
"Iya. Beni ngajak nonton film terbaru yang lagi trending," jawab Laras.
"Iih, ikut dong, Kak," pinta Niken.
"Bilang aja sendiri sama Beni. Aku kan cuma diajakin," sahut Laras. Lalu segera menstater motornya lagi.
"Kak, mampir ke counternya om Willy dulu ya," pinta Niken.
"Mau ngapain?"
"Mau ambil hapeku. Kemarin diservis sama bang Tanto," sahut Niken.
"Tanto yang kemarin malam ke rumah itu?" tanya Laras.
"Iya. Dia baik tau, Kak. Aku aja dijajanin," jawab Niken bangga. Karena di sekolah, tak ada satupun teman lelaki yang mau dekat dengannya.
"Ati-ati kamu sama dia." Laras berusaha mengingatkan.
"Memangnya kenapa? Dia baik, kok," sahut Niken.
"Ya pokoknya ati-ati aja." Laras tak mengatakan alasannya. Walaupun sebenarnya dia pingin menceritakan pertemuannya dengan Tanto tadi siang di foodcourt.
Laras melajukan motornya ke counter tempat Tanto kerja. Tapi sayangnya, hari ini Tanto lagi ijin tidak masuk kerja. Kata Willy, pamitnya sakit.
Sakit kok jalan ke mal. Sama nenek-nenek, lagi. Batin Laras.
"Tuh, orangnya enggak ada. Sekarang mau kemana lagi? Mumpung masih sore. Nanti malam aku mau pergi sama Beni," tanya Laras. Dia tak mau acaranya berantakan karena ulah Niken.
"Ya udah, pulang aja. Besok kesini lagi," jawab Niken.
Laras pun menurut. Mereka pulang melewati jalanan kecil, karena Laras tak membawa helm cadangan.
"Kak, bilangin kak Beni kek. Aku kan juga pingin ikut nonton." Niken mulai merengek.
"Bilang sendiri. Aku enggak enak. Masa dibayarin, ngajak-ngajak adik," sahut Laras.
Niken cemberut sepanjang jalan. Siapa yang mau mengajaknya nonton.
Andai saja aku punya pacar, pasti pacarku bakalan ngajak nonton. Tapi siapa yang mau pacaran sama aku? Gumam Niken dalam hati.
"Kak, menurutmu aku boleh pacaran enggak?" tanya Niken.
"Hush! Jangan aneh-aneh kamu. Sekolah dulu sampai selesai!" sahut Laras.
"Tapi aku kan kepingin bisa nonton, jalan ke mal, ke cafe. Kalau nunggu sekolahnya selesai, kelamaan!"
Rasyid tak mungkin mengajak atau memberikan uang untuknya nongkrong seperti teman-teman sekolahnya.
"Aku aja baru pacaran setelah lulus sekolah. Tapi kalau kamu ngeyel, coba aja tanya ke ayah. Boleh apa enggak," sahut Laras.
__ADS_1
"Yaah, nanya ayah sih enggak bakalan diijinin. Back street aja, ya. Tapi Kakak jangan bilang ke ayah," pinta Niken.
Laras tertawa. Saking asiknya ketawa sampai motornya hampir oleng.
"Iih, ati-ati dong, Kak." Niken menepuk bahu Laras.
"Abisnya kamu lucu. Kepingin pacaran, kayak ada yang mau sama kamu aja!" seru Laras yang sudah bisa mengontrol motornya lagi.
"Ada!" jawab Niken singkat. Sengaja, biar Laras penasaran.
"Siapa? Penjaga sekolah itu?" ledek Laras.
"Enak aja!" Niken mencubit perut Laras.
"Eh, jangan kayak gitu. Geli, tau!" Laras menjauhkan perutnya dari Niken.
"Lagian, ngeledek." Niken tak terima diledek seperti itu.
"Memangnya siapa yang mau sama kamu?" tanya Laras. Karena dimatanya, Niken itu sosok yang urakan.
"Bang Tanto!"
Ciiit...!
Spontan Laras mengerem. Lalu menengok ke belakang. Dia sangat terkejut mendengarnya. Karena menurutnya, Tanto bukan sosok lelaki yang baik.
Niken kembali menepuk bahu Laras. Laras pun kembali melajukan motornya. Pikirannya melayang pada pertemuannya tadi siang dengan Tanto.
"Darimana saja kalian, kok lama banget?" tanya Rasyid.
"Tadi mampir dulu ke counternya om Willy, Yah. Tapi bang Tantonya malah enggak masuk. Katanya lagi sakit," jawab Niken.
