke sekolah.
Pagi ini ada ulangan matematika. Dan bakalan kena hukuman dari guru kalau sampai tak ikut ulangan.
"Kak...! Bangun! Aku mau ambil seragam!" teriak Niken dari luar.
Laras membuka matanya. Posisinya masih di atas tubuh Tomi. Dan mereka masih sama-sama tak berpakaian selembarpun.
"Iya, sebentar!" jawab Laras.
"Tom, bangun. Niken mau ambil baju," ucap Laras pelan di telinga Tomi.
Tomi membuka matanya.
"Carikan bajuku," sahut Tomi.
Laras turun dari tempat tidur. Lalu mencari pakaian mereka yang berhamburan.
Setelah memakai celana boxernya tanpa atasan, Tomi kembali berbaring. Matanya masih terasa lengket. Badannya pun terasa remuk.
Laras membuka pintu kamar. Niken berdiri di depan pintu dengan hanya memakai handuk melilit tubuhnya.
Karena sudah menahan pipis dan BAB dari tadi, Laras langsung berlari ke kamar mandi. Sekalian juga membersihkan **** *************.
Tanpa berfikir panjang, Niken pun masuk dan mencari pakaiannya. Tomi tak menyadari kalau yang sedang berdiri di depan lemari adalah Niken. Dia pikir, itu adalah Laras.
"Kenapa kamu enggak menutup pintunya?" tanya Tomi. Dia masih berfikir itu adalah Laras.
Niken hanya menatap Tomi yang hanya mengenakan celana boxer. Dari luar terlihat sesuatu yang keras. Niken langsung menutup matanya. Dan kembali mencari seragamnya di lemari.
Tiba-tiba Tomi turun dari tempat tidur dan mendekati Niken. Jantung Niken berpacu dengan cepat.
Apa yang akan dilakukan kak Tomi padaku? Niken tak berani menoleh. Dia hanya memegangi handuknya agar tak lepas.
__ADS_1
Tomi memandang tubuh berbalut handuk yang disangkanya Laras dengan penuh hasrat. Handuk itu terlalu kecil, hingga menampakan paha mulus Niken.
Tomi semakin mendekat dan....