KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS

KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS
Bab 60 CURHAT


__ADS_3

Selesai makan, Sylfie mengajak Tomi jalan lagi. Sebenarnya Tomi sudah merasa capek. Tapi mau dibilang apa, dia dibayar untuk menemani Sylfie.


Saat melihat sepatu bermerk, Tomi pura-pura melihatnya. Dia berharap Sylfie mau membelikan untuknya. Dan pancingan Tomi berhasil.


"Kamu suka itu, Tom?" tanya Sylfie.


Tomi pura-pura acuh. Lalu menggeleng pelan.


"Ambil aja kalau mau."


Mata Tomi langsung berbinar. Sepatu bermerk yang sama dengan milik Adam, yang dulu hanya ada dalam angannya.


Sylfie mengambilnya dan meminta Tomi mencobanya. Dengan semangat, Tomi melepas sepatunya.


"Bagus enggak?"


Sylfie menatap dan mengangguk. Kapan lagi bisa membeli sepatu semahal ini, batin Tomi.


Sylfie memanggil seorang pramuniaga untuk membuatkan bonnya. Lalu dia mendahului ke kassa. Dia tahu, Tomi tak akan punya uang yang cukup untuk membayar.


"Kita ke supermarket, ya," ajak Sylfie. Tanpa menolak, Tomi mengikuti langkah Sylfie.


"Ambil trollernya, Tom."


Sylfie belanja bahan makanan dan keperluan rumahnya cukup banyak. Hingga troller yang didorong Tomi hampir penuh.


Sylfie banyak membeli minuman kaleng dan camilan. Padahal setahu Tomi, Sylfie tak terlalu suka ngemil.


"Banyak banget belanjanya, Tante?" tanya Tomi.


"Besok sore teman-temanku mau pada dateng ke apartemen. Biasa, kumpul-kumpul," sahut Sylfie.


Pantas saja belanjanya kayak orang mau buka warung. Batin Tomi.

__ADS_1


Setelah selesai dengan belanjanya, Sylfie mengajak Tomi pulang. Sylfie tak menawari apapun lagi pada Tomi. Hanya sepatu bermerk tadi yang harganya bisa buat beli sepatu yang dipakai Tomi sekarang sepuluh pasang.


Sampai di apartemen, Sylfie meminta Tomi menyimpan belanjaannya dengan rapi. Sylfie memang type orang yang sangat rapi. Semua harus diletakan pada tempatnya. Maklum, tempat tinggalnya ini tak terlalu luas. Meski ukurannya hampir sama dengan rumah kontrakan orang tuanya.


Sementara Sylfie duduk selonjoran di sofa. Sambil menyalakan rokoknya.


"Capek, Tante?" tanya Tomi setelah selesai merapikan belanjaan Sylfie.


"Lumayan."


Tanpa diminta, Tomi memijat kaki Sylfie yang selalu sukses membangunkan milik Tomi.


"Kamu baik sekali, Tom," ucap Sylfie. Dia memandangi wajah tulus Tomi yang mengingatkannya pada sosok anak lelakinya yang memilih tinggal dengan kakak Sylfie di luar negeri.


"Kenapa menatapku seperti itu, Tante?" Tomi pun menatap wajah ayu Sylfie. Wajah yang kemudian berubah muram.


"Boleh aku cerita sedikit tentang kehidupanku padamu, Tom?" tanya Sylfie.


Tomi mengangguk. Tangannya yang tadi berniat meraba-raba, kembali memijat kaki mulus Sylfie.


Tomi menyimaknya dengan serius. Dalam hatinya ada rasa kasihan yang mendalam.


"Sejak Nara pergi, aku merasa seperti hidup sebatang kara. Kedua orang tuaku pun sudah lama meninggal. Aku hanya memiliki satu orang kakak laki-laki yang hampir tak pernah pulang ke tanah air." Wajah Sylfie semakin muram.


"Suami Tante kemana?" tanya Tomi perlahan. Sebenarnya tak enak hati juga menanyakan tentang kehidupan pribadi kliennya. Tapi Sylfie yang memulainya.


"Dia pergi meninggalkan kami sejak Nara berumur sepuluh tahun. Dan sejak itu, aku tak pernah lagi berkomunikasi dengannya. Nara pun seolah tak pernah berarti lagi baginya. Bahkan dia juga sepertinya tak pernah tau kalau anaknya tak di tanah air lagi," jawab Sylfie. Air mata mulai menetes di pipi mulusnya.


"Apa Tante tak pernah berniat untuk menikah lagi?" tanya Tomi.