Laras langsung masuk ke kamarnya, dia akan memilih pakaian buat nanti malam.
"Ya udah, besok sore ke sana lagi," sahut Rasyid. Dia kembali sibuk berbalas pesan lagi dengan Ratih.
Saat Laras sedang memilih baju, Beni mengirimkan pesan. Katanya akan menjemput Laras jam tujuh.
Laras mengiyakan. Dia sudah siap kalau jam segitu.
Dan benar saja, Beni menjemputnya tepat waktu. Laras pun sudah siap.
Setelah pamit pada Rasyid, keduanya pergi diiringi wajah kecut Niken. Karena tadi tak bisa ikut nonton. Alasan Beni, dia hanya dapat dua tiket saja.
Seperti tadi siang, Beni melewati jalan lain biar enggak ketahuan Yanti. Karena Yanti sudah tahu kalau Laras sudah pacaran dengan Tomi. Dan katanya mau segera menikah.
Yanti sudah berkali-kali mengingatkan Beni agar tak mendekati dan mengharapkan Laras. Tapi rasa cinta Beni yang besar, membuatnya tak bisa menjauh dari Laras.
Sekarang malah ngumpet-ngumpet pergi dengan Laras. Cintanya tak bisa dibendung. Dan kesempatan pergi dengan Laras bisa jadi tak akan terjadi lagi. Meski dia harus merogoh koceknya dalam-dalam.
__ADS_1
"Lihat tuh, Ras, antriannya panjang banget. Untung kita udah dapat tiketnya." Beni menunjuk antrian di depan loket.
Laras mengangguk.
"Masih ada waktu setengah jam lagi. Kita cari makanan dulu, yuk," ajak Beni.
Laras kembali mengangguk. Lalu tanpa sadar dia biarkan Beni menggandeng tangannya. Suasana bioskop sangat ramai, jadi Laras membiarkan saja Beni menggandengnya.
Mereka berhenti di sebuah counter makanan kecil. Beni menyuruh Laras memilih makanan untuk di dalam bioskop nanti.
Saat Beni sedang membayar, dari kejauhan Laras melihat Tomi berangkulan dengan wanita cantik dan seksi yang umurnya jauh lebih tua.
Tomi....gumam Laras. Dengan siapa dia? Kenapa berangkulan mesra dengan wanita lain?
"Ayo, udah. Kita nunggu di dekat pintu masuk aja," ajak Beni. Dia tak melihat Tomi yang sudah berlalu pergi.
Beni pun tak memperhatikan mata Laras yang sudah berkaca-kaca. Laras berusaha menahan air matanya agar tak menetes. Malu sama Beni kalau ketahuan Tomi, lelaki yang dibanggakannya berangkulan dengan wanita lain.
Tak lama, pintu bioskop dibuka. Beni kembali menggandeng tangan Laras. Dengan masih menyimpan kesedihan, Laras menurut.
"Duduk, Ras." Beni mempersilakan Laras duduk duluan. Beni memperlakukan Laras dengan lembut dan sabar.
Laras tak banyak bicara. Hatinya masih panas. Ingin rasanya menelpon Tomi, tapi tidak enak kalau sampai Beni tahu.
"Kamu kenapa? Enggak nyaman duduk di situ?" tanya Beni.
"Eng....enggak, kok." Suara Laras sedikit parau.
"Apa mau tukeran?" tanya Beni lagi.
Laras menggeleng. Dan untung saja, lampu bioskop sudah mati. Jadi Beni tak bisa melihat mata Laras yang memerah.
"Dimakan, Ras." Beni menyodorkan popcorn yang tadi dipilih Laras.
Laras hanya mengambilnya sedikit. Hanya untuk menghargai Beni yang sudah membayarinya.
Selera makannya sudah hilang. Ingin rasanya menangis dan menjerit. Bahkan ingin mengejar Tomi untuk meminta penjelasan.
"Bagus kan, Ras, filmnya?" tanya Beni di tengah-tengah pemutaran film.
"Iya," jawab Laras singkat. Padahal dia sama sekali tak menikmati film itu. Pikirannya masih pada Tomi.
Acara nonton film yang dimimpikannya menjadi hambar, gara-gara melihat Tomi tadi.
Melihat Laras yang hanya diam, diam-diam juga Beni menggenggam tangan Laras. Dan Laras hanya mendiamkannya saja.
Dia sedang tak mempedulikan apapun. Yang dipikirkannya hanya Tomi.
Siapa dia, Tom? Tanya Laras sambil menangis dalam hati.
__ADS_1