"Pernah beberapa kali mencoba menjalin hubungan. Tapi selalu berakhir dengan perselingkuhan. Aku sering bertanya pada diriku sendiri. Apa salahnya aku, sehingga aku selalu saja dihianati?"


Tomi terdiam. Dia tak bisa menjawab pertanyaan Sylfie. Dan memang pertanyaan itu pun bukan ditujukan pada Tomi.

__ADS_1


"Terakhir aku menjalin hubungan dengan orang yang ngakunya ustadz. Tapi ternyata dia hanya berusaha mengeruk uangku saja. Dia bukan benar-benar seorang ustadz. Hanya orang yang mengcopy paste ayat-ayat dari google saja." Sylfie tertawa dengan nada sumbang.


"Tadinya aku berfikir, hidupku dan Nara akan berubah lebih baik dengan bimbingan darinya. Tapi kenyataannya, dia malah mengecewakan kami," lanjut Sylfie.


"Dia single?" tanya Tomi. Soalnya yang sering didengar Tomi, banyak orang yang mengaku ustadz dan dengan pemahaman agama yang keliru, melakukan poligami.


Dengan tameng ajaran agama yang keliru itu, mereka mencari pembenaran sendiri.


"Sepertinya iya. Dia hanya hidup dengan tiga orang anak perempuannya. Ketiga anaknya itu yang dijadikan alat untuk menguras uangku," sahut Sylfie.


"Maksudnya?" tanya Tomi tak paham. Usia Tomi yang belum terlalu dewasa membuatnya susah memahami persoalan orang dewasa.


"Dia sering memanfaatkan anak-anaknya untuk bersikap baik padaku. Kadang anak-anaknya disuruh memelas padaku agar aku memberinya uang untuk sekedar makan," jawab Sylfie.


"Sebenarnya, kalau dia jadi orang jujur, tanpa diminta pun aku pasti akan memberi uang untuk kehidupannya dan ketiga anaknya. Bahkan aku rela dinikahinya meski aku tahu dia seorang pengangguran. Tapi yang dilakukannya sungguh diluar nalar, Tom," ucap Sylfie.


"Apa itu, Tante? Maaf, aku enggak paham," tanya Tomi.


"Bukan cuma aku yang dimanfaatkannya. Tapi banyak wanita lain. Aku pernah memergokinya masuk ke sebuah hotel murahan dengan seorang wanita. Dan setelah aku paksa bicara, mereka hanya kenal lewat medsos. Gila kan?"


Tomi mengangguk. Dalam hati heran dengan lelaki itu. Apa kurangnya Sylfie. Cantik, kaya dan baik hati. Apa lagi yang dicari?


"Dan setelah kejadian itu, aku blokir semua akses. Aku tak sudi lagi berhubungan dengannya. Bahkan ATM yang pernah aku berikan padanya, aku blokir juga. Masih untung aku enggak itung-itungan soal uang yang dimintanya. Karena enggak jarang dia bilangnya hutang. Bahkan rumah kontrakan yang ditempatinya, uang dariku juga bayarnya. Entahlah sekarang apa mereka masih tinggal di sana atau di kolong jembatan. Aku menutup hati saja. Masa bodoh," lanjut Sylfie.


"Dia tak pernah mencoba mencari Tante ke sini?" tanya Tomi.


"Dia tak akan pernah berani menampakan batang hidungnya lagi. Karena hutangnya padaku sangat banyak," jawab Sylfie.


"Baguslah. Artinya dia tak akan mengganggu kehidupan Tante lagi," ucap Tomi. Tomi merasa ikut prihatin dengan masalah kehidupan Sylfie.


"Sekarang, aku memilih hidup sendiri saja. Meski aku sering merasa kesepian. Saat seperti itulah aku mencari teman, Tom. Bukan hanya sekedar untuk saling memuaskan. Tapi untuk menemaniku. Kayak yang kamu lakukan sekarang ini," ucap Sylfie.


"Diantara banyak lelaki yang pernah aku kencani, sampai saat ini hanya kamu dan Adam yang paling aku sukai. Kalian berbeda dengan lelaki lain yang hanya mengumbar nafsu dan mengejar uang saja," lanjut Sylfie.

__ADS_1


"Adam masih single, Tante. Apa Tante tak ada niatan untuk menjalin hubungan serius dengannya?" tanya Tomi.


"Aku trauma dengan sebuah komitmen, Tom. Jadi lebih baik begini saja. Kalian datang, aku bayar. Urusan kita selesai. Tak ada hati yang akan tersakiti. Karena kita melakukan semua ini tak pakai hati." Sylfie tertawa sumbang.


__ADS_